Home / Romansa / Pengantin Pengganti Tuan Gabriel / 5 - Pernikahan Paling Bahagia

Share

5 - Pernikahan Paling Bahagia

Author: Paus
last update Last Updated: 2025-06-24 07:11:36

Satu bulan setelah gagalnya pernikahan Gabriel, tepat hari itu pernikahan yang serupa dilangsungkan di sebuah taman. Dekorasi mewah dengan taburan bunga menjadi perhatian semua orang di sana. Tamu-tamu kehormatan memenuhi kursi-kursi yang berbaris rapi.

Kebanyakan dari mereka berbisik. Tentang kedatangan mereka untuk kedua kalinya pada pernikahan orang yang sama, tapi setelah janji suci pernikahan diucapkan dan senyum lebar diperlihatkan oleh kedua mempelai, semua orang langsung bertepuk tangan meriah.

Seluruh tamu undangan yang datang berasal dari pihak Gabriel. Mulai dari rekan kerja, teman-temannya, dan tentunya seluruh koleganya. Sedangkan Evelyn hanya menjadi orang asing di sana. Tidak ada siapa pun yang datang dari pihaknya untuk menghadiri hari bahagia itu.

"Baiklah, kalian berdua bisa langsung bertukar cincin." Seorang pria yang memimpin pernikahan itu berbicara lagi. Gabriel memberi isyarat pada seseorang yang berdiri di bawah altar dan orang itu langsung naik ke atas untuk menyerahkan sepasang cincin yang sudah dipilih olehnya.

Gabriel menjadi orang pertama yang mengambil cincin tersebut. Dirinya meraih tangan kiri Evelyn dan langsung memasukkan cincin tersebut ke jari manisnya. Agak kebesaran karena dirinya bahkan tidak mengukur terlebih dahulu, tapi tidak masalah. Gabriel mengabaikannya.

Saat giliran Evelyn, dia terlihat gugup ketika mengambil cincin milik Gabriel. Kedua tangannya gemetar ketika dirinya meraih tangan Gabriel dan mulai memasukkan cincin tersebut ke dalam jari manisnya.

"Telan rasa gugupmu baik-baik!" Gabriel mendesis tajam kepada Evelyn yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua dan Evelyn pun meneguk air liur dan berhasil memasukkan cincin tersebut dengan sempurna.

Tepuk tangan kembali membahana pada venue pernikahan tersebut. Pria yang memimpin pernikahan itu mengatakan bahwa mereka sudah resmi menjadi sepasang suami istri.

Tentu semuanya tidak selesai sampai di sana. Setelah berpura-pura memasang senyum amat bahagia sejak tadi, Evelyn dibuat berjengit kaget ketika Gabriel melarikan kedua tangan ke arah lehernya dan tiba-tiba pria itu mendekat untuk mendaratkan ciuman di atas bibirnya.

Pria itu menariknya lebih rapat. Mengulum bibirnya lembut saat dirinya hanya bisa membatu dengan kedua tangan mencengkeram pinggang Gabriel. Hal itu nampaknya membuat Gabriel terganggu. Dia menggigit pelan bibir bawah Evelyn. Memaksa Evelyn untuk membuka mulutnya dan segera membalas ciumannya. Dan itulah yang didapatkannya karena gigitan kecil itu. Evelyn langsung membalas ciumanya tak kalah lembut.

Tanpa rasa, tanpa cinta, itulah ciuman mereka berdua pada pernikahan penuh keterpaksaan itu.

Di antara riuh gema tepuk tangan semua orang yang hadir di pernikahan, Evelyn merasa menjadi satu-satunya orang asing yang ada di sana. Tidak mengenal siapa pun. Bahkan Gabriel sekalipun tidak dikenalnya sama sekali. Tapi begitulah senyumnya terus mengembang mengikuti perintah Gabriel.

Dengan sukarela menjadi boneka di hadapan semua orang yang satu per satu mulai memuji Gabriel karena pernikahan itu.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" Seorang pria bertanya ketika Gabriel mendekatinya dengan segelas minuman di tangannya. Pria itu adalah salah satu kolega Gabriel. "Bulan lalu aku juga datang ke pernikahanmu, tapi tiba-tiba pernikahan itu batal begitu saja. Dan sekarang kau mengadakan ulang pernikahanmu ini? Ada apa sebenarnya?"

Gabriel langsung tertawa. Dia memandang Evelyn yang berdiri di sampingnya. Menarik pinggangnya lebih dekat dengannya. "Ada sedikit kecelakaan bulan lalu dan pernikahan tidak bisa diteruskan. Tapi ternyata aku tidak bisa menundanya lebih lama. Hal baik harus dilanjutkan walaupun sempat tertunda, bukan?"

Pria di hadapan mereka berdua itu tertawa. "Benar. Hal baik itu memang seharusnya tidak ditunda terlalu lama." Pria itu lantas beralih menatap Evelyn di samping Gabriel. "Omong-omong, selama ini kau merahasiakan tentang calon pengantinmu ini. Tidak diduga bahwa dia adalah wanita yang luar biasa cantik."

Gabriel langsung menyipitkan mata dan menjentikkan jari. "Aku sudah menduganya," katanya sedikit berbisik dan mereka berdua pun tertawa bersama. "Kalau begitu silakan nikmati pestanya. Aku akan menyapa yang lain." Dia berpamitan dan pria itu mempersilakannya untuk pergi.

Dalam perjalanan menyapa tamu yang lain itu, Gabriel berbisik kepada Evelyn. "Bagaimana pernikahan ini? Bukankah jauh lebih mewah dan indah daripada pernikahan yang ada di bayanganmu selama ini?"

Katakanlah begitu. Pernikahan itu megah dan mewah. Semua tamu yang datang turut merayakannya dengan wajah bahagia. Gabriel benar. Pernikahan itu jauh dari bayangan pernikahan yang selama ini Evelyn inginkan. Melebihi ekspektasinya.

Tapi apa gunanya kemegahan dan kemewahan pernikahan itu saat kau melakukannya penuh keterpaksaan. Tidak bersama orang yang kau cintai.

"Tidak bisa kah acara ini cepat selesai saja? Aku ingin segera pulang." Evelyn mengeluhkan hal itu. Sama sekali tidak nyaman berada di sana.

Dengan gaun pengantin berwarna putih yang amat indah, Evelyn justru ingin segera melepasnya.

"Santai dulu. Aku harus memamerkanmu dengan semua orang yang hadir di sini. Jadi Bersabarlah sebentar. Tersenyumlah lebih lebar lagi. Aku butuh itu."

Gabriel sedikit mencengkeram pinggang Evelyn dan gadis itu pun langsung menarik senyumnya untuk kembali naik.

"Wah, ayo lihat pengantin baru ini. Bukankah ciuman tadi terlalu panas?" Seseorang berjalan mendekati Gabriel dan Evelyn sambil bertepuk tangan meriah. Dua orang lainnya menyusul di belakang pria yang sedikit lebih muda dari Gabriel itu. Mereka menghadang dua pengantin baru itu.

Ketiganya adalah sepupu Gabriel.

"Tapi apakah kau sama sekali tidak mengundang nenekmu itu? Bagaimana bisa pernikahanmu dilangsungkan, tapi kau malah tidak mengundang satu-satunya anggota keluarga yang kau miliki?" Satu lainnya berbicara. Seorang wanita.

"Oh, ayolah. Kalian bertiga tahu bahwa wanita itu terlalu berisik dan terlalu merepotkan diajak ke acara seperti ini. Aku hanya akan memperkenalkannya nanti saat pulang. Bukankah mengganggu kalau ada kursi roda yang berkeliaran di sini saat pestanya seindah ini?"

Mereka pun langsung tertawa santai.

Gabriel kemudian memperkenalkan Evelyn kepada mereka. Membuat-buat alasan sebaik mungkin tentang kenapa pernikahan sebelumnya harus dibatalkan dengan tiba-tiba.

"Jadi, apa pekerjaanmu, Eve?" Wanita yang tadi berbicara bertanya kepada Evelyn. "Bagaimana caranya bisa menaklukkan laki-laki dingin yang gila kerja ini? Apa kebetulan kau adalah sekretaris pribadinya?"

"Ah, tidak." Evelyn berusaha menimpalinya dengan ramah. "Aku hanyalah guru di taman kanak-kanak."

"Wah, kupikir kau adalah seorang model. Apa kau tidak menyadari betapa cantik wajahmu itu?"

Mendengar kata 'model' langsung membuat senyuman di bibir Gabriel menghilang sepenuhnya. Tiba-tiba itu mengingatkannya pada calon pengantinnya yang kabur. Wanita sialan itu adalah seorang model dengan wajah yang sangat cantik. Tapi sekarang, bahkan hanya membayangkan wajahnya saja membuat Gabriel ingin muntah.

"Sudahlah, aku tidak ingin berbicara dengan kalian lebih lama. Menyingkirlah dari hadapanku." Gabriel mendorong salah satu dari mereka dan ketiganya pun langsung melipir pergi. Membiarkannya untuk pergi agar bisa menyapa tamu yang lain.

"Jangan lunturkan senyummu itu sampai acaranya selesai. Apa kau mengerti?" Gabriel bertanya.

"Apa yang akan kau lakukan kalau tiba-tiba aku berteriak menggunakan mikrofon dan mengatakan kepada semua orang bahwa aku hanyalah pengantin bayaranmu?"

Untuk sesaat, Gabriel menghentikan langkahnya dan langsung mendelik tajam pada Evelyn. "Mungkin aku akan langsung mencekik lehermu saat itu juga di tengah keramaian ini. Sudah kepalang malu, sekalian saja aku terjun ke dalamnya, bukan? Tapi aku juga bisa melakukan hal lain."

"Apa?" Evelyn bertanya dengan kening berkerut. Dan sekali lagi pria itu mendekat ke arahnya tanpa aba-aba kemudian mengecup bibirnya cukup lama. Membuat matanya membelalak.

Saat Gabriel menjauhkan diri lagi, dia menyeringai lebar. "Aku hanya perlu membungkam mulutmu itu sebelum Perkataanmu selesai. Semudah itu." Dia mengangkat bahunya dan seruan heboh pun terdengar di sana-sini.

"Oh please, get a room, Sir!" Seseorang berteriak dan Gabriel pun tertawa sambil menjauhkan diri. Mulai mendekati tamu undangannya lagi dengan tangannya yang tidak mau terlepas dari pinggang Evelyn.

Dua orang itu sebenarnya sama-sama mengidamkan pernikahan yang bahagia. Setidaknya pernah menginginkan hal itu. Tapi bagi mereka berdua sekarang, semuanya sirna sudah.

Di mata Gabriel, pernikahan bukan lagi hal yang diimpikan olehnya. Itu hanya akan menjadi ajang balas dendam untuk melukai perempuan paling sialan yang sudah menjatuhkan harga dirinya.

Sedangkan di mata Evelyn, bahkan sekarang dirinya tidak lagi berani mendambakan pernikahan impiannya. Karena sudah berada di genggaman pria itu, rasanya mustahil dirinya bisa pergi dengan mudah.

Dan mereka berdua sama sekali tidak tahu, bahwa jauh di ujung venue pernikahan tersebut, ada seseorang yang bersembunyi. Memakai topi dengan hoodie berwarna hitam. Menutupi rambut panjangnya yang tergerai indah.

Calon pengantin Gabriel yang kabur itu mengepalkan kedua tangannya melihat pernikahan mewah tersebut.

Seharusnya dirinya yang berada di sana bersama Gabriel.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pengantin Pengganti Tuan Gabriel   53 - Pindah Kamar

    Saat memasuki kamar Gabriel, Evelyn menyimpulkan satu hal. Bahwa pria itu adalah orang yang sangat rapi dan detail. Sejak menikah, itu adalah pertama kalinya Evelyn memasuki kamar Gabriel. Sampai sejauh itu."Kau bisa mengambil pakaianmu untuk malam ini saja. Sisanya aku akan meminta pelayan merapikannya untukmu besok. Aku akan mandi lebih dulu," kata Gabriel bergerak ke arah meja yang ada di kamarnya. Dia meletakkan ponsel serta kunci mobilnya di sana. Di sebuah tempat berbentuk kotak untuk kunci mobil."Baiklah," katanya Evelyn menganggukkan kepalanya pelan. Saat Gabriel masuk ke kamar mandi, Evelyn meletakkan jas serta tas kerja Gabriel yang dipegang olehnya di atas ranjang. Setelahnya dirinya kembali keluar untuk pergi ke kamarnya. Hanya mengambil satu setel pakaian untuk malam itu dan dia kembali menuju kamar Gabriel.Ketika menutup pintu kamarnya, Evelyn mendengar suara langkah kaki di belakang tubuhnya. Membuatnya langsung menoleh. Evelyn mendapati salah satu pelayan di sana.

  • Pengantin Pengganti Tuan Gabriel   52 - Semua Untuk Evelyn

    "Kali ini kau tidak tertidur." Gabriel berbicara. Menyindir Evelyn yang masih duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Sejak siang tadi gadis itu terus terjaga dan anteng sekali duduk di sana.Kadang main ponsel, kadang saat dia Bosan, dia memilih berkeliling di ruangan Gabriel, kadang juga Hanya duduk memainkan kakinya. Seperti anak kecil."Itu karena aku khawatir kau harus menggendongku ke bawah kalau aku tertidur," sahut Evelyn akhirnya."Sebenarnya tidak masalah. Tubuhmu tidak seberat itu.""Tapi aku malu. Aku yakin ada beberapa orang yang belum pulang setiap kali aku pulang dalam keadaan digendong olehmu. Mereka pasti memperhatikanku. Kalau terus-terusan seperti itu, mau ditaruh di mana wajahku?""Bukankah itu jadi terlihat kita sangat harmonis? Semua orang pasti iri dengan hubungan kita.""Berhentilah." Evelyn berdiri dari posisi duduknya. "Daripada membicarakan itu, apa pekerjaanmu sudah selesai?" Dia bertanya bersemangat. Tidak sabar ingin pulang."Katakan saja kalau kau bosa

  • Pengantin Pengganti Tuan Gabriel   51 - Penerimaan

    "Ibuku bilang dia melahirkanku hanya sebagai alat. Katanya itu adalah kewajibanku untuk mengurusnya setelah aku besar dan bisa mencari uang sendiri." Evelyn bertanya berbicara dengan senyum tipis di bibirnya. Menyayat hati Gabriel."Aku sudah berusaha keras selama ini. Aku tidak pernah membeli barang yang kuinginkan, aku tidak pernah pergi berlibur, aku juga tidak pernah pergi bersenang-senang bersama teman-temanku. Karena aku tidak memiliki uang."Evelyn menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tidak ingat kapan terakhir kali jadinya bercerita. Saat menyadarinya, itu tidak pernah terjadi. Karena dirinya tidak mau membuat orang lain kesulitan, kepikiran dengan masalah yang dihadapi olehnya dan akhirnya merasa kasihan.Tapi Gabriel. Perlakuan pria itu kepadanya selama ini. Itu membuatnya merasa memiliki tempat pulang paling nyaman. Itu membuatnya merasa memiliki seseorang yang paling bisa diandalkan, sesuatu yang tidak pernah dimilikinya selama ini."Aku sudah mengurus diriku sendiri sejak s

  • Pengantin Pengganti Tuan Gabriel   50 - Tempat Pulang yang Diharapkan

    "Apa kau tidak menyesal karena sudah menikah denganku?"Saat pertanyaan itu meluncur, Gabriel tahu bahwa memang ada yang tidak beres. Evelyn tiba-tiba datang tanpa alasan apa pun. Dia tidak membawa makan siangnya dan muncul dengan keadaan berantakan."Kenapa kau membicarakan hal yang aneh?" Gabriel mengangkat kedua tangannya dan mengusap basah pada pipi Evelyn. "Soal kesepakatan itu—"Sontak saja Evelyn langsung menundukkan kepalanya lagi. Dia menyambar tangan Gabriel yang sedang mengusap pipinya. Membuat ucapan Gabriel terhentiYa, soal kesepakatan. Evelyn lupa dengan hal itu. Entah pertanyaan bodoh apa yang sedang dirinya tanyakan kepada Gabriel. Seolah-olah pria itu memiliki hal lain saja. Tentu saja semuanya karena kesepakatan yang disetujui olehnya sejak awal.Pria itu mungkin tidak menyesal karena dia juga mendapatkan keuntungan dari kesepakatan pernikahan itu. Evelyn mengerti. Tapi kedatangannya kali ini seakan meminta hal lebih dari Gabriel. Atas semua hal buruk yang sudah dit

  • Pengantin Pengganti Tuan Gabriel   49 - Meminta Pelukan

    "Apa Gabriel yang ada di ruangannya?" Seperti biasa, setiap kali Evelyn datang ke kantor Gabriel, dia memastikan keberadaan suaminya itu terlebih dahulu kepada petugas resepsionis sebelum memutuskan untuk naik atau tidak."Oh, ada. Kebetulan beliau baru saja kembali dari rapat di luar. Anda bisa langsung menemuinya di ruangannya." Si petugas resepsionis itu menjawabnya dengan ramah.Evelyn langsung menganggukan kepala. "Terima kasih. Kalau begitu aku langsung pergi ke sana. Jangan lupa dengan makan siangmu. Ini sudah hampir waktunya makan siang, 'kan?" Dia memberikan perhatian di akhir dan si petugas resepsionis itu hanya tersenyum sambil menganggukan kepala.Ada yang aneh saat itu dengan istri atasannya. Itulah isi kepala si petugas resepsionis. Tapi dia tidak mengatakannya. Hanya diam-diam memperhatikan.Petugas resepsionis tahu bahwa mungkin ada sesuatu yang buruk baru saja terjadi pada istri dari atasannya itu, karena dirinya bisa melihat kedua mata Evelyn yang agak bengkak. Seper

  • Pengantin Pengganti Tuan Gabriel   48 - Rasa Muak yang Terpendam

    "Bu, bisakah kau berhenti saja?" Evelyn bertanya kepada ibunya. Sambil terus mengusapi air matanya yang malah turun semakin banyak."Berhenti bagaimana maksudmu? Sebenarnya apa yang sedang kau bicarakan ini?" Ibunya itu balik bertanya seolah-olah tidak mengerti.Semuanya. Demi Tuhan Evelyn hanya menginginkan agar semuanya berhenti. Wanita itu memperlakukannya dengan sangat buruk selama ini dan sekarang dia bahkan dengan terang-terangan mengatakan bahwa alasan kelahirannya hanyalah dimaksudkan sebagai mesin ATM, sebagai pengasuh, sebagai seseorang yang bisa memenuhi kebutuhan ibunya itu setelah dirinya bisa mencari uang sendiri.Jadi setelah banyaknya hal yang dilalui oleh ibunya setelah melahirkannya, wanita itu menginginkan balasan sebagai bayarannya. Mungkin sesuatu yang harus dilakukannya agar dia bisa hidup sejahtera sampai tua. Dia tidak perlu bekerja, karena dia memiliki seorang anak yang wajib mengurusnya.Evelyn tahu hal itu tanpa ibunya mengatakannya dengan lantang. Meski tid

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status