Share

Bab 4 Jika Tidak Menolak

Author: Dama Mei
last update Last Updated: 2026-01-22 12:25:05

Aira masih duduk di kursi yang disediakan untuknya. Ia masih bisa merasakan tatapan tamu-tamu yang menertawakannya di aula tadi.

“Aira, duduklah di sisi Adriel,” tukas Leonidas. Suaranya yang berat membuat Aira sedikit tersentak.

Aira terbelalak kecil. Adriel menoleh sebentar, ekspresinya datar. Tapi matanya mengikuti gerakan Aira ketika gadis itu berdiri perlahan dan berjalan ke kursi di sebelahnya.

Aira duduk perlahan. Ia tidak berani menatap siapa pun, bahkan Adriel di sebelahnya.

Leonidas mengangguk tipis, puas. “Setidaknya malam ini, saya bisa mengenal dengan jelas keluarga dari menantu saya.” Dia mengedarkan pandangan pada satu-persatu keluarga Hartanto.

Adrian tersentak halus, buru-buru tersenyum kaku. “Tentu. Kami merasa terhormat bisa makan

bersama keluarga besar Varmadeo.”

“Adriel memang tidak ingin wajahnya dikenali publik.” timpal Alexander. Ia meneguk anggurnya. “Bisnis-bisnis yang kami jalankan tidak ramah di depan kamera.”

Adrian mengangguk gelagapan, dan Marissa menahan diri untuk tidak menyeka keringat di pelipis.

Catarina, yang duduk di seberang Aira, sejak tadi memperhatikan gadis itu. Setelah beberapa kali melirik, Catarina mengulaskan senyum manisnya.

“Jadi, Sayang…” Ia memiringkan kepala. “Kamu ini anak ke berapa di keluarga Hartanto?”

Aira mendongak. “Saya… anak pertama.”

“Oh ya? Menarik sekali. Tapi wajahmu benar-benar berbeda dari adikmu yang cantik itu.” Ia menunjuk Bianca dengan matanya.

Adrian hampir tersedak. Bianca menggenggam sendok begitu kuat sampai buku jarinya memutih.

“Catarina, tidak perlu mengungkit hal kecil.” Adriel menatapnya tanpa emosi.

Catarina berhenti, menatap sang adik bungsu dengan alis terangkat. Kemudian mengangkat kedua tangannya seolah menyerah.

“Baiklah, baiklah… hanya bertanya. Tidak perlu sensitif,” ucapnya.

Suasana makan malam mulai mencair sedikit ketika hidangan utama disajikan. Percakapan mengalir antara Leonidas, Alexander, dan Adrian tentang bisnis dan politik; sementara Catarina sesekali memberi komentar tajam.

Namun di ujung meja kanan, Bianca hanya duduk diam, garpu di tangan tapi tidak bergerak. Tatapannya tajam ke arah Aira.

Di dalam hatinya, kemarahan membara.

‘Seharusnya AKU yang jadi istri Adriel. Kalau saja aku tahu dia setampan itu… aku tidak akan menolak perjodohan itu!’

Bayangan wajah tampan Adriel berputar-putar di kepalanya. Dan sekarang pria itu milik Aira? Tidak masuk akal!

Bianca menggenggam sendok begitu keras sampai tangannya memutih.

“Bianca?”

Bianca tersentak. “Y-ya, Nyonya Catarina?”

Catarina tersenyum tipis. “Kamu lulusan mana, Sayang? Fresh graduate, bukan?”

Bianca merasa dadanya membusung. Inilah kesempatan untuk menunjukkan siapa yang lebih layak berdiri di sisi Adriel Varmadeo.

“Oh, saya baru lulus dari University of Melbourne, jurusan International Business and Marketing,” jawab Bianca pongah.

Catarina menaikkan kedua alis, terkesan. “Luar biasa. Itu universitas yang sangat bagus.”

Adrian menarik napas lega, merasa bangga. Marissa tersenyum puas, merapikan gaun mahalnya.

Catarina mengangguk pelan, lalu menoleh ke arah Aira yang diam seperti patung kecil. “Kalau kamu, Aira Sayang?”

Aira mengangkat wajah pelan, jantungnya berdetak kencang.

“Kamu lulusan mana, Sayang?” tanya Catarina lembut.

“Dia hanya lulusan SMA.” Bianca langsung menyahut cepat.

Semua langsung terdiam. Aira menunduk lebih dalam, pipinya memanas. Dia sudah terbiasa dipermalukan seperti ini oleh Bianca.

Catarina memicingkan mata, menatap dua bersaudara itu. “Kenapa hanya SMA? Kamu nggak mau kuliah?”

“Dia malas sekolah, Nyonya. Tidak ambisius sama sekali.” Sebelum Aira bisa membuka mulut, Bianca menyambar lagi.

….

Acara makan malam keluarga itu pun berakhir. Marcus memberi isyarat pada Aira, bahwa ia harus mengikuti Adriel pulang ke kediaman Adriel.

Pintu mobil hitam mewah itu dibukakan oleh seorang bodyguard. Interiornya gelap, elegan, berbalut kulit premium dengan aroma kayu wangi mahal.

Aira melangkah masuk pelan, merapatkan gaunnya agar tidak kusut. Adriel masuk beberapa detik kemudian.

Adriel duduk di samping Aira, tetapi jaraknya sengaja dibuat luas. Sebuah batas tak terlihat yang Aira tidak berani langgar. Sementara Marcus duduk di kursi depan sebelah sopir.

Ketika pintu mobil tertutup, sunyi itu semakin pekat.

Lampu jalan memantulkan cahaya ke wajah Adriel, mempertegas rahang keras dan tatapan gelapnya yang mengarah lurus ke depan. Ia tidak menoleh ke arah Aira. Benar-benar tidak menghiraukan keberadaan Aira di sebelahnya.

Aira menunduk, meremas gaunnya pelan. Detak jantungnya seperti terdengar terlalu keras di ruang hening yang sempit itu.

Apa yang akan terjadi sesampainya di rumah besar itu? Apakah ia akan diminta tidur di kamar yang sama dengan Adriel?

Ia tidak berani bertanya, bahkan tidak berani mengangkat wajah.

Marcus melirik Aira sekilas dari cermin spion, namun Marcus tidak berkata apa-apa. Ia tahu Adriel tidak suka siapapun mencampuri urusan pribadinya.

Aira mencuri pandang sedikit ke arah Adriel, dan langsung menunduk lagi ketika melihat sorot mata pria itu. Karena Adriel tidak menatapnya sama sekali, Aira merasa lebih kecil daripada sebelumnya.

Ketika mobil melewati gerbang tinggi yang megah, Aira membeku.

Di balik gerbang itu, hidupnya akan berubah selamanya. Tidak ada jalan kembali.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 6 Status Sebagai Istri

    Gerbang besi raksasa itu terbuka dengan suara berat. Mobil hitam melaju pelan memasuki kawasan mansion yang begitu luas hingga Aira sulit melihat batasnya. Lampu-lampu taman memanjang sepanjang jalan setapak, menerangi pepohonan tinggi dan patung-patung marmer yang tampak seperti penjaga diam di tengah gelap.Saat mobil berhenti di depan pintu utama mansion, Aira terdiam.Marcus membukakan pintu untuknya, dan Aira mengangkat gaunnya sedikit dan turun dari mobil. Sementara Adriel langsung berjalan tanpa melihat ke belakang. Tanpa memeriksa apakah Aira bisa mengikuti langkah panjangnya.Aira mengikutinya dari jauh, takut mengganggu jarak yang entah mengapa terasa seperti batas tak tertulis. Begitu ia melangkah masuk ke foyer mansion, para staf rumah sudah berbaris rapi.“Ini Nyonya Aira Varmadeo, istri sah Tuan Adriel,” ucap Marcus, berdiri di belakang Aira.Serentak seluruh staf membungkuk. “Selamat datang, Nyonya,” ucap mereka hampir bersamaan.Aira tersentak panik. “Oh—i… iya… te… te

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 5 Mimpi Buruk Aira

    Aira mengangkat gaunnya sedikit ketika turun dari mobil. Sementara Adriel langsung berjalan tanpa melihat ke belakang.Aira mengikutinya dari jauh, takut mengganggu jarak yang entah mengapa terasa seperti batas tak tertulis. Begitu ia melangkah masuk ke foyer mansion, para staf rumah sudah berbaris rapi.“Ini Nyonya Aira Varmadeo, istri sah Tuan Adriel,” ucap Marcus, berdiri di belakang Aira.Serentak seluruh staf membungkuk. “Selamat datang, Nyonya,” ucap mereka hampir bersamaan.Aira tersentak panik. “Oh—i-iya, te-terima kasih…” Ia spontan membungkuk balik.Staf-staf itu tersenyum kecil melihat kecanggungan Aira. Tidak mengejek, justru tampak terharu.Aira menunduk lebih dalam lagi, wajahnya memanas. Namun dari barisan staf, seorang wanita paruh baya melangkah maju. Cara berdirinya menunjukkan bahwa dialah yang mengatur seluruh rumah besar ini.“Selamat datang, Nyonya,” katanya sambil membungkuk. “Nama saya Nora Santos, kepala staf rumah ini.”Aira menatapnya bingung. “Saya… Aira,”

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 4 Jika Tidak Menolak

    Aira masih duduk di kursi yang disediakan untuknya. Ia masih bisa merasakan tatapan tamu-tamu yang menertawakannya di aula tadi.“Aira, duduklah di sisi Adriel,” tukas Leonidas. Suaranya yang berat membuat Aira sedikit tersentak.Aira terbelalak kecil. Adriel menoleh sebentar, ekspresinya datar. Tapi matanya mengikuti gerakan Aira ketika gadis itu berdiri perlahan dan berjalan ke kursi di sebelahnya.Aira duduk perlahan. Ia tidak berani menatap siapa pun, bahkan Adriel di sebelahnya.Leonidas mengangguk tipis, puas. “Setidaknya malam ini, saya bisa mengenal dengan jelas keluarga dari menantu saya.” Dia mengedarkan pandangan pada satu-persatu keluarga Hartanto.Adrian tersentak halus, buru-buru tersenyum kaku. “Tentu. Kami merasa terhormat bisa makanbersama keluarga besar Varmadeo.”“Adriel memang tidak ingin wajahnya dikenali publik.” timpal Alexander. Ia meneguk anggurnya. “Bisnis-bisnis yang kami jalankan tidak ramah di depan kamera.”Adrian mengangguk gelagapan, dan Marissa menaha

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 3 Keluarga Varmadeo

    Pagi itu Aira dibawa Marcus ke sebuah suite megah di hotel bintang lima. Di sana, tim perias terbaik negeri ini sudah menunggu.Aira terpaku. Ia mengenali mereka. Mereka adalah perias selebritas, desainer pemenangpenghargaan, dan hairstylist yang biasa muncul di acara penghargaan besar.Seorang pria flamboyan berusia sekitar tiga puluh, dengan pakaian serba hitam dan aksesori penuh kilau, langsung menghampirinya.“Oh. My. God. INI dia calon nyonya Sir V!” serunya.Aira tersentak, wajahnya memerah. “S-saya… bukan apa—”Pria itu menepuk tangannya lembut. “Sayang, mulai hari ini kamu adalah pusat perhatian dunia. Jadi jangan minta maaf. Duduk. Kita akan membuatmu menjadi versi terbaik dirimu.”Aira duduk perlahan di kursi rias. Sekitar enam orang langsung mengitarinya. Ada yang menata rambut, ada yang memeriksa kulit, ada yang mempersiapkan gaun luar biasa indah yang digantung di sisi ruangan.Setelah satu jam riasan, rambutnya disusun dengan aksen kristal kecil. Gaun indah itu dipakaik

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 2 Pilihan Sederhana

    Setelah pertemuan singkat tapi menegangkan dengan asisten Sir V, Aira pulang.Berhadapan dengan asistennya saja sudah begitu menakutkan, apalagi Sir V langsung.Aira membuka pintu ruang kerja ayahnya dan melihat Adrian duduk dengan wajah penuh tekanan. Marissa dan Bianca juga ada di sana.“Bagaimana pertemuannya?” tanya Adrian.Aira menarik napas pelan sebelum menjawab. “Mereka kira aku adalah Bianca,” jawabnya lirih.“Apa?” Adrian tidak paham. Dia dan Marissa saling pandang.Kini Aira mencoba mengangkat wajah dan menatap ayahnya. “Karena… namaku nggak ada di daftar anggota keluarga Hartanto. Yang mereka tahu, anak Papa cuman Bianca,” terang Aira hati-hati.Bianca langsung berdiri dan melotot ke arah ayahnya. “Maksudnya apa, Pa? Jadi pria jelek kejam itu maunya sama aku? Aku nggak mau!” jeritnya.Adrian menggigit bibir, sementara Marissa memejamkan mata demi menahan emosi. Ia tiba-tiba berjalan cepat ke arah Aira dan mencengkeram kedua bahu gadis itu.“Dengar baik-baik, Aira,” geramny

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 1 Lebih Berguna

    Di depan rumah, sebuah mobil hitam panjang dengan kaca gelap sudah menunggu. Marissa dan Bianca, ibu tiri dan saudari tiri Aira, memperhatikannya dari teras, seolah ini hiburan terbaik mereka dalam setahun terakhir.Sementara Aira menelan ludah, lalu membuka pintu mobil dengan tangan gemetar.“Selamat siang, Nona Aira,” sapa sopir yang menjemputnya dengan sopan. “Perjalanan kita kurang lebih tiga puluh menit.”Aira mengangguk pelan, sambil meremas rok panjangnya agar tangannya berhenti gemetar.Mobil bergerak perlahan meninggalkan halaman. Sepanjang lima menit pertama, hanya suara mesin yang terdengar. Aira menatap keluar jendela, melihat rumahnya menjauh, kemudian menghilang.Dan mungkin terakhir kalinya dia melihat rumah itu.“Saya dengar, Anda akan bertemu Sir V,” tukas si sopir.Aira tersentak. “Y-ya…” suaranya hampir tak terdengar.Hari ini ia memang diperintahkan oleh sang ayah untuk bertemu dengan pria yang dipanggil Sir V, pria paling tersohor di negara ini. Katanya, Sir V aka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status