Home / Romansa / Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam / Bab 6 Status Sebagai Istri

Share

Bab 6 Status Sebagai Istri

Author: Dama Mei
last update Last Updated: 2026-01-22 12:27:20

Gerbang besi raksasa itu terbuka dengan suara berat. Mobil hitam melaju pelan memasuki kawasan mansion yang begitu luas hingga Aira sulit melihat batasnya. Lampu-lampu taman memanjang sepanjang jalan setapak, menerangi pepohonan tinggi dan patung-patung marmer yang tampak seperti penjaga diam di tengah gelap.

Saat mobil berhenti di depan pintu utama mansion, Aira terdiam.

Marcus membukakan pintu untuknya, dan Aira mengangkat gaunnya sedikit dan turun dari mobil. Sementara Adriel langsung berjalan tanpa melihat ke belakang. Tanpa memeriksa apakah Aira bisa mengikuti langkah panjangnya.

Aira mengikutinya dari jauh, takut mengganggu jarak yang entah mengapa terasa seperti batas tak tertulis. Begitu ia melangkah masuk ke foyer mansion, para staf rumah sudah berbaris rapi.

“Ini Nyonya Aira Varmadeo, istri sah Tuan Adriel,” ucap Marcus, berdiri di belakang Aira.

Serentak seluruh staf membungkuk. “Selamat datang, Nyonya,” ucap mereka hampir bersamaan.

Aira tersentak panik. “Oh—i… iya… te… terima kasih…” Ia spontan membungkuk balik, meski seharusnya tidak perlu.

Gerakan Aira begitu canggung, membuat Marcus menahan napas seperti ingin mengoreksi, namun ia membiarkannya. Staf-staf itu tersenyum kecil melihat kecanggungan Aira. Tidak mengejek, justru tampak terharu.

Aira menunduk lebih dalam lagi, wajahnya memanas. Namun dari barisan staf, seorang wanita paruh baya melangkah maju.

Wanita itu berusia sekitar akhir 40-an atau awal 50-an. Rambutnya disanggul rapi, dan cara berdirinya menunjukkan bahwa dialah yang mengatur seluruh rumah besar ini.

Wanita itu tersenyum hangat. “Selamat datang, Nyonya,” katanya sambil membungkuk. “Nama saya Nora Santos, kepala staf rumah ini.”

Aira menatapnya bingung. “Saya… Aira,” jawabnya pelan.

Nora menepuk punggung tangan Aira lembut. “Mulai malam ini, rumah ini juga rumah Anda, Nyonya. Jangan ragu memanggil saya jika Anda butuh apa pun.”

Aira hampir menangis mendengar kata rumahmu—sebuah kata yang tidak pernah ia dengar bahkan dari keluarga kandungnya sendiri.

“Saya akan membantu Anda beradaptasi. Kita mulai dari kamar Nyonya Aira dulu, ya?”

Aira mengangguk pelan. “Terima kasih… B-Bu Nora.”

Wanita itu tersenyum ramah. “Panggil saya Nora saja. Semua staf di sini adalah keluarga Nyonya sekarang.”

Kalimat itu terlalu hangat untuk hati Aira yang rapuh. Tanpa sadar ia menitikkan air mata, tapi buru-buru diseka.

Lorong menuju kamar Aira panjang dan sunyi, diterangi lampu temaram yang memantulkan cahaya ke lantai marmer putih susu.

Aira berjalan pelan di samping Nora, tangannya menggenggam sedikit ujung gaunnya agar tidak tersandung.

Dari ujung lorong, pintu ganda dari kayu mahoni berdiri kokoh. Nora membukanya perlahan.

“Silakan masuk, Nyonya,” ucapnya dengan suara lembut.

Aira melangkah masuk dan matanya langsung melebar. Kamar itu hampir sebesar seluruh lantai bawah rumah Hartanto.

Aira menutup mulutnya, terlalu terkejut bahkan untuk berkata apa pun.

“Ini kamar saya?”

Nora mengangguk sambil tersenyum lembut. “Ya. Atas permintaan langsung Tuan Adriel.”

Nora menatap wajah Aira beberapa detik dan senyum ramahnya berubah menjadi ekspresi penuh simpati.

“Biasanya, setelah pernikahan… suami-istri tinggal di kamar yang sama,” ujar Nora perlahan. “Tapi Tuan Adriel meminta staf menata kamar ini khusus untuk Anda.”

Nora mendekat selangkah. “Nyonya… Anda tidak melakukan kesalahan apa pun.”

Aira menelan ludah keras. Justru sebenarnya, ia sedikit lega. Ia secara hati belum siap jika harus sekamar dengan Adriel, yang baru ia temui malam ini.

“Banyak hal tentang Tuan Adriel yang mungkin terlihat dingin atau keras,” kata Nora, memilih kata dengan hati-hati. “Dia hanya ingin Anda merasa aman dulu berada di rumah ini.”

Aira mengangguk kecil. “Terima kasih, Nora,” balasnya. “Saya tidak keberatan sama sekali.”

Nora tersenyum hangat. “Sekarang istirahatlah. Anda sudah melalui hari yang sangat berat.”

***

Lorong lantai dua mansion itu sunyi, hanya diterangi lampu dinding berwarna keemasan. Adriel berjalan pelan menuju ruang kerjanya setelah menyelesaikan panggilan konferensi dengan tim internasionalnya.

Saat ia melintas di depan kamar Aira, ia mendadak berhenti. Alisnya berkerut. Ada suara, seperti sesenggukan tertahan. Adriel mendekat satu langkah. Ia memiringkan kepala, mendengarkan. 

Tangannya terangkat pelan ke arah kenop pintu, namun ia berhenti. Ada tiga detik di mana ia terlihat ragu. Kemudian ia mengubah arah, memutar tubuh dan berjalan ke kamar staf, mengetuk pintu kamar Nora.

“Tuan Adriel?” Nora tampak terkejut.

“Nora. Tolong cek kamar Aira,” katanya. “Ada suara aneh di sana.”

Nora langsung mengangguk, tidak bertanya apa pun. “Baik, Tuan.”

Ia berjalan cepat melewati Adriel, yang masih berdiri di lorong.

Nora mengetuk pelan pintu kamar Aira. “Nona Aira? Boleh saya masuk?”

Tidak ada jawaban, hanya suara tersengguk lirih. Nora membuka pintu perlahan dan masuk. Lalu terkejut melihat Aira mengerutkan tubuh di tengah ranjang besar itu, dengan wajah memerah dan basah. Namun matanya terpejam dan tubuhnya bergetar.

“Papa… jangan…”

Aira mengigau. Air mata mengalir pelan dari sudut matanya.

Nora langsung naik ke ranjang dan memeluk bahu Aira lembut. “Ssst… Nyonya Aira, Sayang. Ini Nora. Anda aman,” bisik Nora sambil mengusap rambut gadis itu.

Aira tersentak kecil, lalu membuka mata perlahan. “N… Nora…?”

“Sstt… tenang, Nyonya. Anda sudah aman di sini,” jawab Nora, menatap gadis itu dengan penuh kasih sayang.

Aira memegang lengan Nora erat, seperti anak kecil yang ketakutan.

Di luar pintu yang sedikit terbuka, Adriel berdiri diam. Hanya berdiri di bayang-bayang lorong, tubuh tegapnya nyaris tak bergerak.

“Nyonya Aira… rumah ini rumah Anda sekarang. Tidak ada yang akan mengusir Nyonya, Sayang.” Nora terus menenangkan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 6 Status Sebagai Istri

    Gerbang besi raksasa itu terbuka dengan suara berat. Mobil hitam melaju pelan memasuki kawasan mansion yang begitu luas hingga Aira sulit melihat batasnya. Lampu-lampu taman memanjang sepanjang jalan setapak, menerangi pepohonan tinggi dan patung-patung marmer yang tampak seperti penjaga diam di tengah gelap.Saat mobil berhenti di depan pintu utama mansion, Aira terdiam.Marcus membukakan pintu untuknya, dan Aira mengangkat gaunnya sedikit dan turun dari mobil. Sementara Adriel langsung berjalan tanpa melihat ke belakang. Tanpa memeriksa apakah Aira bisa mengikuti langkah panjangnya.Aira mengikutinya dari jauh, takut mengganggu jarak yang entah mengapa terasa seperti batas tak tertulis. Begitu ia melangkah masuk ke foyer mansion, para staf rumah sudah berbaris rapi.“Ini Nyonya Aira Varmadeo, istri sah Tuan Adriel,” ucap Marcus, berdiri di belakang Aira.Serentak seluruh staf membungkuk. “Selamat datang, Nyonya,” ucap mereka hampir bersamaan.Aira tersentak panik. “Oh—i… iya… te… te

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 5 Mimpi Buruk Aira

    Aira mengangkat gaunnya sedikit ketika turun dari mobil. Sementara Adriel langsung berjalan tanpa melihat ke belakang.Aira mengikutinya dari jauh, takut mengganggu jarak yang entah mengapa terasa seperti batas tak tertulis. Begitu ia melangkah masuk ke foyer mansion, para staf rumah sudah berbaris rapi.“Ini Nyonya Aira Varmadeo, istri sah Tuan Adriel,” ucap Marcus, berdiri di belakang Aira.Serentak seluruh staf membungkuk. “Selamat datang, Nyonya,” ucap mereka hampir bersamaan.Aira tersentak panik. “Oh—i-iya, te-terima kasih…” Ia spontan membungkuk balik.Staf-staf itu tersenyum kecil melihat kecanggungan Aira. Tidak mengejek, justru tampak terharu.Aira menunduk lebih dalam lagi, wajahnya memanas. Namun dari barisan staf, seorang wanita paruh baya melangkah maju. Cara berdirinya menunjukkan bahwa dialah yang mengatur seluruh rumah besar ini.“Selamat datang, Nyonya,” katanya sambil membungkuk. “Nama saya Nora Santos, kepala staf rumah ini.”Aira menatapnya bingung. “Saya… Aira,”

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 4 Jika Tidak Menolak

    Aira masih duduk di kursi yang disediakan untuknya. Ia masih bisa merasakan tatapan tamu-tamu yang menertawakannya di aula tadi.“Aira, duduklah di sisi Adriel,” tukas Leonidas. Suaranya yang berat membuat Aira sedikit tersentak.Aira terbelalak kecil. Adriel menoleh sebentar, ekspresinya datar. Tapi matanya mengikuti gerakan Aira ketika gadis itu berdiri perlahan dan berjalan ke kursi di sebelahnya.Aira duduk perlahan. Ia tidak berani menatap siapa pun, bahkan Adriel di sebelahnya.Leonidas mengangguk tipis, puas. “Setidaknya malam ini, saya bisa mengenal dengan jelas keluarga dari menantu saya.” Dia mengedarkan pandangan pada satu-persatu keluarga Hartanto.Adrian tersentak halus, buru-buru tersenyum kaku. “Tentu. Kami merasa terhormat bisa makanbersama keluarga besar Varmadeo.”“Adriel memang tidak ingin wajahnya dikenali publik.” timpal Alexander. Ia meneguk anggurnya. “Bisnis-bisnis yang kami jalankan tidak ramah di depan kamera.”Adrian mengangguk gelagapan, dan Marissa menaha

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 3 Keluarga Varmadeo

    Pagi itu Aira dibawa Marcus ke sebuah suite megah di hotel bintang lima. Di sana, tim perias terbaik negeri ini sudah menunggu.Aira terpaku. Ia mengenali mereka. Mereka adalah perias selebritas, desainer pemenangpenghargaan, dan hairstylist yang biasa muncul di acara penghargaan besar.Seorang pria flamboyan berusia sekitar tiga puluh, dengan pakaian serba hitam dan aksesori penuh kilau, langsung menghampirinya.“Oh. My. God. INI dia calon nyonya Sir V!” serunya.Aira tersentak, wajahnya memerah. “S-saya… bukan apa—”Pria itu menepuk tangannya lembut. “Sayang, mulai hari ini kamu adalah pusat perhatian dunia. Jadi jangan minta maaf. Duduk. Kita akan membuatmu menjadi versi terbaik dirimu.”Aira duduk perlahan di kursi rias. Sekitar enam orang langsung mengitarinya. Ada yang menata rambut, ada yang memeriksa kulit, ada yang mempersiapkan gaun luar biasa indah yang digantung di sisi ruangan.Setelah satu jam riasan, rambutnya disusun dengan aksen kristal kecil. Gaun indah itu dipakaik

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 2 Pilihan Sederhana

    Setelah pertemuan singkat tapi menegangkan dengan asisten Sir V, Aira pulang.Berhadapan dengan asistennya saja sudah begitu menakutkan, apalagi Sir V langsung.Aira membuka pintu ruang kerja ayahnya dan melihat Adrian duduk dengan wajah penuh tekanan. Marissa dan Bianca juga ada di sana.“Bagaimana pertemuannya?” tanya Adrian.Aira menarik napas pelan sebelum menjawab. “Mereka kira aku adalah Bianca,” jawabnya lirih.“Apa?” Adrian tidak paham. Dia dan Marissa saling pandang.Kini Aira mencoba mengangkat wajah dan menatap ayahnya. “Karena… namaku nggak ada di daftar anggota keluarga Hartanto. Yang mereka tahu, anak Papa cuman Bianca,” terang Aira hati-hati.Bianca langsung berdiri dan melotot ke arah ayahnya. “Maksudnya apa, Pa? Jadi pria jelek kejam itu maunya sama aku? Aku nggak mau!” jeritnya.Adrian menggigit bibir, sementara Marissa memejamkan mata demi menahan emosi. Ia tiba-tiba berjalan cepat ke arah Aira dan mencengkeram kedua bahu gadis itu.“Dengar baik-baik, Aira,” geramny

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 1 Lebih Berguna

    Di depan rumah, sebuah mobil hitam panjang dengan kaca gelap sudah menunggu. Marissa dan Bianca, ibu tiri dan saudari tiri Aira, memperhatikannya dari teras, seolah ini hiburan terbaik mereka dalam setahun terakhir.Sementara Aira menelan ludah, lalu membuka pintu mobil dengan tangan gemetar.“Selamat siang, Nona Aira,” sapa sopir yang menjemputnya dengan sopan. “Perjalanan kita kurang lebih tiga puluh menit.”Aira mengangguk pelan, sambil meremas rok panjangnya agar tangannya berhenti gemetar.Mobil bergerak perlahan meninggalkan halaman. Sepanjang lima menit pertama, hanya suara mesin yang terdengar. Aira menatap keluar jendela, melihat rumahnya menjauh, kemudian menghilang.Dan mungkin terakhir kalinya dia melihat rumah itu.“Saya dengar, Anda akan bertemu Sir V,” tukas si sopir.Aira tersentak. “Y-ya…” suaranya hampir tak terdengar.Hari ini ia memang diperintahkan oleh sang ayah untuk bertemu dengan pria yang dipanggil Sir V, pria paling tersohor di negara ini. Katanya, Sir V aka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status