Mag-log inpunya Allah. Lebih kuat dari kalian semua. Aku bertahan agar kamu nggak akan pernah bisa menang ngelawan aku. Selamanya kamu hanya akan menjadi istri di mata agama, bukan istri sah secara negara. Kalaupun anak itu memang berasal dari benih Mas Nasrul, hingga menua ia tak akan diakui administrasi sebagai anak Mas Nasrul, ia hanya akan jadi anakmu saja selamanya. Pun jika janin itu kelak ternyata bukan milik Mas Nasrul, aku masih setia untuk menyaksikan kehancuran kamu karena didepak untuk kedu
punya Allah. Lebih kuat dari kalian semua. Aku bertahan agar kamu nggak akan pernah bisa menang ngelawan aku. Selamanya kamu hanya akan menjadi istri di mata agama, bukan istri sah secara negara. Kalaupun anak itu memang berasal dari benih Mas Nasrul, hingga menua ia tak akan diakui administrasi sebagai anak Mas Nasrul, ia hanya akan jadi anakmu saja selamanya. Pun jika janin itu kelak ternyata bukan milik Mas Nasrul, aku masih setia untuk menyaksikan kehancuran kamu karena didepak untuk kedua kalinya dari hidup suamiku yang kamu paksa menjadi suamimu. Itu kayaknya sudah cukup untuk membuat hidupmu tak lagi sempurna, dan aku akan sangat bahagia.” “Bren**ek! Ternyata kamu masih belum mau menyerah, kamu akan semakin sakit hati nanti kalau Nasrul benar-benar berhasil aku taklukkan lagi.” Tulang selangkanya yang kecil itu kini semakin terlihat kala seluruh urat dan ototnya menegang menahan amarah. “Silahkan saja, aku sudah nggak perduli. Aku di sini hanya i
Waktu yang terus bergulir membawa hari berganti dan berlalu dengan cepat. Tak terasa kehamilan Sarah sudah menginjak usia tujuh bulan, dan lusa kudengar Ibu ngotot ingin melakukan acara syukuran untuk itu. Selama itu pula hubunganku dengan Mas Nasrul semakin terasa renggang, hambar. Kali ini harus kuakui jika aku bertahan karena Nada. Akhir-akhir ini Nada sangat dekat dengan Papanya, sehingga setiap kali ingin tidur ia mecari sang Papa. Semakin membuatku muak ketika Sarah kerap mengajari Nada memanggil adik pada janin yang ada dalam kandungannya. Aku bisa apa? Tak ada, hanya membiarkan saja. Toh, Papa dan Utinya nampak sangat bahagia. Kini, Mas Nasrul mulai bisa menerima Sarah, sepertinya. Sakit? Jangan ditanya. Sering kali air mataku bercucuran tiada henti saat pikiranku fokus pada mereka, terlebih jika Mas Nasrul mengikuti kemauan Sarah untuk tidur di rumah belakang."Ra, Mbak mau ngomong," ajak Mbak Nira sembari mengelus perutnya yang tinggal menunggu hari kelahiran.
Setelah peristiwa sore itu, ada yang berbeda dengan hatiku. Sulit untuk kujelaskan, yang pasti aku mulai merasa masa bodoh dengan kehidupan Mas Nasrul dan Sarah. Mas Nasrul kembali berusaha keras merayuku, tapi percuma. Desir di dalam sini dak lagi seperti kemarin-kemarin, aku mulai lelah. Benar apa kata Mama, cepat atau lambat aku akan mengalami sakit yang terlambat untuk kusesali.Semakin hari Sarah semakin berani, ia menggunakan kehamilannya untuk menjerat Mas Nasrul dalam menuruti kemauannya, dipaksa Ibu tentunya. Kenapa aku berkata seperti itu? Karena kerap kudengar penolakan Mas Nasrul namun Ibu selalu berhasil memaksanya. Ah, mertua seperti apa itu? Baiklah, sebaiknya sekarang jalani hidup sendiri-sendiri. Aku dan duniaku, mereka pun begitu."Sayang, cuminya, kok, di masak pedes, sih? Kan, Mas nggak suka." Pagi ini Mas Nasrul kembali protes terhadap makanan yang kumasak."Tapi aku suka, Mas," jawabku singkat.Mas Nasrul mengacak rambutnya,
“Putar kamera kamu ke semua yang ada di situ. Semuanya, jangan ada yagn kamu tutup-tutupi.” Astaghfirullahaladzim ... aku hanya mampu beristighfar dalam hati. Kuturuti maunya dengan mulut terkatup rapat. Aku marah, dan kembali menahannya mengingat sedang di tempat ramai. “Bungkusin tiga buat aku, Ibu, dan Sarah,” titahnya. What? Enak saja! “Untuk Mas dan Ibu oke, nggak untuk Sarah,” jawabku ketus. “Ra, Sarah ngidam. Ayolah.” “Dia ngidam anak kamu, maka kamu yang harus nyari. Berbeda kalau itu anak aku, baru aku yang beliin.” Usai membalasnya dnegan sengit, kumatikan telepon. Mas Nasrul benar-benar menjengkelkan sekali. Apakah dia ingin berusaha membuatku cemburu dengan memberi perhatian pada Sarah? Kamu salah orang, Mas. “Nasrul saraf apa, ya? Heran.” Shinta mengaduk es teh pesanannya. “Tahu, ah! Pusing aku. Lagian, kenapa pula dia jadi cemburuan banget sekarang. Dulu nggak gitu. Kalau tahu gini aku nyesel maafin dia. Beneran.” “Hhsstt ... nggak boleh ngomong gitu,
“Allahuakbar, Allahuakbar ....”Adzan subuh yang berkumandang melalui pengeras suara masjid membangunkanku dari tidur yang tak seberapa lelap. Semalam mataku sulit terpejam, padahal sudah kubawa melakukan aktivitas membereskan rumah agar tubuh menjadi lelah. Kutoleh Mas Nasrul yang masih merajuk. Ia tidak tidur di sisiku seperti kemarin, melainkan di pinggir tembok, di sebelah Nada. Nada berada di tengah-tengah. Sudahlah, biarkan saja.Setelah melakukan peregangan pada ototku yang kaku, aku melangkahkan kaki menuju kamar mandi guna mengambil wudhu. Usai bersuci aku menunaikan ibadah dua rakaat, lalu dilanjutkan dengan mengaji sebanyak dua lembar. Kata ceramah yang kudengar, tak apa sedikit asal rutin, lama-lama akan khatam.Karena rumah sudah rapi, dan aku sedang bad mood untuk memasak, akhirnya aku hanya menggoreng nugget dan memasak mie instan sebagai menu sarapan. Belum kubangunkan Mas Nasrul, biar saja dia kesiangan. Aku masih dongkol de
“Bukan gi—““Gimana caranya Ibu bisa ambil kunci motor?” tanyaku memotong kalimat Ibu.“Ibu buka rumah pakai kunci cadangan,” jawab Ibu membuang muka.“Mencuri? Huh?”“Sayang, --“ Mas Nasrul hendak menyela ucapanku.“Lalu kalau bukan mencuri apa namanya? Mas, besok panggil tukang dan ganti kunci rumah kita.” Kupotong cepat kalimat Mas Nasrul.“Bu, jangan acak-acak lagi rumah kami. Bukankah harusnya Ibu senang karena sudah bisa tinggal sama menantu kesayangan Ibu? Ibu nggak tahu rasanya menjadi aku, maaknya Ibu santai aja. Sebab Ibu dan Sarah itu sama, sama-sama perebut suami orang.” Pelan kubisikkan kata-kata pedasku di telinga Ibu saat melintasinya ke luar rumah.Aku melangkah ke luar rumah membawa rasa dongkol teramat sangat. Ibu keterlaluan, ia telah melewati batas. Kulirik kembali motorku yang nampak baret di bagian depan. Aku tersenyum geli membayangkan Sarah yang nyungsep tad







