Share

Bab 3

Penulis: Bekzy
Setelah mengucapkan itu, aku tidak menunggu jawabannya. Aku langsung menutup telepon.

Pada saat kalimat itu keluar dari mulutku, beban yang selama ini menyesakkan dadaku akhirnya terasa terangkat.

Aku mematikan ponsel, lalu mencoba kembali tidur.

Mungkin karena suara gemuruh kereta terlalu keras, aku terus membolak-balikkan badan tanpa bisa terlelap lagi.

"Kak, maaf mengganggu." Suara manis seorang gadis terdengar dari ranjang atas.

Aku mendongak. Di ranjang tingkat atas ada seorang gadis berusia sekitar 18 tahun. Dia menjulurkan kepala sambil menatapku penuh rasa penasaran.

"Tadi aku nggak sengaja mendengar Kakak bilang mau bercerai." Seolah takut aku salah paham, dia buru-buru melambaikan kedua tangannya. "Aku benar-benar bukan sengaja menguping telepon Kakak. Aku hanya kebetulan belum tidur."

Kepanikan di matanya tampak begitu tulus. Bahkan di balik tatapan itu tersimpan sedikit rasa iba.

"Aku mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi. Kebetulan sedang mengerjakan tugas tentang pernikahan. Kalau Kakak nggak keberatan, bolehkah aku mewawancarai Kakak sebentar?"

Dia mengeluarkan kartu mahasiswanya dari dalam tas dan menyerahkannya kepadaku.

Di sana tertulis namanya. Anne Lerran.

Melihat tatapannya yang penuh harap, aku akhirnya mengangguk.

Di dalam satu kompartemen itu hanya ada kami berdua sebagai penumpang. Dia pun turun dari ranjang atas dan duduk tepat di hadapanku.

Tatapannya tiba-tiba tertuju pada cincin di jari manisku. Dia berseru kaget.

"Kak, kalau aku nggak salah ingat, cincin ini sempat dilelang di acara Sotheby's empat tahun lalu, lalu dibeli oleh seorang pembeli misterius. Ternyata pembelinya adalah suami Kakak?"

"Kalau dia rela mengeluarkan uang sebanyak itu demi membeli cincin ini untuk Kakak, dia pasti sangat mencintai Kakak. Lantas, kenapa Kakak justru mengajukan perceraian?"

Saat menghadapi tatapannya yang penuh kebingungan, aku perlahan melepas cincin itu dari jari, lalu berkata pelan, "Karena pemilik cincin ini sebenarnya bukanlah aku."

Aku dan Darren memang berasal dari dua dunia yang berbeda.

Saat masih kuliah, dia sudah dikenal semua orang sebagai pewaris Keluarga Setiadi, anak teladan yang terlahir bagus dalam segala aspek, sekaligus mahasiswa paling berprestasi di kampus. Ditambah lagi wajahnya yang begitu tampan, tak terhitung berapa banyak gadis yang diam-diam jatuh hati kepadanya.

Sedangkan aku hanyalah mahasiswi biasa dari kota kecil. Seseorang yang bisa masuk ke universitas di ibu kota hanya berkat kerja kerasnya sendiri.

Pertemuanku dengan Darren berawal dari sebuah kecelakaan kecil.

Suatu hari saat aku berlari menuju kelas sambil memeluk setumpuk buku, sebuah bola basket tiba-tiba melayang dan menghantam bahuku.

Benturan keras itu membuat semua buku di pelukanku berjatuhan ke lantai. Aku langsung berjongkok sambil memegangi bahu yang terasa sangat sakit.

Namun, orang yang melempar bola itu bukan saja tidak meminta maaf. Dia bahkan berdiri di tempat sambil berteriak bahwa akulah yang menghalangi jalannya bola.

Menurutnya, akulah yang seharusnya meminta maaf.

Suara tawa dan ejekan terus berdengung di telingaku. Aku ingin membela diri, tetapi rasa sakit yang menusuk membuatku bahkan tidak punya tenaga untuk membuka mulut.

Sampai akhirnya, bayangan seseorang jatuh tepat di hadapanku, lalu terdengar suara dingin nan tenang.

"Kalau begitu, kalau aku melemparmu, berarti kamu juga harus meminta maaf padaku?"

Aku mengangkat kepala, lalu melihat Darren menghempaskan bola basket itu tepat ke dekat kaki pria tersebut.

Sinar matahari keemasan menembus sela-sela dedaunan, menyinari tubuhnya, seolah menyelimutinya dengan lingkaran cahaya.

Aku tahu dia menolongku bukan karena alasan khusus, melainkan karena memang begitulah dirinya. Dia tidak tahan melihat orang yang kuat menindas yang lemah.

Namun, perasaan cinta tetap mulai tumbuh secara diam-diam sejak saat itu.

Sejak hari itu, seperti banyak orang lain yang diam-diam mengaguminya, aku hanya bisa memperhatikannya dari kejauhan.

Aku melihatnya lulus, kuliah ke luar negeri, pulang untuk mengambil alih Grup Setiadi, lalu bertunangan dengan kekasih pertamanya yang dikenalnya saat berada di luar negeri.

Pada hari pernikahan Darren, aku membawa sebuah hadiah. Aku ingin mengakhiri cinta diam-diam yang telah menemani masa mudaku.

Namun saat bertemu dengannya, dia justru duduk sendirian di sofa ruang rias. Seluruh tubuhnya tenggelam dalam kegelapan. Tak sedikit pun terlihat kebahagiaan seorang calon pengantin. Yang ada hanyalah kelelahan dan keputusasaan.

Sebelum aku sempat bertanya, dia mengangkat wajahnya yang tampak sangat letih, lalu menatapku.

"Shellen, apakah kamu mau menikah denganku?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pengantin Wanita yang Menghilang Sebelum Lamaran   Bab 18

    Satu bulan kemudian, perceraian mereka resmi disahkan.Shellen tetap tidak kembali ke Kota Jingara.Dia hanya meminta seseorang mengirimkan buku akta cerai ke Kota Sucipta.Sementara Darren mengunci akta cerai itu di dalam brankas.Sejak hari itu, dia mencurahkan seluruh tenaganya untuk perusahaan.Dia tidak lagi mencari tahu kabar Shellen.Bukan karena tidak ingin, melainkan karena tidak berani.Dia takut dirinya mendapati kabar bahwa Shellen telah menikah lagi.…Hingga tiga tahun kemudian.Setelah menyelesaikan perjalanan dinas di Navara.Gio bertanya apakah mereka akan langsung kembali ke Kota Jingara.Entah mengapa Darren tiba-tiba berkata, "Kita ke Kota Sucipta."Begitu mendengar perkataannya, Gio sempat tertegun.Darren memijat pelipisnya. Namun dia tidak menarik kembali ucapannya.Ada beberapa pintu yang begitu terbuka, maka tidak akan bisa ditutup lagi.Saat mereka tiba di Kota Sucipta, hari sudah menjelang malam.Meski sudah tiga tahun tidak datang, dia masih mengingat dengan

  • Pengantin Wanita yang Menghilang Sebelum Lamaran   Bab 17

    Mendengar ucapannya sendiri, Zoey tiba-tiba membungkam mulutnya.Meski membuat Shellen keguguran bukanlah niat awalnya, dia masih mengingat dengan jelas bagaimana mata Darren memerah saat menggendong Shellen hari itu.Bahkan ketika mereka masih berpacaran, dia belum pernah melihat Darren kehilangan kendali sedemikian rupa.Saat itu dia sempat menduga, mungkinkah Darren sudah jatuh cinta pada Shellen?Karena dugaan itu, dia gelisah cukup lama.Bagaimanapun, Shellen keguguran ketika Darren sedang menyelamatkannya.Kalau Darren benar-benar mencintai Shellen, sangat mungkin dia akan melampiaskan kemarahannya kepadanya.Namun kemudian, Darren tidak pernah menyalahkannya.Sebaliknya, Darren justru menghiburnya dan berkata bahwa semua itu adalah kesalahannya sendiri.Darren memang terpuruk cukup lama, tetapi sikapnya kepada Zoey tetap sama seperti sebelumnya.Zoey pun berpikir, mungkin karena anak dalam kandungan Shellen adalah anak pertamanya.Keluarga besar seperti Keluarga Zoey sangat meme

  • Pengantin Wanita yang Menghilang Sebelum Lamaran   Bab 16

    Saat itu, terdengar suara ketukan di pintu dari lantai bawah.Zoey entah dari mana mengetahui bahwa Darren pulang sendirian dari Kota Sucipta, lalu datang ke rumah Darren.Begitu pintu dibuka, dia memasang wajah penuh perhatian dan bertanya, "Darren, apakah Shellen masih bersikeras ingin bercerai denganmu?"Darren mengatupkan bibirnya rapat tanpa menjawab.Melihat reaksinya, Zoey sudah mendapatkan jawaban yang diinginkannya.Diam-diam sudut bibirnya terangkat.Selama Shellen tetap bersikeras bercerai, lalu apa artinya jika Darren mulai memiliki perasaan untuk Shellen?Begitu Shellen pergi, secara alami dialah satu-satunya wanita di sisi Darren.Berdasarkan hubungan mereka dahulu, dia yakin tidak akan butuh waktu lama sampai Darren kembali mencintainya sepenuh hati."Karena Shellen nggak mau mengubah keputusannya, Darren, sebaiknya kamu setujui saja.""Jangan khawatir, aku akan selalu berada di sisimu."Mungkin karena membayangkan Darren akan segera bercerai, kegembiraan di hati Zoey ti

  • Pengantin Wanita yang Menghilang Sebelum Lamaran   Bab 15

    Setelah Shellen pergi, Darren duduk sendirian di kafe untuk waktu yang sangat lama.Begitu lama hingga kafe itu tutup.Baru ketika pemilik kafe dengan sopan bertanya apakah dia ingin menambah secangkir kopi lagi, dia seperti tersadar dari mimpi.Setelah keluar dari kafe, tanpa sadar dia berjalan hingga apartemen Keluarga Jiyan.Lampu di rumah Keluarga Jiyan masih menyala.Dari lantai atas masih samar-samar terdengar tawa dan canda.Di antara suara-suara itu, terselip suara yang begitu dikenalnya.Dalam lamunannya, dia teringat selama empat tahun ini Shellen jarang sekali tertawa sebebas itu.Darren memejamkan mata, menekan gejolak emosi yang memenuhi dadanya lalu berbalik dan pergi.Perjalanannya ke Kota Sucipta berakhir hanya dalam waktu kurang dari sehari.Dia gagal membawa pulang sosok yang begitu dirindukannya.Seperti saat datang, dia kembali naik pesawat seorang diri.Begitu pesawat mendarat di Kota Jingara ... hal pertama yang dilakukannya adalah pulang ke rumah.Namun ketika pi

  • Pengantin Wanita yang Menghilang Sebelum Lamaran   Bab 14

    Sesaat, aku bahkan sempat meragukan pendengaranku sendiri.Kalau tidak, bagaimana mungkin aku mendengar Darren mengatakan bahwa dia mencintaiku?Namun saat melihat kesungguhan di matanya, aku sadar. Dia benar-benar mengucapkan kata-kata itu. Bahwa dia mencintaiku.Aku justru merasa semua ini begitu menggelikan."Kamu mencintaiku?"Darren mengangguk. Nada suaranya begitu sungguh-sungguh."Len, selama empat tahun pernikahan kita, tanpa aku sadari aku sudah jatuh cinta kepadamu. Hanya saja dulu aku nggak menyadari perasaanku sendiri."Pengakuan cinta yang begitu dalam.Namun, semakin lama aku mendengarnya semakin dingin ekspresiku.Kalau saja kata-kata itu diucapkannya pada salah satu hari dalam empat tahun terakhir, mungkin aku akan menangis karena terlalu bahagia.Tetapi sekarang, yang aku rasakan hanya ironi.Dia baru mengatakan mencintaiku setelah aku mengajukan perceraian.Di matanya aku ini apa? Seekor hewan peliharaan yang bisa dipanggil sesuka hati lalu diusir kapan saja?Baru set

  • Pengantin Wanita yang Menghilang Sebelum Lamaran   Bab 13

    Darren berdiri di lorong gedung apartemen tua itu dengan setelan jas yang rapi.Tubuhnya yang tinggi tegap tampak begitu mencolok di lingkungan yang sederhana.Entah mengapa, saat melihat sosokku muncul … tubuhnya yang semula tegang seolah perlahan mengendur."Len, aku datang untuk menjemputmu pulang. Aku ....""Pak Darren." Aku mengernyit menatapnya dan memotong ucapannya. "Surat perjanjian perceraian yang aku kirim, apa belum diterima?"Aku benar-benar tidak mengerti mengapa Darren muncul di sini.Padahal aku sudah mengirimkan surat perceraian yang telah aku tandatangani beserta cincin pernikahan itu.Setelah melihat dokumen tersebut, bukankah seharusnya dia tinggal menandatanganinya?Mengapa justru datang mencariku di Kota Sucipta?Mendengar pertanyaanku, tatapan Darren justru dipenuhi rasa sakit.Dia terdiam cukup lama.Baru setelah beberapa saat, dengan suara serak dia akhirnya membuka mulut."Len, maaf."Ucapan maaf itu, membuat hatiku sedikit bergetar.Sepertinya Darren akhirny

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status