LOGINPoV SeliraMalam turun perlahan di apartemen kami. Lampu-lampu kota mulai menyala di luar jendela, memantulkan cahaya lembut di kaca ruang tamu. Dari lantai setinggi ini, Jakarta terlihat seperti lautan cahaya kecil yang bergerak pelan.Apartemen sudah jauh lebih tenang dibandingkan beberapa jam lalu.Arsa sudah tidur.Setelah makan malam, anak itu bahkan tidak sempat menyelesaikan ceritanya tentang mobil balap yang dia lihat di televisi. Kepalanya sudah terangguk-angguk di sofa sambil memeluk mobil mainannya.Aku menggendongnya ke kamar.Tubuh kecil itu hangat di pelukanku. Napasnya sudah teratur ketika aku meletakkannya di tempat tidur.Aku merapikan selimutnya, mengusap rambutnya sebentar, lalu mematikan lampu. Sekarang hanya ada cahaya redup dari lampu lorong.Aku menutup pintu kamar pelan agar tidak membangunkannya
PoV RakaEnam bulan setelah semuanya berakhir, hidup akhirnya benar-benar terasa tenang.Bukan tenang seperti jeda sebelum badai. Bukan juga tenang yang dipenuhi rasa waspada, tapi tenang yang sederhana.Tenang yang terasa seperti rumah.Kasus jaringan narkotika yang dulu mengguncang kota ini akhirnya resmi ditutup. Hampir setiap orang yang terlibat sudah menjalani proses hukum.Nama Hendra Setiawan masih sesekali muncul di berita, terutama saat sidang berlangsung. Namun, sekarang semua itu terasa jauh.Seperti cerita lama yang perlahan memudar.BNN sudah memastikan jaringan itu benar-benar hancur. Gudang-gudang mereka disita. Rekening dibekukan.Orang-orang kepercayaannya ditahan.Tidak ada lagi ancaman. Tidak ada lagi bayangan yang mengikuti langkah kami setiap malam. Dan yang paling penting Selira akhi
PoV RakaBeberapa hari setelah penangkapan itu, kota terasa aneh. Bukan karena ada yang berubah secara fisik.Jalanan masih sama. Gedung-gedung masih berdiri di tempatnya. Orang-orang masih menjalani aktivitas seperti biasa.Namun bagi orang-orang yang tahu apa yang terjadi di balik layar, semuanya terasa berbeda.Nama Hendra Setiawan ada di hampir semua berita.Di televisi.Di portal berita.Di koran pagi.Pengusaha properti yang selama ini dikenal dermawan itu akhirnya ditangkap karena terlibat dalam jaringan narkotika besar yang selama bertahun-tahun beroperasi diam-diam.Orang-orang tidak langsung percaya ketika berita itu mulai muncul di televisi dan portal berita.Nama Hendra Setiawan terlalu besar.Selama ini dia dikenal sebagai pengusaha sukses, dermawan, dan wajah yang sering muncul
PoV SeliraAku sebenarnya tidak berniat keluar malam ini.Sejak semuanya mulai terasa berbahaya, aku jarang meninggalkan apartemen kecuali benar-benar perlu.Tim dari BNN selalu berjaga di sekitar gedung, bahkan terkadang ikut mengawalku ke mana pun aku pergi.Rasanya aneh.Kebebasanku seperti berkurang sedikit demi sedikit. Namun malam ini aku ingin turun ke lobi hanya untuk mengambil paket.Walau dari tim BNN sudah mencegah dan mengatakan mereka bisa mengambilkannya, aku tetap ingin turun sendiri.Sekalian mengusir suntuk.Arsa sudah tidur di kamar. Anak itu tertidur lebih cepat dari biasanya setelah seharian bermain.Raka sejak sore pergi menemui Bagas. Suamiku bahkan belum memberi kabar sama sekali. Entah bagaimana perkembangan penyelidikan mereka, aku belum diberitahu apa pun.
PoV Raka"Lo siap?"Suara Bagas terdengar rendah di dalam mobil yang diparkir di sisi jalan gelap itu.Aku menoleh ke arahnya. Lampu dari dashboard memantulkan bayangan wajahnya yang serius."Siap atau nggak, kayaknya ini tetap harus selesai malam ini," jawabku.Bagas mengangguk pelan. Di kursi depan, Arman duduk sambil memperhatikan layar tablet di tangannya. Sejak tadi Arman hampir tidak berbicara, hanya memantau semua pergerakan tim yang tersebar di berbagai titik. Dialah yang memimpin operasi malam ini.Di depan kami, beberapa mobil hitam tanpa tanda terparkir berjajar. Di dalamnya duduk anggota BNN bersenjata lengkap. Sebagian lagi sudah bergerak menuju posisi masing-masing.Radio komunikasi berderak pelan. Malam itu terasa berbeda dari malam-malam sebelumnya. Selama berminggu-minggu kami hanya mengawasi, melacak dan menunggu.Sekarang semuanya akan bergerak sekaligus.Arman menatap layar tablet di tangannya. "Tim pelabuhan siap."Arman menggeser layar."Tim bank juga siap."
PoV RakaSudah hampir tengah malam ketika mobil kami berhenti tidak jauh dari kawasan pelabuhan. Udara di luar terasa lembap dan dingin. Bau asin laut bercampur dengan aroma solar dari kapal-kapal yang bersandar di dermaga.Aku duduk di kursi belakang mobil bersama Bagas. Di depan ada Arman, salah satu anggota tim operasional BNN yang sejak tadi memantau pergerakan melalui tablet di tangannya.Lampu-lampu pelabuhan terlihat berpendar dari kejauhan. Beberapa gudang besar berdiri berjajar seperti bayangan raksasa dalam gelap.Bagas menoleh ke arah Arman.“Dia sudah keluar dari apartemen?”Arman mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari layar. “Sudah.”“Sendirian?”“Iya.”Aku ikut melihat layar tablet itu.Di sana terlihat titik kecil yang bergerak perlahan di peta digital.“Maya?” tanyaku.Arman mengangguk. “Ponselnya masih aktif. Kita bisa melacak posisinya.”Bagas menyilangkan tangan. “Dia langsung ke sini?”“Nggak.” Arman memperbesar peta.“Tadi sempat berhenti di dua tempat.”







