เข้าสู่ระบบKlek.Marcus melangkah masuk ke dalam ruang kerja Adriel dengan langkah yang teratur, cepat, dan kaku."Tuan Adriel," panggil Marcus.Adriel tidak langsung mendongakkan kepalanya. Ia meletakkan pulpen berujung platina ke atas meja dengan gerakan perlahan, lalu menyandarkan punggung. "Bagaimana situasi di luar, Marcus?" tanya Adriel. "Apakah umpan kita menuju Zurich berhasil memancing pihak Gideon Collins?"Marcus membungkukkan tubuhnya sejenak sebelum melangkah mendekati tepi meja."Skenario berjalan sangat sempurna, Tuan," lapor Marcus. "Tim pemantau lapangan milik Gideon Collins terkecoh. Mereka secara membabi buta memusatkan seluruh armada mereka untuk memburu jadwal pendaratan pesawat kita di Swiss."Adriel menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya. "Bagus. Itu memberi Aira cukup waktu untuk tiba di rumah barunya dengan aman tanpa ada gangguan.""Namun, Tuan..." sela Marcus. "Saya baru saja menerima laporan yang teramat penting sepuluh detik yang lalu."Adriel menyipitkan mat
Dimitri masih bertumpu dengan dua telapak tangannya di tepi meja makan jati. Tubuh tegapnya mencondong ke depan, menatap lurus menembus mata tua Guntur Ragendra dengan sorot mata yang menyala murka."Tuan Besar Guntur Ragendra..." desis Dimitri. "Jawab saya dengan jujur sekarang juga. Apakah Anda sebenarnya tahu ke mana Aira melarikan diri?!"Guntur menahan napas. Tangan tuanya yang memegang gagang perak tongkat kayu bergetar halus."Kamu lancang sekali, Dimitri!" bentak Prabu, melangkah maju. "Menuduh Tuan Besar bersengkongkol di balik kekacauan ini adalah sebuah bentuk ketidaksopanan yang tidak bisa ditoleransi!"Dimitri bahkan tidak sudi melirik Prabu. Pandangannya tertuju penuh pada sang kakek."Saya tidak berbicara dengan Anda, Pak Prabu!" bentak Dimitri. "Saya berbicara dengan kakek saya ini yang sejak awal berakting seolah-olah menjadi pahlawan bagi semua orang!""Dimitri..." geram Guntur. "Jaga batasanmu, Nak...""Batasan?!" Dimitri tertawa sinis. Ia menegakkan tubuh, melipat
Mobil berhenti tepat di pelataran sebuah rumah berlantai satu di sudut kompleks cluster. Pagar besinya berwarna putih bersih, dikelilingi taman kecil dengan rerumputan gajah mini yang tertata sangat rapi dan hijau.Serafina keluar lebih dahulu dari pintu pengemudi. Sepasang mata tajamnya menyapu sekeliling area—memastikan tidak ada kendaraan mencurigakan yang menguntit mereka. Setelah memberi sinyal aman lewat deheman pelan, Serafina membukakan pintu penumpang bagian belakang.Aira melangkah turun sambil menggendong erat si kecil EJ. Bayi perempuan yang genap berusia sebelas bulan itu tampak mengerjap-ngerjapkan matanya yang bulat, menatap lingkungan asing di sekitarnya dengan kepalanya yang menoleh ke kiri dan ke kanan."Silakan, Nyonya Aira," ujar Serafina pelan, menyerahkan kunci rumah. "Ini adalah rumah rahasia atas nama pihak ketiga yang disiapkan khusus oleh tim Tuan Adriel."Di belakang mereka, Nora melangkah turun dari mobil dengan membawa dua tas pakaian berukuran sedang. Nam
Guntur Ragendra sedang duduk tenang di atas kursi rodanya di dekat sudut jendela beranda. Tangan tuanya yang sedikit gemetar memegang sendok, menikmati santapan makan siangnya dengan ritme yang lambat dan teratur. Pintu ruang makan terbuka. Prabu melangkah masuk ke dalam ruangan. Guntur meletakkan sendok ke atas porselen, mengusap bibirnya pelan dengan serbet kain, lalu mendongakkan kepala menatap asisten setianya."Prabu," panggil Guntur. "Bagaimana hasil komunikasimu dengan asisten Adriel?"Prabu menelan ludahnya."Bagaimana posisi pencarian Aira saat ini?" desak Guntur, tak sabar. "Di mana lokasi persembunyian cucuku sekarang?"Prabu menghembuskan napas pelan."Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Tuan Besar Guntur," tutur Prabu dengan intonasi rendah dan hati-hati. "Saya baru saja menemui Marcus, asisten Tuan Adriel.""Lalu? Apa yang dia katakan?" potong Guntur cepat."Situasinya tidak sesuai dengan perkiraan kita, Tuan Besar," jawab Prabu jujur. "Adriel Varmadeo menutup rapat selu
Satu jam sebelumnya …Adriel Varmadeo berdiri mematung di dekat dinding kaca raksasa yang menjulang dari lantai hingga langit-langit. Dari ketinggian lantai paling atas itu, matanya menatap lurus ke arah pendaran sinar matahari pagi kota Jakarta.Di balik meja, Marcus sedang sibuk mengoperasikan dua layar monitor yang menampilkan pergerakan sinyal GPS secara real-time. Jemari Marcus bergerak lincah di atas papan ketik, memeriksa laporan berkala dari armada pengawalan yang membawa Aira dan si kecil Elenora Jasmine meluncur menembus tol."Marcus," panggil Adriel tanpa memutar tubuhnya. Marcus seketika menghentikan ketukan jarinya. Pria itu berdiri tegap di balik meja kerja. "Saya di sini, Tuan Adriel."Adriel memutar tubuhnya perlahan. Ia berjalan perlahan mendekati meja tengah, menatap layar monitor yang menampilkan titik-titik hijau bergerak."Bagaimana posisi rute pengawalan saat ini?" tanya Adriel datar."Semua berjalan sesuai rencana, Tuan," sahut Marcus cepat sambil menunjuk sala
Semburat pendaran matahari menyusup menembus sela-sela tirai tebal di kamar utama. Udara pagi yang sejuk bertiup pelan saat Aira berdiri di dekat sudut ruang rias, mengamati dua orang pelayan senior yang sedang telaten menyusun beberapa koper kecil.Di dekatnya, Nora berdiri dengan senyuman hangat penuh keibuan. Dalam dekapan lengan pelayan tua itu, si kecil EJ yang menginjak usia sebelas bulan tampak tenang. Jemari mungilnya sesekali memegang ujung kerah gaun Nora, matanya berkedip lambat menikmati ayunan lembut dari sang pengasuh."Boks bayi portabel sudah dimasukkan ke dalam bagasi mobil kedua, Nyonya Aira," tutur Nora lembut.Aira memutar tubuh, mengulas senyuman manis. Ia mendekati Nora, lalu mengelus pipi gembil EJ. "Terima kasih banyak, Nora. Aku merasa jauh lebih tenang karena kamu ikut bersamaku.""Sudah menjadi kewajiban saya untuk menjaga Nyonya dan Nona Kecil," balas Nora tulus.Pintu jati kamar utama berderit pelan. Adriel melangkah masuk. Ia memberikan isyarat pada Nora
Restoran privat itu berada di lantai paling atas, sengaja dipesan oleh Leonidas Varmadeo untuk bisa menghabiskan istirahat siang dengan makan siang bersama. Leonidas duduk di tengah, di sisi kanan ada Alexander. Sementara di sisi kiri, Catarina yang paling antusias dengan kebiasaan macam ini.“Kali
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk lewat jendela-jendela besar mansion Varmadeo. Para staf sudah mulai bekerja sejak subuh. Namun ketika Nora hendak turun ke dapur, ia terperanjat melihat Aira ada di sana. Ia sedang mengiris bawang, lalu bergerak gesit memeriksa panci sup. Aira juga membuka ove
Aira mengangkat gaunnya sedikit ketika turun dari mobil. Sementara Adriel langsung berjalan tanpa melihat ke belakang.Aira mengikutinya dari jauh, takut mengganggu jarak yang entah mengapa terasa seperti batas tak tertulis. Begitu ia melangkah masuk ke foyer mansion, para staf rumah sudah berbaris
Aira masih duduk di kursi yang disediakan untuknya. Ia masih bisa merasakan tatapan tamu-tamu yang menertawakannya di aula tadi.“Aira, duduklah di sisi Adriel,” tukas Leonidas. Suaranya yang berat membuat Aira sedikit tersentak.Aira terbelalak kecil. Adriel menoleh sebentar, ekspresinya datar. Ta







