MasukSinar matahari membasuh ruang makan dengan warna keemasan. Di mana Reza sudah duduk di sana, tampak santai menonton televisi.
Ya, pria itu tampak lebih semringah karena sisa tawa dari obrolan mereka semalam, saat Almira menyandarkan kepala di bahunya sambil menonton televisi hingga dini hari. Kalau sedang demikian, Reza merasa bahwa Almira adalah istri yang sangat mencintainya. Jika saja sesuatu atau realitas yang ada pada dirinya, tak kembali membawa mereka ke permukaan. Di belakang Reza, Almira sendiri sedang menuangkan cairan kecoklatan dari panci kecil ke dalam gelas keramik. Itu adalah jamu akar-akaran yang dibawa oleh Ibu Ratna kemarin. “Diminum ya, Mas, selagi hangat,” Almira meletakkan gelas jamu tersebut di meja depan Reza duduk. “Apa ini?” Reza bertanya. “Ini jamu dari Ibu...” “Oh iya, Ibu kemarin ke sini ya?” “Iya, Mas. Nggak perlu dijelasin udah pahamlah ya, maksud beliau setiap datang ke sini. Soalnya pasti nggak akan jauh-jauh buat bahas cucu.” Almira tersenyum hambar. “Hem,” gumam Reza singkat. Namun pria itu tanpa banyak bertanya langsung menenggaknya dengan harapan, tidak ada bahasan soal jamu ini lebih lanjut. Namun sepertinya sia-sia. Karena berawal dari sinilah, Almira memulainya kembali. Karena kini wanita itu menarik kursi di dekat Reza untuk membicarakannya. Ada keraguan yang menggelitik dada Almira ketika ia hampir membuka suara. Namun rasa penasaran yang kuat mendorongnya melawan rasa itu. “Ngomongin soal Ibu sama jamu-jamunya, aku jadi ingat... hasil pemeriksaan kamu kemarin gimana, Mas?” terlihat sangat hati-hati Almira saat mengatakannya. Ditatapnya Reza untuk mencari celah kejujuran di sana. Lalu Reza terdiam sejenak. Ini mengubah mood nya langsung dan Almira menyadari itu. “Baiklah. Aku ambilkan,” katanya kemudian, sebelum ia kembali dengan selembar kertas hasil laboratorium andrologi yang Almira minta. Almira membacanya dengan saksama. Sebagai wanita yang cerdas, ia memahami istilah medis di sana. Analisis Sperma: Normozoospermia. Kadar Hormon Testosteron: 450 ng/dL (Normal). Fungsi Vaskular Penil: Normal. “Semuanya normal. Volume, konsentrasi, gerak sperma, sampai kadar hormon laki-laki, semuanya berada di rentang rata-rata medis. Secara biologis, tidak ada satu pun sel dalam tubuhmu yang rusak, Mas.” Almira tertegun. Ia meletakkan kertas itu. “Tapi kalau semuanya normal, kalau fisik Mas sehat, kenapa ‘kita’ tetap enggak bisa? Maksudnya ... Kenapa selama dua tahun ini setiap kali kita mencoba, Mas selalu berhenti di tengah jalan? Mas nggak tanyakan ini ke dokternya kah?” Reza diam. “Mas jawab dong. Kalau dokter bilang kamu sehat, berarti ada hal lain yang salah, kan?” Almira meraih tangan Reza. Meminta pria itu untuk menatapnya. Sayang, Reza justru berpaling. Ia tampak muak dengan pertanyaan ini. Sudah ia duga bahwa akhirnya hal ini pasti akan terjadi lagi dan ternyata benar kan? “Mas, aku ini istri kamu. Aku Cuma pengen kita cari solusinya bareng-bareng. Kalau bukan masalah fisik, kita bisa coba terapi psikologis, atau—“ “Bisa enggak sih, Al, kamu nggak usah bahas itu dulu?” potong Reza. Tidak membentak, tapi penuh penekanan. Ia menatap Almira dengan pandangan tajam yang terluka. “Kenapa sih, kamu selalu menghancurkan pagi romantis kita dengan topik yang itu-itu saja?” Almira tersentak. Rasa hangat yang ia rasakan semalam saat bercanda dan bersandar di bahu Reza mendadak menguap, berganti dengan rasa panas yang menjalar ke matanya. “Aku Cuma bertanya, Mas. Nggak bermaksud merusak kebahagiaan kamu. Ini penting untuk masa depan kita...” lirih Almira. “Aku capek, Al. Baru aja aku bisa merasa kita bisa bicara normal seperti pasangan lain tanpa membahas ‘kekuranganku’, tapi pagi ini kamu langsung menarikku kembali ke bahasan itu,” Reza bangkit, hancur sudah niatnya untuk menghabiskan pagi dengan tenang. “Lalu aku harus gimana, Mas?” Almira ikut berdiri, air matanya kini tak lagi bisa dibendung. “Kamu mau aku diam saja saat Ibu datang dan memojokkan aku? Kamu mau aku terus-terusan menelan jamu-jamu pahit ini seolah rahimku yang bermasalah? Bisa nggak kamu suruh Ibu berhenti nanyain cucu ke aku? Lama-lama sebagai istri aku juga tertekan, Mas!” Reza tertegun, namun ia tetap memilih untuk tidak menanggapi. “Aku juga capek, Mas. Aku capek menjadi satu-satunya orang yang terlihat ‘salah’ di mata keluarga kamu. Kesalahannya bukan di aku. Tapi kenapa harus aku yang menanggung semuanya sendirian? Kenapa aku yang harus menghadapi muka kecewa Ibu hampir setiap hari?” tuntut Almira. Lalu melanjutkan; “Aku bertanya juga bukan karena aku haus nafkah batin dari kamu. Enggak, Mas! Enggak! Aku nggak sebegitunya! Aku masih punya harga diri untuk mengemis gairah. Aku Cuma mau pembelaan dari kamu, itu aja! Apa aku salah?” “ALMIRA CUKUP!” bentak Reza. “Nggak! Aku nggak akan diam sebelum aku puas!” tolak Almira. “Lagian apa susahnya sih, Mas bilang ke Ibu kalau aku sehat dan kesalahannya di kamu? Apa susahnya bilang kalau kita memang belum dikasih, tanpa membuat aku merasa seperti wanita mandul di depan beliau? Tapi kamu bahkan nggak berani jujur soal kondisi kamu sendiri ke Ibu, apalagi ke aku. Kamu itu egois tau nggak?” Reza berbalik, wajahnya tampak pias. Ia ingin merengkuh Almira, tapi tangannya terasa berat, tertahan oleh rasa malu dan trauma yang ia kunci rapat. Hingga kemudian, hanya inilah yang bisa ia katakan... “Aku mau pergi. Jangan cari aku dulu.” “Ya, pergilah. Mas emang selalu begitu kan, kalau aku singgung soal masalah ini?” Tapi Reza tak peduli. Ia lalu menyambar kunci mobilnya. Meninggalkan Almira yang payah di tempatnya, sambil memegangi kertas hasil lab yang menyatakan suaminya ‘normal’ secara medis, namun cacat secara kejujuran.Sinar matahari membasuh ruang makan dengan warna keemasan. Di mana Reza sudah duduk di sana, tampak santai menonton televisi. Ya, pria itu tampak lebih semringah karena sisa tawa dari obrolan mereka semalam, saat Almira menyandarkan kepala di bahunya sambil menonton televisi hingga dini hari. Kalau sedang demikian, Reza merasa bahwa Almira adalah istri yang sangat mencintainya. Jika saja sesuatu atau realitas yang ada pada dirinya, tak kembali membawa mereka ke permukaan.Di belakang Reza, Almira sendiri sedang menuangkan cairan kecoklatan dari panci kecil ke dalam gelas keramik. Itu adalah jamu akar-akaran yang dibawa oleh Ibu Ratna kemarin.“Diminum ya, Mas, selagi hangat,” Almira meletakkan gelas jamu tersebut di meja depan Reza duduk.“Apa ini?” Reza bertanya.“Ini jamu dari Ibu...”“Oh iya, Ibu kemarin ke sini ya?”“Iya, Mas. Nggak perlu dijelasin udah pahamlah ya, maksud beliau setiap datang ke sini. Soalnya pasti nggak akan jauh-jauh buat bahas cucu.” Almira tersenyum
Hampir tengah malam saat deru mesin mobil Reza terdengar di halaman. Almira masih terjaga di ruang tamu, menatap layar televisi yang sebenarnya tidak benar-benar ia tonton. Pikirannya melayang entah ke mana. Ya, seperti biasa—perempuan dengan segala ke-overthinking-annya.Almira beranjak membukakan pintu untuk Reza ketika pria itu masuk dengan wajah lelah.“Nggak langsung tidur aja, Al? Kan udah tahu kalau aku bakal pulang larut,” kata Reza.“Nggak masalah kan, Mas, kalau aku pengen nungguin kamu? Belum ngantuk juga soalnya,” sahut Almira sambil membantu meletakkan sepatu Reza di tempat yang semestinya.Ia menyuguhkan minum dan sedikit camilan sehat sebelum Reza benar-benar beristirahat. Almira menemaninya, sembari mengobrol tentang aktivitas mereka hari ini.“Selina udah kewalahan, jadi aku mutusin buat nambah satu karyawan lagi,” cerita Almira.“Itu bagus. Dengan begitu berarti kamu sudah membantu orang dengan membuka lowongan pekerjaan,” tanggap Reza.“Tapi… pengeluaran jadi nambah
Setengah melamun Almira saat memotong buah di mini barnya. Ia sama sekali tidak fokus hari ini sampai harus pulang lebih cepat. Riuh sekali kepala Almira. Terlalu banyak sesuatu yang sedang ia pikirkan. Salah satunya, percakapan panasnya dengan Reza pagi tadi.Tapi seperti yang dikatakan oleh ibu mertuanya, tibalah kini wanita tua itu di sini. Membuat Almira segera bergegas membuka pintu, begitu bel rumah terdengar.“Assalamualaikum, Al...” sapa wanita tua itu.“Waalaikumsalam, Ibu. Mari masuk, Bu,” jawab Almira sembari meraih tangan ibu mertuanya.“Reza belum pulang, Al?” Ibu Ratna melangkah masuk dengan membawa sebuah bungkusan kertas cukup besar. Aroma jamu-jamuan langsung menyeruak dari sana.“Belum, Bu. Mau Al buatin minum apa?”“Apa ya? Teh aja deh, Al.”Almira membawa mertuanya ke area dapur yang menyatu dengan ruang makan. Ibu Ratna duduk di kursi bar, memperhatikan punggung menantunya yang sibuk menyiapkan teh.“Sedang apa, Al? Masak apa sore-sore begini?” tanya beliau lembut
Keesokan paginya setelah keduanya melewati malam yang dingin itu, Almira menyusul Reza yang lebih dulu keluar kamar dibanding dirinya karena begitu selesai berbenah diri, ia langsung sibuk membalas semua pesan.Hingga ditemukannya sang suami di balik kitchen island, sedang memotong sayuran dengan gerakan profesional. Jelas, ini memang keahliannya.“Pagi, Al,” sapa Reza datar, tanpa menoleh. “Aku buatkan Egg Benedict dengan saus hollandaise kesukaanmu. Duduklah.”Almira menarik kursi bar. Memperhatikan punggung suaminya yang kokoh, namun menyimpan sekelumit rahasia yang mengunci rapat kebahagiaan mereka.Dan ketika Almira mencoba memulai pembicaraan, “Mas, soal yang semalam...”Reza langsung memotongnya, “Aku sudah bilang, hitungannya dimulai hari ini kan?”“Nggak, aku Cuma mau minta maaf kalau cara bicaraku mungkin membuatmu tersinggung.”Hening.Reza tak menjawab. Pada dasarnya hal ini memang melukainya. Tapi ia juga tak bisa memungkiri bahwa Almira hanya sedang memperjuangkan diriny
Pukul setengah sepuluh malam ketika Almira tiba di rumahnya. Di garasi, mobil Reza—suaminya sudah terparkir di tempatnya, hingga dipastikan pria itu sudah pulang lebih dulu, mungkin beberapa menit yang lalu.Sedikit cerita, kehidupan Almira sebenarnya sudah sangat berkecukupan. Reza adalah seorang chef di Hotel Internasional yang bergaji puluhan juta perbulan. Secara fisik, dia juga sempurna. Kekurangannya hanya satu, itu yang sedang Almira keluhkan.Sebenarnya ini tidak apa-apa kalau Reza mau berusaha. Sayangnya, pria itu terkesan tidak terlalu peduli atau bahkan cuek. Sementara Almira? Dia bahkan sudah sering dipaksa minum jamu dan obat-obatan oleh ibu mertuanya. Bahkan tak jarang, diantar untuk melakukan terapi macam-macam.Sedangkan Reza? Dialah yang dianggap sempurna. Semua kekurangan dan kesalahan ditumpahkan pada dirinya. Almira merasa ini tidak adil, ia tidak bisa membuka semuanya, juga atas nama cinta, tapi Reza malah terlihat biasa-biasa saja.Jika ditanya apakah Reza pria y
Setelah mengehla napas, Ustadz Rayyan segera menundukkan pandangan ke arah meja kayu di hadapannya untuk menjaga marwah Almira, memberikan ruang bagi wanita itu agar tidak merasa dihakimi. Raut wajahnya tetap teduh dan penuh wibawa.“Mbak Almira. Saya paham, pertanyaan ini memang terasa berat karena menyangkut hal paling privat dalam rumah tangga. Namun, dalam syariat, ini adalah perkara penting. Islam adalah agama yang adil; ia tidak menghendaki penderitaan bagi siapa pun, baik suami maupun istri.”Ustadz Rayyan kemudian mulai menjelaskan dengan bijak, bahwasanya—salah satu tujuan utama dalam pernikahan adalah hifzhun nafs, menjaga kesucian diri dan mendapatkan ketenangan batin atau sakinah. Hubungan biologis bukan sekadar pemuas nafsu, melainkan hak yang sah bagi suami maupun istri.“Dan jika suami Mbak Almira—Mas Reza—mengalami kendala medis seperti impotensi atau kelemahan syahwat, maka secara syariat, itu merupakan alasan yang kuat bagi seorang istri untuk mengajukan fasakh atau







