Beranda / Romansa / Pengantin Pengganti Yang Dibenci / Bab 6: Sisi Gelap di Balik Handuk Putih

Share

Bab 6: Sisi Gelap di Balik Handuk Putih

Penulis: Fiyaseni
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-14 15:45:47

Cengkeraman di leher Alice perlahan mengendur. Evan mengerang keras, kedua tangannya berpindah memegangi kepalanya sendiri yang seolah mau pecah. Alice terbatuk-batuk hebat, meraup oksigen sebanyak mungkin hingga dadanya naik turun dengan cepat. Rasa panas dan perih masih tertinggal di kulit lehernya yang memerah.

"Sial... kepalaku..." kutuk Evan dengan suara parau.

Ia mencoba berdiri, namun keseimbangannya hilang. Tubuhnya yang besar terhuyung ke depan dan jatuh terbanting tepat di atas kasur, di sebelah Alice. Evan meringis, matanya terpejam rapat sambil terus melontarkan sumpah serapah.

"Wanita ular kau hancurkan semuanya, Selena ... brengsek!" racau Evan sebelum akhirnya suaranya mengecil dan napasnya menjadi teratur. Ia pingsan karena pengaruh alkohol yang terlalu berat.

Alice terduduk di tepi ranjang sambil memegangi lehernya. Ia mengatur napas yang masih tersengal. Matanya menatap Evan yang kini tak sadarkan diri. Ada rasa trauma setelah hampir dicekik, namun rasa penasaran lebih mendominasi hatinya.

'Kenapa dia begitu membenci Selena? Bukankah kemarin dia bilang sangat mencintainya?' batin Alice bingung.

Alice perlahan mengulurkan tangan, menyentuh ujung rambut Evan yang berantakan. Ia memperhatikan setiap garis wajah pria itu. Sosok remaja laki-laki yang hangat di pengungsian dulu seolah terbayang kembali di wajah pria yang baru saja mencoba menyakitinya ini.

"Ternyata aku masih bisa bertemu dengan laki-laki yang menolongku dulu," bisik Alice pelan. Ia tersenyum tipis, meski air mata masih membekas di pipinya.

Dengan sisa tenaga, Alice mulai bergerak. Ia tidak bisa membiarkan Evan tidur dengan pakaian yang kotor dan bau. Ia melepaskan sepatu pantofel mahal milik Evan, lalu dengan susah payah membuka jas serta kemeja yang sudah bau wiski dan keringat. Saat kemeja itu terbuka, Alice kembali melihat otot-otot perut Evan yang keras, namun kali ini ia tidak memalingkan wajah. Ia justru menarik selimut hingga ke dada Evan.

"Aku yakin di hatimu masih ada aku, meski sekarang tertutup amarahmu pada Selena," gumam Alice sebelum ia sendiri beranjak menuju sofa untuk melanjutkan tidurnya.

*****

Sinar matahari pagi menusuk celah jendela, menerangi kamar yang berantakan itu. Evan terbangun dengan rasa pening yang luar biasa. Ia memijat pangkal hidungnya, mencoba mengingat apa yang terjadi semalam.

"Sial, kepalaku mau copot," gumamnya.

Saat ia menyingkap selimut, Evan tersentak. Ia menyadari dirinya sama sekali tidak mengenakan pakaian. Kulitnya langsung bersentuhan dengan udara dingin kamar. Ia menatap ke sekeliling dan melihat kemeja serta jasnya tergeletak rapi di atas kursi.

"Cih, dasar wanita licik," desis Evan. Pikirannya langsung tertuju pada Alice. "Dia pasti sengaja menelanjangiku saat aku tidak sadar. Dia pasti ingin mengambil kesempatan agar bisa benar-benar menjadi nyonya Nathaniel."

Suara gemericik air dari kamar mandi berhenti, ia tahu pasti Alice di dalam sana. Evan segera menyambar handuk putih yang tergantung di dekat tempat tidur, melilitkannya di pinggang, lalu berdiri tegak, menunggu Alice keluar dari sana.

Pintu kamar mandi terbuka. Alice keluar dengan uap air yang masih mengikutinya. Ia hanya mengenakan sehelai handuk putih yang melilit tubuhnya, hanya sampai batas paha. Rambutnya yang panjang basah kuyup, dan beberapa tetesan air mengalir di lekuk leher serta belahan dadanya yang terlihat jelas karena handuk itu tidak tertutup sempurna.

Alice terbelalak melihat Evan sudah berdiri tegak di depannya. "E-evan? Kau sudah bangun?"

Melihat ekspresi terkejut Alice, Evan justru merasa itu hanya akting. Ia melangkah cepat, menyudutkan Alice kembali ke arah pintu kamar mandi yang belum tertutup rapat.

"Kau ingin lari?" geram Evan.

Ia langsung mengapit kedua pipi Alice dengan satu tangan, memaksa wajah gadis itu mendongak. Matanya memelotot tajam, penuh dengan rasa jijik dan amarah.

"Kau sengaja menelanjangiku saat aku mabuk agar aku bisa menidurimu, iya kan, Alice?! Kau ingin menjebakku agar pernikahan kontrak ini menjadi nyata?"

"Tidak! Apa yang kau katakan?" Alice mencoba melepaskan tangan Evan, namun tenaganya sia-sia. "Aku hanya ingin membuat kau nyaman saat tidur. Pakaianmu bau alkohol dan muntah, aku tidak mau kau sakit!"

"Bohong!" bentak Evan tepat di depan wajah Alice. "Kalian semua sama saja. Kau, bibimu, Selena. Kalian wanita-wanita ular yang hanya mengincar uangku. Kau pikir dengan tubuhmu ini, kau bisa menggodaku?"

Alice menggeleng kuat, air matanya mulai mengalir di pipinya. "Aku mohon, lepaskan. Aku benar-benar tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya ingin membantu."

"Membantu atau mencari keuntungan?" Evan semakin menekan pipi Alice hingga gadis itu meringis. "Jangan pernah berani menyentuhku lagi dengan tangan kotor itu, mengerti?! Kau tidak lebih dari sampah yang menggantikan sampah lainnya!"

"Maafkan aku, Evan. Maaf..." isak Alice pasrah.

Tepat saat ketegangan memuncak, sebuah ketukan keras terdengar dari pintu kamar yang terkunci.

"Evan! Buka pintunya! Aku tahu kau sudah bangun!" suara berat Zavian terdengar menggelegar dari luar. "Buka sekarang juga atau aku dobrak!"

Evan dan Alice tersentak. Mereka saling pandang dengan napas yang memburu. Posisi mereka yang sangat intim, hanya berbalut handuk dan saling menempel, akan menjadi bencana besar jika papanya masuk sekarang.

"Sial, Papa," umpat Evan pelan sambil melepaskan Alice.

Evan menoleh ke arah pintu dengan wajah tegang, lalu kembali menatap Alice yang masih gemetar ketakutan.

"Jangan berani-berani mengeluarkan suara, atau kau habis!" bisik Evan mengancam.

"Evan! Aku beri waktu tiga detik! Satu... Dua..."

Pintu kamar itu terbuka lebar dengan sekali dorongan kasar. Rupanya, dalam kondisi mabuk berat semalam, Evan lupa mengunci pintu tersebut. Sosok Zavian Nathaniel berdiri di ambang pintu dengan wajah yang semula penuh amarah, namun seketika berubah menjadi syok yang luar biasa.

Matanya tertuju pada pemandangan di depannya. Evan yang bertelanjang dada hanya dengan lilitan handuk di pinggang, dan Alice yang mematung dengan handuk sebatas paha yang masih basah.

"Astaga!" Zavian memekik, matanya membelalak.

Sontak, insting Evan bekerja. Ia langsung memutar tubuhnya, berdiri tepat di depan Alice untuk menutupi tubuh gadis itu dari pandangan papanya. Alice bersembunyi di balik punggung lebar Evan, meremas pinggiran handuknya dengan jari-jari yang gemetar karena malu dan takut.

"Ada apa, Pa?" tanya Evan dengan suara yang dipaksakan tenang, meski jantungnya berdegup kencang karena tertangkap basah dalam situasi yang ambigu.

Zavian segera memalingkan wajahnya ke arah koridor, napasnya memburu menahan emosi yang bercampur aduk antara amarah bisnis dan keterkejutan melihat situasi barusan.

"Aku tidak menyangka kau masih punya waktu untuk... untuk melakukan ini di saat perusahaan sedang di ambang kehancuran!" Zavian berteriak tanpa menoleh.

"Ini tidak seperti yang Papa lihat," jawab Evan cepat.

"Cukup! Aku tidak butuh penjelasan soal aktivitas ranjangmu!" Zavian memotong dengan kasar. Ia memijat pelipisnya, suaranya kembali rendah namun penuh penekanan yang mengerikan. "Cepat pakai bajumu. Kita perlu bicara di ruang kerja. Sekarang!"

Zavian tidak menunggu jawaban. Ia berbalik dan melangkah pergi, lalu membanting pintu kamar itu dengan sangat keras hingga menimbulkan bunyi dentuman yang memekakkan telinga.

Suasana kamar mendadak sunyi, hanya menyisakan deru napas Evan dan Alice. Evan perlahan membalikkan tubuhnya, menatap Alice yang kini sudah menangis tanpa suara. Wajah Alice merah padam hingga ke leher.

"Puas kau sekarang?" desis Evan dingin. "Gara-gara kau, harga diriku di depan Papa jatuh ke titik terendah."

Alice mendongak, matanya yang basah menatap Evan dengan rasa tidak percaya. "Kenapa kau menyalahkanku? Aku bahkan tidak tahu pintunya tidak dikunci!"

"Diam!" Evan menyambar pakaiannya di kursi dengan kasar. "Masuk ke kamar mandi dan jangan keluar sampai aku pergi. Kalau aku mendengarmu mengadu yang aneh-aneh pada Papa, aku tidak akan segan-segan membuatmu menghilang dari rumah ini."

Alice hanya bisa terdiam saat Evan mengenakan pakaiannya dengan gerakan cepat dan penuh amarah. Setelah mengenakan kemeja dan celana kainnya, Evan keluar dari kamar tanpa menoleh sedikitpun, meninggalkan Alice yang terduduk lemas di lantai marmer yang dingin.

'Dia benar-benar marah padaku, bahkan sampai mengancam. Sebenci itukah dia padaku?' batinnya lirih.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pengantin Pengganti Yang Dibenci   7. Luka dibalik Cermin

    Evan melangkah masuk ke ruang kerja ayahnya yang berada tepat di sebelah kamarnya. Di dalam, Rico berdiri mematung dengan wajah pucat di samping meja kerja besar milik Zavian. Udara di ruangan itu terasa sangat panas, seolah-olah amarah Zavian telah membakar oksigen di sana.Zavian berdiri membelakangi pintu, menatap keluar jendela besar. Begitu mendengar langkah kaki Evan, ia berbalik dengan mata yang berkilat tajam."Ada apa, Pa?" tanya Evan pelan."Kau masih berani bertanya ada apa?" suara Zavian menggelegar. "Di saat perusahaan kita sedang di ujung tanduk karena wanita ular itu, kau malah sibuk bersenang-senang dengan sepupunya di ranjang? Kau pikir ini waktu yang tepat untuk bulan madu?!"Evan mengepalkan tangannya. "Aku tidak melakukannya, Pa. Itu hanya salah paham.""Salah paham?!" Zavian memukul meja dengan keras. "Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana keadaan kalian tadi! Dan kau, Rico!" Zavian menunjuk asisten Evan. "Jelaskan pada CEO bodoh ini apa yang kau lapo

  • Pengantin Pengganti Yang Dibenci   Bab 6: Sisi Gelap di Balik Handuk Putih

    Cengkeraman di leher Alice perlahan mengendur. Evan mengerang keras, kedua tangannya berpindah memegangi kepalanya sendiri yang seolah mau pecah. Alice terbatuk-batuk hebat, meraup oksigen sebanyak mungkin hingga dadanya naik turun dengan cepat. Rasa panas dan perih masih tertinggal di kulit lehernya yang memerah."Sial... kepalaku..." kutuk Evan dengan suara parau.Ia mencoba berdiri, namun keseimbangannya hilang. Tubuhnya yang besar terhuyung ke depan dan jatuh terbanting tepat di atas kasur, di sebelah Alice. Evan meringis, matanya terpejam rapat sambil terus melontarkan sumpah serapah."Wanita ular kau hancurkan semuanya, Selena ... brengsek!" racau Evan sebelum akhirnya suaranya mengecil dan napasnya menjadi teratur. Ia pingsan karena pengaruh alkohol yang terlalu berat.Alice terduduk di tepi ranjang sambil memegangi lehernya. Ia mengatur napas yang masih tersengal. Matanya menatap Evan yang kini tak sadarkan diri. Ada rasa trauma setelah hampir dicekik, namun rasa penasaran leb

  • Pengantin Pengganti Yang Dibenci   5. Antara Kenangan dan Amarah

    Evan tak menjawab pertanyaan Naya, dia malah mencengkeram bahu Naya dengan kekuatan yang menyakitkan. Napasnya yang berbau alkohol terasa panas menyapu wajah Naya. Matanya yang merah menatap nanar pada isi kotak yang berserakan di lantai."Sudah kubilang jangan sentuh apapun!" bentak Evan. Suaranya menggelegar di kamar yang luas itu."Akh! Evan, sak-kit. Lepaskan.... " Naya meringis menahan sakit. "Ma-maaf, aku tidak sengaja menyenggolnya, Evan..." suara Naya mencicit, air matanya mulai jatuh.Evan tidak peduli. Ia mengapit kedua pipi Naya dengan satu tangan, menekannya kuat hingga bibir Naya mengerucut kesakitan. Ia mendorong tubuh Naya ke belakang hingga punggung gadis itu menabrak dinding dengan keras."Akh!" Naya meringis, rasa sakit menjalar dari tulang belikatnya."Kau tahu apa isi kotak itu? Hah?!" Evan mendekatkan wajahnya, tatapannya penuh kebencian. "Itu milik seseorang yang paling berharga dalam hidupku sepuluh tahun lalu. Seseorang yang bisa menghargai pemberianku! Dan kau

  • Pengantin Pengganti Yang Dibenci   4. Rahasia dibalik Kotak Kayu

    "Maksudmu?"Evan melangkah mendekat, mencengkeram bahu Naya dengan kuat hingga Naya memekik kecil. "Selena tidak kabur sendirian. Dia pergi dengan seseorang yang paling aku benci di dunia ini, dan mereka membawa rahasia besar perusahaan."Naya menelan salivanya. "Lalu apa hubungannya denganku? Kontraknya sudah kutanda tangani."Evan mendekatkan wajahnya ke telinga Naya, suaranya terdengar seperti bisikan iblis. "Hubungannya adalah... selama Selena belum ditemukan, kau tidak akan pernah diizinkan menginjakkan kaki di kampus itu."Naya terbelalak. "Tapi kau janji....""Lupakan janjiku," potong Evan telak. "Karena mulai hari ini, kau bukan lagi pengantin pengganti, melainkan tawanan yang harus membayar semua pengkhianatan Selena padaku."Evan melepaskan cengkeramannya dan berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia berhenti dan menoleh sedikit. "Dan satu lagi, jangan coba-kali menelepon siapa pun. Karena semua akses komunikasimu sudah aku putus total."Brak!Pintu dibanting keras dari luar

  • Pengantin Pengganti Yang Dibenci   3. Kamar Yang Menjadi Penjara

    "Tapi aku...""Jangan membantah," potong Evan. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Naya lagi, membuat Naya otomatis menarik lehernya.Evan memberikan senyuman miring yang terlihat sangat berbahaya sebelum berbisik pelan. "Ingat janji kita tadi? Karena kau sudah resmi jadi istriku, ada satu hal lagi yang harus kau tahu..."Naya menatap Evan dengan bingung dan waswas. "Apa?"Evan menatap lurus ke mata Naya, seolah sedang mengunci mangsanya. "Malam ini, aku tidak akan membiarkanmu tidur di kamar yang berbeda, dan jangan sekali-kali mencoba mengunci pintu kamar mandi jika kau tidak ingin aku mendobraknya."Naya membeku. Kalimat itu lebih menyeramkan daripada ancaman yang dilontarkan bibinya tadi. "Ma-maksudmu kita ...."*****Acara pernikahan telah usai. Naya lagsung dibawa ke kediaman mansion milik Evan. Mobil berwarna hitam itu berhenti dengan halus di depan lobi sebuah mansion megah bergaya modern minimalis.Begitu pintu terbuka, udara dingin malam langsung menyergap Naya. Ia turun dari

  • Pengantin Pengganti Yang Dibenci   2. Sandiwara di Atas Pelaminan

    Naya tersentak mendengar ucapan Evan yang begitu dingin. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat, bukan karena cinta, melainkan rasa takut yang mencekam. Ia mencoba mundur beberapa langkah, berniat menjauh dari tatapan tajam pria itu. Namun, belum sempat kakinya bergeser jauh, tangan kekar Evan menyambar pinggangnya.Dengan satu tarikan kuat, tubuh mungil Naya menabrak dada bidang Evan. Tubuh mereka bersentuhan. Naya bisa merasakan detak jantung Evan yang tenang, berbanding terbalik dengan miliknya yang seolah ingin melompat keluar."Kenapa? Kau ingin lari ?" bisik Evan.Air mata mulai mengumpul di pelupuk mata Naya. Bibirnya bergetar, menahan isak tangis yang menyesak di dada. Ia merasa seperti domba yang baru saja diserahkan ke kandang singa.Evan membungkuk, mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka hampir bersentuhan. Ia menatap lekat ke arah mata Naya yang berkaca-kaca. Alih-alih merasa iba, Evan justru menyapukan ibu jarinya ke sudut mata Naya dengan kasar."Jangan menangis," d

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status