แชร์

Bab 7 Mengizinkanmu Tinggal

ผู้เขียน: Dama Mei
last update วันที่เผยแพร่: 2026-02-05 09:13:06

Cahaya matahari pagi menyelinap masuk lewat jendela-jendela besar mansion Varmadeo. Para staf sudah mulai bekerja sejak subuh. 

Namun ketika Nora hendak turun ke dapur, ia terperanjat melihat Aira ada di sana. Ia sedang mengiris bawang, lalu bergerak gesit memeriksa panci sup. Aira juga membuka oven, mengecek roti panggang yang ia buat sendiri.

Nora menutup mulut, terkejut. “Nyonya Aira, apa yang Anda lakukan?”

Aira menoleh cepat, tersenyum kecil. “Aku sudah terbiasa membantu di dapur, Nora.”

Nora mendekat cepat. “Tapi Nyonya, di rumah ini ada koki! Anda tidak perlu melakukan semua ini.”

Aira menunduk sambil merapikan apron kecil yang ia temukan di dapur. “Di rumah saya selalu memasak sendiri, jadi ini bukan apa-apa.”

Nora menatap gadis itu lama. Dia tidak tahu asal-usul gadis ini, namun bagi Nora, wanita pilihan Adriel harusnya dari kalangan yang sama-sama atas. Dan dia tidak pernah melihat wanita kalangan atas yang bersikap seperti Aira.

Akhirnya Nora mendesah pelan. “Baik… kalau begitu, ayo kita sajikan sarapan untuk Tuan Adriel.”

***

Adriel duduk sendirian di ujung meja panjang, mengenakan kemeja hitam dan jam tangan mahal. Ia memeriksa tablet kerjanya, nyaris tidak terlihat seperti seseorang yang baru saja menikah.

Begitu Nora masuk membawa nampan makanan, Adriel mengangkat wajah. 

Nora menunduk tampak sopan. “Selamat pagi, Tuan Adriel. Ini sarapan Anda.”

Adriel mengangguk. “Letakkan saja.”

“Hari ini spesial masakan Nyonya Aira, Tuan.” Nora menaruh piring sup hangat dan roti yang dipanggang Aira.

Adriel berhenti mengetuk-ngetuk jarinya di meja. Matanya bergerak sedikit ke arah makanan itu. Kemudian ke arah Nora.

“Masakan siapa?” tanya Adriel.

“Nyonya Aira, Tuan. Nyonya pandai sekali memasak,” jawab Nora sambil tersenyum bangga.

Adriel perlahan bangkit dari kursinya. Ia menatap piring itu seperti sesuatu yang tidak pantas berada di meja makan rumahnya.

“Aku tidak akan makan masakan dari orang asing,” tandas Adriel.

Nora menahan napas, hanya bisa menunduk kaku. Sementara Aira yang berdiri tak jauh di belakang Nora, ikut mencelos. 

“Singkirkan itu. Dan beri instruksi ke dapur untuk menyajikan menu standar saya,” perintah Adriel pada Nora.

“Baik… Tuan,” jawab Nora dengan suara pelan.

Sementara Nora kembali ke dapur untuk mengganti menu, tatapan Adriel diarahkan pada Aira yang masih berdiri kaku.

“Aku tidak melarangmu memakai dapur,” katanya datar. “Tapi jangan pernah lancang menyajikan makanan untukku.”

Aira mengangguk pelan. “B-baik. Maafkan saya,” timpalnya dengan suara bergetar. 

***

Langkah Adriel tenang menyusuri koridor apartemen mewah itu. Di tangannya sebuah tas tangan hitam berisi kotak perhiasan eksklusif bergoyang pelan mengikuti ayunan langkahnya.

Ia berhenti di depan sebuah pintu unit, dan masuk tanpa ragu. Adriel melangkah tanpa suara semakin masuk ke dalam ruangan.

Dan di sanalah, di tengah ruangan, ia melihat seorang wanita tengah bercumbu dengan seorang pria. Posisi wanita itu di atas, rambutnya terurai. Adriel kenal betul punggung indah itu.

Untuk beberapa detik, Adriel tidak bergerak. Ia hanya berdiri, memperhatikan dengan wajah yang datar dan dingin. 

Beberapa detik telah berlalu hingga akhirnya Selena menoleh. Tatapannya bertemu dengan mata Adriel. Ia spontan memekik, lalu buru-buru bangkit dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.

“Adriel?! Sejak kapan kamu di situ?” tanya Selena panik.

Pria di bawahnya terdiam, kebingungan, lalu cepat-cepat beranjak menjauh. Adriel meletakkan tas tangan itu di meja, tidak membukanya.

“Sudah selesai, Selena?” tanya Adriel dingin.

Selena tertegun. “A-apa maksudmu? Aku—”

“Kamu menikmatinya?” potong Adriel.

Selena mengerjap. Dengan tubuh terbungkus selimut, dia bangkit dan berjalan mendekati Adriel.

“Ini nggak seperti yang kamu pikirkan,” bujuk Selena. “Aku hanya—”

“Tidak perlu,” potong Adriel lagi. Ia lalu membuka tas tangan itu, mengeluarkan kotak beludru dan memberikannya pada Selena. “Ini milikmu,” katanya datar.

Selena memandang nanar kotak itu. “A-Adriel…” gumamnya. “Aku melakukan ini karena… karena aku tahu hubungan kita memang nggak akan pernah berakhir bahagia.”

Adriel berhenti melangkah, tapi tidak menoleh. 

“Keluargamu… mereka nggak akan pernah merestui aku. Aku tahu itu sejak awal. Aku hanya—” Selena sengaja berhenti, untuk sekedar menahan agar suaranya tidak bergetar. “Aku butuh kepastian. Aku nggak bisa terus menggantungkan hidupku pada sesuatu yang nggak jelas.”

Akhirnya Adriel menoleh dan memandang Selena. “Aku sudah menikah. Jika itu yang kamu cemaskan.”

Selena terperangah. “Menikah? Kapan? Kenapa aku nggak tahu?” cecarnya.

“Karena kamu memang tidak perlu tahu,” balas Adriel. “Pernikahanku bukan untuk konsumsi publik.”

Adriel mendekati Selena. “Hanya para konglomerat tertentu yang tahu,” lanjutnya. 

Selena menggigit bibirnya keras. “Ya… betul. Hanya para konglomerat.”

Adriel sudah bersiap melangkah lagi, saat Selena menahan lengannya. 

“Aku… aku minta maaf,” sesal Selena. “Aku seharusnya tidak—”

“Tidak masalah,” potong Adriel. Ia menggeleng kecil. “Hubungan kita sejak awal hanya berdasarkan kebutuhan. Tidak lebih.”

Selena menunduk.

“Aku memenuhi kebutuhanmu, dan kamu juga memenuhi kebutuhanku. Tidak ada masa depan,” ucap Adriel lagi. Ia mengambil jasnya dari kursi depan. “Dan sekarang kebutuhan itu… kurasa sudah tidak ada.”

Selena menutup mata sesaat. Dan saat membukanya kembali, Adriel sudah berjalan menuju pintu.

“Adriel,” panggil Selena pelan.

Adriel berhenti sejenak.

“Jaga dirimu.”

Adriel melangkah pergi, dan pintu tertutup pelan. Selena berdiri di kamar mewah itu, memandangi kotak belundru yang berkilau dingin di atas meja.

***

Pintu utama mansion terbuka pelan pada dini hari. Adriel melangkah masuk, melepas sepatu dengan gerakan pelan dan sunyi.

Lampu-lampu hanya menyala sebagian, pertanda sebagian besar staf sudah beristirahat. Adriel berjalan beberapa langkah ke dalam, lalu berhenti. Dia melihat seseorang berdiri di ujung lorong.

Semakin Adriel mendekat, ia tahu kalau orang itu adalah Aira. Adriel tentu terkejut. Tidak pernah ada yang menunggunya pulang hingga selarut ini.

“Ngapain kamu di sini?” tegur Adriel, ketus.

Aira mendekat, namun sedikit memberi jarak. “S-saya dengar mobil Tuan masuk,” katanya pelan. “Apakah… Tuan sudah makan?”

“Nggak perlu,” jawab Adriel. “Nora dan staf dapur sudah mengurus bagian itu.”

Aira menunduk cepat. “Maaf, saya hanya—”

“Jangan urusi urusanku,” sambar Adriel, dingin. “Aku hanya mengizinkanmu tinggal di sini, menyandang status sebagai istriku. Tapi bukan berarti kamu bisa menanyakan hal konyol seperti ini padaku.”

Aira membeku. Jari-jarinya saling menggenggam, menahan gemetar. “Baik, Tuan,” timpalnya lirih.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 95 Benih Keraguan

    Setelah malam yang penuh gairah sekaligus intimidasi di ruang kerja Adriel, Aira merasa seperti burung dalam sangkar emas yang setiap gerak-geriknya dipantau oleh mata-mata tak terlihat. Adriel sempat melarangnya ke kampus, namun setelah perdebatan panjang dan janji Aira untuk tidak menemui siapa pun, Adriel akhirnya luluh. Dengan satu syarat mutlak: pengawalan ketat.Kini, Aira berjalan menyusuri koridor kampus dengan perasaan tidak nyaman. Tiga pria bertubuh tegap dengan setelan jas hitam dan earpiece yang terpasang di telinga berjalan tepat dua langkah di belakangnya. Kehadiran mereka menarik perhatian setiap mahasiswa yang lewat. Bisik-bisik mulai terdengar, menciptakan dinding kecanggungan yang membuat Aira merasa terasing di tempat yang seharusnya menjadi dunianya.Saat sampai di depan pintu ruang kelas, Aira berhenti dan berbalik. Ia menatap ketiga pengawal itu dengan tatapan memohon."Tolong," bisik Aira. "Berhentilah membuntutiku sampai sedekat ini. Kalian membuat semua orang

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 94 Mimpi Buruk yang Nyata

    Di luar, hujan mulai turun membasahi kaca jendela besar, menciptakan rintik yang seolah mengisolasi mereka dari dunia luar.Aira masih terduduk lemas di atas sofa kulit besar berwarna cokelat gelap. Napasnya masih tersengal, dadanya naik turun seiring dengan gejolak emosi yang baru saja menghantamnya. Pengakuan Adriel tentang Guntur Ragendra terasa seperti mimpi buruk yang menjadi nyata.Adriel yang masih berlutut di depan Aira, tidak melepaskan tatapannya sedikit pun. "Kamu dengar aku, kan, Aira?" Suara Adriel merendah, parau dan berbahaya. "Jangan pernah berpikir untuk menemui pria tua itu. Jangan pernah berpikir untuk mencari tahu lebih jauh tentangnya."Aira menatap Adriel dengan mata berkaca-kaca. "Tapi dia kakekku. Aku... aku hanya ingin tahu kenapa ibuku harus menderita sendirian sampai akhir hayatnya."Mendengar kata-kata itu, cengkeraman Adriel pada tangan Aira mengerat. Pria itu berdiri, namun alih-alih menjauh, ia justru merangkak naik ke atas sofa, memerangkap tubuh mungi

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 93 Cadangan Suksesi

    Deru mesin SUV hitam itu terdengar kasar saat memasuki area halaman Mansion Varmadeo. Marcus menghentikan kendaraan tepat di depan pintu utama dengan gerakan yang sangat terburu-buru. Wajahnya yang biasanya tenang kini nampak tegang, matanya terus memindai setiap sudut halaman seolah-olah musuh bisa muncul dari balik semak-semak hias.Belum sempat Marcus membukakan pintu, pintu utama mansion sudah terbuka lebih dulu. Adriel melangkah keluar dengan langkah lebar yang menunjukkan kegelisahan yang luar biasa."Aira!" seru Adriel.Begitu Aira turun dari mobil, Adriel langsung menariknya ke dalam dekapan yang sangat erat. Pelukan itu begitu kuat, seolah-olah Adriel sedang berusaha menyatukan tubuh Aira ke dalam tubuhnya sendiri agar tidak ada celah bagi siapa pun untuk mengambilnya. Aira bisa merasakan detak jantung Adri

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 92 Garis Keturunan yang Tersisa

    Di kediaman pribadi Leonidas Varmadeo, sebuah gedung bergaya kolonial yang lebih menyerupai museum daripada rumah tinggal, suasana tampak lebih mencekam dari biasanya. Para pengawal berbaju hitam berdiri dengan posisi siaga di setiap sudut koridor, seolah-olah mereka sedang menunggu kedatangan badai.Leonidas Varmadeo duduk di kursi kerjanya yang besar. Ia baru saja menyesap kopi hitam tanpa gula ketika asisten pribadinya masuk dengan langkah tergesa."Tuan Besar, tamu yang Anda tunggu telah tiba," lapor sang asisten dengan suara yang sedikit bergetar.Leonidas meletakkan cangkirnya perlahan. Ia merapikan setelan jasnya yang mahal, lalu berdiri. "Bawa dia ke ruang perpustakaan pribadi. Jangan biarkan ada satu pun staf yang mendekat ke area itu."Di pintu masuk mansion, s

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 91 Tatapan Sang Elang Tua

    Guntur Ragendra menatap keluar jendela dengan tangan yang bertumpu pada tongkat kayu eboni berkepala perak. Di sampingnya, Prabu duduk dengan sikap tegak, sesekali melirik jam tangan pintarnya untuk memastikan jadwal yang telah mereka susun."Kita sudah sampai di area kampus, Tuan Besar," bisik Prabu. "Menurut laporan, Nona Aira baru saja menyelesaikan kelas pertamanya dan biasanya akan menghabiskan waktu di taman tengah sebelum kelas berikutnya dimulai."Mobil itu berhenti di bahu jalan yang teduh oleh deretan pohon angsana, tepat menghadap ke arah taman kampus yang luas. Kaca film mobil yang sangat gelap memastikan bahwa orang dari luar tidak akan bisa melihat siapa yang berada di dalam, sementara dari dalam, Guntur memiliki pandangan yang sangat jelas ke arah kerumunan mahasiswa."Yang mana?" tanya Guntur, suaranya parau.Prabu menunjuk ke arah sebuah bangku taman di bawah pohon besar. "Di sana, Tuan Besar. Gadis yang mengenakan kemeja putih dengan rok plisket berwarna biru langit.

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 90 Gema yang Pulang

    Mesin helikopter yang menderu pelan akhirnya mati sepenuhnya saat mendarat di atas helipad pribadi gedung Varmadeo Tower. Sesaat kemudian, sebuah sedan hitam sudah menunggu untuk membawa pasangan itu kembali ke Menteng. Sepanjang perjalanan dari atap gedung menuju mansion, Adriel tidak melepaskan genggaman tangannya dari jemari Aira. Kulit mereka yang sedikit lebih gelap karena terpapar matahari pulau tampak serasi saat bertautan.Begitu mobil memasuki gerbang besar Mansion Varmadeo, sosok Nora sudah berdiri di teras depan. Wajah wanita tua itu tampak jauh lebih cerah dari biasanya."Selamat datang kembali, Tuan, Nona Aira!" sapa Nora dengan bungkukan hormat yang diiringi senyum lebar.Aira turun dari mobil, menghirup aroma melati yang selalu tercium di halaman rumah ini. "Nora, aku merindukanmu," ucap Aira tulus, mendekat dan menyentuh lengan Nora.Nora menatap Aira dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ia menyadari ada yang berbeda. Aira tampak lebih bersinar, lebih percaya diri, dan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status