ログイン“Anda takut tergoda olehku, Tuan?”
Catherine bertanya nakal tanpa mau melepaskan gamitan. Tekadnya sudah bulat untuk mendapat penjelasan dari Sean mengenai sejauh mana keterlibatan lelaki itu dengan kasus penipuan menyedihkan yang menimpa Catherine Ethenburough.
“Kurang ajar!” umpat Sean.
Tanpa memiliki kepedulian sedikit pun pada umpatan Sean barusan, Catherine perlahan mengusapkan jemari. Menyusuri pipi Sean yang selembut kapas, hingga tur kecilnya berakhir di rahang Sean yang mengetat. Ketika mencermati leher Sean, dia bisa melihat urat-urat yang menegang di sana. Menunjukkan seberapa besar murka Sean padanya.
“Apa susahnya menjawab pertanyaanku tadi?” ujar Catherine lambat. “Atau Tuan mau berlama-lama mempertahankan posisi ini? Anda merasa nyaman?”
“Jangan bicara seenaknya!”
Kali ini, kesabaran Sean benar-benar habis. Dengan kasar, dia menarik diri. Namun yang tidak disangka, Catherine begitu gigih. Perempuan itu mati-matian mempertahankan gamitannya. Alhasil sekarang, keningnya terbentur bahu lebar milik Sean.
“Cepat lepas!” Sean sudah sangat frustasi.
“Tidak sebelum Anda menjelaskan semuanya,” tolak Catherine untuk kesekian kali.
Menarik nafas panjang, lalu dihembuskan dengan kasar. Sean sudah sangat jengah dengan semua ini.
“Berikan imbalan untukku kalau kau memang mau dapat informasi!” ujar Sean, memberi syarat.
“Imbalan uang? Ayolah, Anda juga tahu kalau— auw!”
Ketika mengoceh, Catherine tidak sengaja menurunkan kewaspadaannya. Sean pun memanfaatkan kesempatan ini untuk segera menarik tubuhnya. Dan sebelum Catherine berbuat nekat lagi, Sean buru-buru melarikan diri.
“Dasar pelit!” Catherine menggembungkan pipi seraya menghentakkan kaki.
Sean sama sekali tidak menanggapi. Lalu di penghujung anak tangga, dia berpapasan dengan Albrighton. Lelaki tua itu membawa tiga anak buah bersamanya.
“Lama sekali,” omel Sean sambil lalu.
Albrighton menundukkan kepala. “Maafkan saya, Tuan.”
Lelaki tua yang rambutnya sudah berubah menjadi kelabu itu lantas memberikan kode pada dua satpam yang dia bawa untuk segera mengamankan James. Sementara yang satunya lagi mengekor dirinya untuk menemui Catherine.
“Nona, saya sudah memahami garis besar masalah ini. Kalau Nona tidak keberatan, mari saya antarkan ke ruang kendali untuk melihat rekaman CCTV,” ujar Albrighton dengan ramah.
“Sean bahkan berani memarahi lelaki yang sigap dan ramah seperti ini? Ck, keterlaluan!” rutuk Catherine di dalam hati.
Catherine lantas tersenyum, sedikit menyingkir untuk memberi jalan, serta mengiyakan, “Kalau begitu, maaf harus merepotkan Anda.”
***
Sean membanting pintu mobilnya dengan kasar. Menimbulkan bunyi debam yang membuat Erick —sopir pribadinya, kaget.
Dari kaca spion, Sean dapat melihat ekspresi penuh tanya yang terpampang di muka Erick. Seolah, wajah lelaki itu memiliki subtitle.
“Cepat antar aku ke mansion!” perintah Sean dengan nada yang tak mau dibantah.
“Baik Tuan.” Erick menyanggupi.
Lelaki itu lalu memutar kunci, bersiap memanaskan mesin. Namun tiba-tiba, ada sesuatu yang mengusik indra penciumannya.
“Em, Tuan.” Erick berujar ragu.
“Apa?” Sean bertanya dengan nada yang tidak bersahabat.
Erick mereguk saliva. Lalu, mengerahkan sisa keberanian untuk bertanya, “Darimana asal aroma manis ini?”
Sean menaikkan sebelah alisnya. “Bau manis? Kau jangan bicara aneh-aneh!”
“Saya serius, Tuan!”
Mendengar ucapan Erick yang penuh keyakinan, pendirian Sean mulai goyah. “Apa ucapannya benar?”
Lalu lewat tatapan mata, Sean memberi kode pada Erick untuk mulai menyelidiki. Erick pun tidak melewatkan kesempatan itu. Dia gunakan indra penciumannya semaksimal mungkin, hingga …
“Tuan, aromanya cukup menempel di lengan dan pipi Anda,” beritahu Erick setelah selesai melakukan inspeksi.
Dahi Sean otomatis berkerut. “Lengan dan pipi? Apa saja benda yang aku sentuh selama perjamuan tadi?”
“Tidak mungkin!” seru Sean begitu otaknya memikirkan suatu kemungkinan.
Erick menoleh. “Ada apa, Tuan?”
“Itu … " Sean menghentikan ucapannya karena terlalu malu menceritakan perihal godaan yang Catherine Ethenburough lakukan padanya.
Akhirnya Sean berkata seadanya, "Seingatku, dia seorang perempuan."
“Perempuan? Lalu bagaimana aromanya bisa menempel di pipi?” Erick hanya berani membatin. Tidak punya nyali untuk menanyakannya secara langsung.
Sambil mencoba menyembunyikan rasa terkejutnya, Erick membalas, “Tuan, mungkinkah itu aroma yang sering disebutkan dalam buku kuno?”
“Kemungkinan menemukan orang yang seperti itu cuma satu banding satu milyar, tapi tidak ada salahnya mencoba mencari tahu,” batin Sean.
Sean lantas menyuruh, “Berikan aku informasi pribadi Catherine Ethenburough!”
“Siap!”
Tidak membutuhkan waktu lama bagi Erick untuk mengumpulkan informasi pribadi dari perempuan yang namanya baru disebutkan oleh Sean. Segera setelah selesai, Erick menunjukkan hasil kerjanya.
“Catherine lahir di tanggal 8 bulan 9?” Sean bergumam penuh tanya.
Erick kaget seketika. “Bukankah seharusnya, orang yang memiliki aroma manis itu lahir di tanggal dan bulan kembar seperti tanggal 8 bulan 8, atau tanggal 9 bulan 9?”
Sean menatap curiga ke arah Erick. “Mungkinkah hidungmu itu sudah berkarat?”
“Tuan … tapi.”
Erick ingin menyangkal, namun bingung merangkai kata-kata. Sean jadi tambah pusing.
Menyandarkan kepala ke kaca jendela, Sean lantas memijat kening. “Apa aku harus membawa gadis lancang itu kemari untuk diinterogasi? Menyebalkan sekali!”
“Lancang? Jangan-jangan dugaanku benar. Alasan kenapa ada aroma manis di pipi Tuan adalah—”
“Erick!” suara bariton Sean menginterupsi pemikiran liar Erick.
Yang dipanggil pun tergagap menjawab, “Siap, Tuan!”
“Dekati Catherine, pastikan aroma manis itu berasal dari dia atau bukan. Kalau yakin, bawa dia ke sini,” perintah Sean.
“Baik!” patuh Erick sembari beranjak pergi.
Sepeninggal Erick, Sean segera memberitahu situasi ini pada Albrighton lewat chat. Albrighton memahaminya dengan cepat. Sehingga saat Erick menemuinya, Albrighton tahu persis apa yang harus dia lakukan.
“Ternyata benar. Aroma manis ini memang berasal dari dia,” batin Erick ketika berdiri di samping Catherine.
Langsung saja Erick berkata, “Permisi Nona, Tuan saya mengundang Anda untuk berbincang.”
“Tuanmu? Siapa?” Catherine bertanya to the point.
“Tuan Sean Lamiore.”
Catherine menyipitkan mata begitu mendengar nama Sean disebut. “Oh, Sean yang tadi?” tanyanya dengan suara kesal.
Erick hanya bisa tersenyum canggung dan kembali bertanya, “Apa Nona bersedia?”
“Pergi saja, Nona. Mungkin Tuan saya memang mau membicarakan hal penting dengan Anda. Jarang sekali dia mau menemui orang seperti ini,” timpal Albrighton.
Lelaki tua itu juga menjanjikan, “Serahkan semua urusan di sini pada saya.”
“Hm, baiklah,” setuju Catherine setelah dibujuk oleh Albrighton.
Akhirnya dengan diantar oleh Erick, Catherine sampai di dekat sebuah mobil mewah berwarna hitam legam. Meski Catherine awam soal mobil, dia bisa tahu kalau desainnya cukup unik dibanding mobil kebanyakan.
“Silakan masuk, Nona,” ujar Erick sembari membuka pintu.
Catherine mengiyakan dengan berat hati. Erick menyempatkan diri untuk menutup pintu sebelum beranjak duduk di bangku terdekat, tidak mau mengganggu pertemuan mereka.
“Mau bilang apa?”
Begitu duduk, Catherine bertanya ketus. Dia masih kesal karena bibir Sean sungguh rapat mengunci jawaban yang dia inginkan.
Sean merotasikan bola matanya. “Sudah tidak penasaran dengan bagaimana caraku tahu kalau orang tua James yang menipumu?”
Bohong kalau Catherine tidak merasa tertarik dengan hal ini. Namun, dia mengingat suatu hal.
“Kau bilang, harus ada imbalannya. Jadi, apa yang kau minta?” tanya Catherine seraya menaikkan sebelah alisnya.
Alih-alih menjawab, Sean malah merangkum pipi putih bersih milik Catherine. Membalas perlakukan Catherine padanya.
“Masih perawan?” Sean bertanya tanpa filter.
Catherine sontak membulatkan mata. Batinnya menjerit kaget, “Pertanyaan macam apa itu?”
Tanpa peduli dengan respon Catherine, Sean bertanya lagi,
“Keberatan kalau aku cium?”
Uhuk!
Sebelum reinkarnasi, Catherine sempat menikah. Dan seperti pasangan pada umumnya, mereka tentu berciuman di hari pernikahan. Tapi, kejadian itu sudah berlalu sekitar 72 tahun lamanya! Sebab setelahnya, Catherine benar-benar diabaikan. Dia meninggal di usia senja dalam keadaan masih perawan.
“Kau sedang kerasukan se— umh!”
Belum sempat Catherine menyelesaikan protesnya, Sean terlihat dahulu mengambil inisiatif. Lelaki itu mendaratkan bibirnya dengan santai, seolah ini hal yang biasa.
“Memang ada sedikit rasa manis,” batin Sean yang tidak melupakan tujuannya mengundang Catherine kemari. “Di dalam, apa rasa manisnya semakin pekat?”
Untuk memuaskan rasa penasaran, Sean menelusupkan indra perasanya. Kejadiannya begitu cepat, seolah Sean sedang menjilat es krim.
“H-hei!”
Catherine menutup bibirnya rapat-rapat begitu ada kesempatan. Sementara di hadapannya, pandangan Sean terlihat sedikit berkabut.
Mengecup ibu jarinya seraya mendesis, “Memang manis.”
“Manis? Ap— jangan!”
Catherine panik saat Sean tiba-tiba menahan tangannya di samping. Lalu tanpa ada aba-aba, lelaki itu kembali mendaratkan bibirnya. Dan kali ini, sentuhan Sean tidak selembut sebelumnya.
“Jangan buat pikiranku jadi liar begini, Cathie,” lirih Sean. Suara seraknya itu sebetulnya nyaris tidak terdengar. Namun di saat yang tepat, berhembus angin sepoi yang nakal. Menghantarkan pesan memalukan itu pada Catherine.“Hah?” respon Catherine sambil menaikkan sebelah alis.Melihat wajah Catherine yang bingung maksimal, Sean jadi sadar kalau pemikirannya masih polos. Berbanding terbalik dengan otaknya yang gampang memikirkan aneka hal kotor. Fakta ini pun membuatnya malu sendiri.“K-kau tidak perlu tahu,” ujar Sean kemudian.Supaya rasa malunya ini tidak berlarut-larut, Sean mengajak, “Bisa kita lakukan sekarang?”Menggaruk kepala yang tidak gatal, Catherine lalu membalas, “Boleh saja. Tapi memangnya kau punya jarum?”“Ada.”Sean memasukkan tangan ke dalam saku. Diam-diam menggerakkan jarinya untuk menciptakan sebuah jarum tajam. Sambil mengeluarkannya, Sean berkata, “Nih.”“Tidak bisa dipercaya!” kaget Catherine di dalam hati. Dia bahkan mengucek-ngucek kedua mata, saking tida
“Sederhananya, kita ciuman di sini,” ujar Sean, mengakhiri keheningan yang sempat menguasai ruangan ini ketika melamunkan ingatannya semalam. Mata Catherine melotot seketika. Ditunjuknya patung Dewi Silencia sambil berujar tak percaya, “Ini tempat— maksudku ruangan suci, ‘kan? Bukankah ini sedikit tidak pantas?”“Ini bukan ciuman karena hasrat, Cathie. Lagipula bukankah orang-orang yang baru saja menikah, juga bisa ciuman di gereja? Disaksikan banyak orang pula.”Sean berusaha bersabar meski sekarang, pipinya mulai memunculkan semburat merah muda.“Tapi kita nggak nikah, Sean. Mana bisa disamakan,” protes Catherine. Sedikit menyiratkan kalau dia ingin Sean memberinya penjelasan yang memuaskan. Sean mengelap wajahnya gusar.“Kau pernah dengar blood contract?” tanyanya lamat setelah berpikir beberapa saat.“Emm … kontrak darah?” jawab Catherine penuh keraguan. Dahinya bahkan berkerut sempurna.Catherine tidak melanjutkan ucapannya. Sibuk memikirkan apa sebenarnya yang dimaksud oleh Se
“Kau kecanduan menciumku atau bagaimana?” heran Sean di dalam hatinya.“Oh, astaga!” batin lelaki itu begitu sekelebat ingatan tiba-tiba terputar di kepala. “Pasti karena ucapanku tadi.”Andaikan Catherine tidak menutup mata, maka dia bisa melihat tampang Sean yang begitu licik. Sudut bibirnya bahkan terangkat sebelah.Sean lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Kepalanya sedikit menunduk ketika menekan bibir Catherine dengan jari telunjuk,“Tidak di sini, Cathie,” lirih Sean. Suara rendahnya itu entah ditujukan untuk menggoda Catherine, atau ada maksud lain.Giliran Catherine yang terkesiap. Sepasang mata bulatnya mengedip-ngedip tak percaya ketika Sean menghentikan surprise yang dia rencanakan secara mendadak.“Apa mungkin, dia cuma mau ganti tempat?” pikir Catherine lagi, merujuk pada kalimat yang baru saja Sean ucapkan. Sementara Catherine sibuk memeras otak, Sean mulai melancarkan aksinya.“Agresif sekali.”Cup!“Umm.”Suara memalukan itu lolos begitu saja dari bibir mu
“Apa-apaan sikapnya itu? Sebentar romantis, terus tiba-tiba dingin. Juga ada saatnya dia menggila atau bersikap menjengkelkan. Aku benar-benar tidak bisa memahami isi pikiran Sean,” batin Catherine sambil sedikit meremas kemeja krem pemberian Sean.Diam-diam, dia mencuri pandang ke arah lelaki itu. Sayangnya hanya punggung Sean yang bisa dia lihat. Selebihnya tersembunyi dibalik pintu.Meskipun begitu, kesibukannya jelas terlihat oleh mata Catherine. Pelahan, Catherine menelusupkan tangannya pada lengan kemeja. Karena berjalan lancar, dia masukkan tangan satunya juga. Sehingga sekarang, kemeja itu benar-benar terpakai olehnya.“Tanpa perlu memasang kancingnya, ukurannya memang pas,” komentar Catherine. “Tapi, bagaimana bisa Sean punya kemeja seukuran ini? Tidakkah hal ini terlalu mencurigakan?”“Haruskah aku bertanya? Atau—”“Apa lagi yang sedang kau pikirkan?” keluh Sean.Tadinya Sean mau memberikan celana untuk Catherine. Namun Sean membatalkan niatnya ketika mendapati sosok Cather
“Ruangan apa ini?”Catherine bergumam lirih ketika Sean memasuki sebuah ruangan. Sepasang matanya lalu sibuk memandang kesana kemari, mencermati setiap sudut ruangan asing itu.Merasa kalau ruangan tersebut aman untuk dia masuki, Catherine pun ikut menginjakkan kakinya ke sana. Saat tangannya tidak sengaja menyentuh dinding, jemarinya merasakan tekstur lembut yang cukup memuaskan.“Apa ini?” tanyanya penasaran sambil mulai melihat ke arah tembok.Terlihat olehnya kain berbulu warna merah pekat yang dihias dengan sulaman keemasan. Tadi dia sempat mengira kalau kain itu paling cuma barang murahan yang asal ditempelkan. Namun setelah meraba teksturnya, sekaligus menyadari bahwa kain tersebut memiliki kilau yang memikat, Catherine menyimpulkan,“Sulit dipercaya! Aku berani bertaruh kalau kain beludru ini dibuat dari sutra, sementara bulunya diambil dari cerpelai putih. Kualitasnya begitu tinggi dan sepertinya, benang emas ini juga dipintal memakai lempengan emas murni,” batin Catherine.P
“Dari sekian banyak buku yang sudah kau kumpulkan, satu-satunya petunjuk yang konsisten cuma soal tanggal dan bulan kembar itu? Cih! Sungguh tidak berguna!”Bertepatan dengan berakhirnya omelan Sean itu, terdengar suara kencang yang memekakkan telinga. Asalnya dari meja yang ditendang oleh Sean sebagai pelampiasan rasa kesal.Saking kuatnya tendangan lelaki itu, meja tersebut sampai terbang. Setumpuk buku yang semula berada di atasnya, kini berhamburan tanpa arah.“Ya Tuhan!” jerit batin Ren ketika menyadari bahwa meja tersebut melayang ke arahnya.Tidak mau berakhir menjadi ayam geprek, Ren segera meloncat ke samping. Namun tanpa disangka, Ren terpeleset saat hendak mendarat. Dia pun berakhir jatuh terduduk. Ditambah satu buku tebal yang menimpa kepala.“Auw,” desis Ren.Baru saja tangannya hendak menyentuh kepala, fokus Ren teralihkan pada meja yang hancur berantakan begitu menyentuh tembok. Bahkan, serpihan kayu melesat ke arahnya.“Barrier!” Ren buru-buru merapalkan mantra, menci







