LOGINAeri terpaku selama beberapa saat, mencerna pengakuan jujur yang baru saja keluar dari bibir Eryx. Keheningan yang canggung sempat merayap di antara mereka sebelum akhirnya Aeri teringat pada sosok wanita bergaun satin hitam yang baru saja pergi bersama Tiago."Jika kau merasa asing di dalam keluargamu sendiri, lalu bagaimana dengan wanita tadi?" tanya Aeri, suaranya merendah seiring rasa penasarannya yang kian menuntut jawaban. "Selena Leander. Siapa dia sebenarnya? Mengapa kedatangannya bisa membuat ayahmu langsung tunduk, dan mengapa dia begitu gigih ingin mempertahankan posisimu sebagai calon kepala keluarga?"Eryx mengembuskan napas berat. Mendengar nama itu disebut, sorot mata gelapnya seketika berubah menjadi sangat dingin dan dipenuhi oleh kabut kewaspadaan yang pekat."Selena adalah wanita yang sangat berpengaruh, baik bagi pemerintahan kota maupun bagi lingkaran dalam keluarga Leander," jawab Eryx, rahangnya mengetat samar. "Dia memiliki otak yang terlalu cerdas untuk ukura
Aeri terpaku di tempatnya berdiri. Kedua matanya melebar sempurna menatap perubahan drastis yang terjadi pada pria di atas ranjang rumah sakit itu. Baru beberapa menit yang lalu seluruh petinggi dinasti Leander bertaruh nyawa dan reputasi demi memperebutkan posisinya, namun kini, begitu pintu tertutup rapat, sisa-sisa menawan dan keangkuhan mutlak Eryx lenyap tanpa bekas. Air mata mulai mengalir deras dari sudut mata gelap Eryx, membasahi bantal putih di bawah kepalanya. Tubuhnya yang terbalut perban tebal bergerak gelisah. "Kak Gahensa... sakit... ini sakit sekali," rengek Eryx dengan suara sengau, persis seperti anak kecil yang sedang mengadu setelah terjatuh dari sepeda. Dia meraba-raba lengan seragam Aeri, mencoba mencari perlindungan. "Lyra jahat sekali... perutku rasanya seolah mau lepas. Kenapa tidak ada yang memelukku? Aku mau mati saja kalau sakit begini..." Melihat tingkah manja yang teramat kontras dengan kekejaman taktis yang ditunjukkannya beberapa jam lalu di halaman
Selena melangkah lebih dekat ke arah ranjang tempat Eryx terbaring, mengabaikan tatapan defensif yang dilayangkan oleh Aeri. Sepasang mata safirnya menyapu wajah pucat sang tuan muda sebelum akhirnya beralih menatap Tiago Leander."Aku telah mendengar apa yang terjadi akhir-akhir ini di keluarga kita Paman," ucap Selena, suaranya mengalun tenang, seolah membicarakan cuaca dan bukan tentang pembatalan pernikahan yang nyaris merenggut nyawa pewaris dinasti. "Dan aku harus mengatakan... aku setuju dengan pengawal ini. Eryx tidak bisa disingkirkan begitu saja dari posisi calon kepala keluarga. Memilih Regan hanya akan menunjukkan kepada daratan utama bahwa Leander sedang mengalami keretakan internal yang lemah."Mendengar pernyataan Selena yang tak terduga, ketegangan di wajah Tiago perlahan mencair. Meskipun Tiago justru merasa semakin tidak nyaman akan kenyataan bahwa apa yang ada di dalam keluarga Leander ternyata sudah sampai ke Selena. Selena memang bagian dari keluarga Leander te
Aroma antiseptik yang menyengat dan bunyi ritmis dari layar monitor jantung memenuhi ruang perawatan intensif Rumah Sakit Pusat Leander. Di sudut ruangan, Aeri duduk membeku di atas kursi besi. Kedua tangannya yang masih bernoda darah kering bertumpu pada lututnya yang bergetar. Wajahnya ketara lesu, matanya sembap, dan gumpalan mendung hitam seolah bergelayut di atas kepalanya. Dia sangat ketakutan. Ketakutan yang belum pernah dia rasakan bahkan saat dirinya sendiri berada di ambang maut. Melihat Eryx yang biasanya begitu angkuh dan penuh kendali kini terbaring tak berdaya dengan selang oksigen, nyaris meninggal akibat tikaman Lyra, membuat dinding pertahanan emosional Aeri runtuh total. Di dalam hatinya, ada rasa bersalah dan kekhawatiran yang teramat berat, mengaburkan tujuan awalnya tentang balas dendam. Klek. Suara pintu yang terbuka membuat Aeri tersentak dari lamunannya. Dia segera berdiri dan menegakkan tubuhnya saat melihat Tiago Leander melangkah masuk. Kepala
Keributan di halaman belakang kediaman Leander telah mencapai titik didih. Bentakan Tiago yang menggelegar dan kehadiran Selena yang penuh teka-teki rupanya tidak cukup kuat untuk meruntuhkan ego absolut seorang Eryx Leander. Pemuda itu berdiri tegak di tengah kepungan keluarga besarnya, menatap ayah, bibi, dan sepupunya dengan pandangan yang teramat dingin, seolah-olah mereka semua hanyalah sekumpulan lalat yang mengganggu jalannya. Eryx mengembuskan napas pendek, lalu merapikan kerah tuksedo hitamnya yang berkilau di bawah siraman cahaya fajar. "Aku tidak suka diatur, dan aku lebih tidak suka lagi didekte di rumahku sendiri," ucap Eryx, suaranya tenang namun sarat akan otoritas mutlak yang membekukan atmosfer. Pandangannya beralih pada Lyra Xan yang masih berdiri gemetar menahan tangis. "Pernikahan ini... batal. Aku tidak akan melangkah ke altar bersamamu, Lyra." "Eryx!" Tiago berteriak histeris, wajahnya pucat pasi mendengar keputusan sepihak putranya yang di luar nalar.
Aeri menahan napasnya. Wanita yang baru saja melangkah keluar dari balik pilar marmer itu seolah membawa atmosfer pembeku yang jauh lebih pekat daripada hawa membunuh Kaeragha. Gaun satin hitam legam yang melekat di tubuhnya kontras dengan kulitnya yang seputih porselen. Wajahnya... luar biasa cantik, dengan sepasang mata safir yang begitu tenang namun menyembunyikan kekosongan yang dingin. Dalam sudut pandang Aeri, sejauh dia hidup dan menyusup ke berbagai kalangan, wanita ini adalah sosok paling rupawan yang pernah ia lihat secara langsung. Kecantikannya memiliki daya pikat mutlak yang mampu membuat pria mana pun bertekuk lutut dalam sekali pandang. Aeri secara refleks melirik ke arah Eryx, penasaran apakah tuan mudanya yang angkuh itu akan terpesona atau setidaknya kehilangan fokus karena kehadiran wanita seindah ini. Namun, Aeri terkejut setengah mati ketika mendapati Eryx justru memasang wajah yang teramat tenang. Tidak ada binar kagum, tidak ada keterpukauan, dan tidak ad
Kaeragha tidak terkejut dengan serangan balik verbal dari Eryx. Pria paruh baya itu justru menaikkan sebelah alisnya, membiarkan senyum sinisnya melebar. Di bawah remang lampu ambulans dan kilatan lampu merah-biru dari mobil patroli, ketegangan di antara kedua pria dari silsilah Leander ini tera
Di daratan utama, jeritan peluru di Gudang 44 akhirnya mereda. Pasukan elite akademi yang digerakkan oleh dana taktis Eryx, berkolaborasi dengan tim taktis Tiago Leander, berhasil membalikkan keadaan. Alih-alih melakukan pembantaian, perintah mutlak dari Eryx yang diteruskan secara rahasia membu
"Tuan Tiago, ada pasukan yang tampaknya sangat kuat tetapi tidak dikenal mengepung tempat ini. Salah satu dari mereka bertanya ke kami, kelihatannya pemimpinnya kami dari pasukan mana. Jadi kami jawab dari Tiago Leander. Itu benar-benar refleks. Kami sangat ketakutan, tuan Leander," seru pengawal y
Eryx menghubungi Darius. Tidak sulit menghubungi pria itu. Dia memiliki kontak Darius setelah mempekerjakan Gahensa. Darius yang tengah melatih murid-muridnya, mengernyitkan keningnya begitu mendengar suara telepon. Darius memeriksanya. Itu dari Eryx Leander. Darius pun mengangkatnya. "







