MasukTapi seakan berubah ketika ia mendengar ada suara yang tengah berteriak keras.
"Bos, gadis itu membawa beberapa orang memasuki mansion...." Teriakan terakhir itu dari luar mansion belum benar-benar hilang ketika Leon menutup pintu kamar itu dengan satu hentakan. Brank... Keheningan di dalam ruangan seperti menyerap sisa-sisa kekacauan di luar, membuat jantung Elena berdetak kencang tanpa irama yang jelas. Elena berdiri kaku di dekat jendela besar, kedua tangannya bergetar di samping tubuh. Cahaya jingga sore memantul di pipinya, membuat ketakutannya terlihat lebih nyata, lebih telanjang. Leon menatapnya lama. Lama sekali. Seakan sedang mempelajari reaksi Elena seperti mempelajari kode rahasia. Ia melepaskan jasnya yang berlumur darah, menjatuhkannya begitu saja ke lantai. Elena tersentak melihat bercak merah tua yang masih basah itu. “Terjadi sesuatu di luar, kan?” suara Elena bergetar. “Ada yang kamu siksa?” Leon tidak langsung menjawab. Ia mengambil kain dari meja, mengusap noda darah di tangannya, namun matanya tak pernah lepas dari Elena. “Kamu tidak perlu tahu,” ucapnya datar, namun nadanya mengandung tekanan halus. “Beberapa laki-laki bodoh mencoba masuk wilayahku. Itu saja.” “Dan kamu membunuhnya?” Leon berhenti mengusap tangannya. “Ya.” Jawabannya sederhana, tapi Elena merasakannya seperti batu besar yang menghantam dadanya. “Aku tidak ingin kamu disentuh oleh siapa pun selain aku.” Elena menelan ludah. Pernyataan itu terlalu lugas. Terlalu menguasai. Namun entah mengapa, bukan itu yang membuatnya mundur. Ada sesuatu dalam cara Leon mengatakannya, bukan seperti ancaman, tapi seperti sejenis… klaim yang tidak bisa dijelaskan. “Kenapa kamu bicara seolah aku ini milikmu?” gumam Elena pelan. Leon mendekat. “Karena itulah yang sedang terjadi.” Ia berdiri tepat di hadapan Elena sekarang. Begitu dekat hingga Elena bisa merasakan aroma hangat tubuhnya bercampur samar bau logam darah yang belum sepenuhnya hilang. Elena bergeser setengah langkah ke belakang tanpa sadar, tapi punggungnya sudah menyentuh dinding kaca. Leon berhenti satu jengkal darinya. Sorot matanya tajam, gelap, dan penuh badai. “Elena,” ucapnya pelan, “tadi kamu hampir saja diseret keluar oleh orang-orang itu jika aku terlambat beberapa menit. Mereka kemari bukan untukku.” Ia mengangkat dagu Elena dengan dua jarinya. “Mereka datang untukmu.” “Untuk… aku?” Elena hampir tidak bisa mengucapkannya. “Ya. Dan itu membuatku marah.” Napas Leon menghangatkan pernapasannya sendiri. “Sangat marah.” Elena menahan napas ketika Leon membelai ujung rambutnya. Sentuhan itu pelan, tapi intens; seintens tatapan yang tak pernah lepas dari wajahnya. Kedekatan itu membuat Elena merasakan sesuatu yang berbahaya, bahwa hatinya mulai kehilangan kemampuan membedakan ketakutan dan ketertarikan. “Kamu bergetar,” bisik Leon. “Takut?” Elena menggeleng pelan. “Tidak tahu.” Leon menyentuh pinggang Elena, menariknya sedikit mendekat. Gerakan itu tidak kasar, tapi cukup tegas untuk membuat Elena kehilangan pijakan. “Bilang aku untuk berhenti,” ujar Leon. “Dan aku akan berhenti.” Elena memejamkan mata. Tapi tak ada kata ‘berhenti’ yang keluar. Hanya keheningan. Leon menunduk perlahan, mencium sisi wajahnya. Bukan dengan agresi, tapi dengan kehati-hatian yang justru membuat Elena makin bingung. Bibir Leon menyentuh kulitnya seperti rahasia yang tidak pernah diizinkan terang. “Leon…” Elena berbisik. “Ya?” “Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi padaku.” Leon menyentuh punggungnya, menahan Elena agar tidak goyah. “Aku akan membuatmu mengerti. Pelan-pelan.” Ciuman berikutnya mendarat di tulang rahangnya. Hangat, perlahan, nyaris membuat lutut Elena melemah. Tangannya tanpa sadar memegang bahu Leon, seperti mencari tempat untuk bertahan. “Lihat aku,” kata Leon. Elena membuka mata. Tatapan mereka bertemu. Ada sesuatu yang intens di sana, sesuatu yang terasa seperti badai yang menelan keduanya. Leon mencondongkan tubuh, mencium bibir Elena dengan sentuhan halus namun penuh intensi. Ciuman itu bukan sekadar ingin. Itu ciuman seseorang yang menahan dirinya terlalu lama. Elena balas mencium, pelan dan dalam walau jantungnya berdetak terlalu keras. Leon memperdalam ciumannya sedikit, menahan wajah Elena dengan kedua tangannya, seakan dunia bisa runtuh kalau ia melepaskannya terlalu cepat. Ciuman itu bukan vulgar. Hanya penuh ketegangan yang membakar perlahan. Saat bibir mereka terpisah, napas keduanya tersengal. “Elena…” Suara Leon serak. “Kamu tidak tahu apa yang kamu lakukan padaku.” Elena hendak menjawab, tapi.... DUARRR!! Suara tembakan mengguncang seluruh ruangan. Leon langsung memeluk Elena, tubuhnya menjadi tameng. “Tetap di belakangku!” Langkah-langkah tergesa terdengar dari koridor. Suara benturan, teriakan, lalu sesuatu jatuh berat. “Leon… itu suara siapa?” Elena panik. Leon mengeluarkan pistol dari bagian belakang pinggangnya, matanya berubah sepenuhnya menjadi dingin—dingin khas pembunuh. “Musuh yang tidak seharusnya masih hidup,” jawab Leon. Pintu kamar digedor keras. “Leon!” suara perempuan. Kental, tajam, penuh kemarahan dan amarah yang membusuk. “Kamu pikir aku selesai denganmu?” Elena pucat. “Itu… suara Sofia?” Raut wajah Leon berubah saat Elena menyebut nama itu, tapi belum sempat berucap... Brank... Pintu terbuka dengan kasar. Sosok itu berdiri di ambang pintu—Sofia, dengan tubuh berlumuran darah dan luka di wajahnya. Matanya merah, liar, penuh dendam membara. “Seharusnya aku yang berada di sisimu,” Sofia menjerit. “Bukan gadis kecil ini!” Elena tersentak ketika tatapan Sofia mengarah padanya seperti panah beracun. “Jangan sentuh dia,” Leon memperingatkan, mengangkat pistolnya. Tapi Sofia tertawa. Suara yang retak dan menyakitkan telinga. “Oh, Leon…” katanya sambil menodongkan pistolnya pada Elena. “Kamu bukan satu-satunya yang kembali dari kematian.” “Elena!” Leon berteriak. “Lari—!” DUARRR!! Satu tembakan. Lalu keheningan yang menelan segalanya. Elena menutup mata. Dunia seakan runtuh dalam satu detik. Dan ketika ia membuka mata, Leon bukan lagi berdiri di depannya. Melainkan terjatuh. Darah mengalir dari bahunya, membasahi lantai marmer. “Leon!!!” Elena berlari ke arahnya, tapi Sofia mengangkat pistol lagi, mengarah tepat ke dada Elena. “Kamu…” Sofia tersenyum miring. “Sekarang giliranmu.”Mansion itu terasa terlalu luas dan sunyi sejak iring-iringan mobil hitam Leon membelah gerbang. Elena berdiri di perpustakaan, namun matanya tak benar-benar membaca barisan kalimat di buku tuanya. Pikirannya tertinggal pada kecupan di dahi dan janji yang diucapkan Leon sebelum pergi."Jangan takut pada kegelapanku. Aku sedang belajar menjadi terang, karena kamu."Kalimat itu terus bergema, menghangatkan dadanya sekaligus menyisipkan rasa takut yang baru. Bagaimana jika "terang" itu padam sebelum benar-benar bersinar?Tiga jam berlalu sebelum suara menderu mobil kembali terdengar. Elena hampir berlari menuju lobi utama. Pintu besar terbuka, menampilkan sosok Leon. Kemeja hitamnya sedikit kusut, ada noda tanah di sepatunya, tapi matanya yang tajam langsung melunak saat menangkap bayangan Elena di puncak tangga."Aku kembali," ucap Leon. Suaranya serak, namun stabil.Elena tidak peduli pada protokol atau tatapan para pengawal yang masih siaga di belakang Leon. Ia menuruni tangga dan lan
Leon tidak langsung menjawab.Tatapannya turun pada wajah Elena yang masih pucat karena demam semalam. Rambut gadis itu tergerai berantakan di bahunya, matanya sedikit sembab, tapi keberanian di sana tak pudar sedikit pun.Di dunia Leon, orang-orang gemetar sebelum berbicara. Elena justru berdiri di hadapannya, menantang tanpa suara.“Apa kamu sadar,” ucap Leon pelan, suaranya rendah dan bergetar samar, “kalau pilihan untuk tetap di sini berarti masuk lebih dalam ke sesuatu yang tidak akan bisa kamu tinggalkan dengan mudah?”Elena tidak mundur.“Aku tidak pernah punya banyak pilihan dalam hidupku,” jawabnya jujur. “Sejak ayahku berhutang pada orang-orang yang salah… hidupku selalu ditentukan orang lain. Untuk sekali ini, biarkan aku memilih.”Leon menatapnya lama.Ada sesuatu dalam dadanya yang bergerak, seperti sesuatu yang sudah lama ia kubur bersama masa kecilnya. Ia terbiasa dengan kesetiaan yang dibeli, rasa hormat yang dipaksakan, dan cinta yang bersyarat. Tapi yang berdiri di d
“Apa itu?”Leon tidak langsung menjawab.Ia menatap jari-jarinya sendiri yang masih disentuh Elena, seolah sentuhan itu sesuatu yang asing baginya. Lalu perlahan ia mengangkat pandangannya.“Semalam,” ucapnya rendah, suaranya tidak lagi setajam biasanya, “aku menyadari bahwa untuk pertama kalinya dalam lima tahun… aku tidak ingin kehilangan seseorang lagi.”Kalimat itu jatuh pelan, tapi berat.Elena terdiam. Ada sesuatu dalam nada Leon yang berbeda—bukan ancaman, bukan perintah. Itu terdengar seperti pengakuan yang ia benci untuk miliki.“Kehilangan siapa?” Elena bertanya hati-hati.Rahang Leon mengeras lagi. Refleks lama. Luka lama.“Siapa pun,” jawabnya singkat.Hening kembali mengisi ruangan. Kabut di luar jendela mulai menipis, memperlihatkan taman luas yang dingin dan tertata sempurna. Segalanya terlihat terkendali di luar sana. Tidak seperti yang ada di dalam kamar itu.“Elena,” lanjut Leon, kali ini tanpa menatapnya, “aku tumbuh di rumah yang lebih mirip penjara daripada mansio
Elena tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung kesedihan. “Anda bohong. Tatapan Anda semalam... saat Anda menatap mataku dan menyebut tentang 'seseorang'. Siapa dia?”Rahang Leon mengeras. Ia bangkit berdiri, berjalan menuju jendela yang menampakkan taman luas yang masih berkabut. “Sudahlah jangan dibahas."Elena tertegun. Ia mencoba duduk meski kepalanya berdenyut. “Dan Anda takut aku juga akan berkhianat seperti masa lalu Anda Tuan?"Leon berbalik, sorot matanya kembali gelap dan intens. Ia melangkah mendekat, membungkuk hingga wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari Elena. Aroma maskulin yang bercampur dengan bau obat-obatan memenuhi indra penciuman Elena.“Aku tidak takut akan kematianmu, Elena. Aku takut pada apa yang akan kulakukan pada dunia ini jika kamu sampai terluka karenaku.”Kalimat itu bukan rayuan. Itu adalah ancaman sekaligus pengakuan dosa. Elena merasakan getaran aneh di dadanya. Seharusnya ia merasa jijik, seharusnya ia lari. Namun, ia justru melihat kesepi
Elena menahan napas, jemarinya mencengkeram lengan kemeja Leon yang masih bernoda darah. Ketakutan itu nyata, namun di saat yang sama, tubuhnya terasa ringan karena demam yang mulai menjalar hebat.Leon bergerak lebih cepat dari bayangan. Dalam satu gerakan halus namun mematikan, ia menarik Elena ke belakang tubuhnya dan mencabut penyadap yang terpasang.Kreik.Pintu terbuka.Bukan penyusup dengan senjata api yang muncul, melainkan Alexo dengan wajah pias dan napas tersengal. “Bos... area luar sudah bersih. Tapi kami menemukan ini di depan kamar Nona Elena.” Alexo meletakkan sebuah mawar hitam yang batangnya dililit kawat berduri hingga meneteskan cairan merah pekat—bukan darah, melainkan tinta atau cat yang berbau amis.Leon tidak menurunkan kewaspadaannya. Ia menatap mawar itu dengan kebencian murni. “Bakar itu. Dan perketat penjagaan di sayap barat. Jika ada satu tikus lagi yang lolos, kepalamu taruhannya.”“Siap, Bos.” Alexo membungkuk dan segera menghilang, menutup pintu rapat-ra
Awalnya hanya pusing ringan, seperti tekanan udara yang berubah tiba-tiba. Ia berdiri di tengah ruang komando The Fortress—ruangan bawah tanah dengan dinding baja dan layar-layar holografik yang berdenyut pelan, sementara Leon memeriksa laporan keamanan pasca serangan gedung opera. “Duduklah,” Leon berkata tanpa menoleh. “Kamu belum benar-benar pulih.” “Aku tidak apa-apa,” balas Elena pelan, meski tangannya bergetar. “Aku baik-baik saja.” Kata-kata itu bahkan belum selesai ketika dunia mendadak terasa miring. Lampu-lampu LED di langit-langit seperti berlipat ganda. Suara sistem pendingin berubah menjadi dengung panjang yang menusuk. Napas Elena tersengal. Jantungnya berdegup tak beraturan, terlalu cepat. Leon menoleh tepat saat tubuh Elena limbung. “Elena!” Ia menangkapnya sebelum kepalanya membentur lantai baja. Tubuh gadis itu panas, terlalu panas. Kulitnya memucat, bibirnya membiru samar. “Medis!” teriak Leon. Suaranya menggema di ruang bawah tanah. Namun sebelum t







