Masuk"Apakah kau berpikir dengan membawa mawar hitam itu adalah tanda perdamaian? Itu adalah bendera perang yang kau tancapkan di tengah rumahku, Darma!"Suara Arden menggelegar di ruang kerja pribadinya, tepat setelah Darma meninggalkan mansion dengan langkah yang begitu tenang. Aruna berdiri di samping meja, matanya menatap tajam ke arah map perak yang masih tergeletak diam. Belum sempat mereka membahas isi kesepakatan itu, sebuah peringatan dari perangkat Reyna memecah kesunyian."Tuan! Sistem manajemen logistik kita di pusat distribusi utama mendadak freeze!" Reyna masuk dengan tergesa, wajahnya tegang. Ia meletakkan laptopnya di meja. "Bukan hanya satu titik, tapi seluruh jalur pengiriman barang yang keluar dari pelabuhan terkunci. Sistem mencatat adanya akses ilegal yang menggunakan otoritas tertinggi.. otoritas yang seharusnya sudah mati bersama hilangnya Darma beberapa tahun lalu."Arden menyambar laptop itu, melihat layar yang dipenuhi barisan kode berwarna merah."Bajingan itu..
"Berhenti mengacak-acak kertas itu, Arden! Kau tidak akan menemukan jawaban jika tanganmu gemetar karena amarah."Suara Aruna tenang namun memiliki otoritas yang membuat langkah Arden terhenti. Di dalam galeri bawah tanah yang sunyi ini, suara Aruna memantul di dinding-dinding beton halus. Arden berdiri di depan sebuah meja kayu besar, napasnya memburu, dikelilingi oleh tumpukan map tua yang ia keluarkan dari brankas tersembunyi. Ruangan yang tadinya disiapkan sebagai tempat pelarian artistik bagi Aruna, kini mendadak berubah menjadi ruang interogasi masa lalu."Kau tidak mengerti, Aruna," Arden menoleh, matanya terlihat sangat lelah namun waspada."Suara di telepon itu... itu adalah suara yang menghantuiku selama ini. Suara yang dulu mendikte setiap langkahku sebelum kecelakaan pesawat itu terjadi. Jika dia masih hidup, maka seluruh kebebasan yang kita rasakan saat ini hanyalah panggung sandiwara yang ia susun."Aruna melangkah mendekat, perlahan merapikan dokumen yang berseraka
"Lepaskan senjatamu, Arden. Kau tidak sedang berada di medan perang, kau sedang berada di rumah kita!" Suara Aruna terdengar tenang namun tajam, memecah kesunyian di dalam lift pribadi yang sedang meluncur naik menuju penthouse. Arden tersentak, tangannya yang sejak tadi mencengkeram gagang senjata di balik jasnya perlahan melonggar. Napasnya masih memburu, matanya merah karena kurang tidur selama penerbangan darurat dari Maladewa. Sejak pesan Menantuku itu muncul, Arden berubah menjadi sosok yang jauh lebih obsesif dan protektif, seolah-olah setiap bayangan di sudut ruangan adalah ancaman yang siap merenggut istrinya. "Dia tahu kita di sini, Aruna. Dia tahu setiap jengkal langkahmu," geram Arden, rahangnya mengeras hingga urat lehernya menonjol. "Pesan itu... itu bukan sekadar gertakan. Itu adalah klaim kepemilikan. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun merasa memiliki hak atas milikku!" Aruna melangkah mendekat, mengabaikan aura gelap yang memancar dari suaminya. Ia meraih k
"Kau bilang ada ruang bawah yang baru saja direnovasi? Apa maksudmu, Arden? Jangan bilang kau membangun penjara baru di rumah ini," canda Aruna, meski ada nada cemas di suaranya.Arden tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menuntun Aruna keluar dari lift pribadi yang berhenti di lantai dasar tersembunyi. Lorong itu terlihat seperti galeri modern dengan dinding beton halus dan pencahayaan artistik. Reyna sudah menunggu di sana, berdiri tegak dengan kunci perak di tangannya."Ini bukan penjara, Aruna. Ini adalah penebusan dosaku," bisik Arden rendah.Reyna membuka pintu baja berat yang tersamar sempurna di balik panel kayu dinding. Begitu pintu terbuka, Aruna tertegun hingga menutup mulutnya dengan tangan. Itu bukan ruang pelarian, melainkan sebuah Galeri Seni dan Taman Kaca Bawah Tanah yang sangat luas.Atap ruangan itu terbuat dari kaca tebal yang terhubung langsung ke dasar kolam renang di lantai atas. Cahaya matahari menembus air, menciptakan refleksi gelombang biru yang menari-nari
"Apa?!"Arden masih mencengkeram kemudi dengan napas yang memburu. Matanya menatap tajam ke arah ponsel yang masih tergeletak di dasbor.Nama yang baru saja disebutkan si penelepon seolah menghantam jantungnya.. sebuah kode rahasia lama yang hanya diketahui oleh orang-orang paling dalam di lingkaran Kaeswara."Arden, ada apa? Siapa itu? Kenapa kau mengerem mendadak?" tanya Aruna panik, tangannya memegang pegangan pintu dengan erat.Arden tidak menjawab. Ia segera mematikan pengeras suara dan menempelkan ponsel itu ke telinganya. "Ulangi sekali lagi. Siapa kau sebenarnya?!"Tiba-tiba, suara berat dan mengancam di seberang sana berubah total. Suara itu pecah menjadi tawa cekikikan yang sangat familiar di telinga mereka."Aduh, Tuan Muda Kaeswara... ternyata kau masih mudah sekali dikerjai ya? Tidak sia sia memakai alat pengubah suara milik tim keamanan!"Arden tertegun. Ia menjauhkan ponselnya sebentar, menatap layar, lalu mengembuskan napas kasar yang sangat panjang. "Reyna?!""Hahah
"Kau benar-benar tidak ingin ikut kami, Layla? Setidaknya sampai kau tiba di klinik dan memastikan semua fasilitas di sana sesuai dengan apa yang kujanjikan?"Suara Arden memecah keheningan apron bandara pribadi Kaeswara pagi itu. Angin kencang menerbangkan ujung jas hitamnya, namun matanya tetap tertuju pada wanita di kursi roda itu. Kekhawatiran terpancar jelas di wajahnya.. kekhawatiran seorang pria yang telah memikul tanggung jawab atas hidup seseorang selama tujuh tahun penuh sebagai bentuk penebusan dosa.Layla mendongak, menatap mata kelabu Arden yang kini tampak lebih jernih tanpa bayang-bayang rahasia. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terasa begitu ringan, seolah beban ribuan ton baru saja terangkat dari pundaknya."Arden, jika ikut kalian, aku akan selalu merasa menjadi wanita yang perlu kau lindungi," sahut Layla lembut namun tegas. "Aku akan selalu merasa menjadi beban yang harus kau panggul. Tujuh tahun kau sudah melakukan itu, dan lihatlah... kau terlihat sanga
“Arden… kau benar-benar yakin rumah ini masih aman?” Pertanyaan Aruna meluncur pelan di tengah ruang kerja yang mulai dipenuhi berkas. Setelah Reyna pergi membawa dokumen transaksi mencurigakan, suasana di dalam rumah utama Kaeswara terasa berbeda... seolah udara yang sama kini membawa rahasia bar
“Aku harap aku salah.”Suara Reyna terdengar pelan, tapi getar di dalamnya cukup untuk membuat ruangan kerja Arden yang biasanya tenang terasa menegang. Pagi itu, cahaya matahari masih lembut menyentuh kaca besar di belakang meja kerja, tetapi ekspresi Reyna tidak membawa kabar yang lembut.Aruna,
“Aku tidak takut mereka menyerang perusahaan, Aruna. Kau tahu itu.”Suara Arden terdengar tenang, tetapi ada sesuatu yang berat menggantung di ujung kalimatnya. Ia berdiri di depan jendela kamar, memandangi halaman yang gelap dengan tangan terlipat di dada, seolah dunia di luar sana adalah papan ca
“Aku tidak punya banyak waktu untuk mengulang ini, Aruna… jadi dengarkan aku baik-baik.”Suara Layla tidak lagi setajam biasanya.Ia terbaring di ranjang rumah sakit dengan cahaya senja menembus tirai tipis, membentuk garis-garis pucat di wajahnya yang kini terlihat lebih rapuh daripada yang pernah







