Beranda / Romansa / Madu Untuk Ndoro / Dekat Tapi Jauh

Share

Dekat Tapi Jauh

Penulis: Strawberry
last update Tanggal publikasi: 2026-09-14 22:17:21

Pagi itu Nismara bangun lebih dulu.

Satria masih tertidur di sampingnya, satu tangan masih melingkar di pinggangnya seolah bahkan dalam tidurpun pria itu takut melepaskan. Nismara menatap wajah itu dalam diam. Garis rahangnya yang tegas terlihat lebih lembut saat tertidur. Bibirnya yang biasanya selalu menyimpan perintah, kini terkatup tenang.

Nismara mengulurkan jari, hampir menyentuh pipi Satria, tapi akhirnya menarik tangan itu kembali.

Ia tidak boleh memiliki perasaan ini. Perasaan terbiasa
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Ria Nur
Satria sudah jatuh cinta,,,Nismara ragu
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Madu Untuk Ndoro   Bersama Agung

    “Ndoro Ayu lupa kalau Ndoro Ayu harus menuruti apa yang saya mau.”Agung menarik kain yang menutupi tubuh Prameswari dalam satu gerakan kasar. Kain itu terlepas, menyisakan dada yang terbuka di bawah cahaya lampu minyak yang temaram.“Agung… jangan di sini…” bisik Prameswari, suaranya gemetar. Matanya sempat melirik ke arah Satria yang masih terbaring kaku di sisi lain ranjang, napasnya berat dan tidak teratur.Agung mendekatkan tubuhnya, menekan Prameswari hingga punggung perempuan itu menempel ke sandaran kayu. Ia berbisik tepat di telinga Prameswari, napasnya hangat dan kasar.“Justru itu… Kalau tidak melakukannya, Ndoro Den tidak akan percaya kalau kalian sudah melakukannya.”Setelah berbisik seperti itu, Agung mulai mencium leher Prameswari. Bibirnya basah, gigitannya tidak hati-hati. Tangannya naik, meremas payudara Prameswari dengan kuat, ibu jari menggosok puting yang sudah mengeras karena udara malam dan ketegangan.“Teriak, Ndoro Ayu…” desis Agung di sela kecupan. “Biarkan o

  • Madu Untuk Ndoro   Kekacauan demi Kekacauan

    Kedua tangan Satria mendarat di kedua sisi lengan Nismara, sudut bibirnya sedikit terangkat."Karena mereka ingin membuat arus kas perkebunan macet malam ini," pangkas Satria seraya membetulkan gulungan kemejanya. "Aku harus menyelesaikannya sebelum subuh. Kamu tetap di kamar, kunci pintu."Satria melangkah lebar meninggalkan kaputren, membelah kegelapan malam perkebunan menuju jalur hilir.Satu jam kemudian.Gerimis tipis turun mengguyur jalur makadam di kawasan hilir perkebunan. Wisma Transit Hilir—sebuah bangunan kayu tua peninggalan era awal perkebunan yang sepi—tampak remang-remang di bawah naungan pohon beringin.Satria menuntun kudanya mendekati teras wisma. Suasana terlalu sunyi. Tidak ada truk terparkir, tidak ada penumpukan barang seperti yang dilaporkan Sastro.Naluri bahaya Satria mendadak menyala. Pria itu menyadari ada yang tidak beres dan berbalik hendak memutar arah kudanya.BUK!Sebuah hantaman kayu keras mendarat telak di punggung dan bahu kiri Satria dari balik baya

  • Madu Untuk Ndoro   Apa Harus?

    Pintu kamar mendadak ketuk dua kali secara santun dari luar, sebelum Asih melangkah masuk membawa baki berisi cangkir teh hangat. Gadis itu menundukkan kepala dalam-dalam, menaruh baki di meja tanpa berani membuka suara atau mengangkat pandangan. Tata krama abdi kaputren dijaga ketat—ia hanya menjalankan tugas rutinnya, lalu segera membungkuk pamit mundur saat langkah kaki berwibawa mendekat dari lorong.Satria melangkah masuk ke dalam kamar. Kemeja dril abu-abunya tergulung sebatas siku, dan wajahnya tampak kaku penuh kesibukan setelah seharian berurusan dengan surat-menyurat pendopo.Satria merogoh saku kemejanya, mengeluarkan kertas segel baru berstempel notaris karesidenan yang tintanya masih basah, lalu meletakkannya di samping cangkir teh Nismara."Dokumen pendaftaran hak waris tanah bapakmu sudah masuk ke notaris karesidenan," kata Satria datar, tanpa basa-basi. "Tiga hari lagi salinan resminya keluar. Bramantya atau Raden Arya tidak bisa lagi menggunakan surat tua itu untuk

  • Madu Untuk Ndoro   Jaring

    Prameswari berdiri kaku. Kalimat Bramantya yang membandingkannya dengan Nismara membuat dadanya sesak oleh amarah. Jemarinya meremas mantel tipis yang ia kenakan hingga kusut, namun sebelum ia sempat membalas, pintu depan rumah berarsitektur Indische itu didorong terbuka kasar dari luar.Langkah sepatu kulit menapak berat di atas lantai ubin. Prameswari menoleh cepat dengan jantung berdebar.Seorang pria paruh baya berkulit gelap dengan setelan beskap karesidenan melangkah masuk. Tongkat kayu berukir di tangan kanannya menghentak ubin dengan bunyi nyaring. Pria itu adalah Raden Arya Pradipta. Wajahnya yang biasa tenang kini memerah kaku oleh kemurkaan."Prameswari!" bentak Raden Arya, suaranya yang berat memenuhi ruang tamu yang sepi. "Apa yang kamu lakukan di sini?"Prameswari tersentak, mundur satu langkah. "Bapak...""Kamu berlari ke kota sendirian tanpa memberitahuku?" Raden Arya melangkah mendekat, mengabaikan Bramantya yang berdiri di dekat meja jengki. "Kamu pikir tindakan ter

  • Madu Untuk Ndoro   Gagal

    "Cepat sedikit, Pak!" bentak Prameswari pada pengemudi di depannya, padahal dia sendiri tidak tahu apakah langkah yang diambilnya sudah benar tapi dia takut kehilangan senjatanya untuk menahan Satria.Satu jam kemudian, mobil sedan itu berhenti di depan pelataran rumah beratap sirap dengan pagar kayu jati yang tinggi di sudut kota karesidenan. Bangunannya berarsitektur Indische* bergaya lama, terasing dari pemukiman warga, dan tampak sepi di bawah naungan pohon trembesi.Prameswari mendorong pintu sedan bahkan sebelum roda mobil benar-benar berhenti. Langkah sepatu bertumit tingginya beradu keras dengan ubin semen teras saat ia menerobos pintu depan tanpa mengetuk.Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya melangkah ke pintu rumah itu, dia berharap Bramantya bisa diajak kerja sama."Bram!" panggil Prameswari setengah berteriak.Dari balik pintu ruang tengah, seorang pria berpenampilan rapi dengan setelan jas dril putih khas priyayi kolonial melangkah keluar seraya memegang cangkir ku

  • Madu Untuk Ndoro   Jangan Putuskan!

    "Kamu nggak bisa memutuskan ini sendiri, Nismara," pangkas Satria kaku, napas hangatnya menyapu pelipis Nismara saat pelukannya di pinggang wanita itu makin mengencang.“Kamu tahu, apapun yang kamu mau aku akan berikan tapi jangan pernah bermimpi untuk pergi dariku!” imbuhnya penuh penekanan.Nismara merasakan hangatnya dekapan Satria di punggung dan pinggangnya. Aroma khas minyak kayu cendana bercampur debu perkebunan dari tubuh pria itu tercium jelas, tapi Nismara tidak tinggal diam. Kedua tangannya tertahan di dada kemeja Satria, memberi jarak tipis di antara mereka. "Aku nggak memutuskannya sendiri, Mas Satria," sahut Nismara pelan, matanya menatap kancing kemeja pria itu sebelum perlahan mendongak. "Mas Satria yang memulainya sejak membiarkan surat itu tersembunyi. Mas Satria ingin memegang kendali atas hidupku, atas tempat tinggalku, bahkan atas alasanku untuk bertahan di Tirtawening."Satria mengetatkan rahangnya menahan amarah. "Aku melakukan itu untuk melindungimu dari Rade

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status