Mag-log inEdwin tertegun, ia memiringkan kepalanya seolah salah mendengar. "Maksudmu? Elino hanyalah pengusaha kecil, Vin. Dia dan Zavian, itu tidak mungkin."
"Itu benar, Pa," Vinnie mendekat, suaranya nyaris berbisik. "Zavian bukan hanya teman bisnis. Mereka bersahabat sejak muda. Dan aku pernah mendengar Kak Elino bicara lewat telepon sebelum dia meninggal... Zavian memegang sesuatu yang sangat berharga milik Alice."
Edwin terbelalak. "Kalau mereka bersahabat, kenapa Zavian membiarkan A
Evan menarik napas panjang, matanya tidak lepas dari sosok Alice yang terbaring lemah di ranjang VIP. Di tangannya, ponsel masih menempel di telinga, menyambungkan suaranya dengan Rico di lantai bawah."Dia baru saja sadar, Rico. Dan kau tahu apa yang dia tanyakan? Dia menanyakan kondisi Selena," ujar Evan dengan nada tidak percaya."Nyonya Alice menanyakan Selena? Setelah semua yang terjadi?" tanya Rico di seberang telepon."Ya. Alice tetaplah Alice. Meskipun Selena selalu berupaya menghancurkan hidupnya, Alice masih menganggapnya sepupu. Dia merasa bersalah jika sesuatu yang buruk terjadi pada Selena, apalagi setelah dia tahu Selena juga sedang hamil," Evan mengusap wajahnya dengan kasar. "Pastikan saja pengamanan di sana ketat. Aku tidak mau Alice nekat turun ke bawah untuk menjenguk wanita ular itu.""Baik, Tuan Muda. Saya akan tetap di posisi."Evan mematikan sambungan telepon. Ia berbalik dan mendekati ranjang Alice. Istrinya itu menatapnya d
Genggaman tangan Selena pada lengan kemeja Evan perlahan melonggar. Keringat dingin dan kain baju rumah sakit yang licin membuat cengkeraman itu tidak bertahan lama. Wajah Selena memucat, matanya membelalak menatap langit saat gravitasi mulai menarik tubuhnya ke belakang."Evan! Tolong!" teriak Selena dengan suara melengking."Selena! Pegangan!" Evan berteriak, jarinya berusaha mengait pergelangan tangan Selena, namun gagal.Selena terlepas. Tubuhnya jatuh melayang dari ketinggian lantai 12. Jeritan histeris pecah dari kerumunan orang di bawah. Evan memejamkan mata rapat-rapat, tidak sanggup melihat tubuh wanita itu menghantam aspal. Namun, suara benturan keras yang ia bayangkan tidak terdengar seperti logam menghantam batu.Suara itu lebih seperti benda berat jatuh di atas balon besar. Evan segera membuka mata dan melongok ke bawah pagar pembatas. Di sana, tim pemadam kebakaran sudah bersiaga dengan inflatable rescue air cushion, sebuah balon udara raksa
Evan berdiri mematung mendengar laporan Rico. Kepalanya yang sudah pening karena kurang tidur terasa seperti dihantam palu. Ia menatap ke arah pintu kamar VIP tempat Alice baru saja dipindahkan, lalu beralih menatap ayahnya yang tampak geram."Di mana dia sekarang?" tanya Evan, suaranya terdengar tajam."Dia menghilang dari ruang observasi kebidanan lantai tiga, Tuan Muda. Dia baru saja dipindahkan dari kantor polisi ke sini karena mengeluh sakit perut," jawab Rico cepat. "Pesan di dinding kamar mandi itu ditulis menggunakan darah dari tangannya yang sengaja disayat. Isinya singkat: 'Menikahlah denganku atau aku mati bersama anakmu'."Evan tidak menunggu instruksi lagi. Ia berlari keluar dari kamar rawat Alice, mengabaikan teriakan Lavina. Ia tahu Selena memeriksakan diri di rumah sakit yang sama karena ini adalah rumah sakit rujukan terbaik untuk kasus kehamilan berisiko tinggi.Ia menuju toilet di lantai tiga, tempat pesan itu berada. Garis polisi sudah
Lobi kediaman Nathaniel berubah menjadi zona perang. Suara sepatu bot para pengawal beradu dengan lantai marmer saat mereka menyiapkan mobil dalam hitungan detik. Evan membopong Alice yang sudah lemas ke dalam kursi belakang SUV hitam. Noda darah di gaun tidur Alice terus melebar, meresap ke kemeja putih yang dikenakan Evan."Cepat jalan! Jangan berhenti untuk apa pun!" teriak Evan kepada sopir.Zavian duduk di depan, sementara Lavina dan Lily menyusul dengan mobil di belakang. Di dalam kabin mobil yang sempit, suasana terasa sangat mencekam. Alice menyandarkan kepalanya di dada Evan, napasnya pendek-pendek dan tidak beraturan."Tahan, Alice. Sebentar lagi kita sampai. Tolong, jangan tutup matamu," bisik Evan. Tangannya yang gemetar terus mengusap rambut Alice yang basah oleh keringat.Alice hanya mampu mengerang kecil. Setiap guncangan mobil membuatnya meringis kesakitan. "Sakit, Evan... sangat sakit."Zavian menoleh ke belakang, matanya yang taja
Suara deru mesin mobil Evan yang memasuki halaman terdengar hingga ke kamar lantai atas. Lavina segera bangkit dari sisi tempat tidur Alice. Ia melihat wajah Alice yang masih terpejam dengan sisa air mata di sudut matanya. Efek dari stres dan mual yang berlebihan membuat wanita itu jatuh pingsan ke dalam tidur yang tidak nyenyak."Lily, jaga dia. Jangan biarkan dia bangun dan turun ke bawah sebelum aku memintanya," bisik Lavina dengan nada otoriter."Baik, Nyonya Besar," jawab Lily patuh.Lavina melangkah keluar kamar dengan langkah yang mantap, tongkatnya mengetuk lantai marmer dengan irama yang menuntut jawaban. Di lantai bawah, Evan baru saja masuk dengan wajah yang sangat tegang, sementara Zavian sudah berdiri di tengah aula, tampaknya baru saja menerima laporan serupa dari tim keamanannya."Evan! Zavian! Ke ruang kerja sekarang!" seru Lavina dari balkon lantai dua.Evan mendongak, melihat kemarahan di wajah neneknya. Ia tahu kabar tentang Sele
Evan mencengkeram kemudi hingga kuku jarinya memutih. Matanya melotot menatap layar ponsel yang masih menyala di dasbor. Pesan dari pengacara Edwin belum selesai. Sebuah notifikasi kedua muncul, kali ini berupa dokumen PDF dan pesan teks yang lebih spesifik."Selena Smith dinyatakan positif hamil. Usia kandungan delapan minggu. Kami memiliki bukti medis valid bahwa janin tersebut adalah darah daging anda, Tuan Evan. Edwin Smith tidak akan membiarkan Alice menguasai seluruh aset Elino jika ada pewaris lain dari garis keturunan anda sendiri.""Brengsek!" Evan memukul kemudi dengan keras. Suara klakson panjang terdengar memekakkan telinga di bahu jalan yang sepi.Ia segera melakukan panggilan suara ke pengacara tersebut, namun nomornya langsung tidak aktif. Evan melempar ponselnya ke kursi penumpang. Wajahnya merah padam."Aku tidak mungkin sebodoh itu," desis Evan. Namun, keraguan mulai menyusup. Ia tahu Selena licik. Wanita itu bisa melakukan apa saj
Udara di dalam kamar terasa mendingin saat Evan mengatakan kalimat itu, hingga membuat Alice tertegun. Caaya layar ponsel Evan masih memantul di matanya yang tajam. Pesan dari Rico bukan hanya sekadar laporan rutin."Rico sudah menemukan Victor," desis Evan, suaranya serak namun penuh anca
Evan menuruni tangga rumahnya dengan langkah lebar, meski setiap hentakan kakinya mengirimkan rasa nyeri yang menusuk ke area luka di perutnya. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras, dan tatapannya lurus ke depan seolah sudah mengunci target.Di depan teras, sebuah SUV hitam sudah menyala, d
"Evan, ayo buka mulutmu lagi. Pelan-pelan saja. Aku tahu, bibirmu masih sakit.""Alice, kau...""Evan, kalau sedang makan itu jangan banyak bicara, nanti kau tersedak."Evan akhirnya menyerah. Meski wajahnya masih menunjukkan sisa-sisa keangkuhan, ia membuka mulutnya saat Ali
Suasana kamar yang tadinya tegang mulai sedikit mencair saat suara langkah kaki terburu-buru terdengar dari koridor. Pintu kamar terbuka, menampilkan Lavina yang datang bersama seorang pria paruh baya berkacamata yang membawa tas medis."Alice, biarkan Dokter Edward memeriksa Evan," ucap L







