Beranda / Romansa / Pengantin Pengganti Yang Dibenci / 126. Benih yang Tertanam

Share

126. Benih yang Tertanam

Penulis: Fiyaseni
last update Terakhir Diperbarui: 2026-03-16 10:00:56

Evan mencengkeram kemudi hingga kuku jarinya memutih. Matanya melotot menatap layar ponsel yang masih menyala di dasbor. Pesan dari pengacara Edwin belum selesai. Sebuah notifikasi kedua muncul, kali ini berupa dokumen PDF dan pesan teks yang lebih spesifik.

"Selena Smith dinyatakan positif hamil. Usia kandungan delapan minggu. Kami memiliki bukti medis valid bahwa janin tersebut adalah darah daging anda, Tuan Evan. Edwin Smith tidak akan membiarkan Alice menguasai seluruh aset Elino j

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pengantin Pengganti Yang Dibenci   127. Kebenaran di Balik Skandal

    Suara deru mesin mobil Evan yang memasuki halaman terdengar hingga ke kamar lantai atas. Lavina segera bangkit dari sisi tempat tidur Alice. Ia melihat wajah Alice yang masih terpejam dengan sisa air mata di sudut matanya. Efek dari stres dan mual yang berlebihan membuat wanita itu jatuh pingsan ke dalam tidur yang tidak nyenyak."Lily, jaga dia. Jangan biarkan dia bangun dan turun ke bawah sebelum aku memintanya," bisik Lavina dengan nada otoriter."Baik, Nyonya Besar," jawab Lily patuh.Lavina melangkah keluar kamar dengan langkah yang mantap, tongkatnya mengetuk lantai marmer dengan irama yang menuntut jawaban. Di lantai bawah, Evan baru saja masuk dengan wajah yang sangat tegang, sementara Zavian sudah berdiri di tengah aula, tampaknya baru saja menerima laporan serupa dari tim keamanannya."Evan! Zavian! Ke ruang kerja sekarang!" seru Lavina dari balkon lantai dua.Evan mendongak, melihat kemarahan di wajah neneknya. Ia tahu kabar tentang Sele

  • Pengantin Pengganti Yang Dibenci   126. Benih yang Tertanam

    Evan mencengkeram kemudi hingga kuku jarinya memutih. Matanya melotot menatap layar ponsel yang masih menyala di dasbor. Pesan dari pengacara Edwin belum selesai. Sebuah notifikasi kedua muncul, kali ini berupa dokumen PDF dan pesan teks yang lebih spesifik."Selena Smith dinyatakan positif hamil. Usia kandungan delapan minggu. Kami memiliki bukti medis valid bahwa janin tersebut adalah darah daging anda, Tuan Evan. Edwin Smith tidak akan membiarkan Alice menguasai seluruh aset Elino jika ada pewaris lain dari garis keturunan anda sendiri.""Brengsek!" Evan memukul kemudi dengan keras. Suara klakson panjang terdengar memekakkan telinga di bahu jalan yang sepi.Ia segera melakukan panggilan suara ke pengacara tersebut, namun nomornya langsung tidak aktif. Evan melempar ponselnya ke kursi penumpang. Wajahnya merah padam."Aku tidak mungkin sebodoh itu," desis Evan. Namun, keraguan mulai menyusup. Ia tahu Selena licik. Wanita itu bisa melakukan apa saj

  • Pengantin Pengganti Yang Dibenci   125. Hukuman Dari Nenek

    "Nek, tunggu! Nenek salah paham!" Evan berseru sambil melepaskan tangannya dari mulut Alice. Ia segera mengangkat kedua tangannya ke udara, mencoba menunjukkan bahwa ia tidak berniat jahat.Namun, Lavina tidak peduli dengan penjelasan itu. Wajahnya yang biasanya anggun kini tampak seperti singa yang siap menerkam. Ia meletakkan nampan berisi bubur dan susu di atas meja nakas dengan dentuman keras, lalu tanpa peringatan, ia menyambar nampan plastik kosong yang ada di dekatnya."Apa yang kau lakukan pada istrimu yang sedang hamil, hah?!" teriak Lavina sambil memukulkan nampan itu ke bahu dan lengan Evan."Aduh! Nek, ampun! Aku tidak menyakitinya!" Evan mengaduh, ia mencoba menghindar namun Lavina terus mengejarnya di sekitar ranjang."Beraninya kau masuk ke kamarku dan membekapnya! Kau pikir kau siapa? Preman?!" Lavina kembali mengayunkan nampan, kali ini mengenai punggung Evan."Nek, sakit! Aku hanya ingin minta maaf dan pamit kerja!" seru Evan samb

  • Pengantin Pengganti Yang Dibenci   123. Gairah Yang Tertahan

    Evan terdiam kaku. Tangan yang tadinya begitu aktif di bawah sana mendadak ditarik kembali. Ia menarik napas panjang, mengembuskannya dengan kasar hingga bahunya naik-turun tak beraturan. Ucapan Alice tentang keselamatan janin mereka seolah menjadi tamparan keras yang menyadarkannya dari kabut gairah.Ia bergerak menjauh, lalu duduk di pinggir ranjang dengan membelakangi Alice. Punggungnya yang lebar tampak tegang, memperlihatkan otot-otot yang menonjol akibat hasrat yang tertahan di puncak.Alice perlahan duduk. Ia merapatkan kembali baju tidur satinya yang sempat tersingkap. Melihat punggung Evan yang diam membisu, hatinya merasa tidak enak. Ia tahu suaminya sedang berjuang melawan insting alaminya sendiri."Evan?" panggil Alice lembut. Ia mengulurkan tangan, mencoba menyentuh bahu suaminya. "Kau marah padaku?"Begitu ujung jari Alice menyentuh kulit punggungnya, Evan berjengit. Ia segera menepis tangan Alice dengan gerakan refleks yang cukup kasar.

  • Pengantin Pengganti Yang Dibenci   122. Napas Baru di Keluarga Nathaniel

    Zavian menatap Rico dengan sorot mata yang dingin namun mantap. Ucapan Rico tentang ancaman Edwin seolah lewat begitu saja di telinganya. Untuk pertama kalinya dalam satu dekade, Zavian memutuskan untuk mematikan mesin perang di dalam kepalanya."Lupakan soal Edwin, Rico. Lupakan soal ahli waris, pengacara, atau apa pun itu," ujar Zavian pelan namun penuh penekanan."Tapi Tuan Besar, ini bisa menjadi celah hukum yang ....""Aku bilang lupakan," potong Zavian. Ia menoleh ke arah pintu kamar rawat tempat tawa kecil Alice mulai terdengar. "Hari ini, di detik ini, tidak ada musuh. Hanya ada cucuku. Urus semua administrasi kepulangan Alice. Aku ingin dia tidur di ranjangnya sendiri malam ini."Rico terdiam, lalu membungkuk hormat. "Baik, Tuan Besar. Saya mengerti."Kepulangan Alice ke rumah disambut dengan suasana yang jauh berbeda dari biasanya. Tidak ada lagi ketegangan yang menyesakkan dada. Para pelayan berbaris rapi di lobi, namun kali ini bukan un

  • Pengantin Pengganti Yang Dibenci   121. Ambigu

    Zavian memutar tubuhnya, membelakangi Selena yang masih meraung di aspal. Ia tidak menoleh sedikit pun ketika polisi mulai mensterilkan area gudang tua itu. Baginya, Selena hanyalah kerikil kecil yang sudah tertiup angin. Pikirannya saat ini hanya tertuju pada satu nama: Alice."Rico, tinggalkan tim di sini untuk mengurus sisa administrasi dengan Komisaris," ujar Zavian sambil melangkah masuk ke dalam mobil. "Kita ke Rumah Sakit Pusat sekarang. Jangan lewatkan satu lampu merah pun.""Baik, Tuan Besar," sahut Rico. Mobil SUV itu melesat, meninggalkan debu yang berterbangan di belakang mereka.Di saat yang sama, mobil yang membawa Evan dan Alice tiba di lobi utama Rumah Sakit Pusat. Area tersebut sudah dikosongkan oleh tim keamanan Nathaniel untuk memastikan privasi. Leo membukakan pintu mobil dengan cepat."Ayo, Alice. Kita sudah sampai," ujar Evan lembut sambil mencoba membantu Alice turun.Alice mengangguk lemah. Wajahnya yang semula pucat kini ta

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status