Share

Distrik berdarah

Author: Novita Ledo
last update publish date: 2026-02-17 21:44:36

"Ibu?" Suara Elena nyaris tidak terdengar, tertelan oleh desis pendingin udara mobil. "Ibuku sudah lama tiada, Rosa. Dia hanya seorang penjahit di pinggiran kota. Bagaimana mungkin seorang ahli pengawasan 'Unit Bayangan' berutang nyawa padanya?"

Rosa tidak segera menjawab. Matanya tetap terpaku pada jalanan aspal yang berkilat tertimpa lampu sorot mobil pengawal. Wanita tua, yang kini tak tampak tua sama sekali di balik rompi taktisnya, itu memutar kemudi dengan gerakan presisi yang mekanis.

"I
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pengganti Hati Sang Mafia   Leon cacat

    Elena tidak mundur selangkah pun. Sepatu flat yang dikenakannya menginjak serpihan kaca tanpa ragu, menimbulkan bunyi berderit yang memekakkan keheningan kamar. Di bawah remang cahaya yang minim, ia menatap pria yang kini tampak seperti singa sekarat yang terpojok di sudut kandangnya."Keluar?" suara Elena terdengar sangat tenang, kontras dengan gemuruh di dadanya. Ia berjalan mendekat, setiap langkahnya mantap. "Setelah aku memohon pada Tuhan untuk tidak mencabut nyawamu, kamu mengusirku sekarang, Leon?""Aku bilang keluar, Elena!" Leon kembali meraung. Tangannya yang dipasang selang infus mencengkeram sprei ranjang begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Saking frustrasinya, ia mencoba menggerakkan kakinya, namun anggota tubuh bagian bawahnya itu tetap bergeming, mati rasa seperti seonggok daging tak bernyawa. Kenyataan itu menghantamnya lagi, lebih menyakitkan daripada serpihan bom. "Jangan menatapku dengan tatapan kasihan seperti itu! Aku tidak butuh belas kasihan dari mu!"

  • Pengganti Hati Sang Mafia   Di Balik Puing yang Runtuh

    Rasa sakit adalah hal pertama yang menyapa kesadaran Elena."Uhuk! Uhuk!" Elena terbatuk, darah segar terasa asin di ujung lidahnya.Ia mencoba menggerakkan jemarinya. Perih. Kulit pergelangan tangannya yang terkelupas akibat paksaan memutus tali tadi kini bergesekan dengan puing tajam. Namun, rasa sakit fisik itu tak sebanding dengan kengerian yang mendadak menghantam kesadarannya."Leon..." Bisikan Elena terdengar parau, nyaris tak keluar dari tenggorokannya yang kering. "Leon, kamu di mana?!"Tidak ada jawaban. Hanya ada suara panik yang luar biasa mencengkeram dada Elena. Air matanya merebak, membasahi wajahnya yang kotor berlumur debu. Apakah ini akhirnya? Apakah mereka semua mati terkubur di tempat mengerikan ini?Secara perlahan, penglihatan Elena mulai beradaptasi dengan kegelapan yang minim cahaya. Di dekatnya, sebuah balok beton besar runtuh dalam posisi miring, menciptakan rongga sempit yang secara ajaib melindungi tubuhnya dari hantaman langsung langit-langit yang runtuh.

  • Pengganti Hati Sang Mafia   Pilihan Berdarah sang Mafia

    "Jangan, Leon! Jangan lakukan itu!" pekik Elena. Suaranya melengking di dalam ruangan pengap berbau semen dan darah tersebut.Detak jantung Elena berdentum begitu keras di dadanya. Rasa takut akibat trauma masa lalunya kini menguap, digantikan oleh kengerian nyata yang ada di depan mata. Ia menatap Rose, kepala pelayan paruh baya yang selalu menyambutnya dengan senyuman hangat di mansion dingin itu. Rose adalah satu-satunya orang yang tidak memandang rendah Elena saat ia pertama kali menginjakkan kaki di kediaman Ricardo sebagai 'wanita pengganti'. Di klan yang kejam ini, Rose sudah seperti ibu kedua bagi Leon, dan satu-satunya figur pelindung bagi Elena di mansion Ricardo.Kini, wanita tua itu berlutut dengan sudut bibir berdarah, sementara bilah pisau berkilat tajam menempel ketat di lehernya yang mulai keriput."Tuan Muda... jangan pedulikan saya. Tekan tombolnya dan larilah bersama Nyonya!" seru Rose dengan suara serak, mengabaikan fakta bahwa pisau itu mulai menggores kulitnya

  • Pengganti Hati Sang Mafia   Ilustrasi berdarah

    Aroma manis obat bius itu masih tertinggal di pangkal tenggorokannya, menyisakan rasa mual yang hebat. Ketika ia membuka mata, kegelapan kamar tidurnya telah berganti dengan pencahayaan remang-remang dari lampu dinding kuningan.Ia tidak lagi berada di atas lantai marmer kamarnya. Elena mendapati dirinya terduduk di sebuah kursi kayu tua, tangannya terikat kuat ke belakang."Leon..." bisikan itu lolos dari bibirnya yang kering. Rasa panik langsung menjalar ke seluruh tubuhnya saat mengingat kata-kata terakhir sang pengkhianat.Tangisan bayi yang tadi menyiksanya telah hilang, digantikan oleh keheningan yang jauh lebih mencekam. Elena memejamkan mata sejenak, mencoba mengumpulkan serpihan jiwanya yang sempat hancur oleh manipulasi trauma masa lalu. Ia bukan lagi gadis rapuh yang bisa diintimidasi dengan mudah. Statusnya kini adalah istri dari Leonardo Ricardo—sang penguasa tertinggi klan mafia ini. Meski pernikahan mereka berawal dari statusnya sebagai 'Wanitw pengganti' untuk memenuh

  • Pengganti Hati Sang Mafia   Jebakan Psikologi

    "Siapa kamu?!" teriak Elena, dia merasa ada yang aneh.Siluet itu di ambang pintu, malah tetap bergeming. Sosok itu melangkah maju dengan sangat lambat, membiarkan keheningan malam mencengkeram atmosfer kamar yang kini gelap gulita."Berhenti, atau aku tembak!" ancam Elena lagi. Tangannya yang memegang pistol tetap kokoh, meski dadanya bergemuruh hebat akibat adrenalin yang terpompa cepat.Krrrkk...Tiba-tiba, suara statis memecah kesunyian. Suara itu bukan datang dari mulut sang penyusup, melainkan dari sistem pengeras suara tersembunyi di langit-langit kamar—jalur komunikasi internal yang seharusnya hanya bisa diakses dari ruang kendali utama mansion.“Uwaaa... Uwaaa... hiks... hiks...”Suara tangisan bayi.Suara itu melengking tinggi, memantul di dinding-dinding marmer yang dingin. Awalnya terdengar samar, namun perlahan volumenya meningkat, memenuhi setiap sudut ruangan dengan gaung yang menyayat hati.Elena seketika membeku. Seluruh darahnya seolah tersedot keluar dari wajahnya.

  • Pengganti Hati Sang Mafia   Bayang-bayang pengkhianat

    "Nikolai," panggil Leon. Suaranya pelan, hampir berupa bisikan, namun mampu memotong kepanikan yang menggantung di udara."Iya, Tuan?" Nikolai menegakkan posisi berdirinya, berusaha menyembunyikan getaran di suaranya."Kunci semua pintu keluar mansion. Jangan biarkan satu pun kepala divisi meninggalkan tempat ini sebelum batas waktu dua jam berakhir. Jika ada yang mencoba kabur, tembak langsung di tempat," perintah Leon dengan nada yang sangat santai, seolah ia hanya sedang memesan secangkir kopi, bukan memerintahkan eksekusi."Dimengerti, Tuan." Nikolai membungkuk hormat, lalu segera berbalik untuk menjalankan perintah tanpa banyak tanya.Setelah pintu kamar kembali tertutup, Leon membalikkan badannya ke arah Elena. Elena menatap suaminya dengan cermat. Sebagai wanita yang mendampingi sang raja mafia, ia tahu bahwa ketenangan Leon saat ini adalah tanda bahwa pria itu sedang berada dalam mode berburu yang paling mematikan."Mereka menggunakan rekaman suara Valerius hanya sebagai penga

  • Pengganti Hati Sang Mafia   Orang ketiga dalam gelap

    Elena diam sebentar. Bukan karena takut, lebih karena pikirannya bekerja cepat, menata ulang keping-keping yang selama ini berserakan.Andrian mungkin ingin mengurungnya dalam lingkaran kontrolnya, tapi Elena bukan tipe yang duduk diam lalu menunggu nasib digerakkan orang lain.Ia perlahan menarik

  • Pengganti Hati Sang Mafia   Elena Dimanipulasi

    Elena berdiri mematung. Nafasnya terpotong setengah jalan, seperti ada tangan tak terlihat yang menekan dadanya.Andrian tidak langsung bicara. Ia menatap layar ponselnya lama… terlalu lama. Bukan karena terkejut, melainkan seperti sedang memilih kalimat yang paling menguntungkan.Dan itu, justru b

  • Pengganti Hati Sang Mafia   Permainan dua hati

    Elena tiba di lobi The Obsidian Tower pukul 8:05 malam. Bangunan itu menjulang seperti pisau obsidian yang siap menerkam langit. Lampu-lampu kristal menggantung dari langit-langit marmer hitam, memantulkan cahaya yang menusuk mata. Para penjaga bersetelan hitam berdiri tegap, menyamakan tatapan de

  • Pengganti Hati Sang Mafia   Dibawah bayangan Andrian

    Keringat dingin mulai bermunculan, Elena nyaris tak bisa menelan ludah, rasa dingin di punggungnya berubah menjadi es yang menjalar ke setiap ujung sarafnya. Andrian Romanov. Ketua Mafia Timur. Saingan terbesar Leon. Dan dia berada di kafe ini, di meja VIP, tersenyum padanya seolah dia baru saja m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status