Mag-log inPagi menjelang slang. Kembali pada Tresnasari. Entah ke mana gadis ayu tanggung itu hendak mencari tabib yang dimaksud ibundanya. Tabib Tangan Dewa dari Pulau Hantu. Namanya saja baru sekali itu didengar. Bagaimana pula dia tahu orangnya? Satu-satunya jalan keluar, dia harus mencaritahu lebih dahulu sebanyak-banyaknya tentang Tabib Tangan Dewa dari Pulau Hantu. Harus ada orang yang bisa dimintai keterangan.
Sayang, sampai sekarang Tresnasari pun tak tahu hendak bertanya pada siapa. Gal
Bulan beranjak menuju titik tertingginya. Sebagian langit tertutup awan putih. Di beberapa tempat belahan langit beberapa bintang masih setia memunculkan diri melewati waktu. Sementara angin dingin berhembus sepoi sepoi.Di sudut sebelah selatan diatas tembok tinggi bertangga batu. Di sebuah ruangan yang biasa disebut pusat benteng. Pejabat tinggi istana bertubuh loreng merah bernama Jatulaka yang juga biasa disebut Maung Berem atau Harimau Merah terlihat mondar mandir di ruang arena panggung dengan gelisah. Sesekali laki-laki bertubuh tinggi dan suka berganti-ganti pakaian ini layangkan pandang ke seluruh penjuru sebelah atas benteng.Dia melihat puluhan perajurit bersenjata panah api bersiaga di tempatnya masing masing. Tak jauh di belakang mereka ratusan perajurit lain dengan tombak pedang dan golok mendekam siap menghadapi setiap kemungkinan yang datang.Tak dapat disangsikan para perajurit yang rata-rata memiliki ilmu silat dan kepandaian cukup tinggi itu s
"Penguasa kegelapan yang memberi kesenangan. Wahai yang berdiam di atas singgasana Sitaloka. Aku pangeran Durjana. Pangerannya orang yang sudah mati memohon padamu agar kau Sudi kiranya mengijinkan Mata Tunggal yaitu Mata Setan datang menghadap kepadaku sekarang juga!"Suara seruan sang pangeran lenyap. Para bocah meraung keras. Sementara dikejauhan sana terdengar suara lolong anjing hutan membuat merinding bulu kuduk. Sambil melayang Pangeran Durjana terus menunggu. Ternyata penantiannya tidak berlangsung lama.Di atas ketinggian langit yang biru tiba tiba terlihat kilat menyambar yang disusul dengan pijaran api. Pangeran Durjana dongakkan kepala menatap ke atas. Dia tersenyum begitu satu cahaya merah yang mencuat diantara pijaran api bergerak turun dari ketinggian. Cahaya itu menderu menuju ke arah dimana dirinya berada."Ikuti aku!" Seru Pangeran Durjana.Sang cahaya merah yang ternyata sebuah mata tunggal berukuran besar sebagaimana yang diperintahkan
Nini Burangrang tersenyum.Dia dekati suaminya.Mengira hendak dicium, Aki Kolot tampak gembira dan tersenyum-senyum. Tak disangka sang istri cuma berbisik di telinganya.Selesai Nini Burangrang berbisik dan jauhkan diri dari Aki Kolot. Kakek itu malah tercengang mulut ternganga mata terbelalak."Apakah kau sudah gila. Cara itu bisa membuat kita tersesat ke dunia alam gaib." Sentak K Kolot"Hi hi hi. Kau takut mati? Kau takut lenyap di alam roh? Mengapa kau mengatakan rencanaku ini penuh kegilaan. Apakah kau tidak sadar ketika bercinta denganku kau suka bertindak aneh dan berlaku gila?!" Sindir si cantik. Si kakek jadi bingung."Kau tidak mau? Kalau kau tidak mau memenuhi permintaanku. Aku memutuskan hubungan kita bakal berakhir sampai disini saja!" Ancam si nenek lagi.Aki Kolot Raga lagi-lagi dibuat terkejut. Tentu saja dia tidak ingin Nini Burangrang meninggalkannya. Dia tak bakal sanggup hidup tanpa sang Nini. Cepat orang tua ini
"Aku juga sama. Rambutku basah, tidak cuma rambut yang di atas di bagian lain juga ikutan basah." sahut Aki Kolot sambil menyusul berenang ke tepi.Mereka akhirnya duduk diatas batu cadas yang menyembul di tepi sungai. Nini Burangrang beberapa saat lamanya dibuat sibuk mengeringkan rambut yang panjang. Sesekali dia juga mengelap air yang membasahi wajah. Sementara itu Aki Kolot segera melepas pakaian disebelah atas lalu memerasnya berikut giliran topi kupluknya yang selalu menempel bertengger di atas kepala yang mendapat giliran. Baju, dan kupluk lain dibenbeng diletakkan diantara ranting kering yang menjuntai ke sungal."Apakah perutmu juga gembung Ki?" Tanya Nini Burangrang.Aki Kolot terdiam, dia melirik ke arah istrinya. Dia melihat kebaya dan kain yang membalut tubuh istrinya yang basah. Pakaian yang mencetak lekuk liku bentuk tubuh si Nini yang indah dan masih bagus. Aki Kolot menelan ludah. Sadar dirinya diperhatikan si nenek mendamprat."Jangan berpikir macam-macam. Malam ini
"Sebagai raja aku menghargai maksud niat baik kalian. Namun sebagai seorang ayah aku mengkhawatirkan keselamatan kalian. Kalian harus tahu, pangeran Durjana sesuai yang dikatakan Penujum Aneh Juru Obat Delapan Penjuru beberapa waktu yang lalu Dia menginginkan kalian berdua. Bila pangeran itu bisa tidur dengan kalian berdua. Kalian tidak hanya kehilangan kehormatan diri juga masa depan. Kalian bisa menjadi budak nafsu sang pangeran lalu beranak-pinak. Kalian jadi lupa diri dan jadi musuh setiap orang yang menjunjung kebenaran. Dan keuntungan lain yang didapat Pangeran Durjana bila mendapat kehormatan kalian. Dia menjadi mahluk luar biasa jahat dan tidak dapat lagi dilukai, dikalahkan bahkan dibunuh dengan senjata apa pun yang ada di rimba persilatan ini."Mendengar penjelasan sang prabu Arum Senggini merasa sekujur tubuhnya jadi merinding. Nila Agung bergidik ngeri. Dia segera, mengusap tengkuknya yang ditumbuhi bulu-bulu halus indah. Dan tengkuk itu terasa dingin laksana gump
"Ampun beribu ampun ayahanda. Apakah ayahanda ingat beberapa waktu yang lalu kami pernah mengatakan pada ayahanda bahwa ketika melakukan perjalanan berkuda di pantai Carita kami diserang oleh Pangeran Durjana. Walau pangeran itu hanya mengirimkan kembaran bayangannya saja. Kami nyaris tertangkap menjadi tawanan. Kemudian muncul seorang pemuda aneh berambut merah. Pemuda yang ternyata bernama Pendekar Sinting itu tidak hanya menolong dan menghancurkan kembaran bayangan pangeran Durjana. Tapi dia juga berjanji akan membantu kita. Waktu itu Pendekar Sinting meminta kami segera kembali ke istana sedangkan dia sendiri mempertaruhkan nyawa mencari tempat persembunyian mahluk menjijikkan itu." Timpal puteri Arum Senggini dengan wajah sumringah sedangkan sorot matanya berbinar binar.Melihat wajah anaknya jadi berseri ketika menyebut nama Pendekar Sinting, prabu pun segera ajukan pertanyaan, "Ayah akui, di luar semua persoalan rumit yang kita hadapi engkau memang sudah selayaknya men
HARI itu alam murka. Badai besar mendatangi wilayah tersebut. Ombak raksasa bergulung-gulung di kejauhan bagai tembok hidup menggapai angkasa. Sulit memastikan berapa ketinggian ombak saat itu. Lima enam meter bisa jadi lebih. Dan untuk ombak setinggi itu, tak diragukan lagi akan sanggup memporak-p
Setelah membereskan ketiga prajurit penjaga, pasukan Dirgasura bergerak kembali mendekati tepi rawa. Gerakan mereka kali ini tak lagi lambat. Seperti sekawanan anjing lapar yang melihat tumpukan tulang di depan mata, mereka memburu ke tepi. Meski begitu, tak ada keributan berarti mereka ciptakan.D
Banyak buaya liar berkeliaran. Selain itu, pasukan yang mencoba menerobos ke sana harus menempuh perjalanan tanpa kendaraan menembus rawa setinggi pusar selama satu malam. Lebatnya hutan bakau tak memungkinkan untuk menggunakan perahu. Besar kemungkinan selama merambah bentangan rawa, mereka akan d
Ketika hari berganti, kalangan persilatan tanah Jawa malah lebih mengenalnya dengan julukan Tabib Tangan Dewa. Ketika Majapahit dilanda perang saudara sepeninggalan Prabu Rajasanegara, Ki Kusumo mengasingkan diri di sebuah pulau karang yang terpencil di sekitar Laut Selatan.Dia benci pada setiap p







