"Cari pengantin baru untukku yang seusia atau lebih muda dari perempuan sialan itu. Dia harus lebih cantik, harus lebih baik dalam segala hal, harus lebih bermartabat sebagai seorang perempuan. Aku butuh yang bisa bersikap patuh, jadi jangan cari seorang pembangkang." *** Gabriel ditinggalkan oleh calon istrinya di hari pernikahannya. Hanya ada pesan singkat di ponselnya dari calonnya itu. Mengatakan agar dirinya menunggu. Rasa malu dan dendam yang besar membuatnya tidak membiarkan semuanya berakhir begitu saja. Alih-alih menerima penderitaan tersebut, Gabriel justru mencari seseorang untuk menjadi alat sandiwaranya agar bisa menerima predikat sebagai pria paling bahagia di muka bumi. Tidak ada siapa pun yang boleh menganggap dirinya sebagai pria mengenaskan setelah ditinggalkan di hari pernikahan. Evelyn Rose. Seorang perempuan yang akhirnya dipilih oleh Gabriel. Seorang guru di taman kanak-kanak yang menghabiskan waktu beberapa bulan belakangan untuk membayar hutang ayahnya. Pada awal yang dipilih oleh Gabriel yang dimaksudkan untuk membalas dendam, apakah mereka akan tetap berjalan di sana? Atau setelah permainan dimulai, keduanya mulai melibatkan sesuatu yang disebut rasa? Pengantin pengganti itu, apakah akhirnya akan mendapatkan posisi utama dalam hidup Gabriel? Cover by : Canva
Voir plusSemua orang berbisik-bisik. Antara merasa kasihan dan miris melihat seorang pria yang hanya berdiri di altar pernikahannya seorang diri. Sudah cukup lama dan sang mempelai wanita tidak kunjung datang.
Tamu undangan yang awalnya datang untuk menyaksikan pernikahan paling bahagia, tiba-tiba merasa bahwa mereka hanya datang untuk menyaksikan kemalangan seorang pria yang ditinggalkan pengantin wanitanya. Sudah hampir satu jam berlalu sejak acara janji suci pernikahan seharusnya dilangsungkan, tapi semuanya terhenti di sana. Pernikahan tentu tidak bisa dilanjutkan kalau hanya ada satu pengantin, 'kan? Rasa malu, kecewa, dan dendam yang muncul dengan cepat membuat si pengantin pria mengepalkan kedua tangannya. Dia melirik tajam ke arah seorang pria yang mengenakan jas berwarna hitam. Pria itu seakan mengerti dan langsung berjalan menghampirinya. "Apa aku sedang dipermalukan sekarang?" Si pengantin pria bertanya kepada asisten pribadinya. "Maaf, Pak. Saya sudah berusaha menghubungi Nona Olivia, tapi ponselnya mati." "Bagaimana dengan pihak keluarganya?" "Saya juga tidak bisa menghubungi mereka. Bahkan saya sudah mengirim orang untuk menjemput ke rumah mereka langsung, tapi Nona Olivia tidak berada di kediamannya. Rumah itu kosong, Pak." Gabriel, CEO muda dengan wajah rupawan yang disegani banyak orang, akhirnya menyadari bahwa dirinya ditinggalkan oleh pengantin wanitanya di hari pernikahannya. Wanita sialan itu, bisa-bisanya membiarkannya untuk berada di altar pernikahan seorang diri. Dendam itu menyelubungi dada Gabriel. Sebuah janji terucap. Apa pun yang terjadi, dirinya akan membalas rasa malu dan kecewa yang diterimanya kepada gadis itu. Berkali lipat lebih parah. "Bubarkan pernikahan ini. Cari tahu tentang wanita sialan itu. Kejar dia ke ujung dunia sekalipun. Bawa dia untuk berlutut di hadapanku. Kalau kau tidak bisa membawanya dengan cara baik-baik, ikat kakinya dan seret dia. Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri." Gabriel berbicara dingin. Berikutnya, dirinya melonggarkan dasi yang melingkari lehernya dan berlalu pergi begitu saja meninggalkan altar pernikahannya. Melangkah di sebuah karpet putih dengan tatapan semua orang yang menembus kepalanya. Seorang Gabriel dicampakkan sehebat itu, tentu dia tidak akan tinggal diam. Kalau ada satu yang memberinya luka, maka dirinya akan menancapkan pisau berulang kali kepada orang itu sebagai balasannya. Tapi kalau rasa malu yang diterima olehnya sampai membuat harga dirinya hancur, bukankah hanya kematian yang pantas didapatkan oleh orang itu? Atau setidaknya dia harus menderita sampai merasa ingin mati. *** Mansion yang berdiri megah di tengah hutan itu mencekam. Bukan karena posisinya yang berada di tengah-tengah hutan, tapi karena pemiliknya sedang sibuk melemparkan barang ke sana sini. Menghadirkan nuansa mengerikan bagi siapa pun yang berada di sana. Semua orang yang bekerja di sana cemas gugup. Takut bahwa mereka akhirnya akan mendapatkan imbas dari kemarahan Tuan mereka itu. "Dasar jalang kurang ajar! Berani-beraninya kau mempermalukan diriku sampai seperti ini?!" Gabriel berteriak. Tangannya menyambar vas bunga lain yang berada di dekat tangga lantai dua. Gabriel langsung melemparkannya begitu saja ke arah tangga. Membuat semua orang terkesiap dan langsung menutup telinga sambil memalingkan wajah. Berikutnya, yang terdengar adalah suara pintu yang dibanting sangat keras. Gabriel memasuki kamarnya dengan napas terengah-engah karena emosi yang tidak bisa dikendalikan olehnya. Rugi uang bukanlah masalah. Rugi perihal waktu juga bisa ditangani olehnya. Tapi seseorang baru saja menghancurkan harga dirinya, jadi bagaimana bisa dirinya meredakan kemarahan itu? "Aku benar-benar akan mencekikmu sampai mati!" Gabriel mengucapkannya tanpa sadar. Tapi seakan semua hal yang terjadi belum cukup untuk menghancurkannya, tiba-tiba dirinya malah mendapatkan sebuah pesan dari ponselnya. Gabriel merogoh saku bagian dalam jasnya yang sudah terlepas dari tubuhnya itu. Dirinya mengambil ponselnya dan langsung melemparkan jasnya begitu saja ke arah ranjang. Ada pesan masuk dan matanya membelalak. Giginya saling beradu dengan urat-urat leher menonjol. Maafkan aku, Gabriel. Setelah semuanya selesai, aku berjanji akan menjelaskannya padamu. Aku akan berlutut di hadapanmu. Tapi untuk sekarang, aku harus pergi. Aku berharap kamu mau menungguku. Kumohon. -Olivia "Wah, setelah menginjak-injak harga diriku, sekarang dia memintaku untuk menunggunya?" Gabriel tertawa terbahak-bahak. "Apakah dia anak raja?" Tangannya langsung bergerak ke bagian atas layar dan menunjuk satu icon di pojok atas. Gabriel langsung menghubungi nomor asing itu dan menempelkan ponselnya ke telinga, tapi nomor itu langsung tidak bisa dihubungi. Kemarahannya memuncak dan Gabriel langsung melemparkan ponselnya ke lantai. Napasnya naik turun dan dirinya mengusap wajahnya frustrasi. Bersamaan dengan itulah pintu kamarnya terbuka. Memperlihatkan asisten pribadinya yang baru datang. "Pak," panggil William. "Saya tidak bisa menemukannya. Apakah saya harus mencari tahu apa Nona Olivia mungkin melakukan penerbangan atau tidak?" "Tidak perlu!" Gabriel berseru. "Jangan habiskan banyak sumber daya dan tenaga untuk wanita jalang itu! Aku tidak rela." "Tapi tadi Anda bilang—" "Tidak!" Gabriel memotong ucapan William. "Kau tidak perlu mencari wanita sialan itu. Biarkan saja dia pergi ke mana pun dia mau. Karena aku tahu dia pasti akan kembali." Setidaknya Gabriel bisa menyimpulkan hal itu dari pesan yang didapatkannya. Pasti ada sesuatu yang terjadi dan entah kapan, Gabriel yakin wanita itu pasti akan kembali kepadanya. "Baiklah, Pak." William menganggukan kepalanya mengerti. "Seharusnya dia membicarakannya kepadaku kalau ada sesuatu, tapi dia memilih lari dan memperlakukanku seperti ini. Demi Tuhan, aku tidak akan pernah memaafkannya." William hanya diam mendengar gerutuan dari atasannya itu. Sadar betul bahwa kemarahan itu tidak akan bisa dikendalikan. Siapa pun pasti akan merasa kecewa kalau ada di posisi atasannya. Tidak akan ada yang bisa menerima hal itu. "Kalau begitu, apa ada yang bisa saya lakukan untuk Anda?" "Ya, kau harus melakukan sesuatu untukku setelah membereskan semua kekacauan ini." "Baik." William mendengarkan dengan seksama dan jauh di hadapannya, atasannya itu berdiri tegak dengan kedua tangan tenggelam di saku. "Cari pengantin baru untukku yang seusia atau lebih muda dari perempuan sialan itu." Gabriel mengucapkannya dan hal itu langsung membuat William sedikit tersentak. "Dia harus lebih cantik, harus lebih baik dalam segala hal, harus lebih bermartabat sebagai seorang perempuan. Aku butuh yang bisa bersikap patuh, jadi jangan cari seorang pembangkang." "Tapi, Pak—" "Aku tidak menerima tapi darimu, William!" Gabriel berteriak dan William pun langsung menundukkan kepalanya patuh. "Kau hanya perlu melakukannya. Cari pengantin pengganti untukku secepat mungkin." "Baik, Pak." Kali ini William langsung menyahutinya dengan patuh. "Cari tau asal-usulnya dengan baik. Tidak perlu dari keluarga berada yang setara denganku." "Bagaimana dengan karirnya?" "Oh, ayolah, Will. Kalau ingin memaksa seorang untuk menjadi pengantin pengganti, untuk menikah denganku, tentu kau tidak bisa mencari dari mereka yang bisa melakukan semua hal sendiri. Mereka harus butuh sesuatu dariku, baru semuanya akan berjalan lancar." William langsung mengerti apa maksud dari atasannya itu. Pria itu berencana untuk mencari seseorang yang bisa digunakannya sebagai alat balas dendam. Tapi sebagai bawahannya, William tidak bisa berkomentar banyak. Apa yang diinginkan oleh atasannya itu, maka itulah yang akan diberikan olehnya.Saat memasuki kamar Gabriel, Evelyn menyimpulkan satu hal. Bahwa pria itu adalah orang yang sangat rapi dan detail. Sejak menikah, itu adalah pertama kalinya Evelyn memasuki kamar Gabriel. Sampai sejauh itu."Kau bisa mengambil pakaianmu untuk malam ini saja. Sisanya aku akan meminta pelayan merapikannya untukmu besok. Aku akan mandi lebih dulu," kata Gabriel bergerak ke arah meja yang ada di kamarnya. Dia meletakkan ponsel serta kunci mobilnya di sana. Di sebuah tempat berbentuk kotak untuk kunci mobil."Baiklah," katanya Evelyn menganggukkan kepalanya pelan. Saat Gabriel masuk ke kamar mandi, Evelyn meletakkan jas serta tas kerja Gabriel yang dipegang olehnya di atas ranjang. Setelahnya dirinya kembali keluar untuk pergi ke kamarnya. Hanya mengambil satu setel pakaian untuk malam itu dan dia kembali menuju kamar Gabriel.Ketika menutup pintu kamarnya, Evelyn mendengar suara langkah kaki di belakang tubuhnya. Membuatnya langsung menoleh. Evelyn mendapati salah satu pelayan di sana.
"Kali ini kau tidak tertidur." Gabriel berbicara. Menyindir Evelyn yang masih duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Sejak siang tadi gadis itu terus terjaga dan anteng sekali duduk di sana.Kadang main ponsel, kadang saat dia Bosan, dia memilih berkeliling di ruangan Gabriel, kadang juga Hanya duduk memainkan kakinya. Seperti anak kecil."Itu karena aku khawatir kau harus menggendongku ke bawah kalau aku tertidur," sahut Evelyn akhirnya."Sebenarnya tidak masalah. Tubuhmu tidak seberat itu.""Tapi aku malu. Aku yakin ada beberapa orang yang belum pulang setiap kali aku pulang dalam keadaan digendong olehmu. Mereka pasti memperhatikanku. Kalau terus-terusan seperti itu, mau ditaruh di mana wajahku?""Bukankah itu jadi terlihat kita sangat harmonis? Semua orang pasti iri dengan hubungan kita.""Berhentilah." Evelyn berdiri dari posisi duduknya. "Daripada membicarakan itu, apa pekerjaanmu sudah selesai?" Dia bertanya bersemangat. Tidak sabar ingin pulang."Katakan saja kalau kau bosa
"Ibuku bilang dia melahirkanku hanya sebagai alat. Katanya itu adalah kewajibanku untuk mengurusnya setelah aku besar dan bisa mencari uang sendiri." Evelyn bertanya berbicara dengan senyum tipis di bibirnya. Menyayat hati Gabriel."Aku sudah berusaha keras selama ini. Aku tidak pernah membeli barang yang kuinginkan, aku tidak pernah pergi berlibur, aku juga tidak pernah pergi bersenang-senang bersama teman-temanku. Karena aku tidak memiliki uang."Evelyn menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tidak ingat kapan terakhir kali jadinya bercerita. Saat menyadarinya, itu tidak pernah terjadi. Karena dirinya tidak mau membuat orang lain kesulitan, kepikiran dengan masalah yang dihadapi olehnya dan akhirnya merasa kasihan.Tapi Gabriel. Perlakuan pria itu kepadanya selama ini. Itu membuatnya merasa memiliki tempat pulang paling nyaman. Itu membuatnya merasa memiliki seseorang yang paling bisa diandalkan, sesuatu yang tidak pernah dimilikinya selama ini."Aku sudah mengurus diriku sendiri sejak s
"Apa kau tidak menyesal karena sudah menikah denganku?"Saat pertanyaan itu meluncur, Gabriel tahu bahwa memang ada yang tidak beres. Evelyn tiba-tiba datang tanpa alasan apa pun. Dia tidak membawa makan siangnya dan muncul dengan keadaan berantakan."Kenapa kau membicarakan hal yang aneh?" Gabriel mengangkat kedua tangannya dan mengusap basah pada pipi Evelyn. "Soal kesepakatan itu—"Sontak saja Evelyn langsung menundukkan kepalanya lagi. Dia menyambar tangan Gabriel yang sedang mengusap pipinya. Membuat ucapan Gabriel terhentiYa, soal kesepakatan. Evelyn lupa dengan hal itu. Entah pertanyaan bodoh apa yang sedang dirinya tanyakan kepada Gabriel. Seolah-olah pria itu memiliki hal lain saja. Tentu saja semuanya karena kesepakatan yang disetujui olehnya sejak awal.Pria itu mungkin tidak menyesal karena dia juga mendapatkan keuntungan dari kesepakatan pernikahan itu. Evelyn mengerti. Tapi kedatangannya kali ini seakan meminta hal lebih dari Gabriel. Atas semua hal buruk yang sudah dit
"Apa Gabriel yang ada di ruangannya?" Seperti biasa, setiap kali Evelyn datang ke kantor Gabriel, dia memastikan keberadaan suaminya itu terlebih dahulu kepada petugas resepsionis sebelum memutuskan untuk naik atau tidak."Oh, ada. Kebetulan beliau baru saja kembali dari rapat di luar. Anda bisa langsung menemuinya di ruangannya." Si petugas resepsionis itu menjawabnya dengan ramah.Evelyn langsung menganggukan kepala. "Terima kasih. Kalau begitu aku langsung pergi ke sana. Jangan lupa dengan makan siangmu. Ini sudah hampir waktunya makan siang, 'kan?" Dia memberikan perhatian di akhir dan si petugas resepsionis itu hanya tersenyum sambil menganggukan kepala.Ada yang aneh saat itu dengan istri atasannya. Itulah isi kepala si petugas resepsionis. Tapi dia tidak mengatakannya. Hanya diam-diam memperhatikan.Petugas resepsionis tahu bahwa mungkin ada sesuatu yang buruk baru saja terjadi pada istri dari atasannya itu, karena dirinya bisa melihat kedua mata Evelyn yang agak bengkak. Seper
"Bu, bisakah kau berhenti saja?" Evelyn bertanya kepada ibunya. Sambil terus mengusapi air matanya yang malah turun semakin banyak."Berhenti bagaimana maksudmu? Sebenarnya apa yang sedang kau bicarakan ini?" Ibunya itu balik bertanya seolah-olah tidak mengerti.Semuanya. Demi Tuhan Evelyn hanya menginginkan agar semuanya berhenti. Wanita itu memperlakukannya dengan sangat buruk selama ini dan sekarang dia bahkan dengan terang-terangan mengatakan bahwa alasan kelahirannya hanyalah dimaksudkan sebagai mesin ATM, sebagai pengasuh, sebagai seseorang yang bisa memenuhi kebutuhan ibunya itu setelah dirinya bisa mencari uang sendiri.Jadi setelah banyaknya hal yang dilalui oleh ibunya setelah melahirkannya, wanita itu menginginkan balasan sebagai bayarannya. Mungkin sesuatu yang harus dilakukannya agar dia bisa hidup sejahtera sampai tua. Dia tidak perlu bekerja, karena dia memiliki seorang anak yang wajib mengurusnya.Evelyn tahu hal itu tanpa ibunya mengatakannya dengan lantang. Meski tid
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Commentaires