LOGINAlice melangkah masuk ke dalam kamar dengan gerakan lambat, seolah beban di pundaknya bertambah berkali-kali lipat setelah mendengar percakapan Zavian di bawah. Ia menutup pintu dengan pelan, berusaha tidak menimbulkan suara.
Di atas ranjang, Evan sedang duduk bersandar pada tumpukan bantal. Tatapannya kosong, tertuju pada jendela besar yang menampilkan langit cerah siang ini. Mendengar derit pintu, Evan menoleh. Ia mendapati wajah Alice yang tampak murung, matanya sedikit sembap dan pancaran matanya redup.
"Kau dari mana saja?" tanya Evan. Suaranya tidak sekasar biasanya, ada sedikit nada penasaran di sana.
Alice tersentak, ia tidak menyangka Evan akan memulai percakapan basa-basi. Ia berjalan menuju sofa dan duduk di sana. "Aku hanya dari dapur, menaruh nampan sarapanmu."
"Lalu kenapa wajahmu seperti itu?" Evan menyipitkan mata. "Apa Papa mengatakan sesuatu padamu di bawah tadi?"
Alice menggeleng kecil, mencoba memaksakan senyum yang terlihat get
Alice masih duduk bersimpuh di lantai toilet yang dingin. Isak tangisnya mulai mereda, menyisakan sesak yang menghimpit dada. Ia menatap pantulan dirinya di wastafel marmer dengan mata yang merah dan bengkak. Pikirannya terus berputar pada satu kenyataan pahit. Mau Evan ingat atau tidak, ia tetaplah orang asing di mata pria itu."Harapan ini hanya akan membunuhku pelan-pelan," bisik Alice pada dirinya sendiri.Di luar pintu kayu toilet, dua penjaga berbadan tegap mulai merasa gelisah. Mereka saling lirik, sesekali melihat jam tangan. Sudah hampir lima belas menit Alice tidak kunjung keluar.Tok! Tok! Tok!"Nyonya Alice? Anda baik-baik saja di dalam?" tanya salah satu penjaga dengan suara berat yang tertahan.Tidak ada jawaban. Penjaga itu mengetuk lagi, lebih keras. "Nyonya? Mohon jawab kami, atau kami terpaksa mendobrak pintu ini atas perintah Tuan Zavian."Mendengar ancaman itu, Alice segera berdiri. Ia membasuh wajahnya dengan air dingin
Suara bentakan Evan menggelegar di dalam ruangan VVIP yang semula sunyi, memecah ketenangan malam. Lavina tersentak bangun dari sofa, napasnya memburu karena kaget. Ia segera bangkit dan melihat Alice berdiri mematung dengan bahu yang bergetar hebat di samping ranjang."Nek, usir dia sekarang juga!" teriak Evan sambil menunjuk Alice dengan jari gemetar. Wajahnya merah padam karena amarah yang tidak berdasar. "Mengapa perempuan asing ini masih ada di sini? Aku sudah bilang aku tidak mengenalnya! Dia terus membicarakan omong kosong tentang masa lalu yang tidak pernah ada!"Lavina mendekat dengan cepat, mencoba menengahi. "Evan, tenanglah. Kau baru saja sadar, jangan berteriak seperti itu.""Tenang bagaimana, Nek? Dia masuk ke kamarku, menyentuh tanganku, dan mengklaim sebagai istriku! Dia gila!" Evan mendesis, matanya menatap Alice dengan tatapan jijik. "Keluar! Aku tidak sudi melihat wajahmu lagi di ruangan ini. Pergi!"Alice tidak sanggup lagi mengeluarka
Selena tidak melepaskan pandangannya dari pintu besi di ujung tangga beton. Suara langkah kaki yang berat dan berirama itu membuatnya menahan napas. Ia berharap, setidaknya salah satu dari penjaga itu merasa kasihan dan melepaskan ikatan yang sudah menyayat kulit pergelangan tangannya.Dua pria berbadan besar dengan setelan hitam khas pengawal keluarga Nathaniel muncul dari kegelapan. Mereka berjalan perlahan mendekati Selena yang tampak menyedihkan di tengah ruangan."Apa ... apa kalian datang untuk membebaskanku?" tanya Selena dengan suara serak, ada setitik harapan dalam matanya yang sembab.Kedua pria itu saling lirik sebelum akhirnya tawa keras mereka menggema, memantul di dinding-dinding beton yang lembap. Tawa itu terdengar seperti ejekan yang menusuk telinga Selena."Membebaskanmu?" salah satu pria itu berhenti tertawa, wajahnya berubah dingin dalam sekejap. "Kami diperintahkan untuk membawamu ke tempat yang jauh lebih mengerikan dari lubang tikus
Alice dan Lily masih terduduk di bangku panjang koridor rumah sakit yang dingin. Bau antiseptik yang tajam menusuk hidung, menambah suasana mencekam di lantai VVIP itu.Sementara itu, Lavina yang sempat menangkap bisikan Rico kepada Zavian segera berdiri. Wajahnya yang semula penuh kesedihan berubah menjadi tegang. Ia menarik lengan jas Zavian, membawanya sedikit menjauh dari jangkauan pendengaran Alice."Zavian, kau dengar sendiri apa yang Rico katakan. Kau yakin akan pergi ke sana sekarang?" tanya Lavina dengan suara rendah namun menekan. "Evan masih terbaring lemah di dalam sana. Dia butuh ayahnya."Zavian menatap ibunya dengan tatapan keras. "Tidak ada pilihan lain, Ma. Victor sudah ditemukan. Jika aku menunda satu jam saja, dia akan segera menyelesaikan pengunggahan data proyek yang dia curi dari kita. Jika data itu masuk ke bursa saham atas nama perusahaannya, keluarga Nathaniel akan tamat malam ini.""Tapi kekerasan bukan satu-satunya jalan,
Butiran bening mulai luruh membasahi pipi Alice. Ia berdiri mematung di tengah ruangan VVIP yang dingin. Padahal baru beberapa saat lalu, hatinya melambung tinggi, yakin bahwa kecelakaan ini akan menjadi kunci pembuka kotak memori Evan tentang masa pengungsian mereka. Namun, kenyataan yang menghantamnya justru ribuan kali lebih menyakitkan.Alice mencoba melangkah maju, tangannya gemetar hendak meraih jemari Evan yang terbaring di ranjang. "Evan, ini aku... Alice. Aku istrimu.""JANGAN MENDEKAT!" bentak Evan dengan suara menggelegar. Matanya merah, menatap Alice dengan kebencian murni. "Aku tidak kenal siapa kau! Berhenti menyebut dirimu istriku. Aku hanya punya satu kekasih, dan namanya Selena! Keluar dari sini sebelum aku memanggil keamanan untuk menyeretmu!"Alice tersentak mundur seolah baru saja ditampar dengan keras. Napasnya tercekat di tenggorokan. Lavina yang sejak tadi berdiri di ambang pintu segera berlari menghampiri Alice. Ia merangkul bahu gadis it
Zavian berdiri di sudut ruangan IGD, mengamati putranya dengan tatapan yang sulit diartikan. Di atas ranjang, Evan tampak gelisah. Ia memang mengenali Lavina dan Zavian, namun ada sorot mata yang berbeda sesuatu yang kosong dan tertinggal di masa lalu."Nek, di mana Selena?" tanya Evan sekali lagi. Suaranya serak namun mendesak. "Kenapa dia tidak ada di sini? Kami harus segera mengurus persiapan pernikahan minggu depan."Lavina menutup mulutnya dengan tangan, tubuhnya bergetar hebat. "Evan... apa yang kau bicarakan, Sayang? Selena itu...""Selena kekasihku, Nek! Kami akan menikah," potong Evan dengan nada tegas, seolah itu adalah kebenaran mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. "Kenapa kalian semua menatapku seperti aku ini orang gila?"Zavian segera menarik Rico ke luar ruangan. Wajahnya yang tegang menunjukkan sebuah rencana baru yang sedang terbentuk di kepalanya."Rico, hubungi Lily sekarang. Suruh cepat Alice datang ke sini ditemani Lily!" per







