LOGIN
“Dimana ini?”
Catherine van Lammington bergumam seraya mengedar pandang ke sekeliling, menemukan dirinya terjebak di sebuah ruangan sempit. Bahkan sepertinya, hanya muat untuknya duduk dan berbaring.
“Ugh!”
Catherine menepuk dada yang terasa sesak. Hal ini wajar sebetulnya, mengingat dia hanya bisa mengandalkan celah di bebatuan dinding sebagai akses keluar masuk udara.
“Mungkinkah Dewi Silencia salah mengirimku untuk reinkarnasi ke sini? Bagaimana mungkin seorang dewi agung sepertinya tega—”
Belum sempat Catherine menyelesaikan ucapannya, seberkas cahaya terang tiba-tiba menerobos masuk. Seolah hendak menerangi seisi ruangan.
Perempuan berambut coklat almond itu pun mengangkat tangan, memblokir cahaya yang menyilaukan mata.
“A-apa apaan ini?”
Catherine terkejut saat mendapati bahwa sekarang, dia terbaring di atas sebuah ranjang mewah. Ruangan ini juga luas, sangat kontras dengan penjara gelap nan pengap yang dilihatnya tadi.
“Ck! Apa otakmu ikut membusuk di dalam sana? Sampai-sampai, kau tak mengenali sihir.”
Suara dingin penuh penghinaan itu berasal dari seorang lelaki bernama Arley yang berada di atasnya. Lalu dalam sekali sentakan, gaun lusuh Catherine robek hingga sebatas perut, menampilkan pemandangan indah yang tersembunyi di baliknya.
“Loh?” kaget Catherine begitu sadar akan apa yang Arley lakukan.
Semua sudah terlambat ketika Arley mendaratkan bibir miliknya di sana. Catherine refleks menutup mulutnya dengan tangan, mencegah suara sekecil apa pun lolos dari sana.
“Tidak ada perkenalan, pernyataan cinta, atau apapun? Bukankah dia terlalu merendahkan wanita?” batin Catherine.
Dengan pipi yang mulai merona, Catherine sedikit mencuri pandang ke arah Arley. “Sial! Padahal wajahnya tampan.”
Melihat Catherine yang malah tersipu, Arley mendengus. “Manusia memang makhluk rendahan!”
“Ah, sudahlah. Toh habis ini, dia akan mati.”
Arley bertingkah bagai bayi kelaparan bukan karena dia kurang kasih sayang atau pun bersenang-senang. Dia lakukan semata-mata untuk menyerap esensi kehidupan milik Catherine. Dengan begitu, umur Arley bisa diperpanjang hingga 2 atau 3 purnama berikutnya.
“Hm? Rasa manis apa ini?” heran Arley.
Selama 500 tahun hidupnya, belum pernah sekalipun dia menjumpai hal semacam ini. Arley pun berpikir sejenak. Hingga akhirnya, kedua bola matanya membulat sempurna. “Mungkinkah dia …?!”
“Hei, apa kau lahir di tanggal 7, bulan 7?” Arley bertanya cepat.
“I-iya,” sahut Catherine gugup.
Begitu mendapatkan konfirmasi, Arley tersenyum licik ala villain. Dari sela bibirnya, terlihat sepasang gigi taring yang menyembul. Nampak cukup tajam dan—
Hap!
“Aargh!”
Catherine menjerit sejadinya saat merasa ada sesuatu yang menancap di leher. Rasa sakit mulai menghujam, bersamaan dengan cairan merah yang mengalir dari lukanya.
Dari sudut mata yang basah, samar Catherine melihat puas wajah Arley. Lelaki itu tidak henti-hentinya menghisap darah segar miliknya, seolah mau menguras habis tanpa sisa.
“Lepas!” pinta Catherine sembari mulai mendorong tubuh lelaki itu.
Arley menyeringai. Dengan mulut yang masih dipenuhi darah, dia bertanya, “Mau melawan sekarang? Sudah terlambat untuk itu.”
“Mulai malam ini, kau cuma milikku,” bisik lelaki itu dengan suara serak, seolah tengah menahan sesuatu.
Bulu kuduk Catherine meremang sebadan-badan. Apalagi sekarang, pakaian Arley terbakar dan lenyap begitu saja ke udara. Mulai memperlihatkan lekuk tubuhnya yang bisa dibilang cukup atletis.
“Tidak! Aku tidak sudi memberikan malam pertamaku pada monster sepertimu!” pekik Catherine di dalam hatinya.
Tanpa perlu berpikir untuk kedua kali, Catherine berteriak lantang,
“SILENCIA!”
Cahaya terang muncul dari antah berantah, melingkupi seisi ruangan. Catherine memejamkan mata, hingga cahayanya pudar sempurna.
Catherine bernapas lega saat mendapati dirinya diteleport ke sebuah ruang kosong. Lalu dengan tangan gemetar, dia memberanikan diri untuk memeriksa leher.
“Aku selamat,” lirih perempuan itu saat mendapati bekas luka di lehernya sudah menghilang. Seolah tidak pernah ada sejak awal.
“Sisa 2 kesempatan lagi. Apa aku benar-benar bisa menemukan kisah cinta yang cocok untukku?” batin perempuan itu lagi.
Di tengah kebingungannya itu, sebuah layar muncul tepat di hadapannya. Memperlihatkan beberapa potong adegan berisi garis besar kehidupan yang akan dia jalani selanjutnya.
“Tadi aku nyaris mati oleh vampir, sekarang aku mau dibunuh oleh calon suami sendiri? Astaga! Apa tidak ada satupun kehidupan yang lurus-lurus saja?” ujar Catherine frustasi.
“Pilihannya memang terbatas. Tapi di kehidupan yang ini, kamu punya kesempatan mencegah kematianmu, ‘kan?” sahut Dewi Silencia yang muncul secara tiba-tiba, lengkap dengan kabut tebal di sekeliling kakinya.
Silencia lalu memberi informasi yang terdengar menggiurkan, “Kalau berhasil, kamu punya kesempatan untuk mendapatkan perhatian seseorang di pesta itu. Kepribadiannya lumayan, dia juga tidak akan memaksamu melakukan ini itu.”
“Dia tidak seperti monster yang aku— hamba temui barusan, ‘kan?” Catherine bertanya memastikan.
“Tidak! Aku bisa menjaminnya kali ini,” sahut Dewi Silencia dengan tegas.
Hati Catherine sedikit lega. Perempuan itu pun setuju bereinkarnasi ke sana. Tapi …
“Dewi Silencia, bolehkah hamba meminta satu hal lagi?”
Tanpa berpikir panjang, Silencia menganggukkan kepala. “Katakan saja padaku, anggap saja sebagai kompensasi karena Alfrey? Arley? membuatmu begitu ketakutan.”
***
Kali ini, Catherine terbangun di sebuah sofa mewah. Penampilannya begitu elegan dalam balutan gaun off shoulder berwarna merah, terlihat bagai mawar yang sedang merekah.
“Hm, malam perjamuan sebelum pernikahan, ya?” desis Catherine sambil mengingat kembali adegan yang tadi dia lihat di layar.
Perempuan itu lantas mengedar pandang ke sekeliling, sekadar melihat-lihat tamu undangan. Namun sebuah tepukan ringan di bahu membuyarkan konsentrasi Catherine, disusul munculnya sebuah suara,
“Sedang mencari sesuatu?”
Catherine pun menoleh. Seulas senyum langsung terkembang di bibir merahnya saat dia mengenali siapa pemilik wajah itu.
James Bradford, calon suami yang harus dia singkirkan malam ini juga.
“Aku mencarimu,” bohong Catherine. Perempuan itu lantas menunjuk pada sebotol wine di meja sembari berkata, “Mau minum denganku?”
“Ck, tidak perlu menyentuh anggur murahan itu. Aku sudah menyiapkan yang lebih enak untukmu,” tolak James.
“Oh ya? Dimana? Bisa aku minum sekarang? Aku haus,” desak Catherine.
James menyipitkan mata. “Kau memang tidak sabaran.”
“Ikuti aku,” ujar James sembari berbalik.
Catherine mengekor kemana James pergi, hingga mereka sampai di tangga utama. Di sana James bersikap seperti gentleman, menggandeng Catherine hingga mencapai lantai dua.
Di sana, MC sudah bersiaga. Lelaki itu langsung meminta perhatian dari tamu undangan, membuat James dan Catherine menjadi sorotan utama.
“Konon, anggur ini difermentasi selama 100 tahun. Sengaja kupilih untuk melambangkan harapanku pada pernikahan kami.”
Terdengar tepuk tangan yang meriah terdengar, membuat James tidak sabar menuju ke tahap selanjutnya. Segera dia menuang wine premium tersebut ke dua gelas berbeda. Lantas, menyerahkan salah satunya pada Catherine.
“Kau pasti suka rasanya,” ujar James, diikuti kerlingan mata penuh makna.
Catherine tersenyum simpul untuk menanggapi bualan menjijikkan itu. Dia bahkan meminum wine-nya dengan tenang. Sengaja, untuk membuat James lengah dan mengira bahwa semua berada di dalam kendalinya.
“Haha! Sebentar lagi riwayatmu akan tamat, jalang sialan!” senang James di dalam hatinya.
Tanpa sadar, James sedikit menyeringai. Terburu-buru dia merayakan kemenangannya dengan menyesap wine beraroma vanila dalam genggaman.
“Uhuk!”
Belum sempat wine tersebut masuk tenggorokan, James menyemburkannya keluar. Gelasnya pun dia buang, jatuh menggelinding di tangga.
James berteriak dengan wajah panik, “Beri aku air!”
Catherine berpura-pura terkejut. “Ada apa?”
“Air!”
James tidak menggubris pertanyaan Catherine. Disambarnya sebotol air minum yang tergeletak di meja MC. Tanpa peduli airnya sudah berkurang separuh, James menggunakannya untuk berkumur.
“Menjijikkan,” batin Catherine saat melihat James memuntahkan air kumurnya begitu saja. Dia juga refleks mencincing gaunnya.
Beberapa saat kemudian, James merasa sensasi pahit dan pedas di lidahnya sudah hilang. Lelaki itu bernapas lega, tapi juga bertanya-tanya, “Bagaimana bisa hal ini terjadi?”
“James? Kenapa denganmu? Apa ada yang salah dengan wine itu?” Catherine menepuk bahunya lembut sembari bertanya.
Mendengar sederet pertanyaan itu, benih kecurigaan langsung muncul di benak James. Dia pun mengangkat pandangannya. Menatap nyalang ke arah Catherine.
“Kau!” tuding James dengan napas tersengal. “Apa yang kau campurkan di minumanku, hah?!”
Catherine mengernyitkan dahi. “Hah? Bukannya botol wine ini masih tersegel saat baru saja kau buka. Mana bisa aku mencampurkan sesuatu tanpa kau ketahui.”
“Lagipula, aku ikut minum dan tidak kenapa-napa,” imbuh Catherine seraya menggembungkan pipi, seolah sedang merajuk.
Darah James tambah mendidih mendengar penyangkalan Catherine. “Kalau begitu, kau pasti menukar gelasnya!”
“Gelas apa lagi? Dari tadi aku cuma duduk diam, menunggu kamu menyapa beberapa tamu penting,” debat Catherine. “Kedua gelas kita juga baru diantar dari dapur. Kamu juga yang memberiku gelas untuk minum.”
Emosi James makin tersulut. Ditamparnya Catherine dengan kencang sembari berteriak, “Omong kosong! Kau pasti tahu kalau gelasku sudah diberi penawar, makanya kau menyuap pelayanku untuk menukar posisinya!”
Tanpa peduli dengan pipinya yang terasa panas, Catherine berlagak ternganga. Menutup mulutnya tak percaya sembari berujar terbata, “Pe-penawar apa? Jangan-jangan … wine itu memang beracun?”
Deg!
Jantung James seolah berhenti berdetak ketika mendengar ucapan Catherine. Langsung dia mengalihkan pandangan. Terlihat olehnya seluruh tamu undangan yang terpana tak percaya, ikut menjadi saksi bisu atas ucapan gegabahnya barusan.
“Bu-bukan begitu … maksudku— aargh! Lepas! Berani sekali kau menyentuhku!”
James berteriak saat kedua tangannya tiba-tiba ditekuk oleh seseorang, persis seperti penjahat yang akan diborgol oleh polisi. Genggaman lelaki itu juga sangat kuat, membuat James sulit melepaskan diri.
“Kukira kau pebisnis handal, ternyata cuma serangga bodoh yang numpang lewat,” hina sebuah suara dingin, namun penuh dengan wibawa.
Mengenali suara yang tidak asing di telinga, tengkuk James meremang seketika. Lelaki itu juga menoleh sambil berdesis tak percaya, “Se-Sean?”
“Ungh, apa ini?” desis Catherine ketika merasa ada sesuatu yang menempel di pinggangnya. Terasa agak berat dan hangat.Didorong oleh rasa penasaran, Catherine memaksakan diri mengusir rasa kantuk yang menggelayuti kelopak mata. Samar, dia melihat ada tangan yang ukurannya jelas melebihi miliknya.Dalam keadaan setengah sadar, Catherine meraba tangan tersebut. Terasa begitu nyata dengan beberapa bulu halus yang tersentuh oleh jemari lentik miliknya.“Heumm.”Suara berat itu terdengar familiar. Diiringi dengan hembusan napas hangat yang menyapu tengkuk lehernya. Catherine terkesiap seketika. Buru-buru dia bangkit. Sepasang mata yang semula maunya terpejam saja, kini membelalak lebar. Menatap horor ke arah tubuh seorang lelaki yang tengah berbaring santai di ranjang.“S-sean?” lirih Catherine tanpa ada niatan memanggil, apalagi membangunkan si lelaki.Detik berikutnya, dahi Catherine dibuat berkerut. Sementara otaknya berpikir keras. “Bagaimana mungkin Sean bisa menerabas masuk? Bukank
“Hoahm!”Catherine menguap ketika sinar mentari pagi yang menyelinap masuk melalui celah jendela, jatuh tepat di kelopak matanya. Memberikan efek silau yang langsung membuatnya terjaga.“Astaga. Apa aku salah tidur semalam? Kenapa badanku rasanya begitu pegal?” heran gadis itu seraya mulai merenggangkan otot tangannya yang kebas.Menganggap ini hal yang biasa, Catherine tidak menanggapinya dengan serius. Tanpa tahu menahu mengenai alasan sebenarnya dari rasa pegal yang dia rasakan, Catherine menjalani hari Minggu ini dengan santai.Sesekali, Catherine turun ke taman untuk memikirkan langkah apa yang sebaiknya diambil terlebih dahulu. Dia benar-benar serius ingin memperbaiki taman di kastil bobrok ini.“Nona rajin sekali,” komentar Ren yang tak sengaja lewat. Catherine membalasnya dengan senyum hangat. “Daripada menganggur, lebih baik kerjakan apa saja yang ada.”“Ngomong-ngomong, kau mau kemana?” tanya Catherine kemudian.“Oh astaga, saya hampir lupa!” seru Ren seraya menepuk jidatny
“Mau aku gendong atau jalan sendiri ke kamar, Cathie?” tawar Sean.Sebetulnya hatinya tidak rela. Ingin bermain-main dengan Catherine lebih lama. Sayangnya, mereka belum menyempurnakan blood contract yang telah terjalin. Sean takut kebablasan mencium bibir Catherine dan membuat tubuhnya mendapatkan serangan balik yang lebih menyakitkan dibanding tersambar petir.“Aku bisa sendiri.” Catherine menyahut cepat.Begitu Catherine turun dari pangkuannya, Sean mengingatkan, “Jangan lupa tanda tangani dulu kontraknya, Cathie. Sudah kau periksa isinya, ‘kan?”“Sudah,” jawab Catherine singkat. “Oh ya, apa kau bisa membantuku bertanya pada Ren?”“Soal apa?”Catherine hanya bisa menjelaskan, “Sikapnya cukup aneh. Kulihat Ren mengusap tengkuk berulang kali, seperti sedang gugup. Tapi dia tidak mau mengaku.”“Oh, mungkin masalah pribadi. Atau dia memang lelah.”Meski Sean mengucapkannya dengan penuh keyakinan, sebetulnya dia sendiri juga tidak yakin. Dia hanya berharap Catherine tidak terlalu kepik
“Catherine?” desis Sean yang mengenali suara itu. Dengan panik, Sean menyerahkan amplop ke tangan Zea. Belum sempat Zea bereaksi, tubuhnya telah diubah Sean menjadi segumpal kabut. Kegilaan Sean tidak hanya sampai di situ. Karena setelahnya, Sean meniupkan angin untuk menghempasnya ke balik pohon besar. Kebetulan tempatnya gelap, sehingga Zea dapat bertransformasi dengan aman. “Sebaiknya aku pergi dari sini supaya tidak menambah masalah,” pikir Zea sambil mengepakkan sepasang sayap coklatnya.Sementara itu, Sean menyambut kedatangan Catherine dengan tatapan dingin. “Kenapa mencariku?” tanyanya datar.“Jelaskan—”Tanpa memberi kesempatan bagi Catherine untuk menjawab, Sean menatap Ren yang berdiri gugup di sampingnya. Dan kebetulan, hal itu memberinya ide untuk sembarangan menuduh,“Oh, apakah Ren membuat kesalahan?”Catherine yang tadinya mau marah-marah pun membatalkan niatnya. Langsung mencoba meluruskan kesalahpahaman ini sebelum terlambat.“Bukan begitu, Sean. Dengarkan aku dul
“Itu … udang?” Catherine tak bisa menahan rasa penasarannya pada salah satu menu yang dibawa oleh Ren.“Ya, tapi jangan khawatir. Aku tahu kalau kau alergi udang. Makanan yang lain dijamin tidak terkontaminasi,” balas Sean.Dada Catherine seolah tertohok. Antusiasme yang semula terpancar di kedua bola matanya, kini perlahan redup.“Bagaimana bisa aku lupa soal ini? Catherine Ethenburough memang alergi dengan udang. Karena aku telah bereinkarnasi ke tubuhnya, sudah pasti aku akan mendapat reaksi alergi kalau nekat memakannya.”Untuk menyelamatkan diri dari kecurigaan Sean, Catherine langsung memasang senyum lebar ketika menoleh ke arahnya sambil berucap, “Kau pengertian sekali.”“Cuma perkara kecil,” sahut Sean yang tak menyadari perubahan ekspresi Catherine.Setelah semua siap dihidangkan, Catherine memilih untuk menyantap cheesy chicken casserole yang terlihat menggugah selera meski penampilannya sungguh sangat asing. Pada zamannya, belum ada yang membuat makanan itu.“Umm … kejunya
“Kau tahu semua itu dan masih berani menggodaku, Cathie?” Sean balas berbisik.Usai mengucapkan itu, Sean bergegas menuju kasir. Sama sekali tidak memperdulikan Catherine yang dibuatnya terkejut di tempat.“Sial!” geram Catherine begitu Sean menjauh. “Untung saja reaksinya cuma begitu. Kalau tiba-tiba mencium, mukaku ini mau ditaruh di mana?”***Setelah menyelesaikan pembayaran di kasir, Catherine mengira mereka akan langsung pulang. Namun saat melintas di lantai dua, Sean tiba-tiba berkata,"Mampir dulu ke depan sana."Mendengar ucapan Sean, segera Catherine menelusuri kemana sorot mata Sean mengarah. Tepatnya, pada sebuah gerai makanan. Saat mulai mendekat, terasa sekali kalau bau harumnya menyebar kemana-mana."Dia mau mengajakku makan? Dermawan sekali," batin Catherine kemudian.Begitu memasuki gerai makanan cepat saji itu, Sean berkata, "Kau tunggu saja di sini.""Ya," patuh Catherine seraya duduk di kursi yang menurutnya nyaman. Sementara itu, Sean langsung pergi ke kasir untuk







