MasukHampir tengah malam saat deru mesin mobil Reza terdengar di halaman. Almira masih terjaga di ruang tamu, menatap layar televisi yang sebenarnya tidak benar-benar ia tonton. Pikirannya melayang entah ke mana. Ya, seperti biasa—perempuan dengan segala ke-overthinking-annya.
Almira beranjak membukakan pintu untuk Reza ketika pria itu masuk dengan wajah lelah. “Nggak langsung tidur aja, Al? Kan udah tahu kalau aku bakal pulang larut,” kata Reza. “Nggak masalah kan, Mas, kalau aku pengen nungguin kamu? Belum ngantuk juga soalnya,” sahut Almira sambil membantu meletakkan sepatu Reza di tempat yang semestinya. Ia menyuguhkan minum dan sedikit camilan sehat sebelum Reza benar-benar beristirahat. Almira menemaninya, sembari mengobrol tentang aktivitas mereka hari ini. “Selina udah kewalahan, jadi aku mutusin buat nambah satu karyawan lagi,” cerita Almira. “Itu bagus. Dengan begitu berarti kamu sudah membantu orang dengan membuka lowongan pekerjaan,” tanggap Reza. “Tapi… pengeluaran jadi nambah juga kan, Mas?” “Omsetmu pasti akan lebih banyak nantinya.” Almira mengaminkan. Sesaat, mereka kembali akur, meski pagi tadi sempat bersitegang. Hampir satu jam mereka mengobrol hingga berakhir dengan canda tawa. Menonton bersama, tak peduli hari sudah mulai berganti pagi. Ya, namanya juga rumah tangga. Pasti ada naik turunnya, seperti yang dialami Almira dan Reza yang baru menjalani dua tahun pernikahan. Di balik senyum yang mereka tunjukkan kepada dunia, selalu ada percakapan panjang di malam hari—yang kadang berujung pada keheningan. Almira, dengan segala kelembutan hatinya, sering merasa Reza terlalu sibuk mengejar ambisi kerja. Sementara Reza menganggap Almira terlalu larut dalam perasaan. Namun di antara perbedaan itu, selalu ada sesuatu yang menyatukan mereka kembali: kenangan akan janji sederhana di pelaminan. Bahwa apa pun yang terjadi, mereka akan berusaha saling berpegangan tangan. Ikatan itulah yang membuat mereka bertahan sampai detik ini. Dua tahun. Dua tahun memang bukan waktu yang lama, tapi juga tak bisa dikatakan sebentar. Kilas balik pertemuan mereka yang disatukan oleh tulisan-tulisan Almira masih teringat jelas. Pertemuan pertama itu terjadi di dunia maya—sebuah ruang yang tak pernah disangka bisa mempertemukan dua hati. Reza awalnya hanya seorang pembaca. Ia menemukan sebuah akun yang dipenuhi puisi pendek, refleksi kehidupan, dan cerita-cerita yang menyentuh sisi terdalam dirinya. Akun itu milik Almira. Tanpa sadar, setiap unggahan menjadi semacam candu bagi Reza. Ia menunggu tulisan baru, membaca ulang kalimat lama, bahkan menyalin kutipan favoritnya ke catatan pribadi. Suatu waktu, karena kekagumannya, Reza memberanikan diri meninggalkan komentar. Singkat saja: “Tulisanmu seperti cermin, membuat orang melihat dirinya sendiri.” Almira terkejut. Biasanya ia hanya mendapat komentar ringan—sekadar pujian atau emotikon. Tapi kalimat itu berbeda. Ada kedalaman yang membuatnya berhenti sejenak, lalu membalas: “Mungkin karena kita sama-sama pernah bercermin pada luka.” Sejak saat itu, percakapan mereka berlanjut. Awalnya di kolom komentar, lalu bergeser ke pesan pribadi. Reza kagum pada cara Almira merangkai kata, sementara Almira menemukan ketenangan dalam cara Reza menanggapi—tidak terburu-buru, tidak berlebihan, tapi selalu tepat. Seiring waktu, mereka semakin akrab. Reza mulai menceritakan rutinitas kerjanya, Almira berbagi tentang proses kreatif menulis yang menjadi hobinya. Hingga keduanya menyadari bahwa interaksi itu bukan sekadar obrolan biasa lagi. Ada sesuatu yang tumbuh di antara mereka, lebih dari sekadar perasaan seorang teman. Interaksi lewat layar ponsel kian terasa intens. Reza terbiasa menunggu unggahan baru Almira, sementara Almira diam-diam menanti pesan singkat dari Reza yang selalu datang dengan kalimat tenang. Sampai pada suatu malam, setelah obrolan panjang tentang mimpi dan cita-cita masing-masing, Reza menuliskan sesuatu yang berbeda: “Al, aku rasa kita sudah terlalu lama bersembunyi di balik kata-kata. Bagaimana kalau kita bicara lebih serius? Dengan cara yang baik, sesuai tuntunan.” Almira terdiam membaca pesan itu. Ada getaran di dadanya. Ia tahu maksud Reza—ta’aruf. Bukan sekadar pertemanan maya. Ini tentang masa depan. Setelah berdiskusi dengan keluarganya, Almira akhirnya mengiyakan. Pertemuan pertama mereka terjadi di rumahnya. Reza datang dengan wajah penuh ketenangan, membawa senyum yang sama seperti saat ia menulis komentar pertama di akun Almira. Percakapan mereka singkat, tapi padat. Reza menjelaskan keseriusannya, Almira menanggapi dengan hati-hati. Tak ada rayuan, tak ada janji manis berlebihan. Hanya kejujuran tentang siapa mereka, apa yang mereka harapkan, dan bagaimana mereka ingin membangun rumah tangga. Dari pertemuan itu, hubungan yang dulu hanya berupa kata-kata di media sosial mulai bergerak menuju keseriusan yang nyata. Tak menunggu lama, Reza datang kembali—kali ini bersama keluarga besarnya. Ayah Almira membuka percakapan, menanyakan maksud kedatangan mereka. Dengan suara mantap, Reza menjawab, “Saya datang untuk mengenal Almira lebih baik, dengan cara yang Allah ridhai.” Almira menunduk. Gugup, tapi bahagia. Reza menceritakan tentang pekerjaannya, rutinitas yang padat, dan harapannya memiliki pasangan yang bisa menjadi penyeimbang. Almira pun berbicara—tentang hobinya menulis, mimpinya membangun usaha, dan keinginannya memiliki rumah tangga yang sederhana tapi penuh kasih. Di akhir pertemuan, Reza berkata lirih, “Saya tidak mencari kesempurnaan. Saya hanya ingin kita saling melengkapi.” Almira menatapnya sejenak, lalu tersenyum. Ia percaya, hubungan yang bermula dari kata-kata itu kini benar-benar sedang dibangun dengan niat yang nyata. Sampai akhirnya ia menemukan sebuah rahasia—terkunci rapat. Sesuatu yang seharusnya menjadi dasar paling jujur sebelum janji suci diucapkan di hadapan saksi dan Tuhan. Almira tak pernah menyangka bahwa langkah mantap Reza menuju pelaminan adalah sebuah perjudian yang hanya dimenangkan oleh satu pihak. Reza menyimpan satu kenyataan pahit yang harus Almira telan sendirian: bahwa ada sesuatu dalam dirinya yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Sebuah kondisi yang seharusnya disampaikan sebelum tangan ayahnya menjabat tangan Reza, menyerahkan tanggung jawab lahir dan batin. Almira merasa dipaksa memerankan peran dalam sebuah drama yang skenarionya tak pernah ia baca sebelumnya. Ternyata, kejujuran yang Reza janjikan saat ta’aruf hanyalah bagian dari diksi indah yang ia susun untuk mendapatkan hati Almira. Sementara di balik itu semua, Reza membiarkan Almira melangkah masuk ke dalam pernikahan yang dingin—tanpa pernah memberinya pilihan untuk tahu, atau kesempatan menolak penderitaan ini sejak awal. Jadi bukan salah Almira kan, kalau wanita ini merasa terkhianati? Boleh kan kalau di tengah jalan ia menentukan sendiri, persimpangan mana yang akan ia lewati?Sinar matahari membasuh ruang makan dengan warna keemasan. Di mana Reza sudah duduk di sana, tampak santai menonton televisi. Ya, pria itu tampak lebih semringah karena sisa tawa dari obrolan mereka semalam, saat Almira menyandarkan kepala di bahunya sambil menonton televisi hingga dini hari. Kalau sedang demikian, Reza merasa bahwa Almira adalah istri yang sangat mencintainya. Jika saja sesuatu atau realitas yang ada pada dirinya, tak kembali membawa mereka ke permukaan.Di belakang Reza, Almira sendiri sedang menuangkan cairan kecoklatan dari panci kecil ke dalam gelas keramik. Itu adalah jamu akar-akaran yang dibawa oleh Ibu Ratna kemarin.“Diminum ya, Mas, selagi hangat,” Almira meletakkan gelas jamu tersebut di meja depan Reza duduk.“Apa ini?” Reza bertanya.“Ini jamu dari Ibu...”“Oh iya, Ibu kemarin ke sini ya?”“Iya, Mas. Nggak perlu dijelasin udah pahamlah ya, maksud beliau setiap datang ke sini. Soalnya pasti nggak akan jauh-jauh buat bahas cucu.” Almira tersenyum
Hampir tengah malam saat deru mesin mobil Reza terdengar di halaman. Almira masih terjaga di ruang tamu, menatap layar televisi yang sebenarnya tidak benar-benar ia tonton. Pikirannya melayang entah ke mana. Ya, seperti biasa—perempuan dengan segala ke-overthinking-annya.Almira beranjak membukakan pintu untuk Reza ketika pria itu masuk dengan wajah lelah.“Nggak langsung tidur aja, Al? Kan udah tahu kalau aku bakal pulang larut,” kata Reza.“Nggak masalah kan, Mas, kalau aku pengen nungguin kamu? Belum ngantuk juga soalnya,” sahut Almira sambil membantu meletakkan sepatu Reza di tempat yang semestinya.Ia menyuguhkan minum dan sedikit camilan sehat sebelum Reza benar-benar beristirahat. Almira menemaninya, sembari mengobrol tentang aktivitas mereka hari ini.“Selina udah kewalahan, jadi aku mutusin buat nambah satu karyawan lagi,” cerita Almira.“Itu bagus. Dengan begitu berarti kamu sudah membantu orang dengan membuka lowongan pekerjaan,” tanggap Reza.“Tapi… pengeluaran jadi nambah
Setengah melamun Almira saat memotong buah di mini barnya. Ia sama sekali tidak fokus hari ini sampai harus pulang lebih cepat. Riuh sekali kepala Almira. Terlalu banyak sesuatu yang sedang ia pikirkan. Salah satunya, percakapan panasnya dengan Reza pagi tadi.Tapi seperti yang dikatakan oleh ibu mertuanya, tibalah kini wanita tua itu di sini. Membuat Almira segera bergegas membuka pintu, begitu bel rumah terdengar.“Assalamualaikum, Al...” sapa wanita tua itu.“Waalaikumsalam, Ibu. Mari masuk, Bu,” jawab Almira sembari meraih tangan ibu mertuanya.“Reza belum pulang, Al?” Ibu Ratna melangkah masuk dengan membawa sebuah bungkusan kertas cukup besar. Aroma jamu-jamuan langsung menyeruak dari sana.“Belum, Bu. Mau Al buatin minum apa?”“Apa ya? Teh aja deh, Al.”Almira membawa mertuanya ke area dapur yang menyatu dengan ruang makan. Ibu Ratna duduk di kursi bar, memperhatikan punggung menantunya yang sibuk menyiapkan teh.“Sedang apa, Al? Masak apa sore-sore begini?” tanya beliau lembut
Keesokan paginya setelah keduanya melewati malam yang dingin itu, Almira menyusul Reza yang lebih dulu keluar kamar dibanding dirinya karena begitu selesai berbenah diri, ia langsung sibuk membalas semua pesan.Hingga ditemukannya sang suami di balik kitchen island, sedang memotong sayuran dengan gerakan profesional. Jelas, ini memang keahliannya.“Pagi, Al,” sapa Reza datar, tanpa menoleh. “Aku buatkan Egg Benedict dengan saus hollandaise kesukaanmu. Duduklah.”Almira menarik kursi bar. Memperhatikan punggung suaminya yang kokoh, namun menyimpan sekelumit rahasia yang mengunci rapat kebahagiaan mereka.Dan ketika Almira mencoba memulai pembicaraan, “Mas, soal yang semalam...”Reza langsung memotongnya, “Aku sudah bilang, hitungannya dimulai hari ini kan?”“Nggak, aku Cuma mau minta maaf kalau cara bicaraku mungkin membuatmu tersinggung.”Hening.Reza tak menjawab. Pada dasarnya hal ini memang melukainya. Tapi ia juga tak bisa memungkiri bahwa Almira hanya sedang memperjuangkan diriny
Pukul setengah sepuluh malam ketika Almira tiba di rumahnya. Di garasi, mobil Reza—suaminya sudah terparkir di tempatnya, hingga dipastikan pria itu sudah pulang lebih dulu, mungkin beberapa menit yang lalu.Sedikit cerita, kehidupan Almira sebenarnya sudah sangat berkecukupan. Reza adalah seorang chef di Hotel Internasional yang bergaji puluhan juta perbulan. Secara fisik, dia juga sempurna. Kekurangannya hanya satu, itu yang sedang Almira keluhkan.Sebenarnya ini tidak apa-apa kalau Reza mau berusaha. Sayangnya, pria itu terkesan tidak terlalu peduli atau bahkan cuek. Sementara Almira? Dia bahkan sudah sering dipaksa minum jamu dan obat-obatan oleh ibu mertuanya. Bahkan tak jarang, diantar untuk melakukan terapi macam-macam.Sedangkan Reza? Dialah yang dianggap sempurna. Semua kekurangan dan kesalahan ditumpahkan pada dirinya. Almira merasa ini tidak adil, ia tidak bisa membuka semuanya, juga atas nama cinta, tapi Reza malah terlihat biasa-biasa saja.Jika ditanya apakah Reza pria y
Setelah mengehla napas, Ustadz Rayyan segera menundukkan pandangan ke arah meja kayu di hadapannya untuk menjaga marwah Almira, memberikan ruang bagi wanita itu agar tidak merasa dihakimi. Raut wajahnya tetap teduh dan penuh wibawa.“Mbak Almira. Saya paham, pertanyaan ini memang terasa berat karena menyangkut hal paling privat dalam rumah tangga. Namun, dalam syariat, ini adalah perkara penting. Islam adalah agama yang adil; ia tidak menghendaki penderitaan bagi siapa pun, baik suami maupun istri.”Ustadz Rayyan kemudian mulai menjelaskan dengan bijak, bahwasanya—salah satu tujuan utama dalam pernikahan adalah hifzhun nafs, menjaga kesucian diri dan mendapatkan ketenangan batin atau sakinah. Hubungan biologis bukan sekadar pemuas nafsu, melainkan hak yang sah bagi suami maupun istri.“Dan jika suami Mbak Almira—Mas Reza—mengalami kendala medis seperti impotensi atau kelemahan syahwat, maka secara syariat, itu merupakan alasan yang kuat bagi seorang istri untuk mengajukan fasakh atau







