FAZER LOGIN"Kalung? Kalung apa?" tanya Nismara tidak mengerti."Kalung peninggalan Bibi Kejora," jawab Bramantyo.Perlahan Nismara meraba lehernya yang polos. Ia baru teringat kalung liontin giok hijau itu masih dipegang oleh Satria, karena sampai saat dia pergi kalung itu disimpan Satria dengan alasan demi keamanan."Kenapa kamu mencari kalung itu?" tanya Nismara curiga."Nismara... di mana kalung itu sekarang?" suara Bramantyo naik, penuh penekanan. Bahkan tidak mengindahkan pertanyaan Nismara."Memangnya kenapa kamu mendesak mencari kalung itu? Apa keluarga besar tidak percaya kalau aku anak Ibu tanpa benda itu?"Bramantyo menarik napas berat. Ia menyandarkan siku di meja, mengepalkan tangan seolah menahan kekesalan yang mulai meluap."Ya. Cuma kalung itu bukti sah yang menunjukkan kalau kamu memang anak kandung Bibi Kejora," sahut Bramantyo dingin.Kening Nismara berkerut tipis. Rasa curiga di dadanya kian menebal melihat perubahan raut wajah pria di hadapannya."Tapi kamu bilang kamu sudah
Satria menyandarkan punggungnya dengan kasar ke sandaran jok, lalu mengacak rambutnya sendiri. Napasnya terdengar berat."Kenapa bisa hilang? Gimana kalian jaganya?" tanya Satria dengan nada tajam.Sastro memutar roda kemudi menembus tikungan jalan menuju Kaliwungu, sesekali melirik spion tengah."Ada dua orang penjaga di depan pintu, Ndoro Den. Seharusnya semua yang keluar masuk harus lewat izin mereka dulu," lapor Sastro.Sastro menarik napas panjang, menahan jeda sebelum melanjutkan kalimatnya. "Bramantyo datang. Dia bilang ke penjaga kalau dia orang suruhan Ndoro Den."Satria menepuk dashboard mobil dengan telapak tangannya. "Bodoh! Bodoh!" umpatnya kesal, matanya menatap lurus ke jalanan di depan."Maafkan saya, Ndoro Den. Ini kelalaian saya. Saya lupa memberitahu mereka kalau yang boleh masuk cuma Ndoro Den dan saya, selain pelayan rumah."Satria mengibaskan tangannya singkat. "Sudahlah! Tidak ada gunanya kita ribut sekarang. Kita harus segera ambil Nismara!""Kita langsung ke D
"Tidak ada Ndoro Den! Tidak ada rahasia lagi! Hanya itu!" racau Budhe Murni histeris, tubuh tuanya gemetar menghadapi tatapan dingin Satria.Satria menatap wanita tua itu tanpa sedikit pun belas kasihan. "Dengar… aku memang tidak biasa menyakiti wanita, apalagi wanita tua sepertimu. Tapi orang-orangku bisa. Mereka bisa memberimu rasa sakit yang bahkan tidak pernah kamu bayangkan seumur hidupmu."Meskipun tangisnya makin pecah, Budhe Murni masih enggan mengaku. Mulutnya terkatup rapat, seolah ada ketakutan yang jauh lebih besar daripada ancaman Satria."Biar aku katakan padamu, Murni," lanjut Satria dengan nada rendah. "Aku sudah tahu semuanya. Aku di sini cuma mengetes sejauh mana kejujuranmu."Mendengar hal itu, pertahanan Budhe Murni runtuh. "Ta-tahu? Ndoro Den… tolong, jangan sakiti Ndoro Ayu Prameswari! Beliau… beliau cuma menuruti perintah ayahnya!" memohon Budhe Murni seraya menundukkan kepalanya dalam-dalam ke lantai papan.Satria bergeming di tempatnya, berdiri kaku seperti pa
Hujan gerimis mulai membasahi dedaunan lebat di sekitar gubuk tengah hutan. Bau tanah basah beradu dengan aroma kayu lapuk dan kelembaban yang terkunci di dalam ruangan kecil itu.Di sudut ruangan yang remang-remang, Budhe Murni duduk bersimpuh di atas lantai papan. Kedua tangannya terikat kaku di belakang punggung. Tubuh tua itu gemetar, matanya yang sembab oleh air mata terus bergulir liar menatap pintu kayu yang terkunci rapat dari luar.Klek.Bunyi engsel kayu yang berderit memecah keheningan. Satria melangkah masuk dengan tenang. Ia menyapu pandangan ke sekeliling ruangan sebelum matanya tertuju lurus pada wanita tua yang makin menciut di sudut.Di belakangnya, Sastro menyusul masuk, menutup pintu kayu tersebut rapat-rapat dan berdiri kaku di dekat ambang pintu.Satria berjalan pelan, menarik sebuah kursi kayu tua yang berdebu lalu mendudukinya tepat di hadapan Budhe Murni. Ia menyilangkan kaki, menyandarkan punggungnya dengan santai. Tak ada senyum, tak ada amarah yang meledak-l
“Jadi itu memang kamu?” Bramantyo menjawab Nismara dengan pertanyaan.“Iya…aku yakin kamu tahu kalau tanda itu dariku” jawab Nismara dengan ritme yang cepat seolah takut ketahuan.Bramantyo mengangguk perlahan. Tatapannya meneliti Nismara dari kepala hingga ujung kaki, menyadari raut pucat yang masih berbekas di wajah gadis itu."Kenapa kamu melakukan ini, Nismara?" bisik Bramantyo dengan kening berkerut. "Aku kan sudah bilang... tunggu sebentar lagi. Aku akan menjemputmu secara baik-baik dengan cara yang benar."“Cara yang benar? Aku tidak tahu bagaimana cara yang benar itu? Dua puluh satu tahun aku hidup di tengah hutan dan tidak pernah bertemu manusia, menurutmu apa aku mengerti?” cecar Nismara tidak sabar dan emosional.“Nismara…Bukan itu maksudku, aku turut prihatin dengan apa yang menimpamu..” Bramantyo mencoba menenangkan.Nismara menarik napas panjang. Sikap tenang dan serba tertata yang ditunjukkan Bramantyo justru membuat Nismara semakin tidak sabar."Aku hanya butuh bantuan
Satria turun dari peraduan, melangkah menuju kamar mandi untuk mengambil selembar handuk kecil dan membasahinya dengan air hangat. Kembali ke sisi ranjang, ia menyeka lembut sisa-sisa cairan hangat miliknya yang menempel di atas kulit perut Nismara."Ndoro Den… tidak perlu, saya bisa bersihkan sendiri," bisik Nismara halus, berniat mengambil handuk itu dari tangan Satria.Satria tersenyum tipis, menahan gerakan tangan Nismara. "Kamu baru saja pulih, tidak usah banyak bergerak dulu."Ia meraih kemeja putih miliknya dari atas kursi, menyarungkannya ke tubuh Nismara lalu mengancingkannya satu per satu. Kemeja itu tampak kebesaran, menutupi paha Nismara dengan longgar."Istirahatlah," ucap Satria, mengusap puncak kepala Nismara dengan lembut. "Aku harus pergi sebentar untuk menyelesaikan satu urusan. Begitu selesai, aku akan langsung kembali ke sini."Nismara mengangguk pelan tanpa menyela.Pandangannya tertuju lurus pada punggung Satria hingga pria itu menghilang di balik pintu yang tert







