MasukRencana jahat yang disusun Reza dengan penuh kebencian itu akhirnya meledak, namun bukan menghancurkan Almira, melainkan berbalik menghantam dirinya sendiri. Strategi potong dan tempel video mal yang ia banggakan ternyata hanyalah gertakan sambal di hadapan persiapan matang Ustaz Rayyan. Ya, Itu hanya soal recehan untuk dia. Hanya dalam hitungan jam setelah video klarifikasi dari pihak Rayyan diunggah—sebuah video CCTV beresolusi tinggi yang memperlihatkan kronologis utuh tanpa narasi yang dibuat-buat—arus opini publik berbalik arah dengan kecepatan yang mengerikan. Netizen, yang tadinya menghujat Almira, kini justru berbalik menyerang Reza dengan komentar-komentar yang jauh lebih tajam dan menyakitkan.Di dalam ruang kerjanya yang temaram, Reza duduk bersimpuh di lantai yang dingin. Layar ponselnya masih menyala, menampilkan ribuan notifikasi yang kini berisi makian.“Ternyata si laki-lakinya yang sakit jiwa! Lihat tuh gimana dia nyeret-nyeret istrinya di depan umum!”“Panta
Almira memberanikan diri menatap wajah pria yang semalam baru saja membuatnya jatuh cinta lagi itu.“Kenapa Ustaz malah tersenyum? Di luar sana orang-orang sedang menghakimi Ustaz!” keluhnya. “Mbak lupa ya? Kejadian di mal itu terjadi di tempat umum yang memiliki sistem keamanan yang baik,” ucap Rayyan sambil merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah flashdisk. “Reza hanya punya potongan video dari sudut pandang kamera ponsel yang buram. Tapi saya? Saya sudah punya rekaman CCTV lengkapnya dari pihak pengelola mal, mulai dari saat dia menyeret Mbak, saat dia berteriak memaksa rujuk, sampai saat saya datang menolong tanpa menyentuh Mbak sedikit pun.”Almira terpaku. Bibirnya sedikit terbuka, tidak percaya.“Saya sudah menyiapkan semuanya, Mbak. Kronologis lengkapnya, dari awal sampai akhir. Rencananya, saya tidak akan melakukan klarifikasi apapun secara pribadi. Biarlah nanti Mbak Fatma yang mengunggahnya melalui akun resminya sendiri secara publik. Kita tidak perlu berteriak d
Hanya dalam kurun waktu tiga jam, dunia yang baru saja Almira bangun dengan benang-benang harapan mendadak luluh lantak. Media sosial, yang awalnya menjadi ladang usahanya mencari nafkah, kini berubah menjadi monster yang siap menelan harga dirinya hidup-hidup. Narasi yang dilemparkan Reza melalui tangan-tangan anonim menyebar lebih cepat daripada api yang melalap jerami kering.Awalnya, isu itu hanya berupa beras—sebuah kabar burung yang dibisikkan di grup-grup WhatsApp terbatas. Lalu, dalam hitungan menit, ia menjadi nasi—postingan di akun-akun gosip daerah dengan judul bombastis yang menggiring opini. Namun, saat sampai ke telinga masyarakat luas dan lingkungan pesantren yang konservatif, ia sudah menjadi bubur—sesuatu yang sudah hancur, lembek, dan tidak bisa lagi dikembalikan ke bentuk semula.Narasi-narasi yang dipelintir itu begitu kejam. Ada akun yang mengunggah potongan video mal tersebut dengan caption: “Wajah Asli Calon Istri Sang Murabbi: Ternyata Masih Terjerat
Logika Almira perlahan kembali bekerja. Ia sadar, ketenangan ini hanyalah gencatan senjata sementara. Ancaman Reza ia yakini bukan sekadar gertakan kosong. Reza adalah pria yang sudah kehilangan kewarasan dan harga dirinya; dan orang yang tidak lagi memiliki apa pun untuk dipertaruhkan biasanya akan menjadi orang yang paling berbahaya.Almira kembali meraih ponselnya. Ia melihat kolom obrolan yang kini sunyi. Ia ingin sekali mengetik sesuatu, sekadar mengucapkan selamat tidur, tapi ia segera menahan jemarinya. Ingat batasan, Al, tegurnya pada diri sendiri. Rayyan sudah mengingatkan bahwa mereka sudah melanggar aturan malam ini.Sementara di tempat lain... Di lingkungan pesantren yang sudah sepi dan hanya menyisakan suara jangkrik serta sayup-sayup lantunan ayat suci dari asrama santri yang sedang murojaah, Rayyan masih terduduk di kursinya. Ponselnya tergeletak diam di atas meja, tapi pikirannya terbang jauh melintasi dinding-dinding asrama.Rayyan adalah pria yang dididik dalam
Balas Almira singkat. Jantungnya berdegup tidak karuan. Ada perasaan campur aduk antara malu, bersalah, namun juga lega karena Rayyan tidak menunjukkan amarah. Justru kerentanan pria itu yang mau melanggar aturan demi dirinya membuat Almira merasa sangat dihargai.Lalu, sebuah pesan masuk yang benar-benar di luar dugaan Almira muncul di layar. Pesan yang menghancurkan citra kaku yang selama ini melekat pada sosok sang Ustaz.Ustaz Rayyan: “Kamu tidak sedang mencoba menggoda saya, kan?”Pertanyaan itu begitu lugu, namun dampaknya menohok luar biasa. Almira nyaris menjatuhkan ponselnya ke lantai. Ia terperanjat, duduk tegak dengan mata melotot tidak percaya. Bagaimana mungkin seorang Ustaz Rayyan yang biasanya bicara dengan pilihan kata yang sangat formal bisa melontarkan pertanyaan seperti itu? Apakah Rayyan merasa balasan “hehe” dan permintaan maafnya tadi adalah bentuk genit seorang wanita?Almira: “Ihh, nggak! Nggak sama sekali, Ustaz! Tadi memang ada yang ingin saya sampaikan
Di dalam kamar yang hanya diterangi lampu tidur kekuningan, isi kepala Almira justru hingar-bingar. Jarum jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh lewat sedikit, namun matanya sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda kantuk. Ancaman Reza tadi siang tentang video pertengkaran di mal itu terus berputar-putar layaknya kaset rusak di benaknya. Kata-kata pria itu tajam, beracun, dan dirancang khusus untuk meruntuhkan pertahanan Almira. Almira duduk bersandar di kepala ranjang, memeluk bantal.Rasa takut itu nyata dan dingin. Almira sangat sadar bahwa lingkungan Pesantren Rayyan adalah ekosistem yang sangat menjunjung tinggi marwah dan kesucian nama baik. Lantas, bagaimana jika Reza benar-benar nekat kambali menyebarkan video itu dngan narasi-narasi yang negatif? Memframing semua orang dengan hal yang tidak-tidak hanya demi menghancurkan namanya sebelum hari pernikahan? Bagaimana jika keluarga Rayyan—terutama orang tuanya yang begitu disegani—menganggap Almira adalah wanita penuh dr







