Beranda / Romansa / Pengantin Pengganti Yang Dibenci / 8. Kebohongan dan Ancaman

Share

8. Kebohongan dan Ancaman

Penulis: Fiyaseni
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-16 10:00:08

Alice membeku di bawah tatapan tajam Lavina. Lidahnya terasa kelu. Ingin sekali ia berteriak bahwa cucu kesayangan wanita itu baru saja mendorongnya hingga berdarah, namun bayangan kemarahan Evan dan nasib kuliahnya membuat Alice menelan kembali kejujuran itu.

"Aku... aku hanya mengantuk, Nek. Saat mau ke kamar mandi, aku tersandung kaki meja rias," ucap Alice lirih, matanya menunduk menatap lantai.

"Sekali lagi, aku tanya. Kau benar tidak bohong?"

Sata Alice ingin menjawab. Tepat saat itu, pintu toilet terbuka. Evan muncul dengan kimono handuk berwarna abu-abu gelap, uap air masih menyelimuti bahunya yang lebar. Langkahnya terhenti seketika saat melihat Lavina berdiri di tengah kamarnya.

"Nenek? Datang kemari bersama Papa?" tanya Evan, berusaha menetralkan suaranya meski otot rahangnya tampak mengeras.

Lavina tidak menjawab dengan senyuman. Ia justru melangkah maju, menghalangi pandangan Evan ke arah Alice yang sedang diobati oleh Lily.

"Evan, jelaskan pada Nenek. Kenapa pelipis istrimu sampai berdarah seperti itu?" cecar Lavina langsung tanpa basa-basi.

Evan melirik sekilas ke arah Alice. Alice hanya diam, membiarkan Lily menempelkan plester ke pelipisnya tanpa berani menoleh sedikit pun ke arah suaminya.

'Apa dia berkata jujur pada Nenek atas perlakuanku?' batinnya.

"Evan, jawab pertanyaan Nenek?" cecar Lavina.

Evan tersenyum tipis. "Seperti yang dia katakan, Nek. Dia ceroboh," jawab Evan santai sambil berjalan menuju lemari pakaian. Sikapnya berubah drastis; suaranya yang tadinya kasar kini terdengar lebih tenang dan sopan, meski tetap terasa dingin bagi Alice. "Mungkin dia belum terbiasa dengan tata letak kamar ini."

"Jangan bohongi Nenek, Evan," Lavina memperingatkan dengan nada rendah. "Nenek tahu kau sedang stres karena masalah Selena. Tapi Alice tidak bersalah. Meskipun dia pengganti, kau harus bersikap baik. Nenek punya firasat Alice jauh lebih tulus daripada wanita ular yang mencuri data perusahaan itu."

Alice tersentak saat mendengar kata 'mencuri data'. Sekarang ia mengerti mengapa keluarga Nathaniel begitu murka. Selena tidak hanya kabur dari pernikahan, tapi juga membawa lari aset berharga mereka.

'Kenapa dia bisa berpikir seperti itu? Kenapa Selena bisa membawa kabur data penting perusahaan keluarga ini?' batin Alice.

Evan mendekati neneknya, lalu menyentuh bahu wanita tua itu dengan lembut. "Aku mengerti, Nek. Nenek tidak perlu khawatir. Aku akan mengurusnya dengan baik."

Sikap lembut Evan kepada neneknya membuat Alice merasa mual. Pria itu adalah aktor yang sangat hebat. Di depan keluarga, dia bisa terlihat seperti cucu yang berbakti, namun saat pintu tertutup, dia berubah menjadi iblis.

Setelah Lily selesai mengobati Alice, Lavina mengelus kepala Alice perlahan. "Habiskan sarapanmu, Nak. Lily sudah membawakan bubur hangat. Nenek harus bicara lagi dengan mertuamu di bawah."

Alice memaksakan senyum ramah. "Terima kasih, Nek."

Begitu pintu kamar tertutup rapat dan langkah kaki mereka menjauh, suasana kamar kembali mencekam. Evan yang tadi terlihat tenang, langsung berbalik dengan wajah gelap. Ia melangkah lebar, lalu mencengkeram kedua pipi Alice hingga gadis itu mendongak paksa.

"Apa saja yang kau adukan pada nenekku, hah?!" bentak Evan, matanya melotot penuh kebencian.

"Tidak. Aku tidak mengadu apa-apa," jawab Alice dengan suara tercekik. "Aku tadi bilang terbentur karena mengantuk, persis seperti yang kau dengar!"

"Bohong!" Evan mendorong tubuh Alice hingga gadis itu jatuh terduduk di sofa. "Kau pasti mencoba menarik simpati Nenek agar kau punya pelindung di rumah ini, kan?"

Evan membungkuk, menatap Alice dengan pandangan mengintimidasi. "Dengar baik-baik. Selama Selena belum ketemu, kau adalah sanderaku. Aku akan terus menyiksamu sampai kakak sepupumu itu mengembalikan apa yang dia curi! Jika kau pikir bisa hidup tenang di sini, kau salah besar!"

Evan melontarkan sumpah serapah. "Kau tidak lebih dari sekedar sampah yang tidak berguna, Alice!" Ia langsung berbalik untuk berpakaian. Ia memakai kemeja kerjanya dengan gerakan kasar dan cepat, lalu menyambar kunci mobilnya.

BRAK!

Pintu dibanting. Alice sendirian lagi. Ia meringkuk di sofa, menatap bubur yang mulai dingin. Air matanya jatuh satu per satu. Ia merindukan orang tuanya. Seandainya bencana banjir itu tidak merenggut mereka, ia tidak akan pernah berakhir di penjara mewah ini.

"Ibu ... Ayah ....aku rindu kalian," ucapnya lirih.

*****

Di kantor Nathaniel Group, suasana sangat tegang. Evan duduk di depan deretan monitor, sementara Rico dan beberapa anak buahnya berdiri dengan kepala tertunduk.

"Bagaimana? Masih belum ada jejak?" tanya Evan dingin.

"Nihil, Tuan," lapor Rico. "Victor sangat rapi. Semua rekening Selena sudah dikosongkan, dan sinyal ponsel mereka terakhir terdeteksi di bandara sebelum akhirnya hilang total. Kami menduga mereka menggunakan identitas palsu."

Evan memukul meja kerjanya. "Cari terus! Periksa semua properti rahasia milik Victor!" Ia melihat ke arah Rico. "Rico! Kita ke rumah orangtuanya sekarang!"

Karena frustrasi, Evan memutuskan untuk mendatangi rumah orang tua Selena. Ia butuh pelampiasan. Dengan ditemani Rico dan dua pengawal, ia sampai di kediaman keluarga Selena.

Vinnie, ibu Selena, muncul dengan wajah cemas. Ia sudah menduga kedatangan Evan, pasti ada hubungannya dengan sang anak yang sampai saat ini belum ada kabar.

"Di mana Selena?" tanya Evan tanpa basa-basi begitu masuk ke ruang tamu.

Vinnie mencoba bersikap tenang. "Aku tidak tahu, Evan. Selena benar-benar menghilang. Lagipula, kau kan sudah mendapatkan Alice. Bukankah itu cukup? Aku pikir kau masih mencintai Selena dan bisa menunggu dia..."

"Cinta?!" Evan memotong dengan tawa sinis yang membuat Vinnie bergidik. "Aku tidak cinta lagi pada perempuan ular itu! Dia membawa lari data proyek penting keluargaku! Dia bekerja sama dengan musuh ayahku!"

Vinnie terbelalak, wajahnya pucat pasi. "A-apa? Mencuri data? Selena, tidak mungkin."

"Jangan pura-pura bodoh!" ancam Evan, melangkah maju hingga Vinnie mundur ketakutan. "Jika dalam tiga hari Selena tidak muncul atau mengembalikan data itu, aku akan memastikan rumah ini disita, bisnis kalian hancur, dan kalian semua berakhir di jalanan!"

Vinnie gemetar hebat. Ia tidak menyangka situasi ini akan menjadi masalah kriminal yang besar. "Tapi Alice. Kau sudah punya Alice. Jangan sakiti aku dan suamiku, kau boleh apakan dia. Tapi, jangan keluargku," ratap Vinnie.

Evan menatap Vinnie dengan pandangan yang paling kejam. "Baik. Alice adalah jaminannya. Dan jika kalian tetap diam, jangan salahkan aku jika Alice tidak akan pernah kembali ke rumah ini dalam keadaan utuh."

Evan berbalik pergi, meninggalkan Vinnie yang jatuh terduduk di lantai sambil menangis histeris. Di dalam mobil, Rico menyerahkan sebuah berkas baru pada Evan.

"Tuan, ada satu hal lagi. Kami menemukan rekaman CCTV rahasia dari apartemen Victor sebulan sebelum pernikahan."

Evan membuka berkas itu dan matanya melebar melihat foto di dalamnya. "Siapa wanita yang bersamamu di foto ini, Victor? Apakah dia Selena? Tapi, dari belakang nampak berbeda. Dia... seperti bukan Selena," gumam Evan dengan nada mematikan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pengantin Pengganti Yang Dibenci   29. Perburuan di ujung fajar

    Edwin tertegun, ia memiringkan kepalanya seolah salah mendengar. "Maksudmu? Elino hanyalah pengusaha kecil, Vin. Dia dan Zavian, itu tidak mungkin.""Itu benar, Pa," Vinnie mendekat, suaranya nyaris berbisik. "Zavian bukan hanya teman bisnis. Mereka bersahabat sejak muda. Dan aku pernah mendengar Kak Elino bicara lewat telepon sebelum dia meninggal... Zavian memegang sesuatu yang sangat berharga milik Alice."Edwin terbelalak. "Kalau mereka bersahabat, kenapa Zavian membiarkan Alice hidup menderita di rumah kita selama ini? Kenapa dia baru mengambil Alice sekarang?"Vinnie meneteskan air mata dan menggenggam tangan suaminya. "Karena, Selena kekasih Evan. Mungkin itu sebabnya."Edwin masih mematung di sofa, kepalanya terasa pening mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Vinnie. Ia menatap istrinya dengan tatapan tidak percaya."Kau bilang Zavian dan Elino bersahabat? Kalau memang mereka sedekat itu, kenapa dia membiarkan Alice telantar d

  • Pengantin Pengganti Yang Dibenci   28. Labirin Rahasia

    Alice menahan napas di balik tirai kamarnya yang tebal. Matanya menyipit, fokus pada dua siluet pria berpakaian hitam yang bergerak lincah di kegelapan taman bawah. Mereka tidak membawa senjata api yang terlihat, melainkan peralatan teknis yang berkilat terkena cahaya lampu taman yang redup. Gerakan mereka terlalu teratur untuk disebut pencuri biasa. Alat pemotong besi itu entah untuk apa."Siapa mereka sebenarnya?" bisik Alice.Rasa penasaran yang bercampur ketakutan mendorongnya untuk bertindak. Alice tidak mempedulikan pesan Zavian yang melarangnya keluar kamar. Ia menyambar kardigan abu-abunya, membuka pintu kamar perlahan agar tidak menimbulkan suara, lalu menuruni tangga dengan langkah yang seringan mungkin.Lantai marmer yang dingin terasa menusuk telapak kakinya yang polos tanpa alas. Suasana rumah begitu sepi, hanya ada suara detak jam besar di ruang tengah. Alice berhasil mencapai pintu kaca yang menuju ke arah taman samping. Dengan tangan gemetar, ia

  • Pengantin Pengganti Yang Dibenci   27. Ruang yang Terbagi

    Alice masih duduk bersimpuh di lantai toilet yang dingin. Isak tangisnya mulai mereda, menyisakan sesak yang menghimpit dada. Ia menatap pantulan dirinya di wastafel marmer dengan mata yang merah dan bengkak. Pikirannya terus berputar pada satu kenyataan pahit. Mau Evan ingat atau tidak, ia tetaplah orang asing di mata pria itu."Harapan ini hanya akan membunuhku pelan-pelan," bisik Alice pada dirinya sendiri.Di luar pintu kayu toilet, dua penjaga berbadan tegap mulai merasa gelisah. Mereka saling lirik, sesekali melihat jam tangan. Sudah hampir lima belas menit Alice tidak kunjung keluar.Tok! Tok! Tok!"Nyonya Alice? Anda baik-baik saja di dalam?" tanya salah satu penjaga dengan suara berat yang tertahan.Tidak ada jawaban. Penjaga itu mengetuk lagi, lebih keras. "Nyonya? Mohon jawab kami, atau kami terpaksa mendobrak pintu ini atas perintah Tuan Zavian."Mendengar ancaman itu, Alice segera berdiri. Ia membasuh wajahnya dengan air dingin

  • Pengantin Pengganti Yang Dibenci   26. Puing-puing Keyakinan

    Suara bentakan Evan menggelegar di dalam ruangan VVIP yang semula sunyi, memecah ketenangan malam. Lavina tersentak bangun dari sofa, napasnya memburu karena kaget. Ia segera bangkit dan melihat Alice berdiri mematung dengan bahu yang bergetar hebat di samping ranjang."Nek, usir dia sekarang juga!" teriak Evan sambil menunjuk Alice dengan jari gemetar. Wajahnya merah padam karena amarah yang tidak berdasar. "Mengapa perempuan asing ini masih ada di sini? Aku sudah bilang aku tidak mengenalnya! Dia terus membicarakan omong kosong tentang masa lalu yang tidak pernah ada!"Lavina mendekat dengan cepat, mencoba menengahi. "Evan, tenanglah. Kau baru saja sadar, jangan berteriak seperti itu.""Tenang bagaimana, Nek? Dia masuk ke kamarku, menyentuh tanganku, dan mengklaim sebagai istriku! Dia gila!" Evan mendesis, matanya menatap Alice dengan tatapan jijik. "Keluar! Aku tidak sudi melihat wajahmu lagi di ruangan ini. Pergi!"Alice tidak sanggup lagi mengeluarka

  • Pengantin Pengganti Yang Dibenci   25. Ingatan yang Berkhianat

    Selena tidak melepaskan pandangannya dari pintu besi di ujung tangga beton. Suara langkah kaki yang berat dan berirama itu membuatnya menahan napas. Ia berharap, setidaknya salah satu dari penjaga itu merasa kasihan dan melepaskan ikatan yang sudah menyayat kulit pergelangan tangannya.Dua pria berbadan besar dengan setelan hitam khas pengawal keluarga Nathaniel muncul dari kegelapan. Mereka berjalan perlahan mendekati Selena yang tampak menyedihkan di tengah ruangan."Apa ... apa kalian datang untuk membebaskanku?" tanya Selena dengan suara serak, ada setitik harapan dalam matanya yang sembab.Kedua pria itu saling lirik sebelum akhirnya tawa keras mereka menggema, memantul di dinding-dinding beton yang lembap. Tawa itu terdengar seperti ejekan yang menusuk telinga Selena."Membebaskanmu?" salah satu pria itu berhenti tertawa, wajahnya berubah dingin dalam sekejap. "Kami diperintahkan untuk membawamu ke tempat yang jauh lebih mengerikan dari lubang tikus

  • Pengantin Pengganti Yang Dibenci   24. Taktik dibalik Layar

    Alice dan Lily masih terduduk di bangku panjang koridor rumah sakit yang dingin. Bau antiseptik yang tajam menusuk hidung, menambah suasana mencekam di lantai VVIP itu.Sementara itu, Lavina yang sempat menangkap bisikan Rico kepada Zavian segera berdiri. Wajahnya yang semula penuh kesedihan berubah menjadi tegang. Ia menarik lengan jas Zavian, membawanya sedikit menjauh dari jangkauan pendengaran Alice."Zavian, kau dengar sendiri apa yang Rico katakan. Kau yakin akan pergi ke sana sekarang?" tanya Lavina dengan suara rendah namun menekan. "Evan masih terbaring lemah di dalam sana. Dia butuh ayahnya."Zavian menatap ibunya dengan tatapan keras. "Tidak ada pilihan lain, Ma. Victor sudah ditemukan. Jika aku menunda satu jam saja, dia akan segera menyelesaikan pengunggahan data proyek yang dia curi dari kita. Jika data itu masuk ke bursa saham atas nama perusahaannya, keluarga Nathaniel akan tamat malam ini.""Tapi kekerasan bukan satu-satunya jalan,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status