Share

Bantuan tak Terduga

last update Tanggal publikasi: 2026-06-01 14:38:23

“Kenapa? Baru saja bertemu, kau sudah lupa?” sindir lelaki yang dipanggil Sean oleh James.

Buru-buru James memalingkan pandangan. Tidak berani menatap sepasang mata Sean yang dipenuhi kemarahan.

Sementara itu di hadapannya, Catherine ternganga. Kali ini, bukan sandiwara. Dia benar-benar tidak menduga kalau situasinya akan menjadi seperti ini.

“Kau, cepat panggil satpam!”  Tidak ada angin tidak ada hujan, Sean tiba-tiba memberikan perintah pada Catherine. 

Catherine terkesiap. “A-aku … baiklah.”

Perempuan itu segera menuruni tangga, bermaksud menemui dua satpam yang seingatnya berjaga di depan aula. Namun baru saja melangkah, terdengar suara melengking dari lantai dua.

“Berani sekali kamu, Cathie!”

Sontak Catherine menghentikan langkahnya. Beralih menatap pada sosok perempuan cantik dalam balutan dress hijau emerald. Penataan rambut pirangnya terinspirasi dari gaya Marilyn Monroe, membuat Catherine seolah ditarik kembali ke era 1900 an.

“Ibunya James?” gumam Catherine di dalam hati.

Dugaannya sama sekali tidak meleset. Wanita itu memang Clara Bradford, yang juga adalah otak dari perjodohan konyol antara dia dan James. 

“Kalau kamu sampai berani memanggil satpam, awas saja! Aku akan membuat perhitungan lebih!” ancam Clara. Tudingan jarinya mengarah tepat pada Catherine. 

Catherine mereguk saliva. Dengan terpaksa, dia menurut. Batal memanggil petugas keamanan. 

Merasa urusannya dengan Catherine sudah beres, Clara beralih menatap nyalang ke arah Sean. Ditudingnya lelaki itu sambil berujar galak, “Lepaskan anakku!”

“Aku tidak tahu apakah telingamu tuli atau bagaimana, tapi … kau memintaku melepaskan seorang kriminal? Oh, Jangan-jangan kau bersekongkol dengan anakmu dalam usaha penghilangan nyawa Catherine Ethenburough?” balas Sean sambil menyipitkan mata.

Dahi Catherine seketika berkerut. Batinnya bergumam penuh tanya, “Catherine siapa tadi? Etenburuk? Ah, ribet sekali namanya!”

“Jangan sembarangan bicara! Aku bisa menuntutmu atas tuduhan pencemaran nama baik!” 

Suara galak Clara langsung membuyarkan konsentrasi Catherine. Tanpa membuang waktu lagi, Catherine langsung angkat bicara, “Nyonya,  ucapan Tuan ini memang benar. James baru saja mengakui perbuatannya. Bahkan bila Anda menunjuk tamu undangan secara acak, mereka akan memberikan kesaksian yang sama, karena mereka tidak akan menutup mata seperti Anda!”

Wajah Clara langsung merah padam karenanya. 

“Tahu apa kamu? Mungkin James kesal, makanya dia bicara sembarangan!”

Catherine tanpa sadar ikut terbawa emosi. Dia pun melayangkan tantangan, “Baik! Kalau begitu, mari kita lihat rekaman CCTV!”

“Kau pikir kau pemilik gedung ini, hah?!” omel Clara. Tangannya sudah gatal ingin menoyor kepala Catherine. “Tidak semudah itu mendapatkan izin—”

“Aku izinkan,” sela Sean.

“Heh! Lagakmu seperti pemilik gedung saja!” geram Clara dengan kedua tangan yang menekuk di pinggang. Bersikap seolah dialah bos di sini.

Sudut bibir Sean terangkat sebelah. Senyum sinisnya itu terlihat menyembunyikan sesuatu. Dia lalu menelusupkan tangan ke saku. Mengambil smartphone miliknya untuk menelepon seseorang. 

“Bright, ini aku. Bawa beberapa orang untuk membereskan kekacauan di aula utama,” perintah Sean dengan nada dingin.

Dari loudspeaker yang dibiarkan menyala, terdengar sahutan dari seberang, “Siap, Tuan!”

Sean pun mematikan sambungan. Sepasang mata ungu gelapnya menatap sinis ke arah Clara. Melihat wajah perempuan itu yang mulai pucat pasi.

“Dia … sungguh pemilik gedung megah ini? Ya ampun, dia pasti sangat kaya!” batin Catherine, yang tanpa sadar terus memandangi sosok Sean.

Catherine mengambil langkah maju. Dua patah kata meluncur dari bibirnya merahnya, “Terima kasih.”

“Simpan itu. Aku cuma tidak mau ada keributan di propertiku. Nilainya bisa turun,” Sean membalas acuh tak acuh.

Lelaki itu lantas menatap James dan Clara bergantian. “Kalau pendapatanku sampai turun karena ulah bodoh kalian, aku tidak segan menuntut ganti rugi!”

“Tolong jangan!” pekik Clara. 

Sosok yang tadinya galak dan penuh kesombongan, kini menjatuhkan diri. Rela menekuk lutut demi amnesti.

“I-ini … aku pasti akan menegur James dengan baik. Jadi tolong—”

“AKU TIDAK PEDULI!”

Sean berteriak lantang. Suaranya seolah bergema di seluruh penjuru ruangan yang luas itu.

Clara dan James semakin gemetar. Jantung mereka berdegup tidak karuan.

“Kau! Ini semua salahmu!”

Entah mendapat keberanian dari mana, James berani berteriak seperti itu. Padahal sebelumnya, dia terlihat bagai tikus got yang hanya bisa mencicit ketakutan ketika jatuh dalam genggaman kucing lapar.

Catherine tidak merasa gentar sedikit pun. Dia balik menuding, “Aku tidak tahu apa-apa. Justru kau yang membongkar kejahatanmu sendiri!”

“Mama, lihat itu! Sudah kubilang Catherine bukan calon yang baik! Seandainya Mama tidak memaksa, aku tidak akan— aargh!”

Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, James sudah keburu ditendang oleh Sean. Tubuhnya menggelinding di tangga. Catherine buru-buru menyingkir. Tidak mau ikut berguling bersama lelaki sialan itu.

Sementara itu, Sean terlihat sudah sangat muak. Segera dia menuruni anak tangga. Ingin segera kembali ke mansion untuk beristirahat.

“Tuan,” cegah Catherine begitu Sean melintas di dekatnya.

Sean menatapnya malas. “Apa lagi?”

“Izinkan saya berterima kasih untuk kedua kali. Sekaligus, saya ingin memastikan apakah Anda benar-benar bersedia membuka rekaman CCTV nya untuk kepentingan penyelidikan?” balas Catherine penuh keanggunan.

“Ya.”  Sean menyahut pendek, lalu mulai kembali berjalan.

Tanpa disangka, Catherine kembali mendekat. Kali ini dia bertanya, “Apa ada yang bisa saya lakukan untuk membalas kebaikan Tuan?”

Sean menghembuskan napas kesal. Dengan kasar, dia menarik tangan Catherine. Tak ayal, tubuh perempuan itu pun terhuyung ke arahnya. 

“Heh!” kaget Catherine di dalam hati ketika menyadari wajah Sean begitu dekat dengan telinga. Hembusan napas hangatnya terasa sangat nyata. 

Ketika jarak di antara mereka semakin terkikis, degup jantung Catherine semakin tidak teratur. Keringat dingin juga mulai mengalir, membasahi keningnya.

“Kau sudah ditipu mereka sampai tidak memiliki apa pun, tapi masih berani membahas bagaimana caramu berterima kasih padaku?” sindir Sean, tepat di telinga Catherine. 

Memindai tubuh Catherine sebentar, Sean lantas berkata asal, “Atau, kau mau menawarkan tubuhmu?”

Sepasang mata Catherine melebar sempurna. Keterkejutannya bukan disebabkan Sean yang tiba-tiba mengatakan hal sensual, tetapi,

“Anda juga tahu soal penipuan itu?” desis Catherine tanpa sadar.

Berbekal informasi dari penggalan adegan yang Catherine saksikan sebelum reinkarnasi, awalnya kehidupan Catherine Ethenburough baik-baik saja sampai salah seorang temannya nekat mencuri dompet berisi KTP Catherine. Dia lalu mendaftarkan nama Catherine untuk pinjaman online dalam jumlah yang lumayan, nyaris 600 juta. Separuh uangnya dia ambil, separuhnya lagi diberikan pada Clara. Yap, ibunya James.

Dari 300 juta yang didapat, Clara memberikan pinjaman 100 juta pada Catherine.  Ujungnya, dia meminta Catherine menikahi James. Alasannya?

“James adalah anak yang baik, cakap, dan tampan. Sayang sekali tidak ada perempuan yang mau serius dengannya,” dalih Clara waktu itu.

Catherine Ethenburough (yang asli) merasa tidak memiliki pilihan lain. Oleh karena itu, dia menyetujui tawaran Clara tanpa mengetahui bahwa dirinya sudah masuk dalam jebakan singa.

Sungguh cerita perjodohan klise yang dibumbui sedikit twist dari orang tuanya James. Dan kisah itu hanya diketahui tiga orang yang terlibat : teman sekantor Catherine dan kedua orang tua James. 

Lantas kenapa Sean, yang notabene nya orang luar, bisa tahu soal ini? 

Sean malas menjawab rasa penasaran Catherine. Hanya saja, batinnya sibuk merutuk, “Idiot dan polos itu beda tipis, ‘kan? Bisa-bisanya dia tahu kalau sudah ditipu, tapi malah menuruti apa kemauan mereka.”

“Selain itu, bukannya tadi aku mengancam dia untuk memberikan tubuhnya? Tapi kenapa dia cuma fokus ke penipuannya?”

“Ah sudahlah, memikirkan hal ini cuma membuat kepala pusing!”

Sean menarik mundur wajahnya. Bersiap untuk meninggalkan Catherine. Terlebih Albrighton alias Bright seharusnya sudah hampir sampai untuk membereskan semua kekacauan ini.

“Tuan!” cegah Catherine lagi. Sepasang mata biru miliknya menatap lurus ke arah Sean ketika menuntut, “Apa Anda terlibat dalam kasus ini sejak awal? Haruskah saya juga menuntut Anda?”

“Gadis bodoh ini!” geram Sean di dalam hati.

Karena kesal, Sean kembali berucap asal demi membuat Catherine jera, “Hati-hati, aku sungguh akan mempermainkanmu, sampai kau merasa lebih baik pergi ke neraka!”

“Galak sekali,” komentar Catherine sambil menggamit lengan erat Sean.

Merasakan sensasi kenyal yang tak wajar, sepasang mata Sean melotot seketika. Seolah mau lepas dari tempatnya. 

“K-kau … sial!” rutuk Sean di dalam hati.

Sambil mencoba meloloskan diri dari situasi memalukan ini, Sean mengancam Catherine, “Lepas atau aku akan menendangmu sampai menggelinding seperti serangga bodoh itu!”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Kok Bisa Masuk?

    “Ungh, apa ini?” desis Catherine ketika merasa ada sesuatu yang menempel di pinggangnya. Terasa agak berat dan hangat.Didorong oleh rasa penasaran, Catherine memaksakan diri mengusir rasa kantuk yang menggelayuti kelopak mata. Samar, dia melihat ada tangan yang ukurannya jelas melebihi miliknya.Dalam keadaan setengah sadar, Catherine meraba tangan tersebut. Terasa begitu nyata dengan beberapa bulu halus yang tersentuh oleh jemari lentik miliknya.“Heumm.”Suara berat itu terdengar familiar. Diiringi dengan hembusan napas hangat yang menyapu tengkuk lehernya. Catherine terkesiap seketika. Buru-buru dia bangkit. Sepasang mata yang semula maunya terpejam saja, kini membelalak lebar. Menatap horor ke arah tubuh seorang lelaki yang tengah berbaring santai di ranjang.“S-sean?” lirih Catherine tanpa ada niatan memanggil, apalagi membangunkan si lelaki.Detik berikutnya, dahi Catherine dibuat berkerut. Sementara otaknya berpikir keras. “Bagaimana mungkin Sean bisa menerabas masuk? Bukank

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Eksistensi Reinkarnasi

    “Hoahm!”Catherine menguap ketika sinar mentari pagi yang menyelinap masuk melalui celah jendela, jatuh tepat di kelopak matanya. Memberikan efek silau yang langsung membuatnya terjaga.“Astaga. Apa aku salah tidur semalam? Kenapa badanku rasanya begitu pegal?” heran gadis itu seraya mulai merenggangkan otot tangannya yang kebas.Menganggap ini hal yang biasa, Catherine tidak menanggapinya dengan serius. Tanpa tahu menahu mengenai alasan sebenarnya dari rasa pegal yang dia rasakan, Catherine menjalani hari Minggu ini dengan santai.Sesekali, Catherine turun ke taman untuk memikirkan langkah apa yang sebaiknya diambil terlebih dahulu. Dia benar-benar serius ingin memperbaiki taman di kastil bobrok ini.“Nona rajin sekali,” komentar Ren yang tak sengaja lewat. Catherine membalasnya dengan senyum hangat. “Daripada menganggur, lebih baik kerjakan apa saja yang ada.”“Ngomong-ngomong, kau mau kemana?” tanya Catherine kemudian.“Oh astaga, saya hampir lupa!” seru Ren seraya menepuk jidatny

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Kecurigaan Ren

    “Mau aku gendong atau jalan sendiri ke kamar, Cathie?” tawar Sean.Sebetulnya hatinya tidak rela. Ingin bermain-main dengan Catherine lebih lama. Sayangnya, mereka belum menyempurnakan blood contract yang telah terjalin. Sean takut kebablasan mencium bibir Catherine dan membuat tubuhnya mendapatkan serangan balik yang lebih menyakitkan dibanding tersambar petir.“Aku bisa sendiri.” Catherine menyahut cepat.Begitu Catherine turun dari pangkuannya, Sean mengingatkan, “Jangan lupa tanda tangani dulu kontraknya, Cathie. Sudah kau periksa isinya, ‘kan?”“Sudah,” jawab Catherine singkat. “Oh ya, apa kau bisa membantuku bertanya pada Ren?”“Soal apa?”Catherine hanya bisa menjelaskan, “Sikapnya cukup aneh. Kulihat Ren mengusap tengkuk berulang kali, seperti sedang gugup. Tapi dia tidak mau mengaku.”“Oh, mungkin masalah pribadi. Atau dia memang lelah.”Meski Sean mengucapkannya dengan penuh keyakinan, sebetulnya dia sendiri juga tidak yakin. Dia hanya berharap Catherine tidak terlalu kepik

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Kenapa Butuh Darahku?

    “Catherine?” desis Sean yang mengenali suara itu. Dengan panik, Sean menyerahkan amplop ke tangan Zea. Belum sempat Zea bereaksi, tubuhnya telah diubah Sean menjadi segumpal kabut. Kegilaan Sean tidak hanya sampai di situ. Karena setelahnya, Sean meniupkan angin untuk menghempasnya ke balik pohon besar. Kebetulan tempatnya gelap, sehingga Zea dapat bertransformasi dengan aman. “Sebaiknya aku pergi dari sini supaya tidak menambah masalah,” pikir Zea sambil mengepakkan sepasang sayap coklatnya.Sementara itu, Sean menyambut kedatangan Catherine dengan tatapan dingin. “Kenapa mencariku?” tanyanya datar.“Jelaskan—”Tanpa memberi kesempatan bagi Catherine untuk menjawab, Sean menatap Ren yang berdiri gugup di sampingnya. Dan kebetulan, hal itu memberinya ide untuk sembarangan menuduh,“Oh, apakah Ren membuat kesalahan?”Catherine yang tadinya mau marah-marah pun membatalkan niatnya. Langsung mencoba meluruskan kesalahpahaman ini sebelum terlambat.“Bukan begitu, Sean. Dengarkan aku dul

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Perlu Cap Darah?

    “Itu … udang?” Catherine tak bisa menahan rasa penasarannya pada salah satu menu yang dibawa oleh Ren.“Ya, tapi jangan khawatir. Aku tahu kalau kau alergi udang. Makanan yang lain dijamin tidak terkontaminasi,” balas Sean.Dada Catherine seolah tertohok. Antusiasme yang semula terpancar di kedua bola matanya, kini perlahan redup.“Bagaimana bisa aku lupa soal ini? Catherine Ethenburough memang alergi dengan udang. Karena aku telah bereinkarnasi ke tubuhnya, sudah pasti aku akan mendapat reaksi alergi kalau nekat memakannya.”Untuk menyelamatkan diri dari kecurigaan Sean, Catherine langsung memasang senyum lebar ketika menoleh ke arahnya sambil berucap, “Kau pengertian sekali.”“Cuma perkara kecil,” sahut Sean yang tak menyadari perubahan ekspresi Catherine.Setelah semua siap dihidangkan, Catherine memilih untuk menyantap cheesy chicken casserole yang terlihat menggugah selera meski penampilannya sungguh sangat asing. Pada zamannya, belum ada yang membuat makanan itu.“Umm … kejunya

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Ayamnya Terlalu Menggoda

    “Kau tahu semua itu dan masih berani menggodaku, Cathie?” Sean balas berbisik.Usai mengucapkan itu, Sean bergegas menuju kasir. Sama sekali tidak memperdulikan Catherine yang dibuatnya terkejut di tempat.“Sial!” geram Catherine begitu Sean menjauh. “Untung saja reaksinya cuma begitu. Kalau tiba-tiba mencium, mukaku ini mau ditaruh di mana?”***Setelah menyelesaikan pembayaran di kasir, Catherine mengira mereka akan langsung pulang. Namun saat melintas di lantai dua, Sean tiba-tiba berkata,"Mampir dulu ke depan sana."Mendengar ucapan Sean, segera Catherine menelusuri kemana sorot mata Sean mengarah. Tepatnya, pada sebuah gerai makanan. Saat mulai mendekat, terasa sekali kalau bau harumnya menyebar kemana-mana."Dia mau mengajakku makan? Dermawan sekali," batin Catherine kemudian.Begitu memasuki gerai makanan cepat saji itu, Sean berkata, "Kau tunggu saja di sini.""Ya," patuh Catherine seraya duduk di kursi yang menurutnya nyaman. Sementara itu, Sean langsung pergi ke kasir untuk

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status