Share

Sadar kembali

Author: Rana Semitha
last update Last Updated: 2022-02-04 21:57:57

Ki Anwar dengan cepat menyalurkan hawa murni ke tubuh Surya Yudha. Sementara Dewi Mayangsari telah dipindahkan untuk mendapatkan perawatan juga, karena sebelumnya Dewi Mayangsari hilang kesadaran setelah menyalurkan tenaga dalamnya pada Surya Yudha.

"Panggilkan beberapa perwira untuk membantu menyalurkan hawa murni," perintah Ki Anwar kepada Tole, salah satu muridnya.

"Baik, Guru!" Pemuda itu membungkuk hormat lalu pergi meninggalkan balai pengobatan menuju barak prajurit yang berada di sebelah selatan.

Di lain sisi, Surya Yudha merasakan jika dirinya sedang berada di tempat yang sangat asing.

"Di ... di mana aku? Apa aku sudah mati?" Tempat Surya Yudha kini berada adalah dimensi kosong yang berwarna putih sepenuhnya. Tidak ada apa pun di sana kecuali Surya Yudha.

"Jika aku mati, seharusnya alam sebrang tidak seperti ini," gumam Surya Yudha. Tiba-tiba pemuda itu teringat dengan kondisi tubuhnya yang terluka parah. "Sembuh? Bagaimana mungkin?" ucap Surya Yudha saat menggerayangi tubuhnya yang bersih tanpa luka.

"Apa aku benar-benar sudah mati?" Ketika Surya Yudha merasakan hal aneh terjadi pada tubuhnya, pemuda itu melihat setitik cahaya yang memancar dari ujung tempat itu.

"Mungkinkah itu jalan keluar? Aku harus ke sana memastikannya." 

Surya Yudha berjalan menuju titik cahaya yang berada di ujung tempat itu. Dia mempercepat langkahnya karena melihat titik itu mengecil.

"Apa yang terjadi? Kenapa aku tidak sampai juga?" Surya Yudha tak habis pikir, secepat apa pun dia berlari, dan sejauh apa pun jarak yang ia tempuh, nyatanya pemuda itu tak sampai juga di tempat tujuan.

"Kamu tidak akan bisa keluar dari tempat ini, anak muda!" Terdengar suara entah dari mana asalnya. Suara parau seperti lelaki tua yang sudah bau tanah.

"Siapa kamu?!" tanya Surya Yudha setengah berteriak. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, tetapi tidak menjumpai siapa pun di sana.

"Kamu tidak perlu tahu siapa aku." Suara itu terdengar kembali. "Kamu tidak bisa keluar dari tempat ini!" lanjutnya.

Suasana di tempat itu berubah menjadi lebih dingin. Semuanya yang berwarna putih mulai berubah, menjadi balai pengobatan tempat Surya Yudha dirawat.

Surya Yudha juga dapat melihat sosok yang sama seperti dirinya terbaring tak berdaya dengan luka di sekujur tubuhnya. Pemuda itu juga mendengar ucapan Ki Anwar bahwa dirinya telah mati.

Setelah itu, Surya Yudha melihat Dewi Mayangsari menyarlurkan tenaga dalamnya hingga menyebabkan sebuah petir menyambar tubuhnya.

"Ibu!" Melihat Dewi Mayangsari jatuh tak sadarkan diri, Surya Yudha mencoba menolong ibunya. Namun, ketika Surya Yudha mencoba untuk menyentuh Dewi Mayangsari, tangannya menembus tubuh sang ibu.

"Apa yang terjadi? Ibu!"

Penglihatan Surya Yudha menggelap, kepalanya terasa seperti mau pecah, dan rasa sakit yang telah hilang kini kembali lagi. Perlahan Surya Yudha membuka matanya.

"Argh ...."

Walau terlihat samar-samar, Surya Yudha yakin jika Ki Anwar sedang tersenyum kepadanya. 

Surya Yudha kembali mengingat Dewi Mayangsari yang pingsan setelah menyalurkan tenaga dalam pada dirinya. "Ibu... di mana ibu?" tanya Surya Yudha cemas.

"Ibumu ada di ruang sebelah," jawab Ki Anwar. "Sepertinya ibumu kelelahan. Biarkan dia beristirahat."

Surya Yudha mengangguk paham. 

"Bagaimana dengan Pangeran Abimanyu?" tanya Surya Yudha saat mengingat orang yang dikawalnya itu.

"Pangeran Abimanyu baik-baik saja, kamu tidak usah khawatir, tabib kepala sudah memberikan yang terbaik padanya." 

"Syukurlah jika begitu." Surya Yudha mengembuskan napas perlahan.

"Ki, aku sangat lelah." Ki Anwar mengangguk dan meminta Surya Yudha untuk beristirahat. 

Ki Anwar tersenyum dan membatin. 'Pemuda yang hebat. Sepertinya rumor tentang dirinya yang diberkati Dewa Matahari benar adanya.' 

***

Di ujung utara Kerajaan Nara Artha, tepatnya di desa Pengadegan, terlihat seekor burung merpati bertengger di jendela rumah seorang warga.

"Surat dari kerajaan?" gumam orang itu saat melihat cap kerajaan di sayap merpati itu.

Orang tersebut mengambil surat yang terlilit di kaki burung dan kembali melepas merpati itu. Penjaga itu bergegas menemui pemilik runah untuk memberikan surat tersebut.

"Ki Arya, ada surat dari kerajaan." Seseorang yang dipanggil Ki Arya langsung mengerutkan kening saat mendapat berita itu. Diterimanya surat itu dengan rasa penasaran yang menggelayuti pikiran.

"Terima kasih," ucap Ki Arya Saloka. 

Rasa cemas yang mendadak muncul membuat Ki Arya Saloka bergegas membuat surat itu.

'Surya Yudha terluka?' 

Ki Arya Saloka bergegas ke ruang penyimpanan dan mengambil berbagai macam ramuan berharga lalu memasukannya ke dalam cincin penyimpanan.

"Jika bocah itu hanya mengalami luka ringan, Mayang tidak akan memberitahukan hal ini padaku," gumam Ki Arya Saloka. "Gendon!"

Seorang penjaga yang tadi memberikan surat pada Ki Arya Saloka tergopoh-gopoh menghampiri pria tua itu. "Iya, Ki." 

"Aku harus ke Arta Jaya. Jaga tempat ini baik-baik." 

"Arta Jaya? Maksud Ki Arya ibukota Nara Artha?" tanya Gendon kebingungan. 

"Iya. Cucuku terluka dan memerlukan bantuanku. Aku harus segera pergi." Tanpa menunggu jawaban dari Gendon, Ki Arya Saloka pergi meninggalkan desa pengadegan, menuju Arta Jaya.

Dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh, Ki Arya Saloka melesat dengan cepat ke arah selatan. Setelah menempuh setengah hari perjalanan, akhirnya Ki Arya Saloka sampai di Arta Jaya.

"Salam Ki Arya Saloka," sapa Ki Anwar saat melihat kedatangan Ki Arya Saloka di Balai pengobatan.

"Di mana cucuku?"

"Surya Yudha ada di dalam, Ki Arya." Ki Arya Saloka mengangguk dan masuk ke balai pengobatan bersama Ki Anwar. Hal yang pertama kali Ki Arya Saloka lihat adalah, Surya Yudha tengah terbaring tak sadarkan diri dengan beberapa prajurit menemaninya. Jika dari zirah perak yang mereka pakai, seharusnya mereka merupakan perwira kerajaan Nara Artha.

"Ki Arya," orang-orang yang sedang menyalurkan hawa murni kepada Surya Yudha berhenti dan memberi salam kepada Ki Arya Saloka.

"Kalian sudah bekerja keras, terima kasih. Aku pasti akan mengingat budi baik kalian hari ini." 

Ki Arya Saloka telah datang, kini saatnya orang-orang itu pergi.

"Kami mohon diri, Ki Arya." Ki Arya Saloka mengangguk mengizinkan. 

 Setelah para perwira itu pergi, Ki Arya Saloka mengeluarkan banyak tanaman herbal, ramuan dan juga pil berkhasiat dari cincin penyimpanannya. 

Melihat kondisi cucunya begitu lemah, Ki Arya Saloka mengambil tanaman ilalang emas untuk memulihkan tenaga dalam cucunya.

Senyum terukir di wajah Ki Arya Saloka ketika membayangkan cucunya menjadi begitu kuat saat bangun. "Saat terbangun nanti, kamu pasti terkejut."

Akar ilalang emas yang sudah dibakar dan ditumbuk oleh Ki Arya Saloka diberi sedikit nira aren serta air pahatan burus. Dengan hati-hati Ki Arya Saloka meminumkan ramuan itu kepada Surya Yudha. 

"Uhuk!"

Kening Ki Arya Saloka berkerut saat Surya Yudha menyemburkan darah. Tak hanya itu, tubuh Surya Yudha menegang hingga urat lehernya menonjol keluar. Seluruh permukaan kulit Surya Yudha berwarna merah seperti pembuluh darahnya pecah.

"Apa yang terjadi?"

 Rasa cemas Ki Arya Saloka semakin menggila ketika mendengar raungan kesakitan dari cucunya. 

"Aargh ...!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pendekar Tombak Matahari   Bab 162

    Bab 162Suara Gendon yang menggelegar memberikan secercah harapan di tengah keputusasaan. Pemuda bertubuh gempal itu melesat bukan ke arah Surya, melainkan ke menara pengawas. Di sana, Ningrum sedang dikepung oleh sisa-sisa pasukan elit Jalu Pangguruh yang berhasil memanjat dinding.“Dek Ningrum, nunduk!” teriak Gendon.Ia menghantamkan kakinya ke lantai menara, melepaskan gelombang energi Ajian Lumut yang licin dan dingin, membuat musuh-musuh di sekitar Ningrum terpeleset jatuh dari ketinggian.Surya Yudha melihat sosok sahabatnya itu dari kejauhan. Mulutnya terbuka, hendak meneriakkan nama Gendon, memohon bantuan untuk menyelamatkan Rengganis yang kian melemah. Namun, sebuah tangan kecil yang dingin mencengkeram erat jubahnya.“Surya ... jangan,” bisik Rengganis parau. Darah merah kental terus mengalir dari dadanya, membasahi tangan Surya. “Tetaplah di sini ... denganku. Jangan panggil siapa pun.”“Tapi Rengganis, Gendon bisa menolongmu! Dia punya pil, dia punya ilmu pengobatan!” Su

  • Pendekar Tombak Matahari   Bab 161

    Bab 161Raungan Surya Yudha seolah membelah langit Lembah Merah. Ia mendekap erat jasad kaku Indra Yudha, tidak memedulikan jubah hitamnya yang kini menyatu dengan warna darah sang ayah. Di tengah hiruk-pikuk pertempuran yang masih berkecamuk, dunia Surya Yudha mendadak sunyi. Segala amarah, dendam, dan pertanyaan yang ingin ia lemparkan pada ayahnya kini terkunci selamanya dalam hatinya.“Bangun, Ayah ... kau belum meminta maaf langsung pada Gendon...” bisik Surya Yudha, suaranya parau dan bergetar.Kesedihan yang begitu dahsyat itu melumpuhkan indera Surya Yudha. Aura emas yang biasanya menyelimuti tubuhnya kini meredup, berganti dengan hawa abu-abu yang dingin dan hampa. Karena larut dalam duka, Surya Yudha tidak menyadari bahwa peperangan belum sepenuhnya usai.Di sayap kiri, pasukan Batalion Elang Perak mulai kewalahan. Meski pimpinan tertinggi Jalu Pangguruh telah tewas, sisa-sisa pengawal elit mereka yang begitu setia melakukan serangan bunuh diri, tidak ada satu pun dari merek

  • Pendekar Tombak Matahari   Bab 160

    Bab 160Lembah di depan Camp Puting Beliung berubah menjadi ladang pembantaian yang mengerikan. Di tengah hujan abu dan jeritan para prajurit, Surya Yudha bergerak bagai badai keemasan yang tak terhentikan. Setiap ayunan Tombak Surya Buntala miliknya menciptakan sabetan energi yang begitu padat, sekali putaran, setidaknya tiga hingga lima prajurit musuh terlempar dengan zirah hancur dan nyawa yang melayang sebelum tubuh mereka menyentuh tanah.Langkah kaki Surya Yudha tidak lagi menyentuh bumi sepenuhnya, ia seolah menari di atas genangan darah, menembus barisan pertahanan lawan seolah mereka hanya tumpukan jerami.Di sisi lain, Jenderal Indra Yudha menunjukkan mengapa ia dijuluki sebagai Jenderal Besar selama puluhan tahun. Meski darah merembes dari balik jubah kebesarannya yang koyak, gerakannya justru terasa lebih ringan daripada sebelumnya. Tidak ada lagi keraguan di matanya. Setelah mengungkap rahasia kelam itu kepada putranya, beban moral yang menghimpit batinnya selama belasan

  • Pendekar Tombak Matahari   Bab 159

    Bab 159Angin kencang menerjang menara pengawas, mengibarkan jubah merah Jenderal Indra Yudha dengan gagah. Di sampingnya, Surya Yudha berdiri dengan mata menyipit, memetakan pergerakan lautan manusia berbaju zirah hitam dari Jalu Pangguruh yang kini hanya berjarak beberapa ratus tombak dari gerbang utama.“Ningrum, tetaplah di menara ini,” perintah Surya Yudha tanpa menoleh. “Gunakan panahmu untuk mengincar para pemimpin regu musuh. Jangan biarkan menara pemukul mereka menyentuh kayu gerbang!”Ningrum mengangguk sigap, jemarinya sudah menarik tali busur dengan anak panah yang ujungnya dilapisi racun pemati rasa. “Serahkan padaku, Surya. Fokuslah pada jalan depan.”Tepat saat Surya Yudha hendak melompat turun menuju barisan depan pasukan Puting Beliung, terdengar derap langkah tergesa menaiki tangga kayu menara. Seorang wanita dengan zirah perak yang berkilau di bawah cahaya langit yang memerah muncul dengan napas tersengal.“Surya!”Surya Yudha mematung. “Rengganis? Bagaimana bisa ka

  • Pendekar Tombak Matahari   Bab 158

    Bab 158Tangan Surya Yudha yang sedang mengikat perban mendadak berhenti.“Raja Wirya Semita ... baginda mulai merasa terancam. Raja takut jika suatu saat rakyat akan berpaling dan mengangkat Atmajaya sebagai penguasa baru. Hasutan dari para menteri busuk di istana membuat Raja gelap mata,” lanjut Indra Yudha, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. “Titah Raja adalah mutlak. Aku diperintahkan untuk menghapus garis keturunan Atmajaya demi kestabilan takhta. Aku menolak, berkali-kali aku menolak!”Indra Yudha terbatuk, menyemburkan sedikit darah. “Tapi baginda mengancam akan menghancurkan keluarga kita, keluarga eyangmu, dan kau ... kau saat itu masih kecil, Surya. Aku dipaksa menandatangani surat perintah itu sebagai bukti kesetiaan. Tedung Sukma adalah algojo yang disewa kerajaan untuk melakukan pekerjaan kotor itu agar militer tidak terlihat terlibat langsung.”Surya Yudha memejamkan matanya rapat-rapat. Kebenaran ini jauh lebih busuk dari yang ia bayangkan. Ayahnya bukan seka

  • Pendekar Tombak Matahari   Bab 157

    Bab 157Ribuan prajurit Jalu Pangguruh meraung, tak memedulikan peringatan Surya Yudha. Bagi mereka, satu pemuda bukanlah tandingan bagi pasukan yang sedang di atas angin. Panglima bertopeng harimau tadi mencabut pedang cadangan dan berteriak, “Hanya satu bocah! Ratakan dia dengan tanah!”Surya Yudha mendengus. Ia memutar Tombak Surya Buntala di atas kepalanya. Putarannya begitu cepat hingga menciptakan pusaran angin yang menarik debu dan serpihan senjata di sekitarnya.“Naga Matahari!”Surya Yudha menghentakkan kaki dan melesat ke jantung barisan musuh. Setiap ayunan tombaknya bukan lagi sekadar serangan fisik, melainkan ledakan sumber energi murni.Blarr!Blarr!Tubuh-tubuh prajurit musuh terpental ke udara, zirah baja mereka hancur berkeping-keping seolah hanya terbuat dari tanah liat.Panglima musuh mencoba menebas dari samping, namun Surya Yudha melakukan gerakan meliuk yang mustahil. Ia memutar tubuh di udara, kaki kanannya menendang dada sang panglima hingga tulang rusuknya rem

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status