MasukMatahari kini telah bergeser naik hingga berada tepat di puncak kepala, memancarkan terik panas yang menyengat di balik celah-celah ranting pohon purba. Udara di dalam hutan terasa agak kusam dan hangat, namun Rian dan Kiki terus melangkahkan kaki menyusuri jalur jurang batu terjal yang dikenal sangat rawan akan bahaya musuh. Saat Rian dan Kiki hendak melangkah melewati sebuah jembatan kayu gantung tua yang membentang di atas celah sungai berarus amat deras, mendadak belasan anak panah beracun meluncur deras dari balik semak-semak bukit batu di seberang. WUSSS-WUSSS-WUSSS! "Awas, ada hujan panah beracun!" teriak Rian seraya dengan sangat cepat memutar Belati Naga Perak Yin di tangannya, membentuk perisai angin bayangan berputar yang menangkis seluruh anak panah beracun hingga patah berkeping-keping! TAK-TAK-TAK! Dari balik celah bukit batu, lalu barulah bermunculan belasan pria berbadan tegap dengan raut wajah yang amat garang. Mereka mengenakan zirah kulit kusam serta meme
Mentari pagi baru saja terbit anggun di ufuk timur, membiaskan tirai cahaya keemasan yang menembus celah-celah kerapatan dedaunan pepohonan purba di perbatasan selatan Desa Lembah Asri. Embusan angin pegunungan bertiup sangat sejuk menyapu permukaan kulit, membawa aroma wangi tanah basah serta kesegaran dedaunan belantara yang selama ribuan tahun terisolasi dari jamahan peradaban luar. Suasana rimba yang sunyi hanya dihiasi oleh kepakan sayap burung-burung hutan serta desir gesekan ranting yang bergoyang pelan. Rian melangkah mantap menyusuri jalan setapak berbatu yang makin lama makin menyempit dan menyelinap ditelan rimbunnya semak beracun Hutan Purba Binatang Buas. Di pinggang kirinya, Belati Naga Perak Yin tersirat anggun dalam sarung kayu berukir sisik naga hitam, memancarkan getaran aura dingin yang amat stabil. Sementara itu, di atas pundak kakinya, Kiki si kera emas kecil yang telah mengikatkan kain merah membara di dahinya duduk dengan posisi sigap. Dua mata bulat merah d
Sinar mentari sore yang jingga keemasan merekah di atas langit Desa Lembah Asri, membias indah di atas permukaan danau yang tenang dan memantulkan pendaran cahaya di dedaunan pohon purba. Gelak tawa warga desa serta kehangatan keluarga besar Pahlawan Api meramaikan teras rumah kayu utama. Namun, di sudut teras dekat kolam teratai, Rian tampak duduk bersila sendirian dengan kedua tangan menopang dagunya. Pandangan mata Rian tak lepas dari sosok Kiki, kera emas kecil yang saat ini sedang asyik berlarian dan melompat lincah dari satu dahan ke dahan lain bersama Ignis si burung Phoenix muda. Meskipun Kiki tampak begitu gembira dan penuh energi, Rian tidak pernah bisa melupakan pesan sakral serta ingatan jiwa dari dua Kera Dewa Purba di dalam goa raksasa beberapa waktu lalu. Pencerahan Inti Petir Purba telah bersemayam di dalam dada Kiki, tetapi untuk memicu Evolusi Jiwa Purba yang membuat Kiki sanggup membuka wujud sejati dan bertutur kata layaknya manusia, Kiki membutuhkan pemicu b
SCREECH! Ignis mengepakkan sayapnya penuh semangat bertarung, lalu meluncur cepat menyambar Kiki dengan cakar apinya. Duel sengit antara kera petir dan Phoenix api seketika pecah membakar langit sore. Di atas tanah pelataran gerbang desa, tinju batu raksasa milik Estias tinggal berjarak setengah meter dari kepala Rian, sementara sabetan kaki perunggu Brakas hampir menyapu pinggang Lina. Namun, Rian dan Lina yang telah melewati penggemblengan brutal di Lembah Jurang Kabut Purba tidak sedikit pun menunjukkan kepanikan di mata mereka. "Lina, gunakan perisai!" teriak Rian. "Siap, Kak Rian!" Lina kecil memutar Tongkat Sihir Kecil Bintang Murni dengan satu jemari anggunnya. Tanpa membuang waktu sekejap pun, kubah Cahaya Perak Murni (Yang) meletup mekar melingkupi raga mereka berdua dalam satu kejapan mata. BRUAKKKKKKKKKK! Sabetan kaki perunggu Brakas menghantam kubah perisai Lina secara telak. Namun, bukannya meremukkan perisai seperti latihan bulan lalu, kaki perunggu Brakas
Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian penggemblengan fisik, batin, dan fusi Tri-Elemen di Lembah Jurang Kabut Purba, keluarga Pahlawan Api bersiap untuk kembali. Dengan bantuan ruang penyimpanan dimensi tak terbatas milik sistem Martis, seluruh perlengkapan perkemahan, kemah sutra purba, alat memasak, serta sisa pasokan logistik dikemas masuk hanya dalam waktu beberapa detik tanpa menyisakan sebutir debu pun. Kiki melompat anggun ke atas pundak Rian seraya membenarkan ikatan kain merah di dahinya. Belati Naga Perak Yin di pinggang Rian berpendar perak-hitam yang halus, sementara Tongkat Sihir Kecil Bintang Murni di genggaman Lina kecil memancarkan kehangatan suci. "Semua sudah rapi, Martis," ujar Mia hangat seraya menggandeng tangan Lina. Martis mengangguk mantap. Ia mengibaskan tangan kanannya, memicu pendaran Api Suci Abadi Tingkat Dewa yang membungkus raga dirinya, Mia, Rian, Lina, Kiki, serta Duo Naga Lele Purba dalam kubah cahaya keemasan yang teramat megah. BOOOOOOOO
Naga energi gabungan tiga warna—Hitam Onyx, Perak Murni, dan Emas Murni—melesat bagaikan meteor jatuh, membelah angkasa Lembah Jurang Kabut Purba dengan raungan dahsyat yang menggetarkan seluruh bukit batu. Udara di sekeliling lapangan terdistorsi hebat oleh gesekan energi Tri-Elemen yang teramat padat. Di titik tengah ledakan, Martis berdiri terkunci oleh kubah cahaya milik Lina. Melihat ketepatan waktu dan sinergi tanpa cela dari ketiga muridnya, senyuman bangga yang teragung terukir manis di wajah Penguasa Api tersebut. "Sinergi yang teramat sempurna, Anak-anakku!" gumam Martis bangga. BOOOOOOOOOOOOOOOOMMMM! Naga energi Tri-Elemen menghantam raga Martis secara mutlak. Ledakan cahaya tiga warna membumbung tinggi ratusan meter ke udara, memicu badai angin panas dan pendaran petir keemasan yang menyapu seluruh pelataran rumput Danau batu di dekat mereka terangkat belasan meter memiringkan tirai air yang amat megah. Asap tebal dan percikan bunga api meluruh perlahan-lahan.
Sosok misterius itu menatap tajam petir yang Martis maksud. Ia pun berkata dalam hatinya, 'Apa...?! Bukankah Petir ini adalah petir putih? Petir putih adalah petir yang paling tinggi! Celaka, aku belum pernah sebelumnya melawan petir tingkatan ini. Tapi apa boleh buat, aku tidak akan mau dipermaluk
Dalam sejarah hidupnya, sampai saat ini hanya ada dua orang yang mampu menghadapi serangan meteor miliknya. Dan orang kedua itu adalah Martis. "Si-siapa kau sebenarnya?" tanya Edmiral Kaziru yang akhirnya penasaran. "Aku?" Martis menunjuk dirinya sendiri. "Bukankah kau sudah tahu, bahwa namaku ada
Martis dan Gozil melihat bahwa Edmiral Kaziru berhasil menahan serangan yang Gozil lakukan. Melihat itu, Gozil sangat frustasi. Matanya melotot dan ia mengeraskan rahangnya lalu berteriak, "Jangan remehkan kekuatan Ras Naga...!" Gozil pun kembali membuka mulutnya berniat sekali lagi menembakkan bola
Martis yang terus ditatap oleh Mona dengan cara tidak biasa akhirnya merasakan tatapan itu. "Ada apa, Mona? Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Martis secara langsung, ia justru mendekatkan wajahnya pada Mona. Mona yang tersadar langsung terkejut. "Eh, anu, itu, aku..., tidak, tidak! Tidak ad







