Share

145. Part 5

last update publish date: 2026-03-28 01:01:52

Begitu tangan terlepas dari genggaman Untari terlihat kembali. Gadis itu memperhatikan sekelilingnya. Tak jauh di depan dia melihat dua altar. Satu simbol bintang pada altar pertama juga patung.

Patung seekor burung Rajawali Emas.

Baik Untari maupun Hyang Kelam sampai saat itu tak pernah menyadari bahwa Rajawali Emas yang berdiri di altar kedua bukanlah patung tapi mahluk hidup yang bernafas dan memperhatikan gerak gerik mereka.

"Menurut saya ini adalah sebuah tempat yang

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   190. Part 4

    "Malam ini? Apakah tidak menunggu esok? Dengan begitu saya bisa membantu gusti mempersiapkan segala keperluan untuk pemakaman!" Tawar laki-laki itu. Sekedar menunjukkan rasa simpati dan itikat baik. Tapi tawaran itu disambut gelengan kepala sang adipati."Aku berterima kasih atas pengertianmu. Tapi segalanya sudah sangat mendesak. Kau boleh pergi, bawa pasukan untuk menyertaimu. Aku berharap esok sore sebelum matahari terbenam kau sudah kembali bersama orang-orang yang kita butuhkan.”"Perintah gusti saya junjung tinggi, namun saya merasa lebih baik pergi sendiri. Dengan begitu perjalanan bisa lebih cepat.”"Baiklah. Kau bebas menentukan pilihan. Aku yakin dengan kemampuanmu. Kau boleh pergi sekarang!"Senopati Gagak Panangkaran anggukan kepala. Setelah menjura hormat, laki-laki itu bangkit berdiri. Tak ingin berlama-lama dia balikkan badan lalu bergegas tinggalkan ruangan itu.Setelah senopati pergi, adipati Seta Kurana bangkit. Dia ke

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   189. Part 3

    Senopati menggeleng seolah berusaha mengingkari semua kenyataan yang dilihatnya. Tapi ketika semua ciri korban yang tewas dengan kondisi yang tak jauh berbeda. Sebagaimana pengakuan si Mata Bara.Senopati merasa tidak ada gunanya menutupi kenyataan."Lima tumenggung, penguasa lima wilayah dalam kekuasaan gusti semua tewas, bersama keluarganya gusti.” Terang laki-laki itu dengan suara lirih.Dengan perlahan diucapkan namun bagi adipati keterangan senopatinya tak ubah seperti lima tusukan senjata berbisa yang menembus jantungnya.Dia terkesima.Mata mendelik.Menatap ke arah senopati seolah tak percaya dengan pendengaran sendiri."Semua terbantai. Gila! ini kenyataan yang sulit kuterima," dengus adipati dengan nafas mengengah. Pertanda laki-laki itu sedang dilanda kemarahan luar biasa."Kau sudah bertemu atau setidaknya sudah melihat pembunuh keparat itu? Atau mungkin kau melihat pembunuh itu keluar dari gedung keluarga?!"

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   188. Part 2

    Satu kejadian yang sulit dipercaya membuat senopati Gagak Panangkaran belalakkan matanya. Tanpa terduga dengan mudah serangan senopati itu dihindari lawan.Bahkan senopati tidak sempat melihat kapan Mata Bara berkelit menghindar. Yang jelas tahu-tahu si Mata Bara telah berada di belakangnya.Secepat kilat dia balikkan badan sekaligus kiblatkan senjata dalam genggaman. Namun secepat apapun serangan bertenaga dalam tinggi dia lakukan tetap saja gerakannya kalah cepat dengan pukulan yang dilakukan si Mata Bara.Blek!Satu pukulan yang mengarah di wajah yang disusul dengan tamparan keras ke bagian bahu senopati mendarat telak, membuat senopati terjungkal dengan wajah seperti remuk, hidung mengucurkan darah dan bahu sakit laksana ditindih batu sebesar kerbau.Penuh kemarahan sambil menggerung akibat menahan sakit luar biasa. Dengan tubuh termiring-miring laki-laki ini bangkit. Jelalatan dia memperhatikan sekelilingnya.Dia tidak melihat si Mata B

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   187. PEMBALASAN KAUM KUTUKAN

    ANGIN MENDERU.Kilat dan petir sambung menyambung tiada henti. Hingga larut malam hujan lebat yang mengguyur kadipaten Blora belum juga menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Padahal luapan air sungai telah menggenang dimana-mana.Di tengah suasana alam yang tidak bersahabat. Dalam sebuah gedung megah tempat kediaman adipati dan pati kerabatnya justru terjadi peristiwa yang menggemparkan.Beberapa kerabat adipati Seta Kurana termasuk istri dan dua putrinya tewas menemui ajal dengan kondisi mengenaskan. Enam pengawal yang bertugas di tempat kediaman keluarga juga tak luput dari kematian.Adalah senopati Gagak Panangkaran orang yang paling pertama mengetahui terjadinya malapetaka ini. Saat itu senopati gagah berpakaian serba hitam berusia sekitar empat puluh tahun baru saja kembali dari beberapa wilayah katemenggungan yang masih berada di bawah pemerintahan adipati Blora.Pada saat senopati bersama rombongan kecil memasuki pintu gerbang utama. Dia yang

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   186. Part 22

    Sama seperti yang dialami sahabatnya. Begitu tangan Hyang Kelam terjulur memanjang. Dari setiap kuku jarinya yang berubah menjadi akar merambat hidup. Akar-akar aneh yang bercabang-cabang itu langsung menyerang leher dan berusaha melibatnya juga berusaha menggelung dua tangan dan kaki Pendekar Sinting.Pemuda ini terkesima. Tapi segera lambungkan diri ke udara. Tak disangka akar-akar itu terus mengejar kemana pun dirinya bergerak. Dengan kecepatan gerak yang sangat luar biasa, Pendekar Sinting berjumpalitan tiga kali lalu jejakkan kaki di atas gundukan batu tinggi di ujung gua.Ketika melihat akar-akar menyambar ke arahnya. Berturut-turut dia melepaskan pukulan Seribu Jejak Kematian dan Gelombang Badai Laut Merah. Untuk diketahui, pukulan sakti Seribu Jejak Kematian adalah pemberian Tabib Tangan Dewa Dari Pulau Hantu. Sedangkan Gelombang Badai Laut Merah adalah pemberian Kanjeng Ratu Nyai Roro Kidul.Menggunakan salah satu ilmu pukulan sakti itu saja akibatnya s

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   185. Part 21

    Sementara itu Pendekar Sinting hentikan tawanya. Sekali melirik pada sahabatnya dia segera tahu pasti Bocah Ontang Anting yang telah berlaku jahil dengan meletakkan pakaian dan benda-benda di dalam kotak. Walau demikian dia tetap berkata."Mahluk alam roh bertubuh seperti tengkorak dan batang pohon. Aku tidak merasa telah meletakkan benda atau sepotong tulisanpun dalam kotak yang kau bawa lari. Kalaupun itu dilakukan oleh sahabatku. Maka kukira semuanya wajar. Temanku mungkin tahu kau suka dengan pakaian dalam wanita. Jadi apa salahnya bila temanku Bocah Ontang Anting memberimu tanda kenang-kenangan?"Hyang Kelam keluarkan suara seperti kerbau disembelih. Matanya yang cekung menjorok ke dalam rongga mendelik besar. Tubuhnya yang hanya berupa kulit pembalut tulang bergetar hebat pertanda kemarahannya sudah sampai ke ubun-ubun. Selagi Hyang Kelam diamuk amarah.Bocah Ontang Anting dengan agak ragu-ragu membuka mulut."Hyang Kelam, Mahluk jelek sedunia. Aku

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   63. Part 19 (Cemeti Laut Selatan)

    Orang tua aneh itu sedang duduk mencekung sendiri menghadap laut. Hampir setiap malam dia melakukan itu. Mungkin sedang merenungi perjalanan hidup yang telah demikian lelah.Angon Luwak menghampiri. Sebelum sampai, Dedengkot Sinting memperlihatkan sesuatu di tangannya. Tanpa berbalik, memb

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   62. Part 18 (Cemeti Laut Selatan)

    "Aku tidak menyuruhmu memanjat seperti kunyuk kurang makan, Cah sinting!!" Teriak Dongdongka sengit."Tapi tadi Kakek menyuruhku memetik kelapa, bukan?""Iya, tapi tidak dengan cara seperti itu!"Angon Luwak menggaruk-garuk kepala.Bingung juga dia. Disuruh memetik bua

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   61. Part 17 (Cemeti Laut Selatan)

    Tak percuma Dongdongka mengangkatnya menjadi murid. Tak salah pula lelaki tua bertabiat sinting itu memilihnya. Bukan cuma punya bakat. Dia pun memiliki kecerdasan dalam menangkap seluruh pelajaran. Namun kunci utamanya adalah kekuatan hatinya. Dia tak pantang putus asa. Tak pernah berdamai denga

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   60. Part 16 (Cemeti Laut Selatan)

    "Krrokkh!!""Ya, anggaplah kau mengerti. Meski sebenarnya, aku sendiri tak mengerti.... Jadi, peraturan pertama itu harus kau laksanakan selama menjadi muridku! Belajarlah menjadi orang 'sinting'!"Pelajaran pertama selesai untuk hari itu. Dongdongka pergi begitu saja meninggalkan A

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status