Beranda / Romansa / Pengantin Pengganti Yang Dibenci / 5. Antara Kenangan dan Amarah

Share

5. Antara Kenangan dan Amarah

Penulis: Fiyaseni
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-31 20:11:12

Evan tak menjawab pertanyaan Naya, dia malah mencengkeram bahu Naya dengan kekuatan yang menyakitkan. Napasnya yang berbau alkohol terasa panas menyapu wajah Naya. Matanya yang merah menatap nanar pada isi kotak yang berserakan di lantai.

"Sudah kubilang jangan sentuh apapun!" bentak Evan. Suaranya menggelegar di kamar yang luas itu.

"Akh! Evan, sak-kit. Lepaskan.... " Naya meringis menahan sakit. "Ma-maaf, aku tidak sengaja menyenggolnya, Evan..." suara Naya mencicit, air matanya mulai jatuh.

Evan tidak peduli. Ia mengapit kedua pipi Naya dengan satu tangan, menekannya kuat hingga bibir Naya mengerucut kesakitan. Ia mendorong tubuh Naya ke belakang hingga punggung gadis itu menabrak dinding dengan keras.

"Akh!" Naya meringis, rasa sakit menjalar dari tulang belikatnya.

"Kau tahu apa isi kotak itu? Hah?!" Evan mendekatkan wajahnya, tatapannya penuh kebencian. "Itu milik seseorang yang paling berharga dalam hidupku sepuluh tahun lalu. Seseorang yang bisa menghargai pemberianku! Dan kau... tangan kotormu berani menyentuhnya?"

Naya terisak, tubuhnya gemetar hebat. Namun, kata-kata Evan tentang 'sepuluh tahun lalu' dan 'pemberian' memicu sesuatu di dalam ingatannya.

Pikiran Naya melayang jauh ke belakang. Tepat sepuluh tahun yang lalu, saat itu ia baru berusia delapan tahun. Desanya diterjang banjir bandang yang menghancurkan segalanya. Orangtuanya meninggal dunia, para korban yang selamat termasuk dirinya, berada di tenda pengungsian yang penuh sesak dan pengap.

Di sana, di antara lumpur dan tangisan, Naya melihat seorang remaja laki-laki berusia sekitar lima belas tahun. Lelaki itu datang bersama rombongan relawan kaya yang membagikan makanan. Wajahnya terlihat murung, namun saat melihat Naya yang menggigil kedinginan, ia melepas syalnya dan melilitkannya ke leher Naya.

"Ini, biar kamu tidak dingin lagi," ujar remaja itu lembut.

Naya kecil menatapnya takut-takut. "Terimakasih."

Remaja itu tersenyum tipis, lalu memberikan sebuah gelang dari jalinan benang merah dan hitam. "Ambil ini. Aku akan kembali lagi nanti untuk menemuimu kalau banjirnya sudah surut."

Naya mengangguk pelan sambil menggenggam gelang itu. "Janji? Kaka tidak bohong."

Remaja itu mengangguk kecil sambil tersenyum. Tiba-tiba, angin kencang membuat gelang ditangan Naya terbang, ke arah genangan air yang dalam. Ia langsung berlari hendak mengambilnya, tapi remaja itu mencegahnya.

"Jangan!"

"Tapi, gelangnya terbang dan jatuh di sana, Kak. Itu pemberian kakak, aku harus mengambilnya."

"Sudah. Biar nanti aku buatkan lagi."

"Terimakasih ya, Kak "

Naya tersadar dari lamunannya saat merasakan cengkeraman Evan di pipinya semakin mengencang. 'Iya. Dia remaja lelaki itu, aku masih ingat wajahnya,' batinnya.

Ia menatap mata Evan, mencoba mencari sisa-sisa kelembutan remaja laki-laki di pengungsian itu, namun yang ia temukan hanyalah kegelapan dan mabuk yang parah.

Evan mengerang, ia memegang kepalanya yang terasa berdenyut hebat. Pandangannya mulai mengabur. Bayangan Naya di depannya perlahan berubah. Rambut coklat Naya, bibirnya yang bergetar, dan air matanya. Di mata Evan yang sedang terpengaruh alkohol, wajah itu berubah menjadi wajah Selena.

"Selena?" gumam Evan, suaranya tiba-tiba melunak.

Cengkeraman di pipi Naya mengendur, berubah menjadi usapan lembut yang canggung. "Kau kembali, Sayang? Kau tidak jadi pergi dengan Victor? Aku sangat mencintaimu, Selena. Ku mohon, jangan pergi."

Naya tertegun. "Evan, aku bukan Selena. Aku Kanaya!"

Evan tidak mendengar. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh luka. "Aku tahu kau tidak akan tega meninggalkanku. Kau hanya bercanda kan soal pengkhianatan itu? Kau mencintaiku kan, Selena."

"Evan, sadarlah! Lihat aku!" Naya mencoba mendorong dada Evan, tapi pria itu justru menariknya ke dalam pelukan.

Evan mengusap bibir Naya dengan ibu jarinya, lalu tanpa peringatan, ia mengecup bibir Naya berkali-kali. Ciuman yang menuntut, penuh dengan rasa frustrasi dan kerinduan yang salah alamat.

"Aku mencintaimu, Selena... jangan pergi lagi," bisik Evan di sela-sela ciumannya.

"Lepas! Aku bukan Selena!" Naya berontak sekuat tenaga, memalingkan wajahnya hingga ciuman Evan mendarat di lehernya. "Evan sadarlah. Aku Naya!"

Evan semakin kalap. Ia mengangkat tubuh Naya dan membantingnya ke atas tempat tidur yang empuk. Naya mencoba bangkit, namun tubuh besar Evan langsung menindihnya, mengunci kedua tangannya di atas kepala.

"Evan, berhenti! Ini salah!" Naya berteriak sambil menangis sesenggukan.

Evan terus menghujani leher dan bahu Naya dengan ciuman kasar. Tanganya merayap ke paha mulus Naya. Jelas, itu membuat Naya makin terisak. "Stop, Evan... aku bukan Selena."

Naya terus menangis. Airmatanya membasahinya wajahnya. Tiba-tiba saja, suara isak tangis Naya yang semakin kencang langsung menembus kabut di otaknya. Evan berhenti sejenak, ia mengangkat kepalanya dan menatap wajah wanita di bawahnya.

Wajah itu dibasahi oleh air mata. Ketakutan yang terpancar dari mata Naya mulai menyadarkan Evan. Namun, kesadaran itu justru membawa kemarahan yang lebih besar. Karena ia teringat kembali pada laporan asistennya tadi siang, tentang bagaimana Selena mencuri data perusahaannya.

"Kau..." suara Evan berubah menjadi geraman rendah. "Kau wanita ular, Selena!"

Wajah Selena kembali terbayang di benaknya, tertawa mengejek karena telah berhasil menipunya. Amarah yang meledak-ledak karena dikhianati membuat Evan kehilangan akal sehatnya.

"Kau pikir kau bisa membodohiku lagi?!" teriak Evan.

Tiba-tiba, tangan Evan berpindah ke leher Naya. Ia mencengkeram tenggorokan gadis itu dan menekannya dengan kuat.

"Mati kau, Selena! Mati kau, pengkhianat!" wajah Evan memerah karena amarah yang memuncak.

"Uhuk! E-evan... sa-sakit..." Naya terbatuk, wajahnya mulai memucat karena kekurangan oksigen. Ia mencoba memukul tangan Evan, tapi tenaganya tidak sebanding.

Naya menatap mata Evan dengan sisa kekuatannya, air matanya mengalir membasahi tangan Evan yang sedang mencekiknya. Dalam hati ia menjerit. 'Apakah ini akhir hidupku di tangan orang yang dulu berjanji akan kembali untukku?'

"Mati kau, Selena. Mati!" raung Evan lagi, matanya benar-benar gelap seolah dirasuki setan.

Naya mulai kehilangan kesadaran, pandangannya menggelap, namun di detik-detik terakhir, ia berhasil membisikkan satu kata dengan suara yang nyaris hilang.

"Ge-gelang... Janji kita...."

Tangan Evan tersentak. Cengkeramannya sedikit melonggar saat kata itu masuk ke telinganya. Ia menatap Naya bingung, napasnya tersengal-sengal.

"Apa yang kau katakan?" tanya Evan dingin, namun matanya mulai menunjukkan keraguan.

Naya terbatuk-batuk hebat, mencoba meraup udara sebanyak mungkin ke paru-parunya. Sambil memegang lehernya yang memerah, ia menunjuk ke arah gelang benang yang tergeletak di lantai di dekat kotak kayu.

"Kau... kau yang memberikannya padaku sepuluh tahun lalu," ucap Naya dengan suara parau.

Evan mematung. Ia menoleh ke arah gelang di lantai, lalu kembali menatap Naya yang masih terbaring lemah di bawahnya. Keheningan mencekam menyelimuti kamar itu selama beberapa saat.

"Siapa kau sebenarnya?"

Sakit kepala mulai menyerangnya lagi. Evan meraung kesakitan sambil memegangi kepalanya kuat. "Akh!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pengantin Pengganti Yang Dibenci   7. Luka dibalik Cermin

    Evan melangkah masuk ke ruang kerja ayahnya yang berada tepat di sebelah kamarnya. Di dalam, Rico berdiri mematung dengan wajah pucat di samping meja kerja besar milik Zavian. Udara di ruangan itu terasa sangat panas, seolah-olah amarah Zavian telah membakar oksigen di sana.Zavian berdiri membelakangi pintu, menatap keluar jendela besar. Begitu mendengar langkah kaki Evan, ia berbalik dengan mata yang berkilat tajam."Ada apa, Pa?" tanya Evan pelan."Kau masih berani bertanya ada apa?" suara Zavian menggelegar. "Di saat perusahaan kita sedang di ujung tanduk karena wanita ular itu, kau malah sibuk bersenang-senang dengan sepupunya di ranjang? Kau pikir ini waktu yang tepat untuk bulan madu?!"Evan mengepalkan tangannya. "Aku tidak melakukannya, Pa. Itu hanya salah paham.""Salah paham?!" Zavian memukul meja dengan keras. "Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana keadaan kalian tadi! Dan kau, Rico!" Zavian menunjuk asisten Evan. "Jelaskan pada CEO bodoh ini apa yang kau lapo

  • Pengantin Pengganti Yang Dibenci   Bab 6: Sisi Gelap di Balik Handuk Putih

    Cengkeraman di leher Alice perlahan mengendur. Evan mengerang keras, kedua tangannya berpindah memegangi kepalanya sendiri yang seolah mau pecah. Alice terbatuk-batuk hebat, meraup oksigen sebanyak mungkin hingga dadanya naik turun dengan cepat. Rasa panas dan perih masih tertinggal di kulit lehernya yang memerah."Sial... kepalaku..." kutuk Evan dengan suara parau.Ia mencoba berdiri, namun keseimbangannya hilang. Tubuhnya yang besar terhuyung ke depan dan jatuh terbanting tepat di atas kasur, di sebelah Alice. Evan meringis, matanya terpejam rapat sambil terus melontarkan sumpah serapah."Wanita ular kau hancurkan semuanya, Selena ... brengsek!" racau Evan sebelum akhirnya suaranya mengecil dan napasnya menjadi teratur. Ia pingsan karena pengaruh alkohol yang terlalu berat.Alice terduduk di tepi ranjang sambil memegangi lehernya. Ia mengatur napas yang masih tersengal. Matanya menatap Evan yang kini tak sadarkan diri. Ada rasa trauma setelah hampir dicekik, namun rasa penasaran leb

  • Pengantin Pengganti Yang Dibenci   5. Antara Kenangan dan Amarah

    Evan tak menjawab pertanyaan Naya, dia malah mencengkeram bahu Naya dengan kekuatan yang menyakitkan. Napasnya yang berbau alkohol terasa panas menyapu wajah Naya. Matanya yang merah menatap nanar pada isi kotak yang berserakan di lantai."Sudah kubilang jangan sentuh apapun!" bentak Evan. Suaranya menggelegar di kamar yang luas itu."Akh! Evan, sak-kit. Lepaskan.... " Naya meringis menahan sakit. "Ma-maaf, aku tidak sengaja menyenggolnya, Evan..." suara Naya mencicit, air matanya mulai jatuh.Evan tidak peduli. Ia mengapit kedua pipi Naya dengan satu tangan, menekannya kuat hingga bibir Naya mengerucut kesakitan. Ia mendorong tubuh Naya ke belakang hingga punggung gadis itu menabrak dinding dengan keras."Akh!" Naya meringis, rasa sakit menjalar dari tulang belikatnya."Kau tahu apa isi kotak itu? Hah?!" Evan mendekatkan wajahnya, tatapannya penuh kebencian. "Itu milik seseorang yang paling berharga dalam hidupku sepuluh tahun lalu. Seseorang yang bisa menghargai pemberianku! Dan kau

  • Pengantin Pengganti Yang Dibenci   4. Rahasia dibalik Kotak Kayu

    "Maksudmu?"Evan melangkah mendekat, mencengkeram bahu Naya dengan kuat hingga Naya memekik kecil. "Selena tidak kabur sendirian. Dia pergi dengan seseorang yang paling aku benci di dunia ini, dan mereka membawa rahasia besar perusahaan."Naya menelan salivanya. "Lalu apa hubungannya denganku? Kontraknya sudah kutanda tangani."Evan mendekatkan wajahnya ke telinga Naya, suaranya terdengar seperti bisikan iblis. "Hubungannya adalah... selama Selena belum ditemukan, kau tidak akan pernah diizinkan menginjakkan kaki di kampus itu."Naya terbelalak. "Tapi kau janji....""Lupakan janjiku," potong Evan telak. "Karena mulai hari ini, kau bukan lagi pengantin pengganti, melainkan tawanan yang harus membayar semua pengkhianatan Selena padaku."Evan melepaskan cengkeramannya dan berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia berhenti dan menoleh sedikit. "Dan satu lagi, jangan coba-kali menelepon siapa pun. Karena semua akses komunikasimu sudah aku putus total."Brak!Pintu dibanting keras dari luar

  • Pengantin Pengganti Yang Dibenci   3. Kamar Yang Menjadi Penjara

    "Tapi aku...""Jangan membantah," potong Evan. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Naya lagi, membuat Naya otomatis menarik lehernya.Evan memberikan senyuman miring yang terlihat sangat berbahaya sebelum berbisik pelan. "Ingat janji kita tadi? Karena kau sudah resmi jadi istriku, ada satu hal lagi yang harus kau tahu..."Naya menatap Evan dengan bingung dan waswas. "Apa?"Evan menatap lurus ke mata Naya, seolah sedang mengunci mangsanya. "Malam ini, aku tidak akan membiarkanmu tidur di kamar yang berbeda, dan jangan sekali-kali mencoba mengunci pintu kamar mandi jika kau tidak ingin aku mendobraknya."Naya membeku. Kalimat itu lebih menyeramkan daripada ancaman yang dilontarkan bibinya tadi. "Ma-maksudmu kita ...."*****Acara pernikahan telah usai. Naya lagsung dibawa ke kediaman mansion milik Evan. Mobil berwarna hitam itu berhenti dengan halus di depan lobi sebuah mansion megah bergaya modern minimalis.Begitu pintu terbuka, udara dingin malam langsung menyergap Naya. Ia turun dari

  • Pengantin Pengganti Yang Dibenci   2. Sandiwara di Atas Pelaminan

    Naya tersentak mendengar ucapan Evan yang begitu dingin. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat, bukan karena cinta, melainkan rasa takut yang mencekam. Ia mencoba mundur beberapa langkah, berniat menjauh dari tatapan tajam pria itu. Namun, belum sempat kakinya bergeser jauh, tangan kekar Evan menyambar pinggangnya.Dengan satu tarikan kuat, tubuh mungil Naya menabrak dada bidang Evan. Tubuh mereka bersentuhan. Naya bisa merasakan detak jantung Evan yang tenang, berbanding terbalik dengan miliknya yang seolah ingin melompat keluar."Kenapa? Kau ingin lari ?" bisik Evan.Air mata mulai mengumpul di pelupuk mata Naya. Bibirnya bergetar, menahan isak tangis yang menyesak di dada. Ia merasa seperti domba yang baru saja diserahkan ke kandang singa.Evan membungkuk, mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka hampir bersentuhan. Ia menatap lekat ke arah mata Naya yang berkaca-kaca. Alih-alih merasa iba, Evan justru menyapukan ibu jarinya ke sudut mata Naya dengan kasar."Jangan menangis," d

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status