Share

38,

Author: Fatimahnur
last update publish date: 2026-09-07 20:26:53

Aku tidak menyangka ia akan datang dan segera menangkap tubuhku. Aku melihat ia merasa khawatir sekarang. "Apa kau terluka?" tanyanya sekali lagi.

Aku hanya menggeleng pelan, tapi beberapa saat setelahnya ia berusaha meraih tanganku dan... "Ini, apa?! Alicia, aku adalah pasanganmu, aku tahu bila kau terluka. Bau darahmu membuatku datang kemari, keributan apa yang kau lakukan kali ini?!" tanya Ferdo dengan ekspresi wajah yang tampak kesal.

Aku yang sebelumnya merasa iba dan terharu dengan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pengantin Pengganti Untuk Tuan Alpha   59, Pulang.

    Sore harinya... Ferdo membawaku pulang ke rumah lain, dan akunmenyadari jarak rumah yang akan kami tempati lebih dekat dari rumah sakit besar di kota itu. Aku menatap Ferdo lama, ia menoleh ke arahku lalu bertanya... "Kenapa kamu memandangku begitu? Ada yang salah denganku?" tanyanya pelan, tapi suaranya terdengar datar. Aku menggeleng pelan, tapi kembali menatap rumah itu. "Kenapa di sini?" tanyaku tanpa mengatakan hal yang jelas. "Alasannya mungkin kamu tahu tanpa aku mengatakannya. Lebih dekat dari rumah sakit, dan pusat perbelanjaan. Kalau ada sesuatu akan lebih cepat ditangani, dan kalau ada sesuatu yang ingin kamu makan dan kamu beli kamu akan mudah membelinya dan tidak menunggu waktu yang lama. Alicia, mungkin nantinya aku akan meminta bantuan padamu." ujar Ferdo. Lelaki itu mulai bicara dengan sangat serius. "Ada apa? Katakan saja." "Tidak sekarang, nanti aku akan katakan padamu, ini soal keluargamu yang gila itu, tapi aku masih ada banyak pekerjaan jadi kamu istir

  • Pengantin Pengganti Untuk Tuan Alpha   58,

    Ferdo melumat bibirku tanpa ampun, ia tampak menghisapnya dan membuatku merasa terlena. Tangannya menarik di bawah sana dan membuatku mengalami pelepasan yang membuatku basah! "Ummppphh! Ferdo." satu panggilan itu menghentikan aksinya ia memegang pipiku dengan kedua tangannya, menarik wajahku ke arahnya lalu mengecup keningku perlahan. "Alicia, aku benci mengatakan ini, tapi aku merasa aku nyaman ketika kamu ada di sini bersamaku. Aku mohon, tetap di sini, bersamaku dan tunggu aku menyelesaikan semua kekacauan yang ada." Ferdo bicara dengan lembut, setiap katanya seakan menggetarkan hatiku yang semula sangat kacau dan sedikit tidak mempercayainya. Aku menatapnya lama sekali, dan aku mengangguk kecil. "Apa kamu mencintaiku?" tanyaku pelan. Entah bagaimana ceritanya aku menemukan keberanian sebesar itu untuk bertanya tentang perasaannya padaku. Ferdo tidak menjawab, Ferdo hanya diam sembari menatap wajahku. "Alicia, aku masih belum tahu soal itu. Yang jelas sekarang –

  • Pengantin Pengganti Untuk Tuan Alpha   57,

    Sudah tiga hari aku dirawat di rumah sakit ini. Selama tiga hari itu, Ferdo memperlakukanku dengan sangat baik. Terlalu baik, bahkan. Jika aku boleh jujur, aku tidak pernah diperlakukan seperti ini seumur hidupku. Setiap pagi, ia selalu memastikan sarapanku datang tepat waktu. Ia akan menyuapiku sendiri jika tanganku terlalu lemah untuk memegang sendok. Ia akan membetulkan posisi bantal di punggungku, memastikan selimutku tidak terlalu tipis atau terlalu tebal. Ketika perawat datang untuk memeriksa infus dan detak jantung janin, ia akan berdiri di sampingku, menggenggam tanganku erat-erat, seolah-olah memberikan kekuatan. Di malam hari, ia tidak pernah membiarkanku sendirian. Sofa panjang yang ada di sudut ruangan VIP itu telah menjadi tempat tidurnya. Ia menolak pulang ke rumah, menolak untuk beristirahat di tempat yang lebih layak. Ia bilang, ia tidak akan tenang jika tidak melihatku dengan mata kepalanya sendiri. Ia benar-benar memanjakanku. Ia membawakanku buah-buahan segar y

  • Pengantin Pengganti Untuk Tuan Alpha   56,

    "Ferdo, aku akan mati kan kalau anak ini lahir?" aku mulai bicara. Di rumah sakit itu, di antara aroma antiseptik yang menusuk dan suara monitor detak jantung yang berdetak pelan, akhirnya aku memberanikan diri untuk mengutarakan seluruh isi hatiku kepada Ferdo.Selama ini aku diam. Aku menahan semuanya sendirian. Rasa takut, rasa sakit, dan rasa bersalah yang terus menghantamku tanpa henti."Ferdo," suaraku bergetar. Tanganku memegang perutku yang semakin membesar. "Aku takut. Aku sangat takut, Ferdo."Aku menatapnya dengan mata yang sudah penuh air mata. Aku tidak lagi peduli terlihat lemah. Di hadapannya, aku hanyalah seorang perempuan yang sedang berusaha mempertahankan dua nyawa sekaligus, nyawaku dan nyawa janin yang ada di dalam kandunganku."Aku takut aku tidak akan kuat. Aku takut terjadi sesuatu pada anak ini. Aku takut kehilangan dia sebelum aku sempat mendengar tangisannya," ucapku terisak.Ferdo tidak langsung menjawab. Ia terdiam sejenak, sorot matanya yang biasanya teg

  • Pengantin Pengganti Untuk Tuan Alpha   55, tetap di sini

    Suara dering ponsel terdengar. Aku masih terbaring dengan infus yang menempel di punggung tanganku. Bunyi itu memecah keheningan ruang rawat yang sejak pagi hanya diisi oleh suara alat monitor dan langkah suster yang sesekali masuk. Dan itu dari ponsel Ferdo. Ponselnya bergetar di atas meja kecil di samping tempat tidurku. Layarnya menyala. Aku tidak bisa melihat jelas siapa yang menelepon dari posisiku, namun aku bisa melihat Ferdo yang duduk di kursi sampingku langsung menegakkan tubuhnya. Aku hanya diam. Ferdo langsung mengambil ponselnya dan dahinya mengernyit saat melihat nama penelfon. Kerutan yang sangat jelas di antara kedua alisnya. Wajahnya yang tadi terlihat lega karena aku sudah siuman, kini kembali tegang. Rahangnya mengeras. Aku mengenal ekspresi itu. Itu adalah ekspresi yang selalu ia tunjukkan ketika ada sesuatu yang tidak ia sukai, sesuatu yang mengganggunya. Ia menatapku sejenak, lalu menatap layar ponselnya lagi. Panggilan itu terus berdering, cukup keras dan

  • Pengantin Pengganti Untuk Tuan Alpha   54, Siuman.

    Pagi mungkin telah tiba.Cahaya mentari masuk melalui kaca jendela yang besar, hangat dan menyilaukan. Aku membuka mata perlahan. Silau sekali, hingga aku harus memejamkannya lagi.Saat aku membuka mata untuk kedua kalinya, yang aku lihat adalah langit-langit kamar berwarna putih. Putih bersih, dengan lampu gantung yang menyala temaram. Aroma antiseptik yang menyengat masuk ke hidungku. Bukan kamarku.Aku mencoba memandang ke segala arah dan menggerakkan tubuhku sedikit.Tubuhku terasa berat, seperti kapas yang basah. Kepalaku sedikit pusing. Dan saat aku mencoba menggerakkan tangan kananku, aku merasa tanganku sakit. Ada rasa nyeri yang berdenyut. Aku melihat ada selang infus di punggung tanganku. Jarumnya menancap, cairan bening menetes pelan dari kantung di atas.Aku bingung. Kenapa aku di sini? Apa yang terjadi?Ingatanku kembali perlahan, seperti potongan film yang berantakan. Aku ingat percakapan di balik pintu. Aku ingat suara Veronica. Aku ingat kata "hamil" dan kata "mati". A

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status