Home / Pendekar / Pendekar Salah Zaman / 68. Ngajak Ribut?

Share

68. Ngajak Ribut?

Author: SleepyFace
last update publish date: 2026-05-01 22:03:51

Ki Arjuna dan Ki Bratasena sama-sama diam beberapa detik, masih menunjuk ke arah yang berbeda.

Lalu keduanya menoleh satu sama lain.

“Kau menunjuk siapa?” tanya Ki Arjuna dengan nada kesal.

Ki Bratasena langsung menjawab,

“Yang di air itu. Dia yang membunuh Kalataking.”

Ki Arjuna mengernyit.

“Bodoh. Yang di atas itu yang terlibat di lelang. Dia yang harusnya kita habisi dulu.”

“Justru yang di air itu!” balas Ki Bratasena, nadanya mulai naik.

“Aku mengikuti jejak makhlukku. Tidak mungkin salah.”
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pendekar Salah Zaman   140. Padepokan Kanuragan - Fakultas Dharmasraya

    Beberapa bulan kemudian. Apa yang awalnya hanya obrolan iseng di bale rumah Rangga akhirnya benar-benar berdiri.Bukan padepokan biasa. Bukan juga sekolah biasa. Melainkan sesuatu yang aneh berada di tengah-tengah keduanya.Bangunannya luas. Beberapa rumah di sekitar sudah berubah fungsi menjadi ruang belajar, asrama, area latihan, dan kebun. Di salah satu papan besar dekat gerbang bahkan terpampang jadwal.Meditasi Dasar, Biologi Dasar, Pemahaman Alam, Latihan Fisik, Teknik DasarYang membuat banyak orang dunia bawah mengernyit setiap kali membacanya.Pagi itu, di rumah utama. Rangga berdiri di depan cermin ruang tamu memakai kemeja rapi. Rambutnya sudah disisir meski ekspresinya tetap terlihat tidak rela.Di belakangnya, Wira duduk santai sambil minum teh mint dan Rangga menatap pantulan dirinya sendiri cukup lama lalu menghela napas.“Anjir... Gue jadi kepala sekolah sekarang.” Dia memiringkan kepalanya. “Ini pake izi

  • Pendekar Salah Zaman   139. Menerjemahkan Kanuragan

    Rangga turun dari bale dengan senyum yang membuat Wira langsung menggeleng pelan. Di teras, Kael, Sena, Lendra, Tora, Agung, dan Putra masih sibuk main monopoli. Agung lagi debat sama Putra soal uang sewa.“Itu tanah gue.”“Lah lu lewat situ ya bayar.”“Korupsi lu.”“Ngawur.”Rangga berdiri di belakang mereka beberapa detik lalu bertanya santai.“Lu pada darimana main monopoli?”Agung nengok.“Ya dari tadi nyet. Kenapa?”Rangga mengangguk.“Mending bantuin gue.”Hening dan Agung langsung geleng.“Gamau.”Putra lebih cepat lagi.“Ogah.”Rangga langsung menunjuk Agung.“Oke... Mulai sekarang tugas kuliah lu kerjain sendiri.”Agung membeku lalu Rangga melanjutkan.“Sampai skripsi, isi SPSS sendiri... Trua analisis sendiri. Interpretasi sendiri... Gue ga bantu lu lagi.”“YAH, KAMPRET LAH.”Agung langsung berdiri.“Jangan gitu lah nyet... Lu tau

  • Pendekar Salah Zaman   138. Gue Punya Karyawan Banyak

    Seminggu kemudian, Rangga duduk di bale kayu depan rumahnya sambil memandangi jalan kampung. Atau lebih tepatnya bekas jalan kampung.Karena dalam beberapa hari terakhir, suasana di sekitar rumahnya berubah drastis. Mobil pickup keluar masuk hampir setiap hari.Warga yang rumahnya berada di sekitar area Rangga satu per satu pindah setelah menerima penawaran harga yang bahkan menurut mereka sendiri terlalu tinggi untuk ditolak.Ada yang pindah ke kompleks baru, ada yang beli rumah lebih besar, qda yang langsung pensiun dini dan sekarang beberapa dari mereka masih melambai ramah setiap kali lewat.“Mas Rangga! Terima kasih ya!”Rangga membalas lambaian itu dengan senyum yang terlihat terpaksa.“Iya pak…”Mobil pickup itu pergi dan Rangga kembali menatap kosong ke depan. Di kejauhan terdengar suara.BRRRRRM.Sebuah alat berat sedang merobohkan rumah yang baru dibeli beberapa hari lalu.Debu beterbangan, tru

  • Pendekar Salah Zaman   137. Gue Bukan Guru Silat

    Ruangan kembali tenang setelah Gayatri selesai membaca perkamen itu, semua orang terdiam beberapa saat. Masing-masing mencerna informasi yang baru saja mereka kumpulkan.Akhirnya Aditya menghela napas pelan.“Setidaknya sekarang kita tahu satu hal.”Gayatri mengangguk.“Jalur yang ditempuh berbeda.”Asturi menambahkan pelan.“Dan perbedaannya bukan sekadar nama tingkatan... Fondasinya memang berbeda sejak awal.”Rangga mengangguk.“Nah itu. Kalau sekarang sih paling kita baru tahu bedanya dimana. Tapi kenapa bisa begitu? Dan kenapa berubah?”Dia mengangkat bahu.“Belum tahu.”Aditya tersenyum kecil.“Itu sudah lebih banyak daripada yang kami ketahui selama puluhan tahun.”Gayatri pun mengangguk setuju. Untuk pertama kalinya sejak lama Mandala Gupta mendapatkan petunjuk yang benar-benar masuk akal.Rangga lalu berkata santai.“Yaudah... Nanti kalau saya tahu lagi, saya kabarin pakde.”

  • Pendekar Salah Zaman   136. Kok Turun Satu Tingkat?

    Ruangan langsung menjadi jauh lebih serius setelah hasil Gayatri keluar. Karena kalau alat ini benar, maka Grandmaster modern ternyata hanya setara tingkat kelima.Sadhaka.Dan itu membuat seluruh asumsi mereka selama ini mulai goyah.Asturi yang sejak tadi diam memperhatikan akhirnya bersandar sedikit.“Kalau begitu… saya juga ingin mencobanya.”Rangga langsung mengangguk.“Boleh bu. Tapi sama ya, sakit kalau udah lewat batas.”Asturi tersenyum kecil.“Saya rasa saya bisa menahannya.”Dia mengulurkan telapak tangannya ke atas meja dan Rangga mulai lagi.Satu lidi.CTAS.Tidak ada reaksi.Dua. CTAS. Tiga. CTAS. Empat. CTAS dan Asturi masih terlihat santai.Lima.CTASSS.Tubuh Asturi sedikit tersentak. Mata indahnya langsung menyipit.“…!”Tangannya refleks bergerak sedikit ke belakang. Rasa sakit yang tajam itu muncul sesaat lalu menghilang.

  • Pendekar Salah Zaman   135. Bukan Psikotest

    Rangga mengangkat ikatan sapu lidi itu sedikit lebih tinggi.“Ini buat ngetes.”Hening.Gayatri, Asturi, dan Aditya tetap memperhatikan benda itu dengan ekspresi yang kurang lebih sama, mereka bingung.Karena setelah semua pembicaraan tentang Dharmasraya dan kanuragan kuno, alat tes yang keluar justru sapu lidi. Rangga sendiri santai.“Katanya tiap lidi mewakili satu tingkatan.”Lalu dia menunjuk Gayatri.“Tante tingkat berapa?”Gayatri mengernyit.“Kalau klasifikasi modern... Grandmaster.”Rangga mengangguk lalu menoleh ke Asturi.“Kalau bu Asturi?”Asturi tersenyum kecil.“Sama. Saya Grandmaster.”Rangga lalu menoleh ke Aditya.“Kalau pakde?”Aditya menjawab tenang.“Anuttara.”Agung yang duduk di belakang langsung refleks bicara.“Lho? Bukannya kata Pak Hendro Anuttara itu udah paling tinggi?”Aditya tersenyum tipis.“Untuk sistem modern.

  • Pendekar Salah Zaman   105. Kalau Lu Kalah, Bayar Makanan Gue

    Setelah makan mulai habis dan suasana meja jauh lebih santai, Asturi kembali menyandarkan tubuhnya perlahan sambil memutar gelas tehnya pelan di atas meja.“Ngomong-ngomong soal rumor tadi…”Nada suaranya tetap lembut, tapi kali ini semua otomatis mendengarkan.“Informa

  • Pendekar Salah Zaman   104. Sayang Kalau Gak Dimakan

    Asturi tersenyum kecil melihat reaksi Putra tadi.“Kurang lebih begitu.”Nada bicaranya lembut dan santai, tapi entah kenapa tetap membuat Agung otomatis duduk sedikit lebih rapi. Kael yang melihat itu malah tertawa kecil sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi.“Dia eman

  • Pendekar Salah Zaman   103. Katanya Cuma Makan

    Malam itu rumah sudah jauh lebih sepi. Agung, Putra, bahkan Rangga sudah tidur setelah latihan dan makan malam panjang tadi. Hanya beberapa lampu yang masih menyala redup di halaman.Di bawah pohon Kael duduk santai sambil melempar batu kecil ke atas lalu nangkep lagi.Sena berdiri tidak jauh, tang

  • Pendekar Salah Zaman   100. Anjir… Ini Rasanya Berantem

    Begitu potongan informasi itu tersambung di kepala Kael, tubuhnya langsung bergerak tanpa peringatan. Langkahnya ringan tapi cepat, dan dalam satu tarikan napas dia sudah melesat ke arah Rangga dengan pukulan yang mengarah lurus ke wajah.Lendra dan Tora langsung bereaksi.Mereka masuk dari dua sis

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status