Share

Bab 5 Mimpi Buruk Aira

Penulis: Dama Mei
last update Tanggal publikasi: 2026-01-22 12:26:26

Aira mengangkat gaunnya sedikit ketika turun dari mobil. Sementara Adriel langsung berjalan tanpa melihat ke belakang.

Aira mengikutinya dari jauh, takut mengganggu jarak yang entah mengapa terasa seperti batas tak tertulis. Begitu ia melangkah masuk ke foyer mansion, para staf rumah sudah berbaris rapi.

“Ini Nyonya Aira Varmadeo, istri sah Tuan Adriel,” ucap Marcus, berdiri di belakang Aira.

Serentak seluruh staf membungkuk. “Selamat datang, Nyonya,” ucap mereka hampir bersamaan.

Aira tersentak panik. “Oh—i-iya, te-terima kasih…” Ia spontan membungkuk balik.

Staf-staf itu tersenyum kecil melihat kecanggungan Aira. Tidak mengejek, justru tampak terharu.

Aira menunduk lebih dalam lagi, wajahnya memanas. Namun dari barisan staf, seorang wanita paruh baya melangkah maju. Cara berdirinya menunjukkan bahwa dialah yang mengatur seluruh rumah besar ini.

“Selamat datang, Nyonya,” katanya sambil membungkuk. “Nama saya Nora Santos, kepala staf rumah ini.”

Aira menatapnya bingung. “Saya… Aira,” jawabnya pelan.

Nora menepuk punggung tangan Aira lembut. “Mulai malam ini, rumah ini juga rumah Anda,

Nyonya. Jangan ragu memanggil saya jika Anda butuh apa pun.”

Aira hampir menangis mendengar kata rumahmu—sebuah kata yang tidak pernah ia dengar bahkan dari keluarga kandungnya sendiri.

“Saya akan membantu Anda beradaptasi. Kita mulai dari kamar Nyonya Aira dulu, ya?”

Aira mengangguk pelan. “Terima kasih… B-Bu Nora.”

Wanita itu tersenyum ramah. “Panggil saya Nora saja. Semua staf di sini adalah keluarga Nyonya sekarang.”

Lorong menuju kamar Aira panjang dan sunyi, diterangi lampu temaram yang memantulkan cahaya ke lantai marmer putih susu.

Aira berjalan pelan di samping Nora, tangannya menggenggam sedikit ujung gaunnya agar tidak tersandung.

Dari ujung lorong, pintu ganda dari kayu mahoni berdiri kokoh. Nora membukanya perlahan.

“Silakan masuk, Nyonya,” ucapnya dengan suara lembut.

Aira melangkah masuk dan matanya langsung melebar. Kamar itu hampir sebesar seluruh lantai bawah rumah Hartanto.

Aira menutup mulutnya, terlalu terkejut bahkan untuk berkata apa pun.

“Ini kamar saya?”

Nora mengangguk sambil tersenyum lembut. “Ya. Atas permintaan langsung Tuan Adriel.”

Nora menatap wajah Aira beberapa detik dan senyum ramahnya berubah menjadi ekspresi penuh simpati.

“Biasanya, setelah pernikahan, suami-istri tinggal di kamar yang sama,” ujar Nora perlahan. “Tapi Tuan Adriel meminta staf menata kamar ini khusus untuk Anda.”

Aira menelan ludah. Sebenarnya, ia sedikit lega. Ia secara hati belum siap jika harus sekamar dengan Adriel, yang baru ia temui malam ini.

“Banyak hal tentang Tuan Adriel yang mungkin terlihat dingin atau keras,” kata Nora, memilih kata dengan hati-hati. “Dia hanya ingin Anda merasa aman dulu berada di rumah ini.”

Aira mengangguk kecil. “Terima kasih, Nora,” balasnya. “Saya tidak keberatan sama sekali.”

Nora tersenyum hangat. “Sekarang istirahatlah. Anda sudah melalui hari yang sangat berat.”

….

Lorong lantai dua mansion itu sunyi, hanya diterangi lampu dinding berwarna keemasan. Adriel berjalan pelan menuju ruang kerjanya setelah menyelesaikan panggilan konferensi dengan tim internasionalnya.

Saat ia melintas di depan kamar Aira, ia mendadak berhenti. Alisnya berkerut. Ada suara, seperti sesenggukan tertahan.

Adriel mendekat satu langkah. Ia memiringkan kepala, mendengarkan.

Tangannya terangkat pelan ke arah kenop pintu, namun ia berhenti. Ada tiga detik di mana ia terlihat ragu. Kemudian ia mengubah arah, memutar tubuh dan berjalan ke kamar staf, mengetuk pintu kamar Nora.

“Tuan Adriel?” Nora tampak terkejut.

“Nora. Tolong cek kamar Aira,” katanya. “Ada suara aneh di sana.”

Nora langsung mengangguk, tidak bertanya apa pun. “Baik, Tuan.”

Ia berjalan cepat melewati Adriel, yang masih berdiri di lorong.

Nora mengetuk pelan pintu kamar Aira. “Nyonya Aira? Boleh saya masuk?”

Tidak ada jawaban, hanya suara tersengguk lirih. Nora membuka pintu perlahan dan masuk. Lalu terkejut melihat Aira mengerutkan tubuh di tengah ranjang besar itu, dengan wajah

memerah dan basah. Namun matanya terpejam dan tubuhnya bergetar.

“Papa… jangan…”

Aira mengigau. Air mata mengalir pelan dari sudut matanya.

Nora langsung naik ke ranjang dan memeluk bahu Aira lembut. “Ssst… Nyonya Aira. Ini Nora. Anda aman,” bisik Nora sambil mengusap rambut gadis itu.

Aira tersentak kecil, lalu membuka mata perlahan. “Nora…?”

“Sstt… tenang, Nyonya. Anda sudah aman di sini,” jawab Nora, menatap gadis itu dengan penuh kasih sayang.

Aira memegang lengan Nora erat, seperti anak kecil yang ketakutan.

Di luar pintu yang sedikit terbuka, Adriel berdiri diam. Hanya berdiri di bayang-bayang lorong, tubuh tegapnya nyaris tak bergerak.

“Nyonya Aira… rumah ini rumah Anda sekarang. Tidak ada yang akan mengusir Nyonya.” 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 95 Benih Keraguan

    Setelah malam yang penuh gairah sekaligus intimidasi di ruang kerja Adriel, Aira merasa seperti burung dalam sangkar emas yang setiap gerak-geriknya dipantau oleh mata-mata tak terlihat. Adriel sempat melarangnya ke kampus, namun setelah perdebatan panjang dan janji Aira untuk tidak menemui siapa pun, Adriel akhirnya luluh. Dengan satu syarat mutlak: pengawalan ketat.Kini, Aira berjalan menyusuri koridor kampus dengan perasaan tidak nyaman. Tiga pria bertubuh tegap dengan setelan jas hitam dan earpiece yang terpasang di telinga berjalan tepat dua langkah di belakangnya. Kehadiran mereka menarik perhatian setiap mahasiswa yang lewat. Bisik-bisik mulai terdengar, menciptakan dinding kecanggungan yang membuat Aira merasa terasing di tempat yang seharusnya menjadi dunianya.Saat sampai di depan pintu ruang kelas, Aira berhenti dan berbalik. Ia menatap ketiga pengawal itu dengan tatapan memohon."Tolong," bisik Aira. "Berhentilah membuntutiku sampai sedekat ini. Kalian membuat semua orang

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 94 Mimpi Buruk yang Nyata

    Di luar, hujan mulai turun membasahi kaca jendela besar, menciptakan rintik yang seolah mengisolasi mereka dari dunia luar.Aira masih terduduk lemas di atas sofa kulit besar berwarna cokelat gelap. Napasnya masih tersengal, dadanya naik turun seiring dengan gejolak emosi yang baru saja menghantamnya. Pengakuan Adriel tentang Guntur Ragendra terasa seperti mimpi buruk yang menjadi nyata.Adriel yang masih berlutut di depan Aira, tidak melepaskan tatapannya sedikit pun. "Kamu dengar aku, kan, Aira?" Suara Adriel merendah, parau dan berbahaya. "Jangan pernah berpikir untuk menemui pria tua itu. Jangan pernah berpikir untuk mencari tahu lebih jauh tentangnya."Aira menatap Adriel dengan mata berkaca-kaca. "Tapi dia kakekku. Aku... aku hanya ingin tahu kenapa ibuku harus menderita sendirian sampai akhir hayatnya."Mendengar kata-kata itu, cengkeraman Adriel pada tangan Aira mengerat. Pria itu berdiri, namun alih-alih menjauh, ia justru merangkak naik ke atas sofa, memerangkap tubuh mungi

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 93 Cadangan Suksesi

    Deru mesin SUV hitam itu terdengar kasar saat memasuki area halaman Mansion Varmadeo. Marcus menghentikan kendaraan tepat di depan pintu utama dengan gerakan yang sangat terburu-buru. Wajahnya yang biasanya tenang kini nampak tegang, matanya terus memindai setiap sudut halaman seolah-olah musuh bisa muncul dari balik semak-semak hias.Belum sempat Marcus membukakan pintu, pintu utama mansion sudah terbuka lebih dulu. Adriel melangkah keluar dengan langkah lebar yang menunjukkan kegelisahan yang luar biasa."Aira!" seru Adriel.Begitu Aira turun dari mobil, Adriel langsung menariknya ke dalam dekapan yang sangat erat. Pelukan itu begitu kuat, seolah-olah Adriel sedang berusaha menyatukan tubuh Aira ke dalam tubuhnya sendiri agar tidak ada celah bagi siapa pun untuk mengambilnya. Aira bisa merasakan detak jantung Adri

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 92 Garis Keturunan yang Tersisa

    Di kediaman pribadi Leonidas Varmadeo, sebuah gedung bergaya kolonial yang lebih menyerupai museum daripada rumah tinggal, suasana tampak lebih mencekam dari biasanya. Para pengawal berbaju hitam berdiri dengan posisi siaga di setiap sudut koridor, seolah-olah mereka sedang menunggu kedatangan badai.Leonidas Varmadeo duduk di kursi kerjanya yang besar. Ia baru saja menyesap kopi hitam tanpa gula ketika asisten pribadinya masuk dengan langkah tergesa."Tuan Besar, tamu yang Anda tunggu telah tiba," lapor sang asisten dengan suara yang sedikit bergetar.Leonidas meletakkan cangkirnya perlahan. Ia merapikan setelan jasnya yang mahal, lalu berdiri. "Bawa dia ke ruang perpustakaan pribadi. Jangan biarkan ada satu pun staf yang mendekat ke area itu."Di pintu masuk mansion, s

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 91 Tatapan Sang Elang Tua

    Guntur Ragendra menatap keluar jendela dengan tangan yang bertumpu pada tongkat kayu eboni berkepala perak. Di sampingnya, Prabu duduk dengan sikap tegak, sesekali melirik jam tangan pintarnya untuk memastikan jadwal yang telah mereka susun."Kita sudah sampai di area kampus, Tuan Besar," bisik Prabu. "Menurut laporan, Nona Aira baru saja menyelesaikan kelas pertamanya dan biasanya akan menghabiskan waktu di taman tengah sebelum kelas berikutnya dimulai."Mobil itu berhenti di bahu jalan yang teduh oleh deretan pohon angsana, tepat menghadap ke arah taman kampus yang luas. Kaca film mobil yang sangat gelap memastikan bahwa orang dari luar tidak akan bisa melihat siapa yang berada di dalam, sementara dari dalam, Guntur memiliki pandangan yang sangat jelas ke arah kerumunan mahasiswa."Yang mana?" tanya Guntur, suaranya parau.Prabu menunjuk ke arah sebuah bangku taman di bawah pohon besar. "Di sana, Tuan Besar. Gadis yang mengenakan kemeja putih dengan rok plisket berwarna biru langit.

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 90 Gema yang Pulang

    Mesin helikopter yang menderu pelan akhirnya mati sepenuhnya saat mendarat di atas helipad pribadi gedung Varmadeo Tower. Sesaat kemudian, sebuah sedan hitam sudah menunggu untuk membawa pasangan itu kembali ke Menteng. Sepanjang perjalanan dari atap gedung menuju mansion, Adriel tidak melepaskan genggaman tangannya dari jemari Aira. Kulit mereka yang sedikit lebih gelap karena terpapar matahari pulau tampak serasi saat bertautan.Begitu mobil memasuki gerbang besar Mansion Varmadeo, sosok Nora sudah berdiri di teras depan. Wajah wanita tua itu tampak jauh lebih cerah dari biasanya."Selamat datang kembali, Tuan, Nona Aira!" sapa Nora dengan bungkukan hormat yang diiringi senyum lebar.Aira turun dari mobil, menghirup aroma melati yang selalu tercium di halaman rumah ini. "Nora, aku merindukanmu," ucap Aira tulus, mendekat dan menyentuh lengan Nora.Nora menatap Aira dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ia menyadari ada yang berbeda. Aira tampak lebih bersinar, lebih percaya diri, dan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status