Share

6: Kilas Balik

Author: Ana_miauw
last update publish date: 2026-02-06 12:24:37

Hampir tengah malam saat deru mesin mobil Reza terdengar di halaman. Almira masih terjaga di ruang tamu, menatap layar televisi yang sebenarnya tidak benar-benar ia tonton. Pikirannya melayang entah ke mana. Ya, seperti biasa—perempuan dengan segala ke-overthinking-annya.

Almira beranjak membukakan pintu untuk Reza ketika pria itu masuk dengan wajah lelah.

“Nggak langsung tidur aja, Al? Kan udah tahu kalau aku bakal pulang larut,” kata Reza.

“Nggak masalah kan, Mas, kalau aku pengen nungguin kamu? Belum ngantuk juga soalnya,” sahut Almira sambil membantu meletakkan sepatu Reza di tempat yang semestinya.

Ia menyuguhkan minum dan sedikit camilan sehat sebelum Reza benar-benar beristirahat. Almira menemaninya, sembari mengobrol tentang aktivitas mereka hari ini.

“Selina udah kewalahan, jadi aku mutusin buat nambah satu karyawan lagi,” cerita Almira.

“Itu bagus. Dengan begitu berarti kamu sudah membantu orang dengan membuka lowongan pekerjaan,” tanggap Reza.

“Tapi… pengeluaran jadi nambah juga kan, Mas?”

“Omsetmu pasti akan lebih banyak nantinya.”

Almira mengaminkan.

Sesaat, mereka kembali akur, meski pagi tadi sempat bersitegang. Hampir satu jam mereka mengobrol hingga berakhir dengan canda tawa. Menonton bersama, tak peduli hari sudah mulai berganti pagi.

Ya, namanya juga rumah tangga. Pasti ada naik turunnya, seperti yang dialami Almira dan Reza yang baru menjalani dua tahun pernikahan.

Di balik senyum yang mereka tunjukkan kepada dunia, selalu ada percakapan panjang di malam hari—yang kadang berujung pada keheningan. Almira, dengan segala kelembutan hatinya, sering merasa Reza terlalu sibuk mengejar ambisi kerja. Sementara Reza menganggap Almira terlalu larut dalam perasaan.

Namun di antara perbedaan itu, selalu ada sesuatu yang menyatukan mereka kembali: kenangan akan janji sederhana di pelaminan. Bahwa apa pun yang terjadi, mereka akan berusaha saling berpegangan tangan. Ikatan itulah yang membuat mereka bertahan sampai detik ini.

Dua tahun. Dua tahun memang bukan waktu yang lama, tapi juga tak bisa dikatakan sebentar.

Kilas balik pertemuan mereka yang disatukan oleh tulisan-tulisan Almira masih teringat jelas.

Pertemuan pertama itu terjadi di dunia maya—sebuah ruang yang tak pernah disangka bisa mempertemukan dua hati. Reza awalnya hanya seorang pembaca. Ia menemukan sebuah akun yang dipenuhi puisi pendek, refleksi kehidupan, dan cerita-cerita yang menyentuh sisi terdalam dirinya. Akun itu milik Almira.

Tanpa sadar, setiap unggahan menjadi semacam candu bagi Reza. Ia menunggu tulisan baru, membaca ulang kalimat lama, bahkan menyalin kutipan favoritnya ke catatan pribadi.

Suatu waktu, karena kekagumannya, Reza memberanikan diri meninggalkan komentar. Singkat saja:

“Tulisanmu seperti cermin, membuat orang melihat dirinya sendiri.”

Almira terkejut. Biasanya ia hanya mendapat komentar ringan—sekadar pujian atau emotikon. Tapi kalimat itu berbeda. Ada kedalaman yang membuatnya berhenti sejenak, lalu membalas:

“Mungkin karena kita sama-sama pernah bercermin pada luka.”

Sejak saat itu, percakapan mereka berlanjut. Awalnya di kolom komentar, lalu bergeser ke pesan pribadi. Reza kagum pada cara Almira merangkai kata, sementara Almira menemukan ketenangan dalam cara Reza menanggapi—tidak terburu-buru, tidak berlebihan, tapi selalu tepat.

Seiring waktu, mereka semakin akrab. Reza mulai menceritakan rutinitas kerjanya, Almira berbagi tentang proses kreatif menulis yang menjadi hobinya. Hingga keduanya menyadari bahwa interaksi itu bukan sekadar obrolan biasa lagi. Ada sesuatu yang tumbuh di antara mereka, lebih dari sekadar perasaan seorang teman.

Interaksi lewat layar ponsel kian terasa intens. Reza terbiasa menunggu unggahan baru Almira, sementara Almira diam-diam menanti pesan singkat dari Reza yang selalu datang dengan kalimat tenang.

Sampai pada suatu malam, setelah obrolan panjang tentang mimpi dan cita-cita masing-masing, Reza menuliskan sesuatu yang berbeda:

“Al, aku rasa kita sudah terlalu lama bersembunyi di balik kata-kata. Bagaimana kalau kita bicara lebih serius? Dengan cara yang baik, sesuai tuntunan.”

Almira terdiam membaca pesan itu. Ada getaran di dadanya. Ia tahu maksud Reza—ta’aruf. Bukan sekadar pertemanan maya. Ini tentang masa depan.

Setelah berdiskusi dengan keluarganya, Almira akhirnya mengiyakan. Pertemuan pertama mereka terjadi di rumahnya. Reza datang dengan wajah penuh ketenangan, membawa senyum yang sama seperti saat ia menulis komentar pertama di akun Almira.

Percakapan mereka singkat, tapi padat. Reza menjelaskan keseriusannya, Almira menanggapi dengan hati-hati. Tak ada rayuan, tak ada janji manis berlebihan. Hanya kejujuran tentang siapa mereka, apa yang mereka harapkan, dan bagaimana mereka ingin membangun rumah tangga.

Dari pertemuan itu, hubungan yang dulu hanya berupa kata-kata di media sosial mulai bergerak menuju keseriusan yang nyata.

Tak menunggu lama, Reza datang kembali—kali ini bersama keluarga besarnya.

Ayah Almira membuka percakapan, menanyakan maksud kedatangan mereka. Dengan suara mantap, Reza menjawab, “Saya datang untuk mengenal Almira lebih baik, dengan cara yang Allah ridhai.”

Almira menunduk. Gugup, tapi bahagia.

Reza menceritakan tentang pekerjaannya, rutinitas yang padat, dan harapannya memiliki pasangan yang bisa menjadi penyeimbang. Almira pun berbicara—tentang hobinya menulis, mimpinya membangun usaha, dan keinginannya memiliki rumah tangga yang sederhana tapi penuh kasih.

Di akhir pertemuan, Reza berkata lirih, “Saya tidak mencari kesempurnaan. Saya hanya ingin kita saling melengkapi.”

Almira menatapnya sejenak, lalu tersenyum. Ia percaya, hubungan yang bermula dari kata-kata itu kini benar-benar sedang dibangun dengan niat yang nyata.

Sampai akhirnya ia menemukan sebuah rahasia—terkunci rapat. Sesuatu yang seharusnya menjadi dasar paling jujur sebelum janji suci diucapkan di hadapan saksi dan Tuhan.

Almira tak pernah menyangka bahwa langkah mantap Reza menuju pelaminan adalah sebuah perjudian yang hanya dimenangkan oleh satu pihak.

Reza menyimpan satu kenyataan pahit yang harus Almira telan sendirian: bahwa ada sesuatu dalam dirinya yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Sebuah kondisi yang seharusnya disampaikan sebelum tangan ayahnya menjabat tangan Reza, menyerahkan tanggung jawab lahir dan batin.

Almira merasa dipaksa memerankan peran dalam sebuah drama yang skenarionya tak pernah ia baca sebelumnya.

Ternyata, kejujuran yang Reza janjikan saat ta’aruf hanyalah bagian dari diksi indah yang ia susun untuk mendapatkan hati Almira. Sementara di balik itu semua, Reza membiarkan Almira melangkah masuk ke dalam pernikahan yang dingin—tanpa pernah memberinya pilihan untuk tahu, atau kesempatan menolak penderitaan ini sejak awal.

Jadi bukan salah Almira kan, kalau wanita ini merasa terkhianati? Boleh kan kalau di tengah jalan ia menentukan sendiri, persimpangan mana yang akan ia lewati?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pengantin Tanpa Malam Pertama    107: Epilog

    Enam bulan telah berlalu sejak fajar yang membawa perubahan besar itu menyingsing di atas langit Pesantren Al-Fatih. Kehidupan di ndalem kini telah menemukan ritme barunya—sebuah harmoni yang jauh lebih hidup daripada tahun-tahun sebelumnya yang hanya diisi oleh kesunyian. Cabang Butik baru Almira, kini juga berdiri anggun di sisi timur komplek pesantren, tepat di lahan yang dijanjikan Rayyan tempo hari. Bangunannya modern namun tetap memiliki sentuhan arsitektur Islam yang kental. Hari itu, Almira sedang duduk di meja kerjanya yang luas, memperhatikan dua orang santriwati tingkat akhir yang sedang magang di sana, belajar teknik memotong pola kain sutra.Almira mengusap perutnya yang kini sudah mulai menonjol di balik gamis longgar berbahan ceruti premium. “Ustazah, ini polanya sudah benar?” tanya salah satu santriwati dengan sopan.Almira tersenyum teduh. “Sudah bagus, Siti. Ingat, setiap jahitan itu seperti doa; harus rapi dan penuh kesabaran. Kalau hati kita tenang, pak

  • Pengantin Tanpa Malam Pertama    106: Masa Pencarian Sudah Selesai

    “Sekarang giliran kamu yang mandi. Mas tunggu di sini, kita shalat jamaah,” ucap Rayyan lembut, tangannya masih enggan lepas dari pinggang Almira.Almira mengangguk, melepaskan pelukannya. Lalu dengan segera, ia menyambar handuknya dan menghilang di balik pintu kamar mandi.Almira butuh waktu untuk menenangkan degup jantungnya yang sedari tadi tak mau kompromi. Di balik pintu, ia menyandarkan punggungnya, menarik napas dalam-dalam, dan tersenyum pada bayangannya sendiri di cermin.Sepuluh menit kemudian, Almira keluar dengan wajah yang jauh lebih segar. Ia sudah mengenakan mukena satin berwarna broken white yang senada dengan suasana kamar mereka.Rayyan sudah menunggu di atas sajadah, telah mengenakan baju koko putih bersih dan peci hitam yang membuatnya tampak sangat bersahaja namun berwibawa.“Allahu Akbar...”Rayyan memulai salat. Lantunan takbiratul ihramnya terdengar begitu mantap. Di belakangnya, Almira mengikuti setiap gerakan dengan kekhusyukan yang belum pernah ia rasa

  • Pengantin Tanpa Malam Pertama    105: Sepertinya Dia Menjaganya Untukmu

    Masih Di Kamar Pengantin... Kamar itu biasanya terasa sunyi dan fungsional, mencerminkan kepribadian Rayyan Al-Fatih yang praktis dan teratur. Tidak banyak hiasan, tidak ada barang yang berlebihan—semuanya tertata rapi sebagaimana hidupnya yang disiplin. Namun pagi ini, udaranya terasa berbeda. Lebih hangat, lebih hidup. Ada aroma mawar dan melati yang tertinggal dari riasan pengantin semalam, bercampur dengan aroma maskulin khas kayu cendana milik sang pemilik kamar dan wangi lembut Almira. Perpaduan itu menciptakan suasana baru yang membahagiakan.Almira az-Zahra mengerjapkan matanya, seolah takut jika semua ini hanya mimpi yang akan hilang begitu saja. Hal pertama yang ia rasakan adalah hangat di pinggangnya—sebuah lengan kokoh yang melingkar posesif, seakan memberi perlindungan tanpa perlu diminta. Begitu matanya terbuka sempurna, jantungnya langsung berdegup kencang, naik hingga ke pangkal tenggorokan.Hanya beberapa sentimeter dari wajahnya, Rayyan terlelap. Napas pria it

  • Pengantin Tanpa Malam Pertama    104: SUJUD SYUKUR DALAM JAMAAH PERTAMA

    Tangan kokoh Rayyan masih menggenggam jemari Almira saat mereka melintasi selasar ndalem yang mulai sunyi. Lampu-lampu taman temaram memberikan bayangan panjang di lantai kayu. Setiap langkah kaki Almira terasa berat, karena debaran di dadanya yang kian menggila. Ia merasa seperti remaja yang baru mengenal cinta, padahal ia adalah seorang ibu dari dua anak.Begitu mereka sampai di depan pintu kamar, Rayyan berhenti sejenak. Ia menatap Almira dengan senyum tipis yang begitu teduh, lalu perlahan membuka pintu jati tersebut. Wangi bunga melati dan mawar yang tadi sempat dipuji Selina kini menyeruak lebih kuat, menyambut mereka dalam kehangatan yang privat.Rayyan menutup pintu dan menguncinya. Bunyi klik kecil itu terdengar begitu nyaring di telinga Almira, seolah menandakan bahwa dunia luar—dengan segala fitnah dan kerumitannya—telah resmi terkunci di luar sana.“Mas ambil air wudhu dulu ya,” pamit Rayyan lembut.Almira hanya mengangguk kecil, membiarkan suaminya masuk ke kamar

  • Pengantin Tanpa Malam Pertama    103: Ayo, Kita Juga Butuh Istirahat🤭

    Adzan maghrib baru selesai ketika Rayyan perlahan melepaskan pelukannya. Ia menatap wajah Almira yang nampak lebih tenang, meski sisa air mata masih membekas di sudut matanya yang indah.“Ganti bajumu. Kita akan tunaikan hak Allah dulu,” ucap Rayyan. “Kita jamaah di sini?” tanya Almira. “Bagaimana kalau shalat Isya saja nanti? Sekaligus shalat...”“Ah, iya,” Almira segera mengangguk. Mengerti akan maksud pria itu. “Sekarang aku ke masjid besar dulu, bareng sama Papa Hendra dan para santri. Kamu shalat di ndalem saja bersama Mbak Fatma dan Mama Sofia, ya?”Almira mengangguk patuh. “Iya, Ustaz. Eh, Mas Ustaz.”Rayyan terkekeh, lalu mengusap kepala istrinya dengan gemas. Pintu ruang kerja terbuka, dan mereka keluar bersama. Di selasar, Selina sudah menunggu dengan wajah sumringah namun tetap menjaga sikap di depan sang Ustaz. Rayyan memberikan anggukan sopan kepada sahabat istrinya itu sebelum melangkah menuju area depan untuk bergabung dengan jamaah pria.“Tolong bantu aku

  • Pengantin Tanpa Malam Pertama    102: DERMAGA DOA DI PESANTREN AL-FATIH 2

    Waktu berlalu dengan cepat. Matahari mulai condong ke arah barat, meninggalkan semburat warna jingga dan ungu di langit Pesantren Al-Fatih. Setelah rangkaian acara yang melelahkan, para tamu mulai berpamitan.Mbak Fatma dengan sigap menghampiri anaknya sendiri dan juga keponakannya. “Sudah, Abang Akmal, Arka, Dina... ikut Ummi Fatma dulu yuk. Kita main di taman belakang, lihat ikan koi di kolam. Umma dan Abah mau istirahat sebentar, jangan diganggu ya,” ucapnya sambil mengedipkan sebelah mata ke arah Almira.Almira merasa wajahnya memanas. Ia mengikuti langkah Rayyan menuju bangunan utama ndalem. Mereka tidak menuju kamar pengantin, melainkan ke ruang kerja pribadi Rayyan. Sebuah ruangan yang sangat sakral, penuh dengan ribuan kitab yang tertumpuk rapi hingga ke langit-langit, dengan aroma parfum gaharu yang menenangkan dan udara yang sejuk.Begitu pintu jati itu tertutup, suasana mendadak menjadi sangat sunyi.Almira merasa lidahnya kelu. Meski mereka sudah sah, ada rasa canggung

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status