Home / Romansa / Pengantin Pengganti Revano / Bab 3. Leonard sang Penggoda

Share

Bab 3. Leonard sang Penggoda

Author: Lia Lintang
last update Last Updated: 2026-01-07 18:32:42

Hari pertama sebagai istri Revano terasa aneh bagi Rania.

Ia bangun pagi dengan suasana rumah yang asing, penuh aturan tak tertulis.

Tidak ada sapaan hangat, tidak ada ucapan selamat pagi. Hanya keheningan dan suara pelayan yang sibuk menyiapkan sarapan.

Revano sudah lebih dulu duduk di meja makan, dengan setelan rapi meski masih di kursi roda.

Ia sibuk menatap layar laptop, jarinya mengetik cepat, tanpa sedikit pun menoleh pada Rania.

“Pagi,” ucap Rania pelan.

“Pagi,” balas Revano singkat, nyaris tanpa ekspresi.

Tak ada percakapan lain.

Rania menarik napas dalam.

Ia tidak bisa berharap terlalu banyak dari pria itu. Baginya, kehidupan ini mungkin hanya kontrak.

Tapi bagi Rania, dunia luar masih menunggunya.

Ada pasien, ada ruang operasi, ada panggilan jiwa yang membuatnya tetap bisa berdiri tegak.

Hari itu, Rania kembali mengenakan jas putih dan masuk ke rumah sakit tempat ia bekerja.

Begitu melangkah ke koridor, beberapa rekan sejawat langsung berbisik-bisik.

“Itu Rania, 'kan? Katanya baru menikah sama pewaris Wongso Group.”

“Ah masa sih? Gak kelihatan, masih cantik dan sederhana kayak dulu.”

Rania pura-pura tidak mendengar. Ia fokus pada langkah kakinya, membiasakan diri dengan perhatian yang kini semakin banyak tertuju padanya.

Namun, ia tidak bisa mengabaikan sosok yang berdiri menunggunya di depan ruang dokter spesialis.

Leonard.

Putra tunggal pemilik rumah sakit. Usianya hanya terpaut sedikit darinya, berwajah tampan, selalu rapi dengan kemeja mahal, dan terkenal sebagai pria playboy yang suka menggoda para dokter muda.

“Dokter Rania,” sapa Leonard dengan senyum menggoda, “wah, kau semakin bersinar saja setelah menikah. Apa rahasianya?”

Rania menahan diri untuk tidak mendengus.

Ia mengenalnya cukup baik. Leonard selalu pandai membuat wanita salah tingkah.

“Rahasiaku sederhana, Dok. Tetap profesional di rumah sakit. Jadi, kalau kau tidak keberatan, aku masih ada pasien yang harus ditangani,” jawabnya dingin.

Leonard terkekeh, melangkah mendekat, hingga jaraknya terasa mengusik.

“Ayolah, jangan terlalu kaku. Aku hanya bercanda. Lagi pula, aku dengar pernikahanmu itu ... aneh. Benarkah kau dinikahkan secara mendadak? Atau sebenarnya kau hanya pengganti?”

Pertanyaan itu membuat Rania menegang.

Ia memandang Leonard tajam, meski senyumnya masih sopan.

“Kalau benar pun, apa hubungannya dengan pekerjaanku di sini?”

Leonard menunduk sedikit, mendekat ke telinganya.

“Karena aku penasaran ... seberapa lama kau bisa bertahan sebagai istri Revano. Semua orang tahu dia dingin, bahkan cacat. Dan aku yakin, kau butuh seseorang yang lebih ... normal.”

Rania langsung mundur selangkah. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena tersipu, tapi karena marah.

“Cukup, Leonard. Aku tidak punya waktu untuk permainanmu.”

Ia berbalik, melangkah cepat menuju ruang praktiknya. Tapi jauh di dalam hati, kata-kata Leonard menusuk.

'Apakah semua orang akan memandang pernikahanku seperti itu? Apakah mereka hanya melihatku sebagai pengganti yang terjebak pada pria cacat?'

Sore itu, saat Rania pulang, wajahnya masih muram.

Ia masuk ke rumah Revano dengan pikiran yang berat.

Revano, yang sedang membaca berkas di ruang kerja, langsung menoleh sekilas.

“Kau terlihat lelah. Ada masalah di rumah sakit?”

Rania terdiam sejenak. Ia ingin menjawab jujur, ingin menceritakan bagaimana Leonard menggodanya. Tapi ia tahu, hubungan mereka masih terlalu rapuh untuk berbagi cerita pribadi.

“Tidak ada. Hanya operasi yang melelahkan,” jawabnya akhirnya, berusaha tenang.

Namun, Revano tetap menatapnya lama, seolah mencoba membaca kebohongan di wajahnya.

“Kalau begitu, istirahatlah. Besok aku akan memperkenalkanmu ke beberapa mitra bisnis. Ingat, di depan mereka, kau harus berperan sebagai istriku yang sempurna.”

Rania mengangguk pelan, meski hatinya terasa semakin tertekan.

Di rumah, ia harus berperan sebagai istri sempurna bagi pria dingin yang bahkan tidak ia kenal.

Di rumah sakit, ia harus menghadapi godaan pria lain yang meremehkannya sebagai pengantin pengganti.

Dan di antara keduanya, ia mulai bertanya pada dirinya sendiri.

'Apakah aku cukup kuat untuk menjalani semua ini?'

***

Keesokan harinya.

Hari kerja itu hampir selesai. Rania baru saja keluar dari ruang operasi kedua, masih mengenakan seragam dokter dengan rambut diikat sederhana.

Keringat tipis membasahi pelipisnya, tetapi senyum puas muncul di wajahnya, karena operasi berjalan lancar.

Ia berjalan melewati koridor, beberapa rekan sejawat menyapanya ramah.

Namun, suasana seketika berubah ketika suara langkah sepatu berat terdengar mendekat.

Semua mata otomatis menoleh.

Seorang pria tinggi besar, dengan postur gagah dan wajah tampan bak model internasional, melangkah mantap ke arah Rania.

Bahunya bidang, tatapan matanya tajam, dan senyumnya menawan.

Sekilas, ia mirip dengan Revano, ada aura berwibawa yang sama, tetapi bedanya pria ini sehat, penuh energi, dan sama sekali tidak terlihat cacat.

“Rania,” panggilnya dengan suara berat namun hangat.

Rania spontan terhenti. Jantungnya berdegup cepat.

'Siapa dia? Kenapa ... sekilas mirip Revano?'

Pria itu berdiri di hadapannya, lalu menunduk sedikit dengan sopan.

“Namaku Jeff. Aku datang menjemputmu ... atas permintaan Revano.”

Koridor rumah sakit mendadak riuh dengan bisikan.

“Astaga, siapa itu?”

“Tampan sekali ... mirip banget sama Tuan Revano ya?”

“Benarkah dia orang suruhan Revano?”

Rania menatap Jeff dengan bingung.

“Menjemputku? Tapi ... kenapa harus kau?” tanyanya pelan, masih tak percaya.

Jeff tersenyum tipis. “Karena Revano tidak bisa datang sendiri. Jadi, aku datang mewakilinya.”

Belum sempat Rania merespons, suara sinis Leonard tiba-tiba terdengar dari belakang.

“Menarik sekali. Jadi sekarang suamimu mengutus pria lain untuk menjemputmu? Atau ... sebenarnya pria ini adalah penggantinya?”

Beberapa orang terkekeh, menahan tawa. Situasi menjadi tak enak.

Jeff langsung menoleh pada Leonard, sorot matanya berubah dingin.

“Jangan bicara sembarangan.”

Leonard tertawa kecil, melipat tangan di dada.

“Lalu apa hakmu? Kau siapa, berani sekali bicara begitu di rumah sakit ini?”

Jeff maju selangkah, tubuhnya yang menjulang membuat Leonard tampak ciut. Suaranya tegas, penuh wibawa.

“Namaku Jeff, tangan kanan sekaligus orang kepercayaan Revano Wongso. Dan tugasku sederhana, memastikan Nyonya Wongso tidak diganggu oleh orang-orang yang tidak tahu batas.”

Hening. Koridor seketika sunyi, semua orang menahan napas.

Rania terbelalak. Ia tidak menyangka Jeff bisa membela dirinya sekeras itu, bahkan menyebutnya dengan tegas sebagai Nyonya Wongso.

Leonard tampak terpojok, wajahnya memerah.

Ia mencoba tersenyum sinis, tapi sorot mata Jeff membuatnya sulit bergerak.

“Baiklah,” gumam Leonard, berusaha menutupi rasa malunya. “Aku hanya bercanda.”

Jeff tidak mengalihkan tatapannya. “Kalau begitu, pastikan candaanmu tidak melewati batas lagi. Karena lain kali ... aku tidak akan hanya menegur dengan kata-kata.”

Aura Jeff begitu kuat, membuat semua orang yang menyaksikan kejadian itu seketika terdiam.

Rania berdiri kaku, masih berusaha mencerna semuanya.

Ia bahkan bisa merasakan sorot kagum dari rekan-rekannya yang selama ini meremehkannya.

“Dokter Rania ternyata benar-benar istimewa,” bisik salah satu perawat yang berdiri di sudut.

Jeff lalu menoleh padanya, ekspresinya kembali lembut. “Ayo, waktunya pulang. Revano sedang menunggumu.”

Dengan bingung, Rania hanya bisa mengangguk dan berjalan mengikuti Jeff.

Namun jauh di dalam hatinya, muncul pertanyaan yang tak bisa ia abaikan.

'Siapa sebenarnya Jeff? Mengapa ia begitu mirip Revano? Dan kenapa ... entah bagaimana, kehadirannya membuat hatiku bergetar dengan cara yang berbeda?'

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pengantin Pengganti Revano    Bab 152. Berdamai Dengan Waktu

    Langit pagi di pinggiran kota tampak bersih setelah hujan semalam. Cahaya matahari jatuh lembut di jendela RAJIA Coffee & Flower House, membuat kelopak-kelopak bunga di rak depan tampak berkilau seperti baru disiram harapan.Rania berdiri di balik etalase, menata mawar dan baby breath. Gerakannya pelan, teratur, seolah hidupnya kini mengikuti ritme yang ia pilih sendiri.Bel pintu berbunyi.Ting.Rania mendongak.Revano berdiri di sana.Bukan Revano yang dulu penuh kuasa, bukan pula yang mabuk dan berantakan. Ia tampak lebih kurus, rahangnya menegang, matanya menyimpan kelelahan yang tak sempat disembuhkan.Beberapa pelanggan melirik, tapi Rania tetap tenang.“Duduklah,” ucapnya singkat. “Aku buatkan kopi.”Revano sedikit terkejut.Ia sempat mengira akan diusir.Namun Rania justru bergerak ke mesin espresso tanpa drama, tanpa amarah.Aroma kopi memenuhi ruang.Revano duduk di meja dekat jendela. Tangannya saling mengait, gelisah.Rania meletakkan secangkir kopi di depannya.“Minum. Ka

  • Pengantin Pengganti Revano    Bab 151. Kehancuran Revano

    Hujan mengguyur kota malam itu, tapi Revano tidak peduli.Mobil sportnya melaju kencang, menembus lampu merah, menabrak genangan air, seolah ia sedang berlomba dengan sesuatu yang tidak bisa ia kejar seperti ketenangan.Di dashboard, botol minuman keras tergeletak setengah kosong.Tangannya gemetar saat memutar setir.Bukan karena mabuk sepenuhnya.Tapi karena kosong.Sejak Rania pergi, rumah besar itu berubah seperti museum: sunyi, dingin, dan penuh bayangan kenangan. Tidak ada suara langkah kecil, tidak ada aroma teh pagi, tidak ada perempuan yang dulu menunggunya pulang meski sering disakiti.Yang tersisa hanya gema pintu dan egonya sendiri.Maka Revano memilih tempat lain untuk hidup: malam.Lampu kelab menyala liar.Musik menghantam dada.Asap rokok, parfum mahal, tawa perempuan, dan denting gelas bercampur jadi satu.Revano masuk dengan jaket hitam, wajah tampan yang dulu selalu rapi kini terlihat lelah dan keras.“Rev!” teriak seorang bartender. “Biasanya kamu gak pernah muncul

  • Pengantin Pengganti Revano    Bab 150. Jalan Berbeda

    Pagi datang dengan cahaya pucat yang menyelinap lewat tirai tipis penginapan.Rania terbangun tanpa alarm.Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dadanya terasa… ringan. Bukan karena masalah hilang, tapi karena ia berhenti melawannya dengan rasa takut.Ia duduk di tepi ranjang, menatap jendela yang masih basah oleh sisa hujan semalam.Hari ini bukan tentang Revano.Hari ini tentang dirinya sendiri.Rania meraih ponsel.Puluhan pesan dari Revano masih memenuhi layar. Ia tidak membuka satu pun. Ia hanya mematikan notifikasi nama itu.Bukan membenci.Tapi menjaga jarak agar ia tidak kembali runtuh.“Aku tidak bisa hidup sambil terus menoleh,” gumamnya.Ia mandi, mengenakan kemeja putih sederhana dan celana panjang krem. Rambutnya ia ikat rendah. Tidak ada riasan berlebihan. Hanya wajah Rania yang asli.Setelah itu, ia membuka laptop.Berkas-berkas kerja masih tersimpan rapi.Logo rumah sakit di sudut file.Nama Dr. Rania yang selama ini ia banggakan.Ia menatap layar lama.Pekerjaan

  • Pengantin Pengganti Revano    Bab 149. Kebebasan Untuk Rania

    Sore turun perlahan di rumah sakit. Langit di balik jendela berubah jingga pucat, tapi dada Rania justru terasa semakin gelap. Seharian ia bekerja sambil menahan getaran ponsel yang tak pernah benar-benar berhenti.Dua puluh tiga pesan.Tujuh panggilan tak terjawab.Semua dari Revano.Rania duduk di ruang ganti dokter, membuka ponselnya untuk pertama kali sejak siang.Isinya membuat napasnya tercekat.Revano:Kamu sengaja mempermalukanku di depan orang.Revano:Kamu pikir aku diam saja?Revano:Pulang sekarang. Kita bicara.Revano:Kalau tidak, aku yang datang lagi.Revano:Jangan paksa aku bersikap keras, Rania.Jari Rania bergetar.Ada ancaman di balik setiap kalimat.Ia menatap pantulan wajahnya di loker.Mata yang lelah.Tapi ada sesuatu yang baru: keberanian yang mulai tumbuh.Rania mengunci ponsel.“Aku tidak mau hidup seperti ini lagi,” bisiknya.Di parkiran rumah sakit, Rania baru saja membuka pintu mobil ketika sebuah bayangan menghadangnya.Revano.Ia berdiri tepat di depan

  • Pengantin Pengganti Revano    Bab 148. Berseteru Dengan Leonard

    Pagi di rumah dinas terasa lebih dingin dari biasanya. Rania duduk di meja makan tanpa benar-benar menyentuh sarapannya. Semalaman ia hampir tak tidur. Bayangan Revano yang berdiri terlalu dekat, tatapannya yang seolah ingin mengunci, masih mengendap di kepalanya.Ponselnya bergetar.Nama yang muncul kembali membuat dadanya mengeras.Revano.Rania menatap layar lama.Lalu… ia membiarkannya berdering.Satu panggilan tak dijawab.Dua.Tiga.Akhirnya berhenti.Namun pesan masuk menyusul.Revano:Kenapa tidak angkat?Revano:Kamu sudah bangun?Revano:Hari ini aku antar ke RS.Revano:Jangan ke mana-mana tanpa bilang aku.Rania menarik napas panjang.Alih-alih membalas, ia mematikan layar dan berdiri.“Hari ini aku mau tenang,” gumamnya.Ia mengambil tas, kunci mobil, dan pergi tanpa memberi kabar.Di rumah sakit, suasana seperti biasa: sibuk, ramai, penuh denyut kehidupan.Rania berjalan cepat menuju ruang dokter.Namun baru beberapa langkah, sebuah suara memanggilnya.“Dokter Rania.”Ia

  • Pengantin Pengganti Revano    Bab 147. Obsesi Dalam Ikatan

    Pagi datang tanpa benar-benar membawa segar.Rania terbangun sebelum alarm berbunyi. Dadanya terasa berat, seperti ada sisa mimpi yang menempel dan enggan pergi. Cahaya matahari menyelinap lewat tirai, membentuk garis tipis di lantai kamar.Ia duduk di tepi ranjang, mengusap wajah.Malam tadi, suara Revano masih terngiang di kepalanya.Aku takut kehilanganmu lagi.Kalimat itu seharusnya terdengar manis.Namun entah kenapa, di dada Rania, ia berubah menjadi tekanan.Rania meraih ponsel.Belum sempat membuka apa pun, layar sudah dipenuhi notifikasi.Satu.Dua.Lima.Delapan pesan masuk.Semua dari nama yang sama.Revano.Rania mengernyit.Ia membuka pesan pertama.Revano:Selamat pagi. Kamu sudah bangun?Belum sempat mencerna, ia membaca lanjutannya.Revano:Jangan lupa sarapan. Kamu sering pingsan kalau telat makan.Revano:Hari ini jadwalmu apa? Operasi atau poli?Revano:Kirim lokasi kalau sudah sampai rumah sakit.Revano:Aku cuma mau pastikan kamu aman.Rania menelan ludah.Ada mas

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status