เข้าสู่ระบบHening yang mencekam itu seolah membekukan udara di dalam kamar VVIP rumah sakit. Detak jam dinding terdengar seperti hitungan mundur menuju kehancuran total klan Ricardo.Leon mematung. Tatapannya lurus menembus dinding kosong, namun otaknya berputar dengan kecepatan yang mengerikan. Hanya ada tiga orang di dunia ini yang mengetahui kombinasi brankas rahasia berlapis baja itu. Dirinya, Hector yang jasadnya baru saja diidentifikasi di ruang forensik, dan... Rose.Rose. Kepala pelayan wanita paruh baya yang sudah mengabdi pada keluarga Ricardo sejak Leon masih remaja. Wanita yang selama ini mengurus seluruh kebutuhan domestik mansion, yang selalu menyambutnya dengan teh hangat setiap kali ia pulang dari medan pertempuran berdarah. Nyatanya, potongan gaun pelayan yang ditemukan di tangga darurat itu bukan bukti kematian, melainkan jejak pelarian setelah sebuah pengkhianatan besar."Keluar," suara Leon terdengar sangat rendah, hampir berupa bisikan, namun getaran di dalamnya membuat a
Elena tidak mundur selangkah pun. Sepatu flat yang dikenakannya menginjak serpihan kaca tanpa ragu, menimbulkan bunyi berderit yang memekakkan keheningan kamar. Di bawah remang cahaya yang minim, ia menatap pria yang kini tampak seperti singa sekarat yang terpojok di sudut kandangnya."Keluar?" suara Elena terdengar sangat tenang, kontras dengan gemuruh di dadanya. Ia berjalan mendekat, setiap langkahnya mantap. "Setelah aku memohon pada Tuhan untuk tidak mencabut nyawamu, kamu mengusirku sekarang, Leon?""Aku bilang keluar, Elena!" Leon kembali meraung. Tangannya yang dipasang selang infus mencengkeram sprei ranjang begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Saking frustrasinya, ia mencoba menggerakkan kakinya, namun anggota tubuh bagian bawahnya itu tetap bergeming, mati rasa seperti seonggok daging tak bernyawa. Kenyataan itu menghantamnya lagi, lebih menyakitkan daripada serpihan bom. "Jangan menatapku dengan tatapan kasihan seperti itu! Aku tidak butuh belas kasihan dari mu!"
Rasa sakit adalah hal pertama yang menyapa kesadaran Elena."Uhuk! Uhuk!" Elena terbatuk, darah segar terasa asin di ujung lidahnya.Ia mencoba menggerakkan jemarinya. Perih. Kulit pergelangan tangannya yang terkelupas akibat paksaan memutus tali tadi kini bergesekan dengan puing tajam. Namun, rasa sakit fisik itu tak sebanding dengan kengerian yang mendadak menghantam kesadarannya."Leon..." Bisikan Elena terdengar parau, nyaris tak keluar dari tenggorokannya yang kering. "Leon, kamu di mana?!"Tidak ada jawaban. Hanya ada suara panik yang luar biasa mencengkeram dada Elena. Air matanya merebak, membasahi wajahnya yang kotor berlumur debu. Apakah ini akhirnya? Apakah mereka semua mati terkubur di tempat mengerikan ini?Secara perlahan, penglihatan Elena mulai beradaptasi dengan kegelapan yang minim cahaya. Di dekatnya, sebuah balok beton besar runtuh dalam posisi miring, menciptakan rongga sempit yang secara ajaib melindungi tubuhnya dari hantaman langsung langit-langit yang runtuh.
"Jangan, Leon! Jangan lakukan itu!" pekik Elena. Suaranya melengking di dalam ruangan pengap berbau semen dan darah tersebut.Detak jantung Elena berdentum begitu keras di dadanya. Rasa takut akibat trauma masa lalunya kini menguap, digantikan oleh kengerian nyata yang ada di depan mata. Ia menatap Rose, kepala pelayan paruh baya yang selalu menyambutnya dengan senyuman hangat di mansion dingin itu. Rose adalah satu-satunya orang yang tidak memandang rendah Elena saat ia pertama kali menginjakkan kaki di kediaman Ricardo sebagai 'wanita pengganti'. Di klan yang kejam ini, Rose sudah seperti ibu kedua bagi Leon, dan satu-satunya figur pelindung bagi Elena di mansion Ricardo.Kini, wanita tua itu berlutut dengan sudut bibir berdarah, sementara bilah pisau berkilat tajam menempel ketat di lehernya yang mulai keriput."Tuan Muda... jangan pedulikan saya. Tekan tombolnya dan larilah bersama Nyonya!" seru Rose dengan suara serak, mengabaikan fakta bahwa pisau itu mulai menggores kulitnya
Aroma manis obat bius itu masih tertinggal di pangkal tenggorokannya, menyisakan rasa mual yang hebat. Ketika ia membuka mata, kegelapan kamar tidurnya telah berganti dengan pencahayaan remang-remang dari lampu dinding kuningan.Ia tidak lagi berada di atas lantai marmer kamarnya. Elena mendapati dirinya terduduk di sebuah kursi kayu tua, tangannya terikat kuat ke belakang."Leon..." bisikan itu lolos dari bibirnya yang kering. Rasa panik langsung menjalar ke seluruh tubuhnya saat mengingat kata-kata terakhir sang pengkhianat.Tangisan bayi yang tadi menyiksanya telah hilang, digantikan oleh keheningan yang jauh lebih mencekam. Elena memejamkan mata sejenak, mencoba mengumpulkan serpihan jiwanya yang sempat hancur oleh manipulasi trauma masa lalu. Ia bukan lagi gadis rapuh yang bisa diintimidasi dengan mudah. Statusnya kini adalah istri dari Leonardo Ricardo—sang penguasa tertinggi klan mafia ini. Meski pernikahan mereka berawal dari statusnya sebagai 'Wanitw pengganti' untuk memenuh
"Siapa kamu?!" teriak Elena, dia merasa ada yang aneh.Siluet itu di ambang pintu, malah tetap bergeming. Sosok itu melangkah maju dengan sangat lambat, membiarkan keheningan malam mencengkeram atmosfer kamar yang kini gelap gulita."Berhenti, atau aku tembak!" ancam Elena lagi. Tangannya yang memegang pistol tetap kokoh, meski dadanya bergemuruh hebat akibat adrenalin yang terpompa cepat.Krrrkk...Tiba-tiba, suara statis memecah kesunyian. Suara itu bukan datang dari mulut sang penyusup, melainkan dari sistem pengeras suara tersembunyi di langit-langit kamar—jalur komunikasi internal yang seharusnya hanya bisa diakses dari ruang kendali utama mansion.“Uwaaa... Uwaaa... hiks... hiks...”Suara tangisan bayi.Suara itu melengking tinggi, memantul di dinding-dinding marmer yang dingin. Awalnya terdengar samar, namun perlahan volumenya meningkat, memenuhi setiap sudut ruangan dengan gaung yang menyayat hati.Elena seketika membeku. Seluruh darahnya seolah tersedot keluar dari wajahnya.
"Ada... ada sesuatu yang lain di sana, bukan?" Suara Silas terdengar ragu di balik interkom. "Sesuatu yang bukan sekadar senjata atau narkotika."Leon tidak segera menjawab. Matanya yang sehitam jelaga masih memaku Elena ke dinding kaca. Di bawah tatapan itu, Elena merasa seolah-olah seluruh rahasi
Perjalanan menuju kediaman pribadi Leon terasa seperti prosesi pemakaman bagi kebebasan Elena. Di dalam SUV hitam yang kedap suara, Elena meringkuk di sudut kursi, membiarkan ayahnya yang setengah sadar bersandar pada bahunya. Di luar jendela, pemandangan dermaga yang kumuh perlahan berganti menjad
Suara desis pintu baja yang terbuka terdengar seperti napas terakhir dari monster yang sekarat. Uap dingin nitrogen cair yang digunakan untuk menstabilkan suhu ruangan isolasi merayap keluar, membungkus kaki-kaki mereka dalam kabut putih yang mencekam.**Elena tidak menunggu kabut itu menipis. Ia
Asap mesiu masih menggantung tipis di udara, menciptakan selubung abu-abu yang kontras dengan kemilau lampu kristal. Di lantai marmer yang dingin, Sofia mengerang kesakitan. Peluru Leon tidak bersarang di kepalanya, melainkan di bahu kanannya, sebuah pesan yang jelas bahwa Leon belum ingin wanita i







