MasukTapi, dia masih sanggup menahan diri untuk tidak menyerang. Tresnasari tak puas hanya memaki-maki habis Angon Luwak. Didekatinya anak itu. Ditepaknya kening Angon Luwak.
"Ayo, katanya kau mau menghajarku?!"
Tantang Trenasari, makin menjadi. Tamparan di kening Angon Luwak mendarat sekali Lagi. Sekali Lagi. Bures sudah kesabaran Angon Luwak. Sekarang dijamin benar-benar sudah bures. Maka....
"Heaaa!"
Satu sentakan tangan cepat dibuatnya. Awal jurus kelima yang pernah
"Tak usah pikirkan diriku. Aku sudah terlalu karatan untuk hidup lebih lama lagi. Usiaku lebih lebih dari seribu tahun!" Terang si kakek membuat ketiga orang disampingnya tercengang tak percaya. Tanpa menghiraukan orang-orang itu Ki Lara melanjutkan."Aku sudah habis. Aku akan mati. Karena itu tolong ambilkan pelita itu. Letakan di dadaku"Arum Senggini cepat ambil pelita yang terletak di samping kepala Ki Lara lalu buru-buru menyerahkannya pada orang tua itu.Setelah menerima pelita, sambil menggenggamnya dengan sepuluh jemari tangan. Ki Lara letakan pelita itu di atas dada. Kedua matanya kemudian meredup. Sementara dari mulut terdengar ucapan."Wahai maut bebaskan aku dari nestapa. Lepaskan aku dari derita usia panjang. Duhai pelita alam Arwah. Bimbinglah aku menuju dunia kehidupan paling abadi. Aku telah siap untuk dibawa pergi... Selamat tinggal yang masih hidup. Semoga selamat pula buat orang yang bernama Selamat"Begitu Ki Lara Saru Saru sele
Ucapan Pendekar Sinting seakan memberikan tantangan tersendiri bagi Nila Agung. Akhirnya tanpa keraguan gadis ini segera mencium pipi Ki Lara kanan kiri. Setelah itu dengan wajah merah sambil terus memperhatikan si kakek Nila Agung beringsut menjauh. Arum Senggini hendak tertawa tapi urung saat melihat adiknya tersipu malu.Akhirnya dia terdiam dan ikut memperhatikan Pendekar Sinting ternyata tidak berdusta karena sesaat setelah pipinya dicium oleh Nila Agung, Ki Lara Saru Saru memang segera sadarkan diri.Setelah sadar mata si kakek berkedap-kedip. Mulut ternganga sambil memperhatikan sekelilingnya."Bagus kek. kau sudah sadar. Walau kau menderita cidera begini hebat namun peruntunganmu lebih bagus dibandingkan diriku. Kau mendapat ciuman dari seorang puteri. Sedangkan aku belum pernah dicium. Jangankan ciuman seorang puteri. Di cium Kuntilanak atau dedemit liang kuburpun belum pernah. Ha ha ha...." celetuk Pendekar Sinting diringi gelak tawa.Mendengar
Pendekar Sinting tersenyum lalu cepat gelengkan kepala.”Oh tentu saja tidak. Keadaannya tidak memungkinkan untuk ditolong. Jangankan aku, kurasa dewa obat sekalipun tak mungkin bisa memulihkan keadaannya.""Jadi apa gunanya pisang ini kau bawah kemari?" Tanya Nila Agung dengan kening berkerut penuh rasa ingin tahu.Pertanyaan sang puteri berlesung pipit ini membuat senyum Pendekar Sinting makin melebar. Dengan enteng dia menjawab.”Aku yakin gusti puteri berdua lapar. Dimalam dingin begini membuat orang mudah lapar. Lagipula bukankah banyak sekali wanita yang suka pisang?!""Heh apa maksud ucapanmu itu?" Hardik Arum Senggini sambil delikkan matanya"Eh iya. Apa maksud ucapanmu itu? Lagipula mengapa kau masih juga memanggil kami gusti padahal kau putera seorang raja pula?" Kata Nila Agung."Aku tidak punya maksud apa-apa. Tentang bagaimana aku memanggil kalian jangan dipikirkan. Aku mudah lupa. Aku juga sering lupa diriku ini putera seora
Para gadis yang berada dalam pengaruh sirap saling berbisik. Sesekali mereka menggeliat dan meliuk-liukkan pinggulnya. Mulut berdesis, mata setengah terpejam sementara bibir mereka yang merah nampak menganga. Melihat semua itu Pangeran Durjana hentikan tawa."Mengajak semua gadis itu bercinta sepanjang malam ini akan sangat melelahkan. Tapi demi sebuah kehendak semua itu tidak mengapa" Membatin sang pangeran di dalam hati.Lalu pada gadis-gadis itu dia berkata,”Wahai para kekasihku. Sudah waktunya kita pergi ke istana cinta. Tapi sebelum itu aku ingin memperlihatkan diriku yang sebenarnya pada kalian.""Wahai junjungan. Wahai pangeran yang kami damba. Kami semua sudah tidak sabar melihat rupa ujudmu yang sebenarnya. Tunjukanlah sekarang, perlihatkanlah diri pangeran." Kata salah seorang gadis berpakaian kuning berpinggul indah berkulit putih."Kami sudah tidak sabar menerima belaianmu Bawalah kami ke surga yang indah itu. Jangan biarkan kami kedingi
MENJELANG pagi pasang air laut meluap hingga ke daratan. Suasana desa nelayan di Pantai Carita terasa sunyi mencekam. Tak terlihat tanda-tanda kehidupan didesa itu. Semua penduduk tewas terbantai setelah sekawanan lebah berasal dari dunia kematian yang dikenal dengan nama Lebah Kepala Hati Berbunga menyerang sekaligus membunuh orang tua, anak-anak juga para perempuan tua.Seperti telah dikisahkan dalam episode sebelumnya, kawanan lebah selain hanya membunuh para orang tua dan anak-anak saja, juga iring-iringan makhluk berbisa ini menyerang para gadis. Tetapi Setiap gadis yang diserang oleh lebah Kepala Hati Berbunga tidak menemui ajal. Kebanyakan gadis justru menjadi salah tingkah, darah berdesir aneh, wajah memerah, jantung berdegup kencang dan tak ubahnya seperti orang yang dimabuk cinta.Seperti telah diketahui pula, setelah tersengat lebah, mereka terus berjalan beriringan tanpa mengenal lelah mengikuti kawanan lebah yang telah menyengat mereka. Sepanjang jalan dar
Sepuluh jemari tangan yang bergerak laksana gunting menghantam tempat kosong. Melihat serangannya luput sang Pangeran segera gerakan kakinya dan tahu-tahu dia telah berada di depan Pendekar Sinting.Wuut!Satu tendangan kilat dilakukan laki-laki itu. Angin dingin menyambar menyertai tendangan. Pendekar Sinting yang baru saja duduk melompat ke kiri. Tapi tak urung serangan kaki lawan masih menyambar rusuknya. Pemuda ini mengeluh tertahan, namun juga tidak tinggal diam. Begitu sang Pangeran lancarkan serangan susulan. Dalam keadaan setengah berjongkok dia miringkan tubuhnya kesamping.Wuus!Serangan luput. Lawan segera memutar tubuh. Dengan menggunakan tangan kanan dia menjotos kepala pemuda itu. Tapi dengan menggunakan Jurus Dewa Sinting Kegirangan yang kemudian disusul dengan jurus Badai Menggusur Gunung. Pendekar Sinting berhasil menghantam dada lawan dengan pukulan telak.Pangeran Durjana terpental sejauh dua tombak. Namun dia terjatuh dalam kead
"Cakar Rajawali!"Itulah nama jurus yang kini diperlihatkan Ki Kusumo. Satu jurus yang tak kalah hebat dari 'Tepukan Iblis Kematian'.Bukan cuma pamor, namun benar-benar kehebatannya. Jurus itu pun hanya dimiliki oleh Ki Kusumo. Satu jurus berhawa kematian yang diciptakanny
Sungguh dia tak menyangka berhasil lolos dari terjangan tubuh orang tadi. Sebab di samping luncuran tubuh orang itu demikian cepat, juga begitu mendadak. Sedangkan jaraknya dengan pintu kedai saja tak lebih dari dua langkah.Dalam jarak sedekat itu, tentu amat sulit melakukan elakan. Tapi
Kekokohan kakinya yang selama dua tahun setengah selalu berkutat mengayuh dalam gelombang, membuatnya sanggup berlari seperti seekor rubah. Tak beberapa tarikan napas, Angon Luwak sudah sampai di atas bukit karang di mana Ki Kusumo berdiri. Anak muda tanggung itu hendak menyerahkan seikat bunga k
"Kenapa selama ini kau tak mencoba menyembuhkan penyakit ibuku? Bukankah sewaktu di gubuk itu kau sudah tahu ibuku membutuhkan pengobatan?"Ki Kusumo terdiam sebentar. Sulit untuk mengutarakan alasan sebenarnya. Jika diungkap, tentu akan membuat hati gadis tanggung itu akan terluka. Bagaim







