MasukAdriel duduk di balik meja kerjanya. Matanya fokus menatap layar ponsel.Di layar tersebut, tampak wajah Notaris Hendrawan dan Prabu yang masih berada di dalam ruang kerja kediaman Menteng."Laporan diterima, Prabu," timpal Adriel. "Apakah tikus kecil itu menyerangmu saat diusir?""Dimitri sempat mengamuk, Tuan Adriel," lapor Prabu. "Namun tim keamanan telah menyeretnya keluar."Adriel menyunggingkan sebuah senyuman tipis."Kerja yang sangat luar biasa, Prabu, Bapak Hendrawan," puji Adriel. "Ini adalah kehormatan bagi saya untuk menjaga rumah almarhum Tuan Besar, Tuan Adriel," sahut Prabu. "Saya hanya berharap Nyonya Aira bisa menemukan kedamaian setelah semua badai ini berlalu.""Akan saya pastikan istri saya mendapatkan kedamaian itu, Prabu," sahut Adriel. "Marcus akan mengirimkan satu kompi tambahan dari pasukan Varmadeo untuk berjaga di sana malam ini.""Siap, Tuan Adriel. Terima kasih banyak."Layar monitor mati setelah panggilan diakhiri.Adriel menarik napas perlahan, merapika
"BAJINGAN KALIAN SEMUA!"Jeritan histeris Dimitri menggelegar."Pak Dimitri... tolong tenangkan diri Anda!" bisik salah satu pengacaranya dengan nada panik, berusaha menarik lengan kliennya agar mundur selangkah."Lepaskan tanganku!" sentak Dimitri kasar, menepis tangan pengacaranya hingga pria berjas itu terhuyung ke belakang."Kalian pikir aku bodoh, hah?!" desis Dimitri. "Surat wasiat itu pasti hasil rekayasa kalian! Guntur Ragendra tidak mungkin menyerahkan seluruh aset klan kepada Aira, apalagi menyerahkan rumah tua ini kepada seorang pesuruh sepertimu, Prabu! Aku akan menuntut kalian ke pengadilan! Aku akan membawa tim untuk membongkar kebohongan ini!"Notaris Hendrawan membenarkan letak kacamata tipisnya dengan gerakan yang teramat tenang. Pria paruh baya itu sama sekali tidak gentar."Silakan saja jika Anda ingin menempuh jalur hukum," sahut Notaris Hendrawan. "Namun, saya ingatkan kembali, dokumen ini telah melewati uji forensik negara dan disaksikan oleh penyidik resmi saat
Pukul satu siang, matahari Jakarta memancar terik menembus rimbunan pohon mahoni tua yang menaungi pelataran kediaman megah berarsitektur kolonial klasik milik klan Ragendra di kawasan Menteng. Ciiit!Suara cicitan ban mobil sedan hitam pecah di atas hamparan kerikil pelataran.Dimitri melangkah keluar dari kabin belakang. Di belakang Dimitri, dua orang pengacara dengan koper-koper kulit hitam membuntutinya dengan sigap.Dimitri merapikan kerah jas, menaiki anak tangga teras utama. Pria muda itu mendorong dua bilah pintu kayu jati raksasa di teras depan tanpa membunyikan bel.Dimitri menyunggingkan seringai sinis di sudut bibirnya. Ia melangkah mantap menuju ke arah ruang kerja utama—tempat di mana Guntur Ragendra biasa mengendalikan segalanya.Di dalam ruangan berdinding kayu ek yang dipenuhi rak-rak buku tua, tidak ada lagi sosok Guntur Ragendra di atas kursi rodanya.Namun di balik meja kerja milik almarhum Guntur, berdiri dua orang pria.Prabu berdiri kaku. Di samping Prabu, berd
Pukul delapan pagi, koridor utama Rumah Tahanan Pusat Polda Metro Jaya terasa begitu menegangkan. Derap langkah kaki yang teratur menggaung menembus keheningan koridor. Adriel Varmadeo melangkah di barisan depan. Di samping kirinya, Marcus berjalan siaga, sementara dua orang penasihat hukum Varmadeo Group membuntutinya dari belakang. Seorang sipir penjara melangkah terburu-buru membukakan pintu besi tebal menuju ruang kunjungan. "Silakan, Sir V," tukas sipir itu, menundukkan kepalanya sambil menarik bilah pintu. Adriel melangkah masuk ke ruangan berukuran lima kali empat meter tersebut. Di tengah ruangan berlantai semen itu, terdapat sebuah meja kayu yang memisahkan dua buah kursi besi. Di atas kursi besi seberang duduk Valerie Collins. Ia yang biasanya tampil begitu memesona dan angkuh, kini tampak hancur. Valerie mengenakan seragam tahanan berwarna oranye longgar yang tampak kusut. Wajah cantiknya pucat pasi, matanya sembap dan bengkak akibat air mata yang tak henti-h
Adriel melangkah keluar terlebih dahulu. Pria itu mengulurkan tangan ke dalam kabin mobil, menuntun Aira yang melangkah turun dengan tubuh lemas.Dua bilah pintu kayu jati raksasa lobi utama terbuka dari dalam.Nora melangkah terburu-buru menghampiri mereka dengan wajah yang dipenuhi cemas."Nyonya Aira, Tuan Adrie," sapa Nora, membungkukkan tubuhnya sedikit. "Saya dan seluruh staf mansion ikut berduka cita yang mendalam atas berpulangnya Tuan Besar Guntur."Aira menatap Nora, menyunggingkan senyum tipis. "Terima kasih banyak, Nora..."Adriel melirik Nora. "Bagaimana kondisi EJ selama kami di pemakaman, Nora?""Nona kecil sangat tenang, Tuan," jawab Nora. "Setelah minum susu tadi siang, Nona EJ langsung terlelap. Sama sekali tidak rewel."Adriel mengangguk, menepuk pelan bahu Nora. "Antar Aira ke kamar EJ. Biarkan Aira memeluk anaknya sejenak.""Baik, Tuan Adriel," sahut Nora patuh, mengekor di belakang langkah Adriel yang menuntun Aira menaiki anak tangga marmer menuju lantai dua.Ai
Sinar matahari pagi di kawasan tempat pemakaman umum elit Jakarta Selatan bersinar temaram, tertutup oleh hamparan awan kelabu yang menggantung rendah. Di atas lahan pemakaman keluarga Ragendra yang berumput hijau rapi, sebuah liang kubur baru telah digali.Prosesi pemakaman Guntur Ragendra berlangsung dalam suasana yang teramat khidmat, dan diliputi gelombang duka yang begitu pekat.Gundukan tanah merah yang masih basah ditutupi oleh hamparan kelopak bunga mawar merah dan melati putih. Di bagian atas gundukan tersebut, berdiri sebuah batu nisan marmer hitam berukir tinta emas bertuliskan nama lengkap sang penguasa tertinggi klan: Guntur Ragendra.Puluhan tokoh penting ibu kota—mulai dari pejabat tinggi kementerian, hingga jajaran taipan bisnis papan atas—berjejer di luar pekarangan makam dengan pakaian serba hitam. Mereka menundukkan kepala, memberikan penghormatan terakhir.Di barisan paling depan di tepi liang kubur, Aira Varmadeo berdiri mematung.Wanita muda itu mengenakan terusa
Uap hangat membubung tinggi di dalam kamar mandi mewah Presidential Suite tersebut. Bathtub marmer berukuran raksasa itu telah terisi penuh dengan air hangat yang beraroma essential oil mawar dan cendana. Di luar dinding kaca, lampu-lampu Jakarta masih berkedip.Aira duduk di pangkuan Adriel, pungg
Restoran privat itu berada di lantai paling atas, sengaja dipesan oleh Leonidas Varmadeo untuk bisa menghabiskan istirahat siang dengan makan siang bersama. Leonidas duduk di tengah, di sisi kanan ada Alexander. Sementara di sisi kiri, Catarina yang paling antusias dengan kebiasaan macam ini.“Kali
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk lewat jendela-jendela besar mansion Varmadeo. Para staf sudah mulai bekerja sejak subuh. Namun ketika Nora hendak turun ke dapur, ia terperanjat melihat Aira ada di sana. Ia sedang mengiris bawang, lalu bergerak gesit memeriksa panci sup. Aira juga membuka ove
Aira mengangkat gaunnya sedikit ketika turun dari mobil. Sementara Adriel langsung berjalan tanpa melihat ke belakang.Aira mengikutinya dari jauh, takut mengganggu jarak yang entah mengapa terasa seperti batas tak tertulis. Begitu ia melangkah masuk ke foyer mansion, para staf rumah sudah berbaris







