LOGINSatria terpaksa meninggalkan paviliun pagi itu.Ada urusan di perkebunan yang sangat mendesak. Ia menerima laporan ada kerusakan saluran air dan sengketa batas tanah yang tidak bisa ditunda lagi. Sebelum pergi, dia sempat berlutut di sisi dipan, menggenggam tangan Nismara cukup lama.“Jangan kemana-mana, hm?,” katanya pelan tapi tegas. “Tunggu sampai aku pulang.”Nismara hanya mengangguk.Namun belum genap satu jam setelah Satria pergi, Asih masuk dengan wajah tegang.“Nismara… Pangarsa Sesepuh memanggilmu ke Sasana Agung. Sekarang.”Nismara terdiam sejenak. Berbagai pertanyaan mendadak berputar di kepalanya. Untuk apa para tetua memanggilnya?Meski bingung dan tubuhnya masih amat lemah, Nismara tahu ia tidak punya pilihan selain datang. Menolak hanya akan membuat mereka curiga seolah ia memiliki kesalahan, padahal ia tidak merasa melakukan kejahatan apa pun. Lagipula, ia tidak takut pada apa pun.Dengan bantuan Asih, Nismara berganti kebaya yang rapi dan merapikan gelung rambutnya. S
Nismara terbangun karena rasa hangat di punggung tangannya.Satria masih di situ. Kepalanya tertunduk dengan dahi menempel di tepi dipan, jari-jari panjangnya menggenggam tangan Nismara seolah takut melepaskannya. Napasnya teratur, tapi jelas dia tidak benar-benar tidur.Nismara menggerakkan jari.Satria langsung mengangkat wajah. Matanya merah, sedikit bengkak, tapi saat bertemu pandang dengan Nismara, ada kelegaan yang begitu kentara.“Sudah bangun?” suaranya parau.Nismara mengangguk pelan.Satria bangkit, menuangkan air hangat, lalu menolong Nismara duduk dengan gerakan yang sangat hati-hati. Satu lengan menopang punggungnya, yang lain memegang cangkir.“Minumlah,” katanya. “Bagaimana keadaanmu? Apa kamu merasa jauh lebih baik?”Nismara menyesap air itu, ada rasa hangat merayap perlahan. Sebelum akhirnay dia mengangguk pelan.“Mas Satria, kamu nggak tidur sama sekali, ya?”Satria tidak menjawab langsung. Dia hanya menarik kursi lebih dekat dan duduk lagi, masih memegang tangan Nis
Langkah Satria berderap cepat menerobos ambang pintu kamar. Pria itu langsung menghampiri meja kayu kecil di sudut ruangan. Permukaannya kini kosong melompong, menyisakan bekas gesekan tipis di atas lapisan debu halus.Kotak kayu peninggalan almarhum ayah Nismara benar-benar hilang."Sastro!" panggil Satria tajam, suaranya dipenuhi amarah yang kembali membakar. Pria itu berbalik hendak melangkah keluar. "Ada pencuri lain yang masuk lewat lorong samping saat kita di pendopo!""Mas, tunggu..." suara Nismara menyela pelan namun tertahan.Nismara menyandar kaku pada bingkai pintu, jemarinya meremas kain tapih yang membungkus tubuhnya. Wajahnya yang pucat pasi nampak kelesuan pasca keguguran, tetapi tatapan matanya lurus menatap Satria."Tidak perlu mengejar siapapun malam ini, Mas," bisik Nismara parau. "Biarkan saja mereka mengambil kotak itu."Satria menoleh cepat, rahangnya mengetat kaku. "Biarkan? Di dalam kotak itu ada surat-surat berharga, Nismara! Mereka sengaja mencurinya untuk me
"Subrata! Keluar kamu!"Teriakan Satria bergema keras, memecah keheningan di lorong kaputren yang sepi dan remang. Nama sang paman dipanggilnya tanpa rasa hormat sedikit pun, menelanjangi murka yang tak lagi ditahannya.Langkah Satria terdengar berat di atas lantai batu pendopo. Wajahnya kaku menahan marah. Angin malam yang berhembus di antara pilar-pilar kayu sama sekali tak mengurangi ketegangan di area kaputren itu.Mbok Nah dan tiga pengawal pribadi Raden Mas Subrata yang berdiri di tengah pendopo seketika membeku. Wajah mereka pucat pasi. Sastro yang berdiri di sudut sampai terlonjak kaget, makin merapatkan tubuhnya ke dinding.Satria melangkah menerobos pendopo dengan rahang mengeras kaku."Panggil bajingan itu ke sini!" bentak Satria lagi saat berhenti tepat di depan mereka. "Suruh dia lihat sendiri apa yang orang-orangnya perbuat di kaputrenku!""Nd-Ndoro Den..." Mbok Nah mencoba membuka suara, bicaranya gemetar hebat. "Raden Mas Subrata tidak ada di sini... Kami hanya menjala
"Ya Gusti... Mas Satria... siapa yang melakukan ini?"Nismara menahan napas. Di bawah remang lampu minyak, isi kamar itu sudah tak lagi sama. Kasur berantakan, isi lemari pakaian berserakan di atas lantai batu, dan meja riasnya sudah bergeser—seperti baru saja diacak-acak oleh seseorang secara terburu-buru.Satria tidak menjawab. Ketegangan yang membeku di rahangnya berganti menjadi emosi yang menggulung di dalam mata merahnya. Satria menurunkan tubuh Nismara perlahan, memastikan Nismara bertumpu dengan aman di tepi dipan yang sprei kainnya sudah terkoyak separuh."Sastro!" panggil Satria. Suaranya tidak teriak, tapi gaungnya membelah malam di sepanjang koridor kaputren.Dalam hitungan detik, langkah kaki tergesa-gesa terdengar mendekat. Sastro muncul di ambang pintu, napasnya memburu. Namun, begitu matanya menangkap pemandangan di dalam kamar, wajah abdi dalem kepercayaan itu seketika pucat pasi."Ndoro Den..." gagap Sastro, tangannya gemetar di sisi tubuh. "Demi Gusti, saya... saya
"Bagaimana kalau saya menolak?"Suara Satria bergema tenang di seluruh ruangan Sasana Agung. Sama sekali tidak terdengar getaran ketakutan dalam nadanya, hanya ketegasan yang mendinginkan suasana. Dengan tingginya yang hampir dua meter, Satria berdiri menjulang, menatap Pangarsa Sesepuh tanpa berkedip.Langkah kaki Satria maju satu tapak, menyembunyikan posisi Nismara di belakang punggung tegapnya."Pangarsa bicara soal aturan adat dan pengabaian istri sah," lanjut Satria dengan senyum sinis yang sangat tipis. "Tetapi bukankah Sasana Agung juga punya aturan dasar? Seorang Tuan Muda yang memegang pucuk kepemimpinan bisnis dan aset trah memiliki hak veto atas urusan kaputrennya sendiri, selama keputusan itu tidak merugikan keuangan keluarga."Para tetua yang duduk melingkar mulai saling pandang. Kasak-kusuk pelan kembali terdengar di antara mereka."Satria!" tegur Raden Arya Pradipta seraya melangkah mendekat, wajahnya memerah menahan gusar. "Jangan coba-coba menggunakan celah aturan u







