ログインBanyak buaya liar berkeliaran. Selain itu, pasukan yang mencoba menerobos ke sana harus menempuh perjalanan tanpa kendaraan menembus rawa setinggi pusar selama satu malam. Lebatnya hutan bakau tak memungkinkan untuk menggunakan perahu. Besar kemungkinan selama merambah bentangan rawa, mereka akan diserang nyamuk-nyamuk pembawa penyakit. Kesiapan tempur mereka akan terkoyak setibanya di batas rawa penghubung ke wilayah kekuasaan pasukan Demak. Belum lagi banyaknya hewan-hewan melata berbisa. Namun, Dirgasura tak ingin melakukan bunuh diri terhadap pasukan sendiri. Dia telah mempersiapkan perambahan rawa tersebut secara cermat dan matang.
Untuk mengatasi serangan buaya-buaya penghuni rawa, sang pemimpin gerombolan perampok memerintahkan anak buahnya membuat keranda setinggi dada manusia. Bagian bawah dan atasnya terbuka, hingga memungkinkan seseorang bisa berjalan bebas di dalam kurungan keranda. Keranda itu terbuat dari rotan memanjang yang disatukan satu dengan yang lain dengan tali dari samakan urat binatang. Panjangnya cukup untuk mengurung tubuh tiga orang. Dengan keranda rotan itu, mereka akan merambah rawa bakau.
Buaya tak akan bisa mendekati mereka karena terhalang keranda. Sedangkan ikatan tali dari samakan urat banteng pada rotan menyebabkan keranda tersebut dapat lentur meliuk ke sana-ke sini di antara tetumbuhan bakau. Untuk menghindari serangan nyamuk-nyamuk rawa pembawa bibit penyakit menular, Dirgasura mendatangi seorang tabib ahli yang pernah dikenalnya ketika sebelum menggalang para perampok. Diperintahnya tabib itu untuk membuat ramuan mengusir nyamuk yang diborehkan ke kulit.
Menjelang pagi, Laskar Lawa Merah berhasil merambahi rawa bakau. Mereka terus bergerak lambat mendekati batas wilayah kekuasaan pasukan Demak dengan pertahanan terlemah. Di tepi bentangan rawa sebelah barat sebelumnya, mereka meninggalkan kuda tunggangan masing-masing.
Keranda yang mereka persiapkan untuk mengarungi rawa bakau mereka turunkan dari sisi pelana kuda. Lalu setiap tiga orang mengurung tubuh bagian pinggang hingga ke kaki dengan tiap keranda, dan mulai turun ke dalam air rawa yang keruh dan dingin. Tangan mereka memegangi batang kayu yang diikatkan pada puncak keranda. Sedangkan seluruh senjata mereka digantungkan di punggung. Setelah berhasil menempuh waktu hampir satu malam dan berhasil mengatasi serangan buaya-buaya lapar dengan susah-payah, mereka berhasil juga mendekati daerah sasaran.
Di kejauhan, terlihat kerlap-kerlip lampu-lampu minyak yang berasal dari rumah-rumah penduduk dan tenda-tenda prajurit Demak. Jauh di tepi rawa, cuma ada satu menara kayu yang dibangun setinggi empat tombak.
Ada tiga orang di sana. Satu orang berdiri di menara. Sisanya terlihat berdiri di bawah pohon besar. Keduanya bercakap-cakap sambil menghisap lintingan rokok kawung.
Tepat seperti perkiraan Dirgasura, batas wilayah itu memang tak dianggap berbahaya oleh pasukan Demak. Buktinya mereka hanya menempatkan tiga prajurit. Dan itu membuat Dirgasura makin bernafsu untuk secepatnya menjarah harta dan membawa lari beberapa wanita dari daerah tersebut. Belum lagi harta rampasan perang milik pasukan Demak yang kabarnya belum sempat dikirim ke pusat.
"Bagus...," Desis Dirgasura. Matanya berkilat-kilat nyalang.
"Saatnya kita berpesta-pora!"
Lalu mereka mulai bergerak lambat kembali. Pada jarak yang dianggap cukup dekat dari tiga prajurit Demak, Dirgasura memerintah tiga orang anak buah ahli panahnya untuk memulai aksi.
Tak jauh dari wilayah sasaran serangan Laskar Lawa Merah, tepatnya di tempat Angon Luwak, Nyai Cemarawangi dan Tresnasari beristirahat, dua orang lelaki bertaut usia amat jauh masih terlibat percakapan.
"Jadi, kau ini sebenarnya siapa, Pak Tua Kusumo?" Tanya Angon Luwak.
"Kau tak perlu menanyakan itu."
"Kenapa tak perlu? Aku bahkan merasa harus menanyakan siapa dirimu sebenarnya. Sebab aku curiga. Sebelumnya kau berpura-pura menjadi seorang pemilik warung kecil. Dan tiba-tiba, kau muncul dengan 'kedok' aslimu...," Sengit Angon Luwak.
Di tangannya masih tersisa sepotong besar panggang ayam. Setengah bagiannya sudah tandas ke dalam perutnya tanpa tedeng aling-aling.
Ki Kusumo terkekeh.
Padahal siapa pun tak akan menganggap ucapan Angon Luwak barusan sebagai suatu yang lucu. Apalagi sampai ditertawakan. Tapi sekali ini rupanya orang tua itu punya alasan yang cukup tepat.
"Kau bilang kau curiga padaku. Tapi kau menyikat begitu saja ayam bawaanku...."
Angon Luwak menatap sejenak sisa besar panggangan ayam di tangannya. Mulutnya masih terus mengunyah tiada henti seperti seekor anak lembu
"Terang saja aku akan memakannya. Aku sudah begitu lapar!"
"Bukan itu, maksudku. Mestinya kau curiga juga kalau-kalau aku meracuni ayam itu," Ki Kusumo terkekeh lagi.
"Iya-ya...," Ujar Angon Luwak kebodohan. Tapi terus saja dia mengunyah daging di mulutnya.
"Jadi apa alasanmu sebenarnya menanyakan siapa diriku? Tentu bukan curiga, kan?"
Angon Luwak menyikat lagi panggang ayam di tangannya. Belum lagi kunyahan di mulut tertelan.
"Apa ya? Ah, tak tahulah. Pokoknya aku penasaran pada dirimu, Pak Tua!"
"He-he-he. Sebenarnya, aku juga penasaran pada dirimu, Cah Bagus!"
"Penasaran bagaimana?"
Ki Kusumo tak segera menjawab. Tresnasari yang tertidur beberapa tindak didekatnya mulai bergeliat.
"Mmm, tampaknya aku mesti segera pergi...," Ucap Ki Kusumo.
"Tapi, Pak Tua..."
Belum selesai kalimat Angon Luwak, tubuh si orang tua sudah melenting ringan ke atas dahan pohon. Di atas dia berkelebat dan hilang di kegelapan.
Ayam jantan hutan mulai terdengar berkokok di kejauhan. Subuh telah tiba. Tresnasari terbangun. Menyaksikan ada tiga ekor ayam panggang di atas api unggun, dia menatap Angon Luwak terheran-heran.
Bagaimana si kambing buduk ini sempat-sempatnya berburu ayam hutan di malam hari? Empat ekor pula?
"Ayo, mhakan. Jhangan malhu-malfu!" Angon Luwak mempersilakan dengan mulut masih terjejal daging panggang.
Sepertinya memang benar-benar dia yang telah susah payah mencari ayam hutan! Di penghujung dini hari, sebelum warna kuning pucat matahari pagi menyembul perlahan di sebelah timur, orang-orang Laskar Lawa Merah melakukan serangan gelapnya.
Tiga orang prajurit Demak yang sedang berjaga di batas rawa bakau mengalami nasib naas terkena anak panah. Tepat di dada kiri masing-masing, anak panah milik anak buah Dirgasura menghujam sasaran. Prajurit di atas menara pengawas tak sempat melempar teriakan sedikit pun. Ketika terkena, tubuhnya terhuyung sebentar. Tangannya mendekap bagian dada yang tertembus. Setelah itu tubuhnya limbung ke depan dan jatuh melayang deras ke bawah.
Tepat pada saat bersamaan, dua prajurit di bawah pun mengalami kejadian serupa. Keduanya hanya sempat mengeluh tertahan. Keduanya kemudian tersungkur ke dalam rawa.
Beberapa ekor buaya yang kebetulan berada di sekitar tempat itu segera memburu ke arah dua prajurit tadi. Binatang-binatang berdarah dingin itu berebutan, menciptakan riak permukaan rawa yang kemudian berwarna kemerah-merahan. Mereka berpesta pora menikmati sarapan pagi.
"Siapa yang tertawa.Apa yang ditertawakan? Aku sedang tergesa-gesa.Tidak ada yang lucu. Hanya orang sinting yang tertawa tidak pada tempatnya," Membatin senopati dalam hati.Baru saja dia bicara seperti itu. Seakan mendengar apa yang dikatakan laki-laki itu, suara tawa mengikik tiba-tiba lenyap. Tapi ketika senopati kembali melangkah menuruni undakan tangga-tangga batu menuju ke kaki bukit.Anehnya tawa kembali terdengar seolah orang yang tertawa seperti mentertawai dirinya. Senopati yang mempunyai sifat tidak sabaran dan termasuk orang tinggi hati ini tentu saja merasa tersinggung. Dia tidak dapat memastikan apakah orang yang tertawa itu sengaja mempermainkannya. Yang pasti dia tidak suka dipermainkan seperti itu. Tidak mengherankan senopati pun kemudian berteriak."Siapa yang tertawa selagi orang berduka dan diliputi kegalauan adalah manusia yang sama sekali tidak punya budi tak punya otak!""Hik hik. hik Edan! Orang waras begini dia bilang tak punya ot
SETELAH hampir setengah malam penuh menunggang kuda putih bernama Cantrik Abimayu. Laki-laki gagah berpakaian bagus warna hitam membekal senjata berupa keris ini sampai di selatan gunung Kidul. Laki-laki berusia empat puluhan ini tak lain adalah senopati Gagak Panangkaran. Seperti telah dikisahkan dalam episode sebelumnya, Sang senopati sekaligus orang kepercayaan adipati ditugaskan untuk menghubungi beberapa tokoh sakti yang masih terhitung sahabat dekat adipati.Para sahabat itu diharapkan membantu pihak kadipaten untuk meringkus pembunuh haus darah yang telah melakukan serangkaian pembunuhan terhadap para pejabat kerabat adipati, para tumenggung juga beberapa orang penting lainnya.Gagak Panangkaran seperti telah diketahui memutuskan untuk pergi sendiri tanpa didampingi pasukan kadipaten. Kini setelah tiba di tepi pantai tak jauh dari bebukitan batu karang tempat dimana Windu Saketi atau yang juga dikenal dengan julukan si Tongkat Bala menetap, Gagak Panangkaran seg
Karuan saja ucapan Angon Luwak ini membuat kedua manusia kera seperti kebakaran jenggot. Ukuwudra melompat maju. Dengan sangat marah dia berteriak. "Pemuda sinting kurang ajar. Beraninya kau mencampuri urusan kami? Sekarang juga kau harus merasakan akibatnya!" Teriakan Ukuwudra disusul dengan tindakan sambil melompat maju.Lalu dengan mengandalkan jurus-jurus keranya Ukuwudra menyerang Angon Luwak. Diserang sedemikian rupa pemuda ini berkelit menghindar, lalu membalas serangan itu dengan jurus Badai Menggusur Gunung.Ketika Angon Luwak memutar dan mendorong kedua tangan ke arah Ukuwudra. Tiba-tiba terdengar suara menggemuruh seperti topan.Ukuwudra terkesima begitu melihat segulung angin menghantam tubuhnya. Secepat kilat dia jatuhkan diri. Serangan luput, Angon Luwak memutar tubuh dan menghantam kaki Ukuwudra dengan menggunakan kaki kiri. Tapi yang diserang telah bergulingan menjauh.Hentakan kaki Angon Luwak menimbulkan guncangan pada permukaan tanah. M
Ketika dua manusia berwajah kera melewati jalan setapak di Lor Ploso, Mereka merasa lega karena dalam perjalanan ternyata tidak ada hambatan atau rintangan berarti yang mereka temui.Kedua orang ini terus berlari. Ukuwudra yang membawa Mangir Ayu dalam panggulan berada di sebelah depan. Sedangkan Kara terus mengikuti tak jauh di belakangnya.Setelah melewati jalan berliku dan memasuki sebuah tikungan panjang. Di ujung tikungan tak jauh dari samping tebing terlihat sebuah gua besar menghadap ke sebuah lembah subur. Itulah guo Cerekan yang menjadi tempat tinggal mereka selama ini.Melihat tempat yang mereka tuju telah berada diambang mata. Kedua manusia kera ini pun mempercepat larinya. Tapi sejarak lima puluh tombak lagi mereka sampai di depan mulut gua.Tanpa pernah terduga Mangir Ayu yang berada di atas bahu Ukuwudra tiba-tiba tersadar dari pingsannya. Gadis cantik ini mula-mula mengeluh, tapi ketika kesadarannya mulai pulih dan dia merasa seperti sedang
Begitu tangan dikibaskan ke depan. Si Mata Bara melihat seolah-olah tangan lawan bertambah panjang dan tambah membesar. Lima jemari tangan yang berubah sebesar pisang ambon terus meluncur siap menjebol dadanya."ilmu setan!" Dengus Mata Bara.Dia menggeser kaki sambil miringkan tubuh. Serangan tangan besar luput dan lewat sejengkal di depan dada Si Mata Bara. Begitu tangan lawan lewat secepat kilat dia mencengkeram tangan itu.Tumenggung Dadung Kusuma yang tak menyangka bakal mendapat serangan seperti itu segera berusaha menarik tangan yang dicekal sekaligus tikamkan tombak di tangan kanannya.Usaha menarik tangan sekaligus membunuh lawan terlambat. Dengan tak terduga Mata Bara tiba-tiba kedipkan matanya ke arah tangan dalam cengkeramannya.Dua cahaya merah membara setajam mata pedang membersit dan siap menebas putus tangan sang tumenggung. Ketika tusukan tombak datang siap menembus perut, si Mata Bara segera melompat mundur ke belakang selamatkan
Namun dia segera batalkan serangan dan berusaha selamatkan diri."Pedang milik si rambut merah itu. Sungguh sebuah senjata aneh dan benar-benar gila!" Teriak Purudana pula.Segala teriakan dan seruan kaget kemudian berubah menjadi jerit dan pekik kesakitan. Satu persatu manusia singa hanya mampu delikkan mata sambil dekap dada masing-masing yang berlubang menganga di tembus pedang. Mereka tidak pernah melihat kapan Pedang Laut Selatan melukai mereka. Yang mereka sadari adalah darah mengucur deras dari luka di tubuh mereka."Mengapa bisa begini.. ?" Desis Kuruseta seolah tak percaya nasibnya berubah seburuk itu.. Laki-laki itu lalu ambruk. Dua temannya juga menyusul bertumbangan. Pedang Laut Selatan berputar diketinggian lalu kembali masuk ke dalam rangkanya.Slep! Angon Luwak tersenyum."Terima kasih kau telah membantu. Terima kasih pula kau telah menunjukan baktimu.” Ujar Angon Luwak ditujukan pada pedang."Hamba juga berterima kasih
Mereka menyerang lawan dengan jurus-jurus serta pukulan mematikan. Tetapi walau mahluk-mahluk menyerupai kera ini mempunyai kelebihan dapat menggandakan diri. Namun Angin Pesut ternyata mengetahui kelemahan mereka.Dengan segala kelebihan yang dimiliki si kakek mengambil bumbung emas dari
Ketika tangan ditarik ke belakang lalu dihantamkan ke depan. Dua tangan yang dikepal segera dibuka. Dari tangan kiri yang terbuka melesat cahaya hitam disertai hawa panas luar biasa. Cahaya panas memecah menjadi sembilan bagian. Bergerak meliuk-liuk seperti sembilan ekor ular ganas berkepala lanc
"Kkk... kau.., apakah kau putra terakhir prabu Sangga Langit? Apakah kau yang bernama Angon Luwak dan dikenal dengan sebutan Pendekar Sinting?" Tanya Maha Sesat dengan bergetar.Walau dendam dan kemarahannya pada Maha Sesat setinggi langit sedalam lautan namun Pendekar Sinting malah manggu
"Bagaimana kau tahu Maha Sesat mempunyai mata ke tiga?"Dewi Harum tidak segera menjawab. Dia menelan ludah baru kemudian berkata. "Guruku pernah mengatakan tentang rahasia kelebihan dan kekurangan Maha Sesat satu Ini. Kabarnya rahasia kekuatan Maha Sesat terletak pada mata ketiga. Mata it







