LOGINBab 2 "Aku kotor, aku ... aku sudah tidak suci lagi." Keyna berlari keluar dari hotel dengan air mata yang tak mampu lagi ia bendung. Tangannya terus gemetar, sementara pikirannya dipenuhi pertanyaan yang belum memiliki jawaban. Semua terasa seperti mimpi buruk, apa yang terjadi barusan sama sekali tidak pernah Keyna bayangkan. Semuanya terjadi begitu cepat. "Apa yang harus aku lakukan," lirih Keyna. Ia sama sekali tidak mengerti bagaimana bisa seorang pria asing bisa masuk ke kamar itu. Yang ia tahu jika penghuni sebelumnya sudah keluar dan ia di suruh untuk membersihkan kamar tersebut. Setelah itu, semuanya terjadi begitu cepat. Pria asing itu menarik lengannya. Dan memaksanya mengambil kesuciannya. "Keyna!" Suara supervisor membuat langkahnya terhenti. "Kamu dari mana saja? Aku mencarimu sejak tadi." Keyna buru-buru mengusap air mata. "Maaf, Bu, saya kurang enak badan. Tadi ... tadi saya beristirahat di tan
Hujan turun begitu deras, membasahi jalanan kota yang masih dipenuhi lampu-lampu kendaraan. Di lantai paling atas sebuah hotel berbintang lima, pesta kerja sama bisnis baru saja berakhir. Musik mulai berhenti, para tamu satu per satu meninggalkan ballroom dengan wajah puas. Di tengah keramaian itu, Samudera Romanov berdiri tegak sambil menerima uluran tangan beberapa rekan bisnis. Sebagai CEO muda yang dikenal cerdas dan dingin, ia selalu mampu menjaga sikap di hadapan siapa pun. "Selamat atas kesepakatan kerja samanya,Tuan Samudera. Saya berharap kerja sama ini bisa membuat perusahaan kita semakin maju," ucap salah seorang pengusaha. "Sama-sama, amin semoga saja," jawab Samudera datar. Samudera mengangkat segelas minuman yang disodorkan pelayan, ia tidak meminum alkohol. Maka dari itu ia hanya mengambil segelas jus orange, tanpa ia sadari jika jus orange itu sudah tercampur sesuatu. Ia hanya menyesap sedikit sebelum kembali berbincang. Tak
Bab 97 - S2 - Malam Pertama 2 ( 21+) “Sayang.” Alarich menatap punggung mulus milik sang istri dengan nafas tertahan. Punggung putih tanpa ada luka sedikit pun nyatanya mampu membuat Alarich seketika mematung. Punggungnya saja sudah mulus, lantas bagaimana bagian yang lainnya. Pikir Alarich. Tangannya yang kekar dan besar ia angkat untuk menyentuh punggung mulus itu. Senja memejamkan kedua matanya, seraya menahan nafas kala tangan milik sang suami menelusuri punggungnya. Alarich memajukan tubuhnya, lalu tangannya memeluk pinggang ramping sang istri. Gaun pengantin milik Senja masih tertahan tepat di depan d*d*, pelukan Alarich begitu erat sehingga ia mampu merasakan deru nafas milik sang suami. Cup Alarich mengecup bahu Senja yang terbuka. D*r*hnya terasa berdesir hebat, kala bibir sexy Alarich menyentuh kulitnya yang terbuka. “Kamu cantik sekali, Sayang,” ucap Alarich dengan suaranya yang terdengar serak dan nafasnya terdengar m
Bab 96 - S2 - Malam Pertama (21+) “Bagaimana saksi, Sah?!” Tanya seorang penghulu kepada para saksi yang berada di sana. “Sah!” “Sah!” “Sah!” Kalimat Sah menggema, membuat setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Senja. Alarich melihat hal itu, ia langsung menggenggam tangan mungil sang istri. Membuat Senja sadar jika ia tidak sendiri. Gadis yang sudah bergelar istri itu menoleh, menatap sang suami yang tersenyum manis kepadanya. Lelaki yang tidak pernah tersenyum itu, kini memberika senyumannya hanya untuk sang istri. “Alhamdulilah, kalian sudah sah menjadi sepasang suami istri. Silahkan untuk sang istri mencium tangan sang suami, dan suami mencium kening serta ubun-ubun istri anda,” ujar sang penghulu. Alarich maju, mendekati istrinya. Dengan tubuh bergetar menahan gugup Alarich mencium kening serta ubun-ubun sang istri. Begitu juga dengan Senja, dengan tangan yang gemetar, ia raih jemari sang suami. Men
Bab 95 - S2 - Menikah Deg Senja langsung menoleh ke arah Alarich, ia bahkan menghentikan langkah kakinya. Menatap wajah yang senantiasa datar dan dingin itu, mencari kebohongan dari binar matanya yang tajam. Namun, Senja sama sekali tidak menemukan kebohongan tersebut, ia justru melihat ketulusan, kejujuran, dan keseriusan dari mata Alarich. Lantas Alarich membuka pintu ballroom, begitu pintu terbuka keluarga besar Romanov menyambutnya. Senja mematung di tempatnya berdiri,memandang bagaimana baiknya keluarga yang bahkan tak ada hubungan darah dengannya. Alarich meraih tangan Senja, dan membawanya masuk. Mata Senja sudah berkaca-kaca, melirik tangan yang di genggam oleh Alarich. “Tuan,” lirih Senja. “Mari masuk, mereka sudah menunggumu. Menunggu calon menantu baru di keluarga Romanov. Gadis yang selama beberapa tahun aku tunggu, tidak mungkin aku lepaskan untuk yang kedua kalinya. Oleh karena itu, aku akan langsung mengikatmu dengan pernikaha
Malam itu, Senja sudah siap dengan gaun yang sudah di siapkan oleh Alarich sebelumnya. Gaun berwarna lembut sangat cocok dengan karakter Senja. Jangan lupakan kerudung yang berwarna sama dengan gaunnya menambah kecantikan seorang Senandung Senja. Gadis berhijab itu di dandani oleh Sheinafia, wanita beranak satu itu begitu antusias kala mendengar Alarich hendak melamar Senja. Namun, mereka sengaja tidak mengatakan hal itu kepada Senja, sebab takut jika gadis tersebut menolaknya. “Ya Tuhan, kamu cantik sekali, Senja,” pekik Sheinafia yang membuat ketiga perempuan paruh baya yang kebetulan berada di kamar Senja sontak menoleh ke arah dua wanita muda itu. Nandini, Namilea, dan Melati tersenyum kala melihat Senja. Wajahnya yang cantik alami semakin bersinar kala Sheinafia membubuhkan make up flawless di wajah cantiknya. Namilea menghampiri keduanya, ia tersenyum lembut lantas mengusap puncak kepala Senja yang terbalut hijab. “Kamu cantik sekali, Nak
"Setelah jenazah di mandikan, dan dikafani. Anda bisa membawa mereka untuk menyalatkan dan juga memakamkannya." Xavier terdiam. Ia tidak dapat mencerna apa yang di ucapkan oleh perawat tersebut. "Maaf, apa boleh jika jenazah di shalatkan terlebih dahulu. Sebelum kam
"Ibu, apakah ayah masih hidup? Shei ingin sekali bertemu dengan ayah. Shei juga ingin memeluk ayah, sama seperti orang lain!" Sheinafia tiba-tiba saja merengek ketika mereka akan pulang. Entah kenapa gadis kecil itu tiba-tiba merajuk. Biasanya juga Sheinafia cuek-cuek saja. Nandini sa
"Ayah," gumam Sheinafia di tengah tidurnya. Nandini sontak menghentikan langkah kakinya. Ia diam, berdiri termangu di tepi sofa yang di tiduri oleh sang putri. Gumaman Sheinafia, meski terdengar pelan, tetapi terdengar jelas di telinga Nandini. Setetes air mata luruh. Membasahi p
Hari demi hari tidak terasa Nandini lalui dengan senang hati. Tidak ada beban dalam hatinya, sebab ia membebaskan semuanya. Rasa sakit hati dan juga rasa tersisihkan, ia berusaha damai dengan itu semua. Baginya, yang lalu biarlah berlalu. Yang harus dia tatap adalah masa depan. Apalagi ma







