登入“Kenapa? Baru saja bertemu, kau sudah lupa?” sindir lelaki yang dipanggil Sean oleh James.
Buru-buru James memalingkan pandangan. Tidak berani menatap sepasang mata Sean yang dipenuhi kemarahan.
Sementara itu di hadapannya, Catherine ternganga. Kali ini, bukan sandiwara. Dia benar-benar tidak menduga kalau situasinya akan menjadi seperti ini.
“Kau, cepat panggil satpam!” Tidak ada angin tidak ada hujan, Sean tiba-tiba memberikan perintah pada Catherine.
Catherine terkesiap. “A-aku … baiklah.”
Perempuan itu segera menuruni tangga, bermaksud menemui dua satpam yang seingatnya berjaga di depan aula. Namun baru saja melangkah, terdengar suara melengking dari lantai dua.
“Berani sekali kamu, Cathie!”
Sontak Catherine menghentikan langkahnya. Beralih menatap pada sosok perempuan cantik dalam balutan dress hijau emerald. Penataan rambut pirangnya terinspirasi dari gaya Marilyn Monroe, membuat Catherine seolah ditarik kembali ke era 1900 an.
“Ibunya James?” gumam Catherine di dalam hati.
Dugaannya sama sekali tidak meleset. Wanita itu memang Clara Bradford, yang juga adalah otak dari perjodohan konyol antara dia dan James.
“Kalau kamu sampai berani memanggil satpam, awas saja! Aku akan membuat perhitungan lebih!” ancam Clara. Tudingan jarinya mengarah tepat pada Catherine.
Catherine mereguk saliva. Dengan terpaksa, dia menurut. Batal memanggil petugas keamanan.
Merasa urusannya dengan Catherine sudah beres, Clara beralih menatap nyalang ke arah Sean. Ditudingnya lelaki itu sambil berujar galak, “Lepaskan anakku!”
“Aku tidak tahu apakah telingamu tuli atau bagaimana, tapi … kau memintaku melepaskan seorang kriminal? Oh, Jangan-jangan kau bersekongkol dengan anakmu dalam usaha penghilangan nyawa Catherine Ethenburough?” balas Sean sambil menyipitkan mata.
Dahi Catherine seketika berkerut. Batinnya bergumam penuh tanya, “Catherine siapa tadi? Etenburuk? Ah, ribet sekali namanya!”
“Jangan sembarangan bicara! Aku bisa menuntutmu atas tuduhan pencemaran nama baik!”
Suara galak Clara langsung membuyarkan konsentrasi Catherine. Tanpa membuang waktu lagi, Catherine langsung angkat bicara, “Nyonya, ucapan Tuan ini memang benar. James baru saja mengakui perbuatannya. Bahkan bila Anda menunjuk tamu undangan secara acak, mereka akan memberikan kesaksian yang sama, karena mereka tidak akan menutup mata seperti Anda!”
Wajah Clara langsung merah padam karenanya.
“Tahu apa kamu? Mungkin James kesal, makanya dia bicara sembarangan!”
Catherine tanpa sadar ikut terbawa emosi. Dia pun melayangkan tantangan, “Baik! Kalau begitu, mari kita lihat rekaman CCTV!”
“Kau pikir kau pemilik gedung ini, hah?!” omel Clara. Tangannya sudah gatal ingin menoyor kepala Catherine. “Tidak semudah itu mendapatkan izin—”
“Aku izinkan,” sela Sean.
“Heh! Lagakmu seperti pemilik gedung saja!” geram Clara dengan kedua tangan yang menekuk di pinggang. Bersikap seolah dialah bos di sini.
Sudut bibir Sean terangkat sebelah. Senyum sinisnya itu terlihat menyembunyikan sesuatu. Dia lalu menelusupkan tangan ke saku. Mengambil smartphone miliknya untuk menelepon seseorang.
“Bright, ini aku. Bawa beberapa orang untuk membereskan kekacauan di aula utama,” perintah Sean dengan nada dingin.
Dari loudspeaker yang dibiarkan menyala, terdengar sahutan dari seberang, “Siap, Tuan!”
Sean pun mematikan sambungan. Sepasang mata ungu gelapnya menatap sinis ke arah Clara. Melihat wajah perempuan itu yang mulai pucat pasi.
“Dia … sungguh pemilik gedung megah ini? Ya ampun, dia pasti sangat kaya!” batin Catherine, yang tanpa sadar terus memandangi sosok Sean.
Catherine mengambil langkah maju. Dua patah kata meluncur dari bibirnya merahnya, “Terima kasih.”
“Simpan itu. Aku cuma tidak mau ada keributan di propertiku. Nilainya bisa turun,” Sean membalas acuh tak acuh.
Lelaki itu lantas menatap James dan Clara bergantian. “Kalau pendapatanku sampai turun karena ulah bodoh kalian, aku tidak segan menuntut ganti rugi!”
“Tolong jangan!” pekik Clara.
Sosok yang tadinya galak dan penuh kesombongan, kini menjatuhkan diri. Rela menekuk lutut demi amnesti.
“I-ini … aku pasti akan menegur James dengan baik. Jadi tolong—”
“AKU TIDAK PEDULI!”
Sean berteriak lantang. Suaranya seolah bergema di seluruh penjuru ruangan yang luas itu.
Clara dan James semakin gemetar. Jantung mereka berdegup tidak karuan.
“Kau! Ini semua salahmu!”
Entah mendapat keberanian dari mana, James berani berteriak seperti itu. Padahal sebelumnya, dia terlihat bagai tikus got yang hanya bisa mencicit ketakutan ketika jatuh dalam genggaman kucing lapar.
Catherine tidak merasa gentar sedikit pun. Dia balik menuding, “Aku tidak tahu apa-apa. Justru kau yang membongkar kejahatanmu sendiri!”
“Mama, lihat itu! Sudah kubilang Catherine bukan calon yang baik! Seandainya Mama tidak memaksa, aku tidak akan— aargh!”
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, James sudah keburu ditendang oleh Sean. Tubuhnya menggelinding di tangga. Catherine buru-buru menyingkir. Tidak mau ikut berguling bersama lelaki sialan itu.
Sementara itu, Sean terlihat sudah sangat muak. Segera dia menuruni anak tangga. Ingin segera kembali ke mansion untuk beristirahat.
“Tuan,” cegah Catherine begitu Sean melintas di dekatnya.
Sean menatapnya malas. “Apa lagi?”
“Izinkan saya berterima kasih untuk kedua kali. Sekaligus, saya ingin memastikan apakah Anda benar-benar bersedia membuka rekaman CCTV nya untuk kepentingan penyelidikan?” balas Catherine penuh keanggunan.
“Ya.” Sean menyahut pendek, lalu mulai kembali berjalan.
Tanpa disangka, Catherine kembali mendekat. Kali ini dia bertanya, “Apa ada yang bisa saya lakukan untuk membalas kebaikan Tuan?”
Sean menghembuskan napas kesal. Dengan kasar, dia menarik tangan Catherine. Tak ayal, tubuh perempuan itu pun terhuyung ke arahnya.
“Heh!” kaget Catherine di dalam hati ketika menyadari wajah Sean begitu dekat dengan telinga. Hembusan napas hangatnya terasa sangat nyata.
Ketika jarak di antara mereka semakin terkikis, degup jantung Catherine semakin tidak teratur. Keringat dingin juga mulai mengalir, membasahi keningnya.
“Kau sudah ditipu mereka sampai tidak memiliki apa pun, tapi masih berani membahas bagaimana caramu berterima kasih padaku?” sindir Sean, tepat di telinga Catherine.
Memindai tubuh Catherine sebentar, Sean lantas berkata asal, “Atau, kau mau menawarkan tubuhmu?”
Sepasang mata Catherine melebar sempurna. Keterkejutannya bukan disebabkan Sean yang tiba-tiba mengatakan hal sensual, tetapi,
“Anda juga tahu soal penipuan itu?” desis Catherine tanpa sadar.
Berbekal informasi dari penggalan adegan yang Catherine saksikan sebelum reinkarnasi, awalnya kehidupan Catherine Ethenburough baik-baik saja sampai salah seorang temannya nekat mencuri dompet berisi KTP Catherine. Dia lalu mendaftarkan nama Catherine untuk pinjaman online dalam jumlah yang lumayan, nyaris 600 juta. Separuh uangnya dia ambil, separuhnya lagi diberikan pada Clara. Yap, ibunya James.
Dari 300 juta yang didapat, Clara memberikan pinjaman 100 juta pada Catherine. Ujungnya, dia meminta Catherine menikahi James. Alasannya?
“James adalah anak yang baik, cakap, dan tampan. Sayang sekali tidak ada perempuan yang mau serius dengannya,” dalih Clara waktu itu.
Catherine Ethenburough (yang asli) merasa tidak memiliki pilihan lain. Oleh karena itu, dia menyetujui tawaran Clara tanpa mengetahui bahwa dirinya sudah masuk dalam jebakan singa.
Sungguh cerita perjodohan klise yang dibumbui sedikit twist dari orang tuanya James. Dan kisah itu hanya diketahui tiga orang yang terlibat : teman sekantor Catherine dan kedua orang tua James.
Lantas kenapa Sean, yang notabene nya orang luar, bisa tahu soal ini?
Sean malas menjawab rasa penasaran Catherine. Hanya saja, batinnya sibuk merutuk, “Idiot dan polos itu beda tipis, ‘kan? Bisa-bisanya dia tahu kalau sudah ditipu, tapi malah menuruti apa kemauan mereka.”
“Selain itu, bukannya tadi aku mengancam dia untuk memberikan tubuhnya? Tapi kenapa dia cuma fokus ke penipuannya?”
“Ah sudahlah, memikirkan hal ini cuma membuat kepala pusing!”
Sean menarik mundur wajahnya. Bersiap untuk meninggalkan Catherine. Terlebih Albrighton alias Bright seharusnya sudah hampir sampai untuk membereskan semua kekacauan ini.
“Tuan!” cegah Catherine lagi. Sepasang mata biru miliknya menatap lurus ke arah Sean ketika menuntut, “Apa Anda terlibat dalam kasus ini sejak awal? Haruskah saya juga menuntut Anda?”
“Gadis bodoh ini!” geram Sean di dalam hati.
Karena kesal, Sean kembali berucap asal demi membuat Catherine jera, “Hati-hati, aku sungguh akan mempermainkanmu, sampai kau merasa lebih baik pergi ke neraka!”
“Galak sekali,” komentar Catherine sambil menggamit lengan erat Sean.
Merasakan sensasi kenyal yang tak wajar, sepasang mata Sean melotot seketika. Seolah mau lepas dari tempatnya.
“K-kau … sial!” rutuk Sean di dalam hati.
Sambil mencoba meloloskan diri dari situasi memalukan ini, Sean mengancam Catherine, “Lepas atau aku akan menendangmu sampai menggelinding seperti serangga bodoh itu!”
“Catherine?” desis Sean yang mengenali suara itu. Dengan panik, Sean menyerahkan amplop ke tangan Zea. Belum sempat Zea bereaksi, tubuhnya telah diubah Sean menjadi segumpal kabut. Kegilaan Sean tidak hanya sampai di situ. Karena setelahnya, Sean meniupkan angin untuk menghempasnya ke balik pohon besar. Kebetulan tempatnya gelap, sehingga Zea dapat bertransformasi dengan aman. “Sebaiknya aku pergi dari sini supaya tidak menambah masalah,” pikir Zea sambil mengepakkan sepasang sayap coklatnya.Sementara itu, Sean menyambut kedatangan Catherine dengan tatapan dingin. “Kenapa mencariku?” tanyanya datar.“Jelaskan—”Tanpa memberi kesempatan bagi Catherine untuk menjawab, Sean menatap Ren yang berdiri gugup di sampingnya. Dan kebetulan, hal itu memberinya ide untuk sembarangan menuduh,“Oh, apakah Ren membuat kesalahan?”Catherine yang tadinya mau marah-marah pun membatalkan niatnya. Langsung mencoba meluruskan kesalahpahaman ini sebelum terlambat.“Bukan begitu, Sean. Dengarkan aku dul
“Itu … udang?” Catherine tak bisa menahan rasa penasarannya pada salah satu menu yang dibawa oleh Ren.“Ya, tapi jangan khawatir. Aku tahu kalau kau alergi udang. Makanan yang lain dijamin tidak terkontaminasi,” balas Sean.Dada Catherine seolah tertohok. Antusiasme yang semula terpancar di kedua bola matanya, kini perlahan redup.“Bagaimana bisa aku lupa soal ini? Catherine Ethenburough memang alergi dengan udang. Karena aku telah bereinkarnasi ke tubuhnya, sudah pasti aku akan mendapat reaksi alergi kalau nekat memakannya.”Untuk menyelamatkan diri dari kecurigaan Sean, Catherine langsung memasang senyum lebar ketika menoleh ke arahnya sambil berucap, “Kau pengertian sekali.”“Cuma perkara kecil,” sahut Sean yang tak menyadari perubahan ekspresi Catherine.Setelah semua siap dihidangkan, Catherine memilih untuk menyantap cheesy chicken casserole yang terlihat menggugah selera meski penampilannya sungguh sangat asing. Pada zamannya, belum ada yang membuat makanan itu.“Umm … kejunya
“Kau tahu semua itu dan masih berani menggodaku, Cathie?” Sean balas berbisik.Usai mengucapkan itu, Sean bergegas menuju kasir. Sama sekali tidak memperdulikan Catherine yang dibuatnya terkejut di tempat.“Sial!” geram Catherine begitu Sean menjauh. “Untung saja reaksinya cuma begitu. Kalau tiba-tiba mencium, mukaku ini mau ditaruh di mana?”***Setelah menyelesaikan pembayaran di kasir, Catherine mengira mereka akan langsung pulang. Namun saat melintas di lantai dua, Sean tiba-tiba berkata,"Mampir dulu ke depan sana."Mendengar ucapan Sean, segera Catherine menelusuri kemana sorot mata Sean mengarah. Tepatnya, pada sebuah gerai makanan. Saat mulai mendekat, terasa sekali kalau bau harumnya menyebar kemana-mana."Dia mau mengajakku makan? Dermawan sekali," batin Catherine kemudian.Begitu memasuki gerai makanan cepat saji itu, Sean berkata, "Kau tunggu saja di sini.""Ya," patuh Catherine seraya duduk di kursi yang menurutnya nyaman. Sementara itu, Sean langsung pergi ke kasir untuk
“Ada yang bisa saya bantu Tuan, Nona?” tanya Ami begitu mendekat.Sebelum Sean sempat menggerakkan bibirnya, Catherine mencuri start terlebih dahulu. Dia berkata, “Apa boleh saya menanyakan tentang gaun ini?”Alih-alih menunjuk pada gaun yang tengah ditenteng Sean, tangan Catherine terarah pada sebuah gaun putih bermotif floral yang masih terpajang di display.“Oh, tentu saja Nona,” sahut Ami, lengkap dengan senyum ramahnya.Catherine pun bertanya, “Apa ada gaun yang seperti ini, tapi motif bunganya berwarna gelap. Seperti ungu atau biru?”“Ada, Nona. Tapi kain tile-nya berwarna lilac. Untuk kain yang putih, kami hanya menyediakan motif berwarna pink dan kuning. Bagaimana? Apa Anda berkenan melihatnya?” balas Ami.“Boleh,” setuju Catherine.Ami lalu mengambil dress putih floral yang ditunjuk oleh Catherine. Dia juga bertanya, “Ukurannya disamakan dengan ini, Nona?”“Iya,” angguk Catherine.Setelah mendapatkan konfirmasi itu, Ami melangkah pergi menuju gudang. Meninggalkan Sean dan Cat
“Ada aku di sini, tidak perlu memikirkan soal harga,” ujar Sean. Tangannya juga sengaja menepuk-nepuk kantong, memberi kode kalau dia akan mengurus semuanya.Catherine menggelengkan kepala. “Tidak boleh begitu.”Menghembuskan napas kencang, Sean lantas berujar, “Dengan gaji bulananmu yang cuma seupil itu, paling-paling kau cuma bisa beli satu atau dua potong baju saja.”“Apa?” kaget Catherine. Sepasang matanya membola tak percaya.Menggapai tangan Catherine untuk dia gandeng, Sean lantas mulai menaiknya menuju eskalator. Dalam perjalanan, dia berkata, “Anggap saja ini fasilitas yang harus aku penuhi.”“Kalau begitu, aku tidak akan segan lagi,” balas Catherine.Kepalanya menunduk, menyembunyikan rona merah yang mulai tampil di pipi. Malu karena Sean tiba-tiba menggandeng dirinya. Membuat Catherine merasa kalau mereka adalah pasangan yang sedang menghabiskan waktu bersama.“Baguslah kalau kau mengerti,” lega Sean di dalam hati.“Perhatikan langkahmu,” ujarnya lagi ketika mereka sudah sa
Catherine menelan ludahnya dengan susah payah.Amarah yang tadi sempat menguasai dirinya, kini mulai goyah. Firasatnya juga buruk soal ini.“God dammit!” umpat Sean sambil memukul setir sebagai pelampiasan amarah.Dia lalu menjelaskan, “Aku begini karena kau malah terlihat kebingungan saat aku suruh memakai sabuk pengaman.”“Tunggu dulu,” henti lelaki itu seraya menoleh. Sorot matanya dipenuhi oleh keputusasaan ketika bertanya, “Jangan bilang kalau kau tidak tahu soal seatbelt, Cathie.”“Mampus!” jerit batin Catherine.Segera dia memalingkan pandangan ke arah lain. Bibirnya berucap gugup, “Sabuk … anu, aku tahu kok.”Dihadapkan pada kebohongan Catherine yang begitu jelas, Sean semakin murka. Urat di lehernya pun terlihat tegang.“Kalau begitu, coba tunjukkan padaku. Mana benda yang aku maksud,” pintanya geram.Catherine kembali menelan ludah. Tangannya gemetaran menyentuh beberapa benda secara asal. Dia sungguh tidak punya kesan sedikit pun tentang sabuk pengaman yang disebutkan oleh







