Share

7. Luka dibalik Cermin

Author: Fiyaseni
last update publish date: 2026-01-15 13:16:51

Evan melangkah masuk ke ruang kerja ayahnya yang berada tepat di sebelah kamarnya. Di dalam, Rico berdiri mematung dengan wajah pucat di samping meja kerja besar milik Zavian. Udara di ruangan itu terasa sangat panas, seolah-olah amarah Zavian telah membakar oksigen di sana.

Zavian berdiri membelakangi pintu, menatap keluar jendela besar. Begitu mendengar langkah kaki Evan, ia berbalik dengan mata yang berkilat tajam.

"Ada apa, Pa?" tanya Evan pelan.

"Kau masih berani bertanya ada apa?" suara Zavian menggelegar. "Di saat perusahaan kita sedang di ujung tanduk karena wanita ular itu, kau malah sibuk bersenang-senang dengan sepupunya di ranjang? Kau pikir ini waktu yang tepat untuk bulan madu?!"

Evan mengepalkan tangannya. "Aku tidak melakukannya, Pa. Itu hanya salah paham."

"Salah paham?!" Zavian memukul meja dengan keras. "Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana keadaan kalian tadi! Dan kau, Rico!" Zavian menunjuk asisten Evan. "Jelaskan pada CEO bodoh ini apa yang kau laporkan padaku tadi pagi!"

Rico menunduk dalam, tidak berani menatap mata Evan. "Maaf, Tuan Evan. Tuan Besar bertanya tentang kejadian semalam. Saya terpaksa jujur bahwa semalam anda minum sangat banyak di klub dan hampir kehilangan kendali karena stres memikirkan Selena."

Evan melirik Rico dengan tatapan tajam, namun ayahnya kembali berteriak. "Bagus sekali! Selena membawa kabur proyek Smart Green City kita ke tangan Victor, dan kau malah mabuk-mabukan seperti pecundang! Victor sudah mulai menggunakan data itu untuk melobi investor asing. Jika mereka berhasil tanda tangan kontrak minggu depan, Nathaniel Group tamat!"

"Aku akan membereskannya, Pa. Aku akan mencari Selena," ucap Evan dengan rahang mengeras.

"Tentu saja kau harus mencarinya! Itu tanggung jawabmu karena telah membiarkan dia masuk ke hidupmu!" Zavian mengambil napas panjang, mencoba meredam emosinya. "Aku sudah mengerahkan tim intelijen keluarga untuk melacak Victor dan Selena. Tapi kau, Evan... kau punya kunci lain yang lebih dekat."

Evan menyipitkan mata. "Maksud Papa?"

"Alice. Dia sepupu Selena. Tidak mungkin dia tidak tahu setetes pun rencana pelarian saudaranya sendiri. Gunakan cara apa pun untuk membuat dia bicara!"

Evan keluar dari ruang kerja dengan kemarahan yang meluap-luap. Rasa pening di kepalanya akibat sisa alkohol berpadu dengan tekanan dari papanya. Ia menendang pintu kamarnya hingga terbuka lebar.

Alice yang sedang duduk di depan meja rias, mencoba merapikan rambutnya yang masih basah. Ia tersentak kaget saat melihat bayangan Evan di cermin.

'Evan, dia begitu sangat marah. Ada apa lagi ini?' batinnya.

Tanpa sepatah kata pun, Evan melangkah maju dan menyambar pergelangan tangan Alice, menariknya hingga gadis itu berdiri paksa.

"A-aw! Sakit, Evan! Lepaskan!" rintih Alice.

Evan tidak peduli. Ia memelototkan matanya, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Alice. "Katakan padaku, di mana Selena sekarang?!"

"Aku tidak tahu, Evan!"

"Bohong! Kak sepupunya, tidak mungkin kau tidak tau, Alice! Cepat katakan di mana dia!?"

"Sudah berulang kali kukatakan, aku tidak tahu!"

"Jangan bohong!" bentak Evan, cengkeramannya semakin kuat hingga kulit Alice memerah. "Kalian tinggal di rumah yang sama, kalian sepupu! Tidak mungkin dia tidak bicara apa-apa padamu sebelum kabur membawa proyek perusahaanku!"

"Dia tidak pernah cerita soal pekerjaan padaku! Kami tidak sedekat yang kau pikirkan!" Alice berteriak di depan wajah Evan, mencoba membela diri.

"Kau pikir aku percaya?" Evan tertawa sinis, tawanya terdengar mengerikan. "Mungkin kau sengaja diam agar Victor bisa menghancurkan keluargaku, lalu kau bisa menikmati sisa harta kami sebagai nyonya di rumah ini, iya kan?!"

"Kau gila! Aku bahkan tidak mengenal siapa itu Victor!"

Kemarahan Evan memuncak. Ia tidak lagi bisa berpikir jernih. Dengan satu sentakan kasar, ia mendorong tubuh Alice menjauh darinya.

"Dasar wanita penipu!"

Tubuh kecil Alice terpelanting ke samping. Ia kehilangan keseimbangan dan kepalanya terbentur sudut meja rias yang terbuat dari kayu jati keras.

Alice memekik kesakitan sebelum jatuh terduduk di lantai. Ia memegang pelipis kirinya yang terasa berdenyut panas. Saat ia menarik tangannya, cairan merah kental menempel di jemarinya. Darah mulai mengalir menuruni pipinya.

Evan terdiam sejenak melihat darah itu, namun ego dan amarahnya lebih besar daripada rasa kasihannya. Ia mendengus dingin.

"Itu belum seberapa dibanding kerugian yang keluargamu timbulkan padaku," ucap Evan ketus. Ia berbalik dan berjalan menuju toilet. "Bersihkan wajahmu. Kau terlihat menjijikkan."

Pintu toilet tertutup dengan bantingan keras. Alice terisak di lantai, memegangi lukanya yang terus mengeluarkan darah. Rasa nyeri di kepalanya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya. Pria ini benar-benar bukan remaja baik hati yang ia kenal dulu.

Alice menghapus air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangannya. Ia mencoba berdiri meski kepalanya terasa berputar. Baru saja ia hendak menuju wastafel untuk membasuh lukanya, suara ketukan lembut terdengar dari pintu kamar.

"Nyonya Alice? Ini Lily. Saya membawakan sarapan," suara pelayan itu terdengar dari luar.

Alice menarik napas dalam, mencoba menormalkan suaranya. "Masuklah, Lily."

Pintu terbuka. Lily masuk membawa nampan berisi bubur dan jus. Namun, ia tidak sendirian. Di belakangnya berjalan seorang wanita paruh baya yang tampak sangat anggun dan berwibawa. Dia adalah Lavina, mama dari Zavian, alias nenek Evan.

Begitu Alice menoleh, Lily menjatuhkan sendok yang ia pegang.n"Astaga, Nyonya! Pelipis Anda!" teriak Lily panik.

Lavina langsung melangkah cepat mendekati Alice. Matanya yang tajam langsung menangkap pemandangan darah yang mengalir di wajah Alice.

"Apa yang terjadi, Alice?" tanya Lavina dengan suara tegas namun menyimpan kekhawatiran.

Alice menunduk, mencoba menutupi lukanya dengan rambut. "Ti-tidak apa-apa, Nek. Saya hanya tersandung meja karena mengantuk."

Lavina tidak percaya begitu saja. Ia memegang dagu Alice dan mengangkat wajah gadis itu agar ia bisa melihat luka tersebut lebih jelas. Luka robek itu cukup dalam.

"Tersandung tidak akan membuat robekan seperti ini, Nak," ucap Lavina dingin. Matanya melirik ke arah pintu toilet yang tertutup, di mana suara pancuran air terdengar dari dalam.

Lavina beralih menatap Lily. "Lily, ambilkan kotak obat sekarang juga! Dan kau, Alice, jujurlah pada Nenek. Apakah Evan yang melakukan ini padamu?"

Alice terdiam, bibirnya bergetar. Ia ingin jujur, tapi ancaman Evan di ruang kerja tadi masih terngiang-ngiang di kepalanya. Di saat yang bersamaan, suara kran air di dalam toilet berhenti, menandakan Evan akan segera keluar.

Lavina menatap Alice dengan tatapan yang sangat dalam. "Katakan yang sebenarnya sebelum anak itu keluar. Jika dia berani menyentuhmu dengan kasar, dia harus berhadapan denganku."

Alice menelan ludah, ia melirik ke arah pintu toilet yang mulai bergerak terbuka. Ia kemudian menatap Lavina dengan mata berkaca-kaca.

"Nek, sebenarnya..."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pengantin Pengganti Yang Dibenci   158. Pelabuhan Terakhir (Tamat)

    Alice mengerjapkan matanya berulang kali, mencoba memfokuskan pandangan pada angka-angka nol yang berderet di layar ponsel Evan. Cahaya biru dari ponsel itu menerangi wajah mereka berdua di kegelapan kamar."Evan... ini tidak masuk akal," bisik Alice. "Angka ini... ini lebih besar dari seluruh aset operasional Elino yang pernah aku tahu."Evan meletakkan ponselnya kembali ke nakas dengan gerakan perlahan. Ia menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang, lalu menarik napas panjang. "Ternyata Papa Elino benar-benar seorang visioner. Dia tidak hanya menyimpan aset, dia menanamnya dalam investasi jangka panjang yang tidak bisa disentuh siapa pun, termasuk Edwin, selama sepuluh tahun terakhir. Dan sekarang, semuanya jatuh ke tangan Leo.""Apa yang harus kita lakukan dengan uang sebanyak itu?" tanya Alice, suaranya sedikit bergetar. "Kita sudah punya segalanya, Evan. Aku tidak ingin kekayaan ini membawa masalah baru."Evan menggenggam tangan Alice, memberikan ras

  • Pengantin Pengganti Yang Dibenci   157. Hadiah Dari Masalalu

    Evan masih memegang ponselnya dengan dahi berkerut. Kalimat Rico di seberang telepon tadi benar-benar di luar dugaannya. Sebuah ayunan kayu raksasa? Diukir dengan nama mereka? Dan dikirim dari alamat yang "mati"?"Evan, katakan padaku. Siapa yang mengirim benda sebesar itu ke pelabuhan?" desak Alice. Ia berdiri tepat di depan Evan, mencoba mengintip layar ponsel suaminya.Evan mengembuskan napas panjang, lalu menyerahkan ponselnya kepada Alice. "Rico baru saja mengirimkan foto label pengirimannya. Lihatlah."Alice menerima ponsel itu. Matanya menelusuri baris tulisan di layar. Nama pengirimnya adalah sebuah firma hukum di Swiss, namun di bawahnya tertera nama pribadi yang sangat mereka kenal."Selena?" bisik Alice. "Selena yang dulu bekerja untuk keluarga Smith?""Benar. Dia yang menghilang tak lama setelah keruntuhan Edwin. Banyak yang mengira dia sudah mati atau bersembunyi di tempat yang tidak terjangkau," ujar Evan. Ia berjalan menuju balkon, m

  • Pengantin Pengganti Yang Dibenci   156. Perhiasan Terkahir Grizelle

    Evan menatap kotak kayu di tangannya. Teksturnya terasa halus, khas kayu jati yang telah dipoles selama puluhan tahun. Tidak ada gembok rumit, hanya sebuah pengait perak sederhana. Ia melirik Lavina yang masih berdiri di hadapannya dengan senyum lembut."Bawalah masuk. Alice harus melihatnya juga," bisik Lavina pelan. "Itu adalah barang yang sangat berharga bagi Grizelle, tapi bukan karena harganya."Evan mengangguk. Ia kembali ke dalam kamar, menutup pintu dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara. Alice sudah terbangun, ia duduk bersandar pada kepala ranjang sambil mengusap matanya yang masih mengantuk."Evan? Ada apa? Tadi itu Nenek?" tanya Alice."Iya. Dia menemukan kotak milik Ibuku di gudang bawah tanah yang baru dibersihkan," Evan duduk di tepi ranjang dan meletakkan kotak itu di antara mereka.Alice menatap kotak itu dengan rasa ingin tahu. "Kotak Ibu Grizelle? Apa isinya?""Nenek bilang ini sesuatu yang manis. Bukan rahasia atau

  • Pengantin Pengganti Yang Dibenci   155. Damai Yang Sempurna

    Evan menatap layar ponselnya sekali lagi. Jari-jarinya bergerak cepat di atas permukaan kaca, menghapus pesan itu secara permanen. Ia menarik napas panjang, membiarkan udara malam yang dingin menenangkan pikirannya yang sempat bergejolak. Tidak mungkin. Semuanya sudah selesai. Edwin, Viktor, dan semua orang yang pernah mengancam hidup mereka sudah menjadi sejarah yang terkubur.Ia menyadari bahwa di dunia bisnis seperti yang dijalaninya, pesan-pesan gelap semacam itu sering kali hanyalah upaya dari pesaing bisnis rendahan yang ingin mengguncang ketenangannya."Evan? Kenapa lama sekali?" suara Alice memanggil dari dalam kamar.Evan menoleh, menyimpan ponselnya ke dalam saku, lalu melangkah masuk ke dalam kamar yang hangat. "Hanya memastikan semua pintu sudah terkunci, Sayang. Ayo tidur."Dua Bulan Kemudian.Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden kamar bayi yang kini dipenuhi dengan warna-warna cerah. Leo, yang kini sudah berusia d

  • Pengantin Pengganti Yang Dibenci   154. Suapan Pertama Sang Pewaris

    Evan menatap layar interkom selama beberapa detik, lalu tangannya bergerak menekan tombol putus. Ia tidak menjawab instruksi penjaga gerbang. Ia justru berbalik dan menatap Alice yang masih berdiri di dekat balkon dengan wajah penuh tanda tanya."Evan? Kau tidak mau menerima dokumen itu?" tanya Alice.Evan berjalan mendekat, lalu menggenggam kedua tangan istrinya. "Alice, ingat apa yang kita janjikan di rumah pantai kemarin? Kita sudah selesai dengan masa lalu. Entah itu kekayaan Smith yang tertinggal, rahasia lama, atau apa pun itu... aku tidak peduli lagi.""Tapi bagaimana kalau itu penting untuk masa depan Leo?""Masa depan Leo sudah lebih dari cukup dengan apa yang kita miliki sekarang," jawab Evan mantap. "Aku tidak ingin ada satu pun kertas dari masa lalu yang masuk ke rumah ini lagi dan memicu kecemasanmu. Kita sudah menutup buku itu, Alice. Mari kita biarkan buku itu tetap tertutup."Evan mengambil ponselnya dan mengirim pesan singkat kepad

  • Pengantin Pengganti Yang Dibenci   153. (1) Langkah Pertama sang pewaris

    Evan segera menyambar ponselnya dari tangan Alice. Matanya memicing, membaca baris demi baris pesan yang masuk. Ketegangan yang sempat menyelimuti wajah Alice perlahan memudar saat melihat ekspresi Evan yang tidak menunjukkan kemarahan atau keterkejutan yang gelap. Evan justru mengembuskan napas panjang, lalu mengusap wajahnya yang masih basah."Evan? Apa itu benar? Apa yang dikatakan Departemen Kearsipan itu?" suara Alice terdengar mendesak.Evan menatap Alice, lalu menunjukkan layar ponselnya dengan lebih jelas. "Bukan Departemen Kearsipan, Alice. Ini dari 'Leo'—manajer proyek pembangunan di pelabuhan utara. Dia salah kirim pesan atau menggunakan kode proyek yang membingungkanmu."Alice membaca ulang pesan itu. Benar saja, nama pengirimnya adalah Leo, salah satu kepala teknisi kepercayaan Evan. Kalimatnya yang terpotong di notifikasi tadi memang terlihat mencurigakan, namun setelah dibuka secara lengkap, isinya adalah tentang arsip data tanah untuk pemba

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status