Share

Aturan sang penguasa

Penulis: Novita Ledo
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-26 23:21:14

Ia terbangun oleh ketukan keras di pintu kamar, bukan suara alarm mungil di apartemennya. Ranjang empuk dan selimut mewah justru membuat dadanya sesak. Ruangan terlalu besar, terlalu sunyi, seolah menelan dirinya. Di kursi, jas hitam Leon terlipat rapi; pemiliknya hilang begitu saja, seperti bayangan yang bergerak sendiri.

Elena menghela napas dan membasuh wajahnya di wastafel marmer. Refleksinya sendiri tampak lelah: mata sembab, wajah pucat, senyum yang dipaksa.

“Aku harus kuat,” bisiknya pada bayangan itu.

Di ruang makan, aroma roti panggang dan kopi hitam menyambutnya. Tidak ada kehangatan di sana. Hanya meja panjang penuh makanan mewah dan para pria bertubuh besar yang menoleh menilai. Di ujung meja, Leon duduk seperti penguasa dunia kecilnya, kemeja putih dengan lengan digulung menampilkan lengan kokohnya.

“Elena,” panggilnya. “Duduk di sini.”

Ia menurut, meski tangan gemetar.

Salah satu pria berwajah penuh luka tiba-tiba terkekeh. “Bos, sejak kapan kita mengundang tamu… atau mainan baru?”

Mata Elena panas. Leon menoleh perlahan.

“Jaga mulutmu, Marco.”

“Tapi Bos—”

“Dia bukan mainan. Dia milikku. Dan siapa pun yang tidak menghormatinya…” Tatapannya menusuk, “…tidak menghormatiku.”

Ruangan mendadak beku. Elena tercekat. Antara takut dan lega, bercampur jadi satu.

Setelah sarapan, Leon mengajaknya berkeliling mansion—aula besar, ruang kerja penuh dokumen, halaman belakang dengan kolam berkilau. Semuanya megah. Semuanya terasa seperti sangkar.

Di koridor panjang, Leon menatapnya. “Mulai hari ini, kamu harus mematuhi aturanku.”

“Aturan?” Elena balik menatap, mencoba tegar.

“Satu, kamu tidak boleh keluar mansion tanpa izinku. Dua, tidak boleh bicarakan hal pribadiku. Tiga, apa pun yang terjadi… jangan pernah melawanku.”

“Andai saya melanggar?”

Senyum tipis dan dingin menghias bibirnya. “Kamu tidak akan suka akibatnya.”

Elena mencoba mengatur napas, ia kemudian ke taman. Berusaha mendapatkan udara segar, agar mampu menghapus sesak di dadanya.

Langkah anggun terdengar. Seorang wanita cantik dengan gaun ketat berjalan mendekat. Wajah elegan dengan bibir merah yang membentuk senyum sinis.

“Kamu Elena?”

“Siapa Anda?”

“Aku Sofia. Orang terdekat Leon… sebelum kamu.”

Jantung Elena mencelos.

Sofia mendekat, tatapannya menusuk. “Jangan pernah merasa istimewa. Kamu hanya sementara. Ingat itu.”

Elena merasa ganjil dengan kata itu. 'Sementara'. Namun, ia cepat mengabaikannya karena yang ada di kepalanya hanya sang ayah. Ia melakukan ini demi sang ayah tercinta.

“Kalau kamu pintar, kamu akan pergi sebelum semuanya terlambat,” ujar Sofia lagi sebelum berjalan pergi.

Wanita muda itu kemudian pergi, meninggalkan Elena sendirian.

Saat senja turun, Leon muncul dari balkon, seolah bisa membaca keresahan dari jauh.

“Kenapa murung?” tanyanya tiba-tiba.

“Kenapa saya?” Elena menatapnya. “Kenapa saya yang harus jadi milik Anda?”

Leon terdiam. Sorot matanya berubah gelap.

“Matamu…” ucapnya pelan. “Sama seperti-"

Elena terhenyak. Sebelum ia sempat merespons, langkah cepat terdengar di koridor.

“Bos!” seru Marco. “Ada penyusup di dalam mansion!”

Leon menegang. Mendengar dan melihat situasi itu, Elena tiba-tiba merasakan ketakutan naik ke tenggorokannya.

“Bersiaplah,” kata Leon dingin sebelum pergi.

Tak lama kemudian, Elena mendengar suara gaduh. Tubuhnya bergetar. Mendadak pintu kamarnya terbuka, Leon masuk dengan napas memburu. Ada darah segar di lengan bajunya.

“Leon…?” Elena memandang noda darah itu, ngeri. “Kamu membunuh seseorang?”

Leon tidak menjawab. Ia hanya meneguk air, dingin, seperti sedang memadamkan bara di dalam dirinya.

“Kenapa kamu selalu membuatku merasa takut?” Elena akhirnya meledak. “Aku takut padamu-"

Langkah Leon pelan… tapi mantap. Ia berdiri hanya sejengkal dari Elena, napasnya hangat, aroma anggur bercampur darah.

“Kalau kamu takut,” bisiknya memotong Elena, “kenapa kamu tidak lari?”

“Ayahku. Aku masih ada di sini demi ayah!” jawab Elena.

Tangan Leon terangkat, menyentuh dagunya lembut, berlawanan dengan kegelapan yang mengelilinginya. “Kamu tidak mengerti dunia apa yang sedang kamu masuki.”

“Maka jelaskan,” balas Elena lirih. “Aku juga berhak mengetahui itu.”

Leon memejam sebentar, lalu membuka mata dengan tatapan berat. “Aku akan menghabiskan hidup seseorang... Seorang pengkhianat.” Leon menatap netra Elena, seolah mencari sesuatu di dalam sana. 

Elena merinding. Namun di balik ngeri itu, ia melihat luka yang dalam, luka yang tidak pernah benar-benar hilang dari pria itu.

“Kamu…” suaranya nyaris tak terdengar, “kamu terluka.”

Leon tidak menyangkal. "Jangan berbuat baik. Aku tidak tahu apakah aku ingin menghancurkanmu… atau melindungimu.”

Elena, tanpa sadar, menyentuh lengan Leon yang masih ternoda darah. “Kalau kau ingin menghancurkanku… kenapa matamu terlihat seperti orang yang takut kehilangan?”

Retakan kecil muncul di wajah Leon yang selama ini seperti baja.

Namun sebelum ia bisa menjawab—

“Bos! Ada mayat lain ditemukan di gerbang depan!” teriak seseorang dari luar balkon.

Elena tersentak. Leon kembali seperti dirinya yang dingin dan tak tersentuh.

“Mulai malam ini, Elena…” suaranya dalam dan berbahaya, “kamu bukan hanya bagian dari hidupku.”

Elena mematung, jantungnya berdentum keras.

“Kamu juga bagian dari kegelapanku.”

Dan dari luar koridor… terdengar suara langkah asing yang jelas bukan milik salah satu dari mereka.

Suara itu berhenti tepat di depan pintu kamar Elena.

Gagang pintu bergerak pelan.

Seseorang atau sesuatu yang sedang mencoba masuk.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pengganti Hati Sang Mafia   Kisah Masa Lalu

    Mansion itu terasa terlalu luas dan sunyi sejak iring-iringan mobil hitam Leon membelah gerbang. Elena berdiri di perpustakaan, namun matanya tak benar-benar membaca barisan kalimat di buku tuanya. Pikirannya tertinggal pada kecupan di dahi dan janji yang diucapkan Leon sebelum pergi."Jangan takut pada kegelapanku. Aku sedang belajar menjadi terang, karena kamu."Kalimat itu terus bergema, menghangatkan dadanya sekaligus menyisipkan rasa takut yang baru. Bagaimana jika "terang" itu padam sebelum benar-benar bersinar?Tiga jam berlalu sebelum suara menderu mobil kembali terdengar. Elena hampir berlari menuju lobi utama. Pintu besar terbuka, menampilkan sosok Leon. Kemeja hitamnya sedikit kusut, ada noda tanah di sepatunya, tapi matanya yang tajam langsung melunak saat menangkap bayangan Elena di puncak tangga."Aku kembali," ucap Leon. Suaranya serak, namun stabil.Elena tidak peduli pada protokol atau tatapan para pengawal yang masih siaga di belakang Leon. Ia menuruni tangga dan lan

  • Pengganti Hati Sang Mafia   Antara Sumpah dan Perasaan

    Leon tidak langsung menjawab.Tatapannya turun pada wajah Elena yang masih pucat karena demam semalam. Rambut gadis itu tergerai berantakan di bahunya, matanya sedikit sembab, tapi keberanian di sana tak pudar sedikit pun.Di dunia Leon, orang-orang gemetar sebelum berbicara. Elena justru berdiri di hadapannya, menantang tanpa suara.“Apa kamu sadar,” ucap Leon pelan, suaranya rendah dan bergetar samar, “kalau pilihan untuk tetap di sini berarti masuk lebih dalam ke sesuatu yang tidak akan bisa kamu tinggalkan dengan mudah?”Elena tidak mundur.“Aku tidak pernah punya banyak pilihan dalam hidupku,” jawabnya jujur. “Sejak ayahku berhutang pada orang-orang yang salah… hidupku selalu ditentukan orang lain. Untuk sekali ini, biarkan aku memilih.”Leon menatapnya lama.Ada sesuatu dalam dadanya yang bergerak, seperti sesuatu yang sudah lama ia kubur bersama masa kecilnya. Ia terbiasa dengan kesetiaan yang dibeli, rasa hormat yang dipaksakan, dan cinta yang bersyarat. Tapi yang berdiri di d

  • Pengganti Hati Sang Mafia   Didikan yang salah

    “Apa itu?”Leon tidak langsung menjawab.Ia menatap jari-jarinya sendiri yang masih disentuh Elena, seolah sentuhan itu sesuatu yang asing baginya. Lalu perlahan ia mengangkat pandangannya.“Semalam,” ucapnya rendah, suaranya tidak lagi setajam biasanya, “aku menyadari bahwa untuk pertama kalinya dalam lima tahun… aku tidak ingin kehilangan seseorang lagi.”Kalimat itu jatuh pelan, tapi berat.Elena terdiam. Ada sesuatu dalam nada Leon yang berbeda—bukan ancaman, bukan perintah. Itu terdengar seperti pengakuan yang ia benci untuk miliki.“Kehilangan siapa?” Elena bertanya hati-hati.Rahang Leon mengeras lagi. Refleks lama. Luka lama.“Siapa pun,” jawabnya singkat.Hening kembali mengisi ruangan. Kabut di luar jendela mulai menipis, memperlihatkan taman luas yang dingin dan tertata sempurna. Segalanya terlihat terkendali di luar sana. Tidak seperti yang ada di dalam kamar itu.“Elena,” lanjut Leon, kali ini tanpa menatapnya, “aku tumbuh di rumah yang lebih mirip penjara daripada mansio

  • Pengganti Hati Sang Mafia   Sebuah Kejujuran

    Elena tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung kesedihan. “Anda bohong. Tatapan Anda semalam... saat Anda menatap mataku dan menyebut tentang 'seseorang'. Siapa dia?”Rahang Leon mengeras. Ia bangkit berdiri, berjalan menuju jendela yang menampakkan taman luas yang masih berkabut. “Sudahlah jangan dibahas."Elena tertegun. Ia mencoba duduk meski kepalanya berdenyut. “Dan Anda takut aku juga akan berkhianat seperti masa lalu Anda Tuan?"Leon berbalik, sorot matanya kembali gelap dan intens. Ia melangkah mendekat, membungkuk hingga wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari Elena. Aroma maskulin yang bercampur dengan bau obat-obatan memenuhi indra penciuman Elena.“Aku tidak takut akan kematianmu, Elena. Aku takut pada apa yang akan kulakukan pada dunia ini jika kamu sampai terluka karenaku.”Kalimat itu bukan rayuan. Itu adalah ancaman sekaligus pengakuan dosa. Elena merasakan getaran aneh di dadanya. Seharusnya ia merasa jijik, seharusnya ia lari. Namun, ia justru melihat kesepi

  • Pengganti Hati Sang Mafia   Di rawat

    Elena menahan napas, jemarinya mencengkeram lengan kemeja Leon yang masih bernoda darah. Ketakutan itu nyata, namun di saat yang sama, tubuhnya terasa ringan karena demam yang mulai menjalar hebat.Leon bergerak lebih cepat dari bayangan. Dalam satu gerakan halus namun mematikan, ia menarik Elena ke belakang tubuhnya dan mencabut penyadap yang terpasang.Kreik.Pintu terbuka.Bukan penyusup dengan senjata api yang muncul, melainkan Alexo dengan wajah pias dan napas tersengal. “Bos... area luar sudah bersih. Tapi kami menemukan ini di depan kamar Nona Elena.” Alexo meletakkan sebuah mawar hitam yang batangnya dililit kawat berduri hingga meneteskan cairan merah pekat—bukan darah, melainkan tinta atau cat yang berbau amis.Leon tidak menurunkan kewaspadaannya. Ia menatap mawar itu dengan kebencian murni. “Bakar itu. Dan perketat penjagaan di sayap barat. Jika ada satu tikus lagi yang lolos, kepalamu taruhannya.”“Siap, Bos.” Alexo membungkuk dan segera menghilang, menutup pintu rapat-ra

  • Pengganti Hati Sang Mafia   Musuh Sesungguhnya.

    Awalnya hanya pusing ringan, seperti tekanan udara yang berubah tiba-tiba. Ia berdiri di tengah ruang komando The Fortress—ruangan bawah tanah dengan dinding baja dan layar-layar holografik yang berdenyut pelan, sementara Leon memeriksa laporan keamanan pasca serangan gedung opera. “Duduklah,” Leon berkata tanpa menoleh. “Kamu belum benar-benar pulih.” “Aku tidak apa-apa,” balas Elena pelan, meski tangannya bergetar. “Aku baik-baik saja.” Kata-kata itu bahkan belum selesai ketika dunia mendadak terasa miring. Lampu-lampu LED di langit-langit seperti berlipat ganda. Suara sistem pendingin berubah menjadi dengung panjang yang menusuk. Napas Elena tersengal. Jantungnya berdegup tak beraturan, terlalu cepat. Leon menoleh tepat saat tubuh Elena limbung. “Elena!” Ia menangkapnya sebelum kepalanya membentur lantai baja. Tubuh gadis itu panas, terlalu panas. Kulitnya memucat, bibirnya membiru samar. “Medis!” teriak Leon. Suaranya menggema di ruang bawah tanah. Namun sebelum t

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status