MasukAlice membeku di bawah tatapan tajam Lavina. Lidahnya terasa kelu. Ingin sekali ia berteriak bahwa cucu kesayangan wanita itu baru saja mendorongnya hingga berdarah, namun bayangan kemarahan Evan dan nasib kuliahnya membuat Alice menelan kembali kejujuran itu.
"Aku... aku hanya mengantuk, Nek. Saat mau ke kamar mandi, aku tersandung kaki meja rias," ucap Alice lirih, matanya menunduk menatap lantai.
"Sekali lagi, aku tanya. Kau benar tidak bohong?"
Sata Alice ingin menjawab. Tepat saat itu, pintu toilet terbuka. Evan muncul dengan kimono handuk berwarna abu-abu gelap, uap air masih menyelimuti bahunya yang lebar. Langkahnya terhenti seketika saat melihat Lavina berdiri di tengah kamarnya.
"Nenek? Datang kemari bersama Papa?" tanya Evan, berusaha menetralkan suaranya meski otot rahangnya tampak mengeras.
Lavina tidak menjawab dengan senyuman. Ia justru melangkah maju, menghalangi pandangan Evan ke arah Alice yang sedang diobati oleh Lily.
"Evan, jelaskan pada Nenek. Kenapa pelipis istrimu sampai berdarah seperti itu?" cecar Lavina langsung tanpa basa-basi.
Evan melirik sekilas ke arah Alice. Alice hanya diam, membiarkan Lily menempelkan plester ke pelipisnya tanpa berani menoleh sedikit pun ke arah suaminya.
'Apa dia berkata jujur pada Nenek atas perlakuanku?' batinnya.
"Evan, jawab pertanyaan Nenek?" cecar Lavina.
Evan tersenyum tipis. "Seperti yang dia katakan, Nek. Dia ceroboh," jawab Evan santai sambil berjalan menuju lemari pakaian. Sikapnya berubah drastis; suaranya yang tadinya kasar kini terdengar lebih tenang dan sopan, meski tetap terasa dingin bagi Alice. "Mungkin dia belum terbiasa dengan tata letak kamar ini."
"Jangan bohongi Nenek, Evan," Lavina memperingatkan dengan nada rendah. "Nenek tahu kau sedang stres karena masalah Selena. Tapi Alice tidak bersalah. Meskipun dia pengganti, kau harus bersikap baik. Nenek punya firasat Alice jauh lebih tulus daripada wanita ular yang mencuri data perusahaan itu."
Alice tersentak saat mendengar kata 'mencuri data'. Sekarang ia mengerti mengapa keluarga Nathaniel begitu murka. Selena tidak hanya kabur dari pernikahan, tapi juga membawa lari aset berharga mereka.
'Kenapa dia bisa berpikir seperti itu? Kenapa Selena bisa membawa kabur data penting perusahaan keluarga ini?' batin Alice.
Evan mendekati neneknya, lalu menyentuh bahu wanita tua itu dengan lembut. "Aku mengerti, Nek. Nenek tidak perlu khawatir. Aku akan mengurusnya dengan baik."
Sikap lembut Evan kepada neneknya membuat Alice merasa mual. Pria itu adalah aktor yang sangat hebat. Di depan keluarga, dia bisa terlihat seperti cucu yang berbakti, namun saat pintu tertutup, dia berubah menjadi iblis.
Setelah Lily selesai mengobati Alice, Lavina mengelus kepala Alice perlahan. "Habiskan sarapanmu, Nak. Lily sudah membawakan bubur hangat. Nenek harus bicara lagi dengan mertuamu di bawah."
Alice memaksakan senyum ramah. "Terima kasih, Nek."
Begitu pintu kamar tertutup rapat dan langkah kaki mereka menjauh, suasana kamar kembali mencekam. Evan yang tadi terlihat tenang, langsung berbalik dengan wajah gelap. Ia melangkah lebar, lalu mencengkeram kedua pipi Alice hingga gadis itu mendongak paksa.
"Apa saja yang kau adukan pada nenekku, hah?!" bentak Evan, matanya melotot penuh kebencian.
"Tidak. Aku tidak mengadu apa-apa," jawab Alice dengan suara tercekik. "Aku tadi bilang terbentur karena mengantuk, persis seperti yang kau dengar!"
"Bohong!" Evan mendorong tubuh Alice hingga gadis itu jatuh terduduk di sofa. "Kau pasti mencoba menarik simpati Nenek agar kau punya pelindung di rumah ini, kan?"
Evan membungkuk, menatap Alice dengan pandangan mengintimidasi. "Dengar baik-baik. Selama Selena belum ketemu, kau adalah sanderaku. Aku akan terus menyiksamu sampai kakak sepupumu itu mengembalikan apa yang dia curi! Jika kau pikir bisa hidup tenang di sini, kau salah besar!"
Evan melontarkan sumpah serapah. "Kau tidak lebih dari sekedar sampah yang tidak berguna, Alice!" Ia langsung berbalik untuk berpakaian. Ia memakai kemeja kerjanya dengan gerakan kasar dan cepat, lalu menyambar kunci mobilnya.
BRAK!
Pintu dibanting. Alice sendirian lagi. Ia meringkuk di sofa, menatap bubur yang mulai dingin. Air matanya jatuh satu per satu. Ia merindukan orang tuanya. Seandainya bencana banjir itu tidak merenggut mereka, ia tidak akan pernah berakhir di penjara mewah ini.
"Ibu ... Ayah ....aku rindu kalian," ucapnya lirih.
*****
Di kantor Nathaniel Group, suasana sangat tegang. Evan duduk di depan deretan monitor, sementara Rico dan beberapa anak buahnya berdiri dengan kepala tertunduk.
"Bagaimana? Masih belum ada jejak?" tanya Evan dingin.
"Nihil, Tuan," lapor Rico. "Victor sangat rapi. Semua rekening Selena sudah dikosongkan, dan sinyal ponsel mereka terakhir terdeteksi di bandara sebelum akhirnya hilang total. Kami menduga mereka menggunakan identitas palsu."
Evan memukul meja kerjanya. "Cari terus! Periksa semua properti rahasia milik Victor!" Ia melihat ke arah Rico. "Rico! Kita ke rumah orangtuanya sekarang!"
Karena frustrasi, Evan memutuskan untuk mendatangi rumah orang tua Selena. Ia butuh pelampiasan. Dengan ditemani Rico dan dua pengawal, ia sampai di kediaman keluarga Selena.
Vinnie, ibu Selena, muncul dengan wajah cemas. Ia sudah menduga kedatangan Evan, pasti ada hubungannya dengan sang anak yang sampai saat ini belum ada kabar.
"Di mana Selena?" tanya Evan tanpa basa-basi begitu masuk ke ruang tamu.
Vinnie mencoba bersikap tenang. "Aku tidak tahu, Evan. Selena benar-benar menghilang. Lagipula, kau kan sudah mendapatkan Alice. Bukankah itu cukup? Aku pikir kau masih mencintai Selena dan bisa menunggu dia..."
"Cinta?!" Evan memotong dengan tawa sinis yang membuat Vinnie bergidik. "Aku tidak cinta lagi pada perempuan ular itu! Dia membawa lari data proyek penting keluargaku! Dia bekerja sama dengan musuh ayahku!"
Vinnie terbelalak, wajahnya pucat pasi. "A-apa? Mencuri data? Selena, tidak mungkin."
"Jangan pura-pura bodoh!" ancam Evan, melangkah maju hingga Vinnie mundur ketakutan. "Jika dalam tiga hari Selena tidak muncul atau mengembalikan data itu, aku akan memastikan rumah ini disita, bisnis kalian hancur, dan kalian semua berakhir di jalanan!"
Vinnie gemetar hebat. Ia tidak menyangka situasi ini akan menjadi masalah kriminal yang besar. "Tapi Alice. Kau sudah punya Alice. Jangan sakiti aku dan suamiku, kau boleh apakan dia. Tapi, jangan keluargku," ratap Vinnie.
Evan menatap Vinnie dengan pandangan yang paling kejam. "Baik. Alice adalah jaminannya. Dan jika kalian tetap diam, jangan salahkan aku jika Alice tidak akan pernah kembali ke rumah ini dalam keadaan utuh."
Evan berbalik pergi, meninggalkan Vinnie yang jatuh terduduk di lantai sambil menangis histeris. Di dalam mobil, Rico menyerahkan sebuah berkas baru pada Evan.
"Tuan, ada satu hal lagi. Kami menemukan rekaman CCTV rahasia dari apartemen Victor sebulan sebelum pernikahan."
Evan membuka berkas itu dan matanya melebar melihat foto di dalamnya. "Siapa wanita yang bersamamu di foto ini, Victor? Apakah dia Selena? Tapi, dari belakang nampak berbeda. Dia... seperti bukan Selena," gumam Evan dengan nada mematikan.
"Nek, tunggu! Nenek salah paham!" Evan berseru sambil melepaskan tangannya dari mulut Alice. Ia segera mengangkat kedua tangannya ke udara, mencoba menunjukkan bahwa ia tidak berniat jahat.Namun, Lavina tidak peduli dengan penjelasan itu. Wajahnya yang biasanya anggun kini tampak seperti singa yang siap menerkam. Ia meletakkan nampan berisi bubur dan susu di atas meja nakas dengan dentuman keras, lalu tanpa peringatan, ia menyambar nampan plastik kosong yang ada di dekatnya."Apa yang kau lakukan pada istrimu yang sedang hamil, hah?!" teriak Lavina sambil memukulkan nampan itu ke bahu dan lengan Evan."Aduh! Nek, ampun! Aku tidak menyakitinya!" Evan mengaduh, ia mencoba menghindar namun Lavina terus mengejarnya di sekitar ranjang."Beraninya kau masuk ke kamarku dan membekapnya! Kau pikir kau siapa? Preman?!" Lavina kembali mengayunkan nampan, kali ini mengenai punggung Evan."Nek, sakit! Aku hanya ingin minta maaf dan pamit kerja!" seru Evan samb
Evan terdiam kaku. Tangan yang tadinya begitu aktif di bawah sana mendadak ditarik kembali. Ia menarik napas panjang, mengembuskannya dengan kasar hingga bahunya naik-turun tak beraturan. Ucapan Alice tentang keselamatan janin mereka seolah menjadi tamparan keras yang menyadarkannya dari kabut gairah.Ia bergerak menjauh, lalu duduk di pinggir ranjang dengan membelakangi Alice. Punggungnya yang lebar tampak tegang, memperlihatkan otot-otot yang menonjol akibat hasrat yang tertahan di puncak.Alice perlahan duduk. Ia merapatkan kembali baju tidur satinya yang sempat tersingkap. Melihat punggung Evan yang diam membisu, hatinya merasa tidak enak. Ia tahu suaminya sedang berjuang melawan insting alaminya sendiri."Evan?" panggil Alice lembut. Ia mengulurkan tangan, mencoba menyentuh bahu suaminya. "Kau marah padaku?"Begitu ujung jari Alice menyentuh kulit punggungnya, Evan berjengit. Ia segera menepis tangan Alice dengan gerakan refleks yang cukup kasar.
Zavian menatap Rico dengan sorot mata yang dingin namun mantap. Ucapan Rico tentang ancaman Edwin seolah lewat begitu saja di telinganya. Untuk pertama kalinya dalam satu dekade, Zavian memutuskan untuk mematikan mesin perang di dalam kepalanya."Lupakan soal Edwin, Rico. Lupakan soal ahli waris, pengacara, atau apa pun itu," ujar Zavian pelan namun penuh penekanan."Tapi Tuan Besar, ini bisa menjadi celah hukum yang ....""Aku bilang lupakan," potong Zavian. Ia menoleh ke arah pintu kamar rawat tempat tawa kecil Alice mulai terdengar. "Hari ini, di detik ini, tidak ada musuh. Hanya ada cucuku. Urus semua administrasi kepulangan Alice. Aku ingin dia tidur di ranjangnya sendiri malam ini."Rico terdiam, lalu membungkuk hormat. "Baik, Tuan Besar. Saya mengerti."Kepulangan Alice ke rumah disambut dengan suasana yang jauh berbeda dari biasanya. Tidak ada lagi ketegangan yang menyesakkan dada. Para pelayan berbaris rapi di lobi, namun kali ini bukan un
Zavian memutar tubuhnya, membelakangi Selena yang masih meraung di aspal. Ia tidak menoleh sedikit pun ketika polisi mulai mensterilkan area gudang tua itu. Baginya, Selena hanyalah kerikil kecil yang sudah tertiup angin. Pikirannya saat ini hanya tertuju pada satu nama: Alice."Rico, tinggalkan tim di sini untuk mengurus sisa administrasi dengan Komisaris," ujar Zavian sambil melangkah masuk ke dalam mobil. "Kita ke Rumah Sakit Pusat sekarang. Jangan lewatkan satu lampu merah pun.""Baik, Tuan Besar," sahut Rico. Mobil SUV itu melesat, meninggalkan debu yang berterbangan di belakang mereka.Di saat yang sama, mobil yang membawa Evan dan Alice tiba di lobi utama Rumah Sakit Pusat. Area tersebut sudah dikosongkan oleh tim keamanan Nathaniel untuk memastikan privasi. Leo membukakan pintu mobil dengan cepat."Ayo, Alice. Kita sudah sampai," ujar Evan lembut sambil mencoba membantu Alice turun.Alice mengangguk lemah. Wajahnya yang semula pucat kini ta
Cahaya lampu ruang tengah Nathaniel masih menyala terang meski jam dinding sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Evan masih terduduk di samping sofa, menggenggam tangan Alice yang mulai terasa hangat. Napas wanita itu sudah lebih teratur, meski sesekali ia masih mengernyit dalam tidurnya."Pa, apa kita benar-benar harus menunggu sampai pagi?" tanya Evan pelan. Tangannya meraih ponsel, hendak menghubungi dokter pribadi keluarga.Zavian yang sedang menatap layar pantauan keamanan menggeleng tegas. "Batalkan dokter ke rumah, Evan. Aku tidak ingin ada orang luar masuk ke rumah ini di tengah situasi yang belum stabil. Grace baru saja ditangkap, kita tidak tahu siapa lagi mata-mata yang masih bersembunyi di balik seragam medis.""Tapi Alice...""Kita bawa dia ke rumah sakit pusat besok pagi. Di sana fasilitasnya lengkap dan tim keamanan kita bisa mengontrol seluruh lantai. Untuk malam ini, biarkan dia istirahat. Lily sudah memastikan makanannya bersih," potong Zav
Suasana di dalam kamar Evan dan Alice membeku setelah pesan suara Grace berhenti berputar. Alice menatap ponsel di tangan Evan seolah benda itu adalah bom yang baru saja meledak. Namun, sebelum kecurigaan itu tumbuh menjadi perdebatan baru, suara deru mobil SUV yang memasuki halaman depan memecah keheningan.Cahaya lampu rotator polisi yang berwarna biru kemerahan memantul di jendela kamar, menyelinap di sela-sela gorden."Itu polisi," ujar Evan. Ia segera mematikan ponselnya dan menggenggam tangan Alice. "Ayo turun. Leo dan Markus sudah kembali."Di lantai bawah, Zavian sudah berdiri di pintu utama. Leo dan Markus melangkah masuk dengan napas yang masih sedikit memburu. Pakaian mereka tampak sedikit berantakan, tanda bahwa mereka baru saja menyelesaikan tugas berat."Lapor, Tuan Muda. Danu sudah kami serahkan ke sel isolasi pusat. Berita acara sudah ditandatangani," ujar Leo dengan sikap tegap."Bagus. Lalu bagaimana dengan pihak kepolisian?" tany







