Home / Romansa / Pengganti Ranjang Ndoro / Bukan Harapan Palsu

Share

Bukan Harapan Palsu

Author: Strawberry
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-09 21:36:45

“Tidak ada harapan palsu yang keluar dari bibirku, Nismara. Masalahnya, kamu yang tidak mempercayainya” tegas Satria.

Lampu minyak di sudut meja memendarkan cahaya kekuningan yang temaram, memantulkan bayangan tubuh mereka yang saling berhadapan di dinding kayu yang terawat. Ini bangunan tua yang terawat. Tidak ada listrik hanya penerangan dari lampu minyak.

Nismara berdiri kaku, ia masih tidak bisa percaya dengan apapun yang dikatakan Satria barusan, ia menuntut jawaban atas kebohongan yang ba
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Pengganti Ranjang Ndoro   Kebenaran yang Tertunda

    Nismara mendongak, menatap lurus mata pria yang berdiri tegap di hadapannya demi menemukan sebintik kejujuran di sana. Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya—senyuman yang tak lagi memuat ketakutan, melainkan sebuah penantian dingin."Mas Satria tahu kan bukti itu ada di mana?" tanyanya pelan.Satria bergeming. Hening menggantung di antara mereka beberapa saat, membiarkan deru rintik hujan di luar koridor membalas pertanyaan Nismara. Satria menatap Nismara dengan sorot mata yang tak tertebak."Aku tidak tahu," jawab Satria akhirnya, suaranya terdengar rendah dan berjarak.Nismara tak memprotes. Ia hanya mengangguk pelan, lalu berbalik membelakangi Satria."Baiklah... kita istirahat," ucap Nismara halus.Tanpa menunggu balasan dari pria di belakangnya, Nismara mempercepat langkahnya. Tumit kakinya menapak tegas di atas lantai kayu koridor, bergerak menuju kamar dengan ketetapan hati.“Nismara, aku benar-benar tidak tahu!” Ucap Satria setengah berteriak tapi Nismara menulikan pendenga

  • Pengganti Ranjang Ndoro   Hilang

    “Ndoro Ayu…sebaiknya Ndoro Ayu tenangkan diri dulu…” ucapan Nismara berhasil membuat Prameswari terkejut. Suara Nismara terdengar begitu tenang, bahkan ketika mata Prameswari membulat penuh terkejut. Nismara berdiri tegak di tempatnya tanpa sedikitpun ragu atau rasa panik, menatap Prameswari yang terlihat kacay hadapannya dengan sorot mata jernih.Bahkan, saat ini Nismara malah kasihan dengan Prameswari setelah tahu kebenarannya dari Budhe Murni."Aku yakin kamu tidak akan setenang itu setelah tahu kenyataannya, Nismara!" cibir Prameswari, bibirnya yang pucat menyunggingkan senyum sengit.Nismara tak bergeming. Ia hanya merapikan jemarinya yang saling bertaut di balik lipatan kain gaunnya. "Apa pun itu, Ndoro Ayu...Sebaiknya Ndoro Ayu istirahat dulu, Ndoro Den sudah ada di sini, ia tidak akan kemana-mana."“Kamu hanya pelayan! Kamu mengajariku?!” sungutnya dengan emosi yang menggulung.Nismara mencoba menyentuh bahu Prameswari “Ndoro Ayu…tenang ya…”Prameswari memutar tubuhnya kasar,

  • Pengganti Ranjang Ndoro   Berhenti Mengancamku!

    “Nismara…apapun yang terjadi di dalam nanti, perasaanku, janjiku padamu tidak akan berubah! Kamu mengerti?” tegas Satria sebelum mesin mobil benar-benar mati.Nismara tersenyum, kemudian mengangguk “Mengerti.”Hujan yang mengguyur Tirtawening belum sepenuhnya reda saat mobil hitam milik Satria akhirnya berhenti presisi di depan halaman kediaman utama Sasmita. Lampu gantung teras membiaskan pendar kekuningan yang temaram, memperlihatkan beberapa abdi dalem yang berdiri cemas dengan wajah pucat di dekat anak tangga.Satria melangkah turun lebih dulu tanpa mematikan mesin, memutari kap mobil lalu membukakan pintu untuk Nismara. Tanpa mengucap sepatah kata pun, jemari tegapnya menggenggam erat tangan Nismara—sebuah gestur diam yang menegaskan bahwa wanita itu tak akan melangkah sendirian di dalam rumah ini.Sastro yang sudah tiba lebih awal bergegas menyambut mereka di ambang pintu utama."Bagaimana di atas?" tanya Satria singkat, nadanya datar tanpa ada riak kepanikan."Ndoro Ayu mengun

  • Pengganti Ranjang Ndoro   Pengganti Ranjang

    "Kirana... Kirana..."Napas Budhe Murni terdengar tersendat saat melafalkan nama itu. Pandangannya bergeser ragu, menatap wajah kaku Satria."Kirana pernah menjadi perempuan pengganti di ranjang Ayah Ndoro Den Satria... saat Ibunda Ndoro Den sedang mengandung Ndoro Den."Satria tak memudar ekspresinya, seolah informasi itu sudah lama singgah di kepalanya. Berbeda dengan Nismara—dada gadis itu seketika bergemuruh pelan. Nismara memilih merapatkan bibir, kini mengerti alasan Kirana menyindir bahwa dirinya sudah ada di sekitar orang tuanya jauh sebelum Nismara lahir ke dunia."Bibi tahu apa saja yang ia lakukan selama satu tahun itu?" tanya Satria singkat, bernada datar tanpa intonasi tinggi."Selama satu tahun itu, dia selalu pergi bersama Ayah Ndoro Den," cerita Budhe Murni, suaranya pelan dan bergetar. "Lebih banyak ikut ke tempat kerja ketimbang diam di rumah. Karena Kirana cerdas, dia juga membantu mengurus pekerjaan Ndoro Besar.""Apa dia pernah bertemu dengan Harya Kalingga?" poto

  • Pengganti Ranjang Ndoro   Anak Rahasia

    "Budhe... Bibi Kirana cerita banyak hal. Kenapa Budhe malah panik? Budhe pasti kenal Bibiku, kan?" tanya Nismara polos, menatap wanita tua itu dengan nada suara yang tenang.Budhe Murni menggeleng kuat-kuat."Aneh... Harusnya kenal sih. Kata Bibi, dia sudah ada di dekat Ibu dan Ayah jauh sebelum aku lahir," gumam Nismara pelan, lebih seperti bicara pada dirinya sendiri."Nismara... Kamu dan Ndoro Den sudah tahu semuanya?" tanya Budhe Murni, nadanya kian panik.Nismara mengangguk pelan. Sebuah anggukan polos, sebab ia sendiri sebenarnya tidak benar-benar paham arti kata 'semuanya' yang dimaksud oleh Budhe Murni.Reaksi itu membuat Budhe Murni seketika bergeser turun dari tepi dipan. Wanita tua itu duduk bersimpuh di atas tanah dingin, tepat di kaki Nismara. Dari sudut ruangan, Satria mengawasi gestur itu dengan mata dingin. Ia memberi isyarat gelengan kepala saat Nismara hendak bergerak membantunya berdiri."Ampuni Budhemu ini, Nismara... Budhe tidak pernah bermaksud jahat. Kebaikan da

  • Pengganti Ranjang Ndoro   Kebaikan Yang Tersisa

    "Budhe... dari dulu aku selalu menganggap Budhe seperti orangtuaku sendiri. Budhe selalu ada di sampingku... Jadi ternyata, semua itu cuma pura-pura?"Budhe Murni tidak menjawab. Wajah tuanya tetap menunduk dalam.Nismara tersenyum tipis—sebuah senyuman getir yang menyembunyikan rasa kecewanya. "Aku nggak marah kok sama Budhe. Aku masih ingat semua kebaikan Budhe padaku selama ini... Aku cuma butuh alasan Budhe."Lagi-lagi, tak ada suara yang keluar dari bibir keriput wanita itu.Nismara berlutut pelan di hadapan kursi kayu tersebut. Tangannya terulur meraih pipi Budhe Murni, lalu mengusap air mata yang menetes di sana dengan ibu jarinya."Budhe... Boleh katakan padaku kenapa?" bujuk Nismara lembut.Tetap hening. Budhe Murni mengatupkan bibirnya rapat-rapat, enggan membalas tatapan Nismara.Nismara menarik napas panjang, lalu berdiri dan berbalik menatap Satria yang sejak tadi mengawasi dari sudut ruangan."Mas Satria, boleh nggak aku lepas ikatannya? Tangan Budhe pasti sakit..." pint

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status