Compartilhar

Sandera

Autor: Strawberry
last update Data de publicação: 2026-10-01 23:01:38

Satria melangkah kembali ke dalam kamar tidur yang remang. Nismara masih duduk di tepi ranjang, merapatkan selimut ke dadanya dengan wajah bingung.

Dari belakang, Satria mendekap tubuh ringkih itu. Ia menyandarkan dagunya di bahu Nismara, lalu mendaratkan kecupan hangat di puncak kepalanya cukup lama.

"Aku harus pergi lagi," ucap Satria pelan.

Nismara menoleh sedikit, menatap samping wajah Satria dari dekat. "Kemana?"

Satria tersenyum tipis—senyuman singkat yang ia paksakan agar Nismara tidak m
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Madu Untuk Ndoro   Rahasia

    Asih menggamit lengan Nismara rapat-rapat. Jemari gadis itu gemetar, buru-buru mempercepat langkah kaki demi mengejar pergerakan Nismara yang memang lincah meski tubuhnya belum sepenuhnya pulih."Nismara... tunggu dulu," bisik Asih setengah berbisik, matanya berkali-kali menoleh ke belakang, takut kalau-kalau Mbok Nah atau abdi lain membuntuti mereka dari taman samping. "Memangnya apa maksudmu tadi? Apa... apa Ndoro Ayu bukan darah biru asli?"Nismara menghentikan langkahnya sejenak sebelum menutupi ambang pintu lorong kaputren. Ia melirik Asih dengan raut tenang yang sulit dibaca."Kamu sangat pintar menebak, Asih," sahut Nismara pelan, menyunggingkan senyum tipis. "Tapi lebih baik kita tidak usah membahasnya lagi. Aku hanya menggertaknya."Asih menarik napas panjang, mengelus dadanya yang berdebar kencang. Ia ingin bertanya lebih lanjut, namun tatapan mata Nismara yang dingin menyiratkan batas yang tak boleh dilangkahi.Begitu mereka menginjakkan kaki di pelataran depan kaputren, la

  • Madu Untuk Ndoro   Bukan Dara Murni

    Mau lari ke mana lagi kamu, Nismara?"Suara dingin Prameswari mendadak memotong sunyinya lorong samping kediaman utama.Nismara menghentikan langkahnya seketika. Padahal, ia sengaja mengambil jalur lingkar yang sepi, meniti pelataran batu berlumut dengan bantuan Asih yang memegangi siku lengannya. Tubuhnya masih amat pegal dan lemas usai menghadap Pangarsa Sesepuh di Sasana Agung. Namun, menghindar dari keretakan rumah ini rupanya tidak semudah memutar arah langkah.Di bawah naungan pohon kamboja tua yang membatasi taman dengan paviliun utama, Prameswari berdiri mencegat jalan. Lengannya bersilang di dada, terbalut kebaya sutra pudar yang menyembunyikan kerapuhan fisiknya usai kejadian semalam. Di belakangnya, Mbok Nah berdiri bagai bayangan kelam yang siap menjalankan perintah.“Ada apa lagi mereka menghadang kita,” dumal Nismara merasa kesal. Dia sudah capek terus-terusan berseteru dan beradu argumen dengan Prameswari, namun tampaknya Prameswari memang sangat bersemangat mengajak

  • Madu Untuk Ndoro   Saya Bukan Budak!

    Satria terpaksa meninggalkan paviliun pagi itu.Ada urusan di perkebunan yang sangat mendesak. Ia menerima laporan ada kerusakan saluran air dan sengketa batas tanah yang tidak bisa ditunda lagi. Sebelum pergi, dia sempat berlutut di sisi dipan, menggenggam tangan Nismara cukup lama.“Jangan kemana-mana, hm?,” katanya pelan tapi tegas. “Tunggu sampai aku pulang.”Nismara hanya mengangguk.Namun belum genap satu jam setelah Satria pergi, Asih masuk dengan wajah tegang.“Nismara… Pangarsa Sesepuh memanggilmu ke Sasana Agung. Sekarang.”Nismara terdiam sejenak. Berbagai pertanyaan mendadak berputar di kepalanya. Untuk apa para tetua memanggilnya?Meski bingung dan tubuhnya masih amat lemah, Nismara tahu ia tidak punya pilihan selain datang. Menolak hanya akan membuat mereka curiga seolah ia memiliki kesalahan, padahal ia tidak merasa melakukan kejahatan apa pun. Lagipula, ia tidak takut pada apa pun.Dengan bantuan Asih, Nismara berganti kebaya yang rapi dan merapikan gelung rambutnya. S

  • Madu Untuk Ndoro   Di Sisi Yang Sama

    Nismara terbangun karena rasa hangat di punggung tangannya.Satria masih di situ. Kepalanya tertunduk dengan dahi menempel di tepi dipan, jari-jari panjangnya menggenggam tangan Nismara seolah takut melepaskannya. Napasnya teratur, tapi jelas dia tidak benar-benar tidur.Nismara menggerakkan jari.Satria langsung mengangkat wajah. Matanya merah, sedikit bengkak, tapi saat bertemu pandang dengan Nismara, ada kelegaan yang begitu kentara.“Sudah bangun?” suaranya parau.Nismara mengangguk pelan.Satria bangkit, menuangkan air hangat, lalu menolong Nismara duduk dengan gerakan yang sangat hati-hati. Satu lengan menopang punggungnya, yang lain memegang cangkir.“Minumlah,” katanya. “Bagaimana keadaanmu? Apa kamu merasa jauh lebih baik?”Nismara menyesap air itu, ada rasa hangat merayap perlahan. Sebelum akhirnay dia mengangguk pelan.“Mas Satria, kamu nggak tidur sama sekali, ya?”Satria tidak menjawab langsung. Dia hanya menarik kursi lebih dekat dan duduk lagi, masih memegang tangan Nis

  • Madu Untuk Ndoro   Yang Tersembunyi

    Langkah Satria berderap cepat menerobos ambang pintu kamar. Pria itu langsung menghampiri meja kayu kecil di sudut ruangan. Permukaannya kini kosong melompong, menyisakan bekas gesekan tipis di atas lapisan debu halus.Kotak kayu peninggalan almarhum ayah Nismara benar-benar hilang."Sastro!" panggil Satria tajam, suaranya dipenuhi amarah yang kembali membakar. Pria itu berbalik hendak melangkah keluar. "Ada pencuri lain yang masuk lewat lorong samping saat kita di pendopo!""Mas, tunggu..." suara Nismara menyela pelan namun tertahan.Nismara menyandar kaku pada bingkai pintu, jemarinya meremas kain tapih yang membungkus tubuhnya. Wajahnya yang pucat pasi nampak kelesuan pasca keguguran, tetapi tatapan matanya lurus menatap Satria."Tidak perlu mengejar siapapun malam ini, Mas," bisik Nismara parau. "Biarkan saja mereka mengambil kotak itu."Satria menoleh cepat, rahangnya mengetat kaku. "Biarkan? Di dalam kotak itu ada surat-surat berharga, Nismara! Mereka sengaja mencurinya untuk me

  • Madu Untuk Ndoro   Sebuah Konfrontasi

    "Subrata! Keluar kamu!"Teriakan Satria bergema keras, memecah keheningan di lorong kaputren yang sepi dan remang. Nama sang paman dipanggilnya tanpa rasa hormat sedikit pun, menelanjangi murka yang tak lagi ditahannya.Langkah Satria terdengar berat di atas lantai batu pendopo. Wajahnya kaku menahan marah. Angin malam yang berhembus di antara pilar-pilar kayu sama sekali tak mengurangi ketegangan di area kaputren itu.Mbok Nah dan tiga pengawal pribadi Raden Mas Subrata yang berdiri di tengah pendopo seketika membeku. Wajah mereka pucat pasi. Sastro yang berdiri di sudut sampai terlonjak kaget, makin merapatkan tubuhnya ke dinding.Satria melangkah menerobos pendopo dengan rahang mengeras kaku."Panggil bajingan itu ke sini!" bentak Satria lagi saat berhenti tepat di depan mereka. "Suruh dia lihat sendiri apa yang orang-orangnya perbuat di kaputrenku!""Nd-Ndoro Den..." Mbok Nah mencoba membuka suara, bicaranya gemetar hebat. "Raden Mas Subrata tidak ada di sini... Kami hanya menjala

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status