共有

35a

作者: Emya
last update 公開日: 2026-02-05 08:00:56

“Allahuakbar, Allahuakbar ....”

Adzan subuh yang berkumandang melalui pengeras suara masjid membangunkanku dari tidur yang tak seberapa lelap. Semalam mataku sulit terpejam, padahal sudah kubawa melakukan aktivitas membereskan rumah agar tubuh menjadi lelah.

Kutoleh Mas Nasrul yang masih merajuk. Ia tidak tidur di sisiku seperti kemarin, melainkan di pinggir tembok, di sebelah Nada. Nada berada di tengah-tengah. Sudahlah, biarkan saja.

Setelah melakukan perega
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Pengasuh Gratis Itu, Mertuaku   38b

    “Madumu, Sarah.” Hilma merebahkan punggungnya pada ranjangku, kakinya yang masih tergantung bergoyang-goyang. “Mati kutu,” jawabku terkekeh. “Sudah kuduga, dia pasti nggak nyangka,” balas Hilma menatap lurus langit-langit kamar. “Pasti. Harusnya kamu datang lebih cepat, biar bisa nyaksiin gimana pucatnya muka dia.” Hilma terkakak, ia bangkit dari berbaring, lalu duduk. “Aku nggak nyangka Kakak sekuat ini, sumpah!” “Kita nggak pernah tahu kalau kita kuat, Hil, sebelum kita melewatinya. Setelah semua selesai, barulah kita sadari bahwa kita itu hebat.” Mataku mengecil seiring bibir yang kutarik tersenyum. Hilma mengangguk. “Kakak benar. Eh, itu tenda di luar buat apa?” “Syukuran tujuh bulanan Sarah,” jawabku datar. “Gi*a! Mereka nggak ngerasa malu apa sama orang-oang? Ampun, deh!” gerutu Hilma masam. “Ibu yang mau. Mas Nasrul bisa apa? Apalagi Kakak. Pa

  • Pengasuh Gratis Itu, Mertuaku   38a

    Matahari kian merangkak naik ketika Hilma mengabari bahwa rombongannya sudah sampai di perbatasan desa. Tanpa memperdulikan panasnya ubun-ubun karena sengatan panas yang mendekati tegak lurus, kupacu motorku dengan cepat guna menjemput mereka. Bisa saja aku mengarahkan mereka hingga rumah, tapi kurasa mereka pasti akan lebih senang jika aku sendiri yang langsung menjemput.Dari jauh kulihat sebuah mini bus berhenti tepat di tugu batas, mereka nampak duduk selonjoran di bawah pohon mangga milik warga yang terletak di sisi jalan.“Kak Dara ...!” pekik Hilma kala melihatku semakin dekat.Aku tertawa melihat tingkahnya, dia memang tidak pernah berubah, selalu manja jika denganku. Kuputar kunci motor, mematikan deru mesinnya.“Lama, ya? Maaf tadi cari-cari kunci dulu.” Aku turun dari motor, menyambut uluran tangan Hilma yang sudah berjingkrak kecil sedari melihatku.“Nggak, kok. Kak, kenalin temen-temanku. Kami semua tinggal dalam satu komplek

  • Pengasuh Gratis Itu, Mertuaku   37

    punya Allah. Lebih kuat dari kalian semua. Aku bertahan agar kamu nggak akan pernah bisa menang ngelawan aku. Selamanya kamu hanya akan menjadi istri di mata agama, bukan istri sah secara negara. Kalaupun anak itu memang berasal dari benih Mas Nasrul, hingga menua ia tak akan diakui administrasi sebagai anak Mas Nasrul, ia hanya akan jadi anakmu saja selamanya. Pun jika janin itu kelak ternyata bukan milik Mas Nasrul, aku masih setia untuk menyaksikan kehancuran kamu karena didepak untuk kedua kalinya dari hidup suamiku yang kamu paksa menjadi suamimu. Itu kayaknya sudah cukup untuk membuat hidupmu tak lagi sempurna, dan aku akan sangat bahagia.” “Bren**ek! Ternyata kamu masih belum mau menyerah, kamu akan semakin sakit hati nanti kalau Nasrul benar-benar berhasil aku taklukkan lagi.” Tulang selangkanya yang kecil itu kini semakin terlihat kala seluruh urat dan ototnya menegang menahan amarah. “Silahkan saja, aku sudah nggak perduli. Aku di sini hanya i

  • Pengasuh Gratis Itu, Mertuaku   36b

    Waktu yang terus bergulir membawa hari berganti dan berlalu dengan cepat. Tak terasa kehamilan Sarah sudah menginjak usia tujuh bulan, dan lusa kudengar Ibu ngotot ingin melakukan acara syukuran untuk itu. Selama itu pula hubunganku dengan Mas Nasrul semakin terasa renggang, hambar. Kali ini harus kuakui jika aku bertahan karena Nada. Akhir-akhir ini Nada sangat dekat dengan Papanya, sehingga setiap kali ingin tidur ia mecari sang Papa. Semakin membuatku muak ketika Sarah kerap mengajari Nada memanggil adik pada janin yang ada dalam kandungannya. Aku bisa apa? Tak ada, hanya membiarkan saja. Toh, Papa dan Utinya nampak sangat bahagia. Kini, Mas Nasrul mulai bisa menerima Sarah, sepertinya. Sakit? Jangan ditanya. Sering kali air mataku bercucuran tiada henti saat pikiranku fokus pada mereka, terlebih jika Mas Nasrul mengikuti kemauan Sarah untuk tidur di rumah belakang."Ra, Mbak mau ngomong," ajak Mbak Nira sembari mengelus perutnya yang tinggal menunggu hari kelahiran.

  • Pengasuh Gratis Itu, Mertuaku   36a

    Setelah peristiwa sore itu, ada yang berbeda dengan hatiku. Sulit untuk kujelaskan, yang pasti aku mulai merasa masa bodoh dengan kehidupan Mas Nasrul dan Sarah. Mas Nasrul kembali berusaha keras merayuku, tapi percuma. Desir di dalam sini dak lagi seperti kemarin-kemarin, aku mulai lelah. Benar apa kata Mama, cepat atau lambat aku akan mengalami sakit yang terlambat untuk kusesali.Semakin hari Sarah semakin berani, ia menggunakan kehamilannya untuk menjerat Mas Nasrul dalam menuruti kemauannya, dipaksa Ibu tentunya. Kenapa aku berkata seperti itu? Karena kerap kudengar penolakan Mas Nasrul namun Ibu selalu berhasil memaksanya. Ah, mertua seperti apa itu? Baiklah, sebaiknya sekarang jalani hidup sendiri-sendiri. Aku dan duniaku, mereka pun begitu."Sayang, cuminya, kok, di masak pedes, sih? Kan, Mas nggak suka." Pagi ini Mas Nasrul kembali protes terhadap makanan yang kumasak."Tapi aku suka, Mas," jawabku singkat.Mas Nasrul mengacak rambutnya,

  • Pengasuh Gratis Itu, Mertuaku   35b

    “Putar kamera kamu ke semua yang ada di situ. Semuanya, jangan ada yagn kamu tutup-tutupi.” Astaghfirullahaladzim ... aku hanya mampu beristighfar dalam hati. Kuturuti maunya dengan mulut terkatup rapat. Aku marah, dan kembali menahannya mengingat sedang di tempat ramai. “Bungkusin tiga buat aku, Ibu, dan Sarah,” titahnya. What? Enak saja! “Untuk Mas dan Ibu oke, nggak untuk Sarah,” jawabku ketus. “Ra, Sarah ngidam. Ayolah.” “Dia ngidam anak kamu, maka kamu yang harus nyari. Berbeda kalau itu anak aku, baru aku yang beliin.” Usai membalasnya dnegan sengit, kumatikan telepon. Mas Nasrul benar-benar menjengkelkan sekali. Apakah dia ingin berusaha membuatku cemburu dengan memberi perhatian pada Sarah? Kamu salah orang, Mas. “Nasrul saraf apa, ya? Heran.” Shinta mengaduk es teh pesanannya. “Tahu, ah! Pusing aku. Lagian, kenapa pula dia jadi cemburuan banget sekarang. Dulu nggak gitu. Kalau tahu gini aku nyesel maafin dia. Beneran.” “Hhsstt ... nggak boleh ngomong gitu,

  • Pengasuh Gratis Itu, Mertuaku   14a. Keputusan Terbaik

    Tok! Tok! Tok! "Ra, kamu udah bangun?" Mbak Nira memanggilku, dari suaranya terdengar panik.Aku diam. Tanganku membekap mulut dengan kuat agar nafas tersengalku tak sampai ke telinganya. Entahlah! Saat ini aku merasa hidupku seperti sudah di ujung tanduk. Aku seperti meli

  • Pengasuh Gratis Itu, Mertuaku   9b. Ngidam atau Ngelunjak?

    "Nggak usah, Bu. Nanti aja tunggu Mas Nasrul pulang," tolakku halus.Mas Nasrul tadi pamit ke rumah Pak Joko, orang yang menggarap kebun sawit kami."Ndak apa-apa. Nanti cucu Ibu ileran. Ayo Nada, ikut Uti jajan mie ayam. Tapi nanti ndak minta ciki-ciki, ya?" Ibu mengajak Nada b

  • Pengasuh Gratis Itu, Mertuaku   9a. Ngidam atau Ngelunjak?

    Satu minggu setelah hasil testpack dengan tanda tambah, kami berangkat memeriksakan diriku ke dokter spesialis kandungan. Jarak yang cukup jauh membuat kami harus berangkat pagi. Ya, aku kekeh tidak mau periksa dengan Sarah ketika Ibu mengusulkan, titik!Kali ini Nada kuajak, tentu

  • Pengasuh Gratis Itu, Mertuaku   8a. PoV Nasrul

    "Kapan kamu melamar Sarah, Rul? Dia sudah sering main ke rumah, ndak elok dilihat tetangga." Sore itu Ibu sedang memarut kelapa guna membuat gulai nangka muda, untuk pertama kalinya Ibu menanyakan tentang kelanjutan hubunganku dengan Sarah.Sarah. Gadis berprofesi sebagai bidan dan berkulit coklat ya

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status