Se connecterEvan melangkah masuk ke ruang kerja ayahnya yang berada tepat di sebelah kamarnya. Di dalam, Rico berdiri mematung dengan wajah pucat di samping meja kerja besar milik Zavian. Udara di ruangan itu terasa sangat panas, seolah-olah amarah Zavian telah membakar oksigen di sana.
Zavian berdiri membelakangi pintu, menatap keluar jendela besar. Begitu mendengar langkah kaki Evan, ia berbalik dengan mata yang berkilat tajam.
"Ada apa, Pa?" tanya Evan pelan.
"Kau masih berani bertanya ada apa?" suara Zavian menggelegar. "Di saat perusahaan kita sedang di ujung tanduk karena wanita ular itu, kau malah sibuk bersenang-senang dengan sepupunya di ranjang? Kau pikir ini waktu yang tepat untuk bulan madu?!"
Evan mengepalkan tangannya. "Aku tidak melakukannya, Pa. Itu hanya salah paham."
"Salah paham?!" Zavian memukul meja dengan keras. "Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana keadaan kalian tadi! Dan kau, Rico!" Zavian menunjuk asisten Evan. "Jelaskan pada CEO bodoh ini apa yang kau laporkan padaku tadi pagi!"
Rico menunduk dalam, tidak berani menatap mata Evan. "Maaf, Tuan Evan. Tuan Besar bertanya tentang kejadian semalam. Saya terpaksa jujur bahwa semalam anda minum sangat banyak di klub dan hampir kehilangan kendali karena stres memikirkan Selena."
Evan melirik Rico dengan tatapan tajam, namun ayahnya kembali berteriak. "Bagus sekali! Selena membawa kabur proyek Smart Green City kita ke tangan Victor, dan kau malah mabuk-mabukan seperti pecundang! Victor sudah mulai menggunakan data itu untuk melobi investor asing. Jika mereka berhasil tanda tangan kontrak minggu depan, Nathaniel Group tamat!"
"Aku akan membereskannya, Pa. Aku akan mencari Selena," ucap Evan dengan rahang mengeras.
"Tentu saja kau harus mencarinya! Itu tanggung jawabmu karena telah membiarkan dia masuk ke hidupmu!" Zavian mengambil napas panjang, mencoba meredam emosinya. "Aku sudah mengerahkan tim intelijen keluarga untuk melacak Victor dan Selena. Tapi kau, Evan... kau punya kunci lain yang lebih dekat."
Evan menyipitkan mata. "Maksud Papa?"
"Alice. Dia sepupu Selena. Tidak mungkin dia tidak tahu setetes pun rencana pelarian saudaranya sendiri. Gunakan cara apa pun untuk membuat dia bicara!"
Evan keluar dari ruang kerja dengan kemarahan yang meluap-luap. Rasa pening di kepalanya akibat sisa alkohol berpadu dengan tekanan dari papanya. Ia menendang pintu kamarnya hingga terbuka lebar.
Alice yang sedang duduk di depan meja rias, mencoba merapikan rambutnya yang masih basah. Ia tersentak kaget saat melihat bayangan Evan di cermin.
'Evan, dia begitu sangat marah. Ada apa lagi ini?' batinnya.
Tanpa sepatah kata pun, Evan melangkah maju dan menyambar pergelangan tangan Alice, menariknya hingga gadis itu berdiri paksa.
"A-aw! Sakit, Evan! Lepaskan!" rintih Alice.
Evan tidak peduli. Ia memelototkan matanya, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Alice. "Katakan padaku, di mana Selena sekarang?!"
"Aku tidak tahu, Evan!"
"Bohong! Kak sepupunya, tidak mungkin kau tidak tau, Alice! Cepat katakan di mana dia!?"
"Sudah berulang kali kukatakan, aku tidak tahu!"
"Jangan bohong!" bentak Evan, cengkeramannya semakin kuat hingga kulit Alice memerah. "Kalian tinggal di rumah yang sama, kalian sepupu! Tidak mungkin dia tidak bicara apa-apa padamu sebelum kabur membawa proyek perusahaanku!"
"Dia tidak pernah cerita soal pekerjaan padaku! Kami tidak sedekat yang kau pikirkan!" Alice berteriak di depan wajah Evan, mencoba membela diri.
"Kau pikir aku percaya?" Evan tertawa sinis, tawanya terdengar mengerikan. "Mungkin kau sengaja diam agar Victor bisa menghancurkan keluargaku, lalu kau bisa menikmati sisa harta kami sebagai nyonya di rumah ini, iya kan?!"
"Kau gila! Aku bahkan tidak mengenal siapa itu Victor!"
Kemarahan Evan memuncak. Ia tidak lagi bisa berpikir jernih. Dengan satu sentakan kasar, ia mendorong tubuh Alice menjauh darinya.
"Dasar wanita penipu!"
Tubuh kecil Alice terpelanting ke samping. Ia kehilangan keseimbangan dan kepalanya terbentur sudut meja rias yang terbuat dari kayu jati keras.
Alice memekik kesakitan sebelum jatuh terduduk di lantai. Ia memegang pelipis kirinya yang terasa berdenyut panas. Saat ia menarik tangannya, cairan merah kental menempel di jemarinya. Darah mulai mengalir menuruni pipinya.
Evan terdiam sejenak melihat darah itu, namun ego dan amarahnya lebih besar daripada rasa kasihannya. Ia mendengus dingin.
"Itu belum seberapa dibanding kerugian yang keluargamu timbulkan padaku," ucap Evan ketus. Ia berbalik dan berjalan menuju toilet. "Bersihkan wajahmu. Kau terlihat menjijikkan."
Pintu toilet tertutup dengan bantingan keras. Alice terisak di lantai, memegangi lukanya yang terus mengeluarkan darah. Rasa nyeri di kepalanya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya. Pria ini benar-benar bukan remaja baik hati yang ia kenal dulu.
Alice menghapus air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangannya. Ia mencoba berdiri meski kepalanya terasa berputar. Baru saja ia hendak menuju wastafel untuk membasuh lukanya, suara ketukan lembut terdengar dari pintu kamar.
"Nyonya Alice? Ini Lily. Saya membawakan sarapan," suara pelayan itu terdengar dari luar.
Alice menarik napas dalam, mencoba menormalkan suaranya. "Masuklah, Lily."
Pintu terbuka. Lily masuk membawa nampan berisi bubur dan jus. Namun, ia tidak sendirian. Di belakangnya berjalan seorang wanita paruh baya yang tampak sangat anggun dan berwibawa. Dia adalah Lavina, mama dari Zavian, alias nenek Evan.
Begitu Alice menoleh, Lily menjatuhkan sendok yang ia pegang.n"Astaga, Nyonya! Pelipis Anda!" teriak Lily panik.
Lavina langsung melangkah cepat mendekati Alice. Matanya yang tajam langsung menangkap pemandangan darah yang mengalir di wajah Alice.
"Apa yang terjadi, Alice?" tanya Lavina dengan suara tegas namun menyimpan kekhawatiran.
Alice menunduk, mencoba menutupi lukanya dengan rambut. "Ti-tidak apa-apa, Nek. Saya hanya tersandung meja karena mengantuk."
Lavina tidak percaya begitu saja. Ia memegang dagu Alice dan mengangkat wajah gadis itu agar ia bisa melihat luka tersebut lebih jelas. Luka robek itu cukup dalam.
"Tersandung tidak akan membuat robekan seperti ini, Nak," ucap Lavina dingin. Matanya melirik ke arah pintu toilet yang tertutup, di mana suara pancuran air terdengar dari dalam.
Lavina beralih menatap Lily. "Lily, ambilkan kotak obat sekarang juga! Dan kau, Alice, jujurlah pada Nenek. Apakah Evan yang melakukan ini padamu?"
Alice terdiam, bibirnya bergetar. Ia ingin jujur, tapi ancaman Evan di ruang kerja tadi masih terngiang-ngiang di kepalanya. Di saat yang bersamaan, suara kran air di dalam toilet berhenti, menandakan Evan akan segera keluar.
Lavina menatap Alice dengan tatapan yang sangat dalam. "Katakan yang sebenarnya sebelum anak itu keluar. Jika dia berani menyentuhmu dengan kasar, dia harus berhadapan denganku."
Alice menelan ludah, ia melirik ke arah pintu toilet yang mulai bergerak terbuka. Ia kemudian menatap Lavina dengan mata berkaca-kaca.
"Nek, sebenarnya..."
Dengan enggan, Alice merebahkan tubuhnya. Evan membantu membuka jubah mandi Alice dengan sangat perlahan. Begitu kain itu tersingkap, Evan memejamkan mata sejenak, menahan sesak di dadanya. Ada memar kebiruan di pangkal paha Alice, bekas cengkeraman tangannya yang terlalu kuat. Bagian intim Alice juga tampak kemerahan dan sedikit bengkak."Ya Tuhan. Apa yang sudah kulakukan padamu," bisik Evan."Kau melampiaskan dendammu pada orang yang salah," sahut Alice lirih.Evan mulai mengompres bagian yang memar dengan air hangat menggunakan handuk kecil. Gerakannya sangat lembut, seolah ia sedang menyentuh porselen yang paling rapuh di dunia."Ngh... pelan-pelan," rintih Alice saat handuk itu menyentuh kulitnya."Iya, maaf. Ini akan membantu mengurangi bengkaknya," ujar Evan. Ia mengoleskan salep pereda nyeri dengan ujung jarinya, sangat perlahan.Suasana kamar menjadi sunyi, hanya terdengar suara napas mereka berdua. Evan melakukan tugasnya dengan p
Di tempat kerjanya, Rico bergerak seperti bayangan. Ia tiba di Rumah Sakit Medika, tempat yang disebut-sebut Selena sebagai tempat pemeriksaan kehamilannya. Rico mengenakan setelan jas hitamnya yang rapi, memberikan kesan intimidasi yang halus saat ia melangkah masuk ke ruangan Direktur Rumah Sakit."Saya dari firma hukum Nathaniel," kata Rico sambil meletakkan kartu namanya di atas meja. "Kami ingin melakukan verifikasi atas rekam medis pasien bernama Selena Pramudya yang diperiksa pagi ini oleh Dr. Hermawan."Direktur rumah sakit itu tampak pucat. "Maaf, Tuan Rico, rekam medis adalah rahasia pasien. Kami tidak bisa memberikannya tanpa izin."Rico tersenyum dingin. Ia mengeluarkan sebuah tablet dan menunjukkan foto Dr. Hermawan yang sedang menerima amplop tebal dari seorang pria suruhan Edwin di sebuah kafe sejam yang lalu."Atau kami bisa membawa polisi ke sini untuk menyelidiki kasus penyuapan dan pemalsuan dokumen publik?" ancam Rico. "Pilihannya ada
Evan berdiri di balkon vila dengan napas yang masih menderu pelan. Tangannya mencengkeram ponsel begitu kuat hingga buku jarinya memutih. Di layar, pesan dari Rico tentang klaim kehamilan Selena masih terpampang jelas."Rico, dengar baik-baik," suara Evan rendah namun penuh penekanan. "Selidiki rumah sakit itu sekarang juga. Cari dokter yang menangani Selena, periksa rekam medisnya, dan cari tahu siapa yang membayarnya untuk mengeluarkan surat itu.""Baik, Tuan Muda. Tapi, apakah Anda akan pulang hari ini? Pesawat bisa siap dalam satu jam," jawab Rico dari seberang telepon."Tidak," potong Evan cepat. Matanya menatap tajam ke arah laut lepas yang mulai diterangi cahaya fajar. "Aku tidak akan membiarkan wanita itu merusak liburanku bersama Alice. Lakukan tugasmu, kirimkan bukti itu padaku secepatnya. Jangan ganggu aku sampai kau punya bukti otentik bahwa itu bohong."Evan mematikan ponsel dan melemparnya ke kursi pantai. Ia mengusap wajahnya dengan kasar.
Zavian meremas gagang telepon di ruang kerjanya hingga buku jarinya memutih. Matanya menatap tajam dokumen digital yang dikirimkan Rico melalui tablet di atas mejanya. Nama yang tertera di kolom wali cadangan itu tertulis dengan jelas: Selena Pramudya."Bagaimana bisa nama Selena ada di sana, Rico?!" bentak Zavian melalui sambungan telepon."Sepertinya Edwin sudah memalsukan tanda tangan Elino bertahun-tahun yang lalu, Tuan," suara Rico terdengar tegang. "Dia memindahkan hak perwalian cadangan kepada anaknya sendiri, Selena, sebagai rencana darurat jika keluarga inti mereka kehilangan akses langsung. Jika terjadi sesuatu pada Alice saat persalinan, Selena yang akan memegang kendali penuh atas dana abadi itu."Zavian mendengus kasar, ia melemparkan tabletnya ke atas meja sofa. "Edwin benar-benar ular. Dia sudah menyiapkan lubang sejak lama. Pantas saja dia tampak pasrah saat aku pulangkan, ternyata dia masih memegang kartu ini.""Apa kita perlu memanggil E
Evan segera melipat surat dari Rico dan memasukkannya ke dalam saku celana dengan gerakan cepat. Ia tidak ingin raut wajahnya merusak ketenangan Alice yang baru saja pulih. Surat itu tentang gugatan perdata baru dari tim hukum Edwin yang mencoba menggugat keabsahan dana abadi Elino. Mereka masih berusaha mencakar sisa-sisa harta yang bukan hak mereka."Apa itu, Evan? Berita buruk lagi?" tanya Alice, matanya menatap cemas pada saku celana suaminya.Evan tersenyum lebar, berusaha terlihat sesantai mungkin. Ia merangkul bahu Alice dan mengecup pelipisnya. "Bukan apa-apa, sayang. Hanya laporan rutin dari Rico soal audit gudang. Tidak penting. Fokus saja pada koper-kopermu, oke?""Kau yakin? Wajahmu tadi sempat tegang," desak Alice ragu."Aku yakin. Seratus persen," jawab Evan mantap. "Besok kita berangkat ke Maldives. Aku ingin kau hanya memikirkan warna bikini yang akan kau pakai, bukan soal surat-surat kantor."Alice akhirnya tertawa kecil dan mengan
Pengakuan yang terlambat," sahut Zavian pelan namun mematikan. "Keserakan kalian bukan hanya mengancam Alice, tapi hampir menghancurkan kekaisaran yang aku bangun. Dan di dunia Nathaniel, pengkhianatan dari dalam adalah dosa yang tak terampuni."Zavian Nathaniel melangkah keluar dari bayang-bayang. Lampu koridor yang remang menerangi wajahnya yang kaku. Ia menatap Edwin dan Vinnie dengan pandangan yang lebih dingin daripada es. Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak, hanya kehampaan yang membuat sepasang suami istri itu merasa nyawa mereka sudah berada di ujung tanduk."Kalian dilepaskan," ucap Zavian pendek.Edwin mendongak dengan mata membelalak. "Kau, kau membebaskan kami, Tuan Zavian?""Bukan karena aku memaafkan kalian," sahut Zavian sambil berbalik badan. "Tapi karena Alice tidak ingin tanganku kotor oleh darah keluarganya sendiri. Dan karena Selena sudah membayar harga yang cukup mahal malam ini."Zavian memberi kode kepada dua pengawal bert







