Share

Sedikit Menggodamu

last update publish date: 2026-06-01 14:48:04

“Anda takut tergoda olehku, Tuan?” 

Catherine bertanya nakal tanpa mau melepaskan gamitan. Tekadnya sudah bulat untuk mendapat penjelasan dari Sean mengenai sejauh mana keterlibatan lelaki itu dengan kasus penipuan menyedihkan yang menimpa Catherine Ethenburough.

“Kurang ajar!” umpat Sean.

Tanpa memiliki kepedulian sedikit pun pada umpatan Sean barusan, Catherine perlahan mengusapkan jemari.  Menyusuri pipi Sean yang selembut kapas, hingga tur kecilnya berakhir di rahang Sean yang mengetat. Ketika mencermati leher Sean, dia bisa melihat urat-urat yang menegang di sana. Menunjukkan seberapa besar murka Sean padanya. 

“Apa susahnya menjawab pertanyaanku tadi?” ujar Catherine lambat. “Atau Tuan mau berlama-lama mempertahankan posisi ini? Anda merasa nyaman?”

“Jangan bicara seenaknya!”

Kali ini, kesabaran Sean benar-benar habis. Dengan kasar, dia menarik diri. Namun yang tidak disangka, Catherine begitu gigih. Perempuan itu mati-matian mempertahankan gamitannya. Alhasil sekarang, keningnya terbentur bahu lebar milik Sean. 

“Cepat lepas!” Sean sudah sangat frustasi.

“Tidak sebelum Anda menjelaskan semuanya,” tolak Catherine untuk kesekian kali.

Menarik nafas panjang, lalu dihembuskan dengan kasar. Sean sudah sangat jengah dengan semua ini.

“Berikan imbalan untukku kalau kau memang mau dapat informasi!” ujar Sean, memberi syarat.

“Imbalan uang? Ayolah, Anda juga tahu kalau— auw!”

Ketika mengoceh, Catherine tidak sengaja menurunkan kewaspadaannya. Sean pun memanfaatkan kesempatan ini untuk segera menarik tubuhnya. Dan sebelum Catherine berbuat nekat lagi, Sean buru-buru melarikan diri.

“Dasar pelit!” Catherine menggembungkan pipi seraya menghentakkan kaki.

Sean sama sekali tidak menanggapi. Lalu di penghujung anak tangga, dia berpapasan dengan Albrighton. Lelaki tua itu membawa tiga anak buah bersamanya.

“Lama sekali,” omel Sean sambil lalu.

Albrighton menundukkan kepala. “Maafkan saya, Tuan.”

Lelaki tua yang rambutnya sudah berubah menjadi kelabu itu lantas memberikan kode pada dua satpam yang dia bawa untuk segera mengamankan James. Sementara yang satunya lagi mengekor dirinya untuk menemui Catherine.

“Nona, saya sudah memahami garis besar masalah ini. Kalau Nona tidak keberatan, mari saya antarkan ke ruang kendali untuk melihat rekaman CCTV,” ujar Albrighton dengan ramah.

“Sean bahkan berani memarahi lelaki yang sigap dan ramah seperti ini? Ck, keterlaluan!” rutuk Catherine di dalam hati.

Catherine lantas tersenyum, sedikit menyingkir untuk memberi jalan, serta mengiyakan, “Kalau begitu, maaf harus merepotkan Anda.”

***

Sean membanting pintu mobilnya dengan kasar. Menimbulkan bunyi debam yang membuat Erick —sopir pribadinya, kaget.

Dari kaca spion, Sean dapat melihat ekspresi penuh tanya yang terpampang di muka Erick. Seolah, wajah lelaki itu memiliki subtitle.

“Cepat antar aku ke mansion!” perintah Sean dengan nada yang tak mau dibantah.

“Baik Tuan.” Erick menyanggupi.

Lelaki itu lalu memutar kunci, bersiap memanaskan mesin. Namun tiba-tiba, ada sesuatu yang mengusik indra penciumannya.

“Em, Tuan.” Erick berujar ragu.

“Apa?” Sean bertanya dengan nada yang tidak bersahabat. 

Erick mereguk saliva. Lalu, mengerahkan sisa keberanian untuk bertanya, “Darimana asal aroma manis ini?”

Sean menaikkan sebelah alisnya. “Bau manis? Kau jangan bicara aneh-aneh!”

“Saya serius, Tuan!” 

Mendengar ucapan Erick yang penuh keyakinan, pendirian Sean mulai goyah. “Apa ucapannya benar?”

Lalu lewat tatapan mata, Sean memberi kode pada Erick untuk mulai menyelidiki. Erick pun tidak melewatkan kesempatan itu. Dia gunakan indra penciumannya semaksimal mungkin, hingga …

“Tuan, aromanya cukup menempel di lengan dan pipi Anda,” beritahu Erick setelah selesai melakukan inspeksi.

Dahi Sean otomatis berkerut. “Lengan dan pipi? Apa saja benda yang aku sentuh selama perjamuan tadi?”

“Tidak mungkin!” seru Sean begitu otaknya memikirkan suatu kemungkinan.

Erick menoleh. “Ada apa, Tuan?”

“Itu … " Sean menghentikan ucapannya karena terlalu malu menceritakan perihal godaan yang Catherine Ethenburough lakukan padanya.

Akhirnya Sean berkata seadanya, "Seingatku, dia seorang perempuan."

“Perempuan? Lalu bagaimana aromanya bisa menempel di pipi?” Erick hanya berani membatin. Tidak punya nyali untuk menanyakannya secara langsung. 

Sambil mencoba menyembunyikan rasa terkejutnya, Erick membalas, “Tuan, mungkinkah itu aroma yang sering disebutkan dalam buku kuno?”

“Kemungkinan menemukan orang yang seperti itu cuma satu banding satu milyar, tapi tidak ada salahnya mencoba mencari tahu,” batin Sean.

Sean lantas menyuruh, “Berikan aku informasi pribadi Catherine Ethenburough!”

“Siap!”

Tidak membutuhkan waktu lama bagi Erick untuk mengumpulkan informasi pribadi dari perempuan yang namanya baru disebutkan oleh Sean. Segera setelah selesai, Erick menunjukkan hasil kerjanya.

“Catherine lahir di tanggal 8 bulan 9?” Sean bergumam penuh tanya.

Erick kaget seketika. “Bukankah seharusnya, orang yang memiliki aroma manis itu lahir di tanggal dan bulan kembar seperti tanggal 8 bulan 8, atau tanggal 9 bulan 9?”

Sean menatap curiga ke arah Erick. “Mungkinkah hidungmu itu sudah berkarat?”

“Tuan … tapi.” 

Erick ingin menyangkal, namun bingung merangkai kata-kata. Sean jadi tambah pusing. 

Menyandarkan kepala ke kaca jendela, Sean lantas memijat kening. “Apa aku harus membawa gadis lancang itu kemari untuk diinterogasi? Menyebalkan sekali!”

“Lancang? Jangan-jangan dugaanku benar. Alasan kenapa ada aroma manis di pipi Tuan adalah—”

“Erick!” suara bariton Sean menginterupsi pemikiran liar Erick. 

Yang dipanggil pun tergagap menjawab, “Siap, Tuan!”

“Dekati Catherine, pastikan aroma manis itu berasal dari dia atau bukan. Kalau yakin, bawa dia ke sini,” perintah Sean.

“Baik!” patuh Erick sembari beranjak pergi.

Sepeninggal Erick, Sean segera memberitahu situasi ini pada Albrighton lewat chat. Albrighton memahaminya dengan cepat. Sehingga saat Erick menemuinya, Albrighton tahu persis apa yang harus dia lakukan.

“Ternyata benar. Aroma manis ini memang berasal dari dia,” batin Erick ketika berdiri di samping Catherine. 

Langsung saja Erick berkata, “Permisi Nona, Tuan saya mengundang Anda untuk berbincang.”

“Tuanmu? Siapa?” Catherine bertanya to the point.

“Tuan Sean Lamiore.”

Catherine menyipitkan mata begitu mendengar nama Sean disebut. “Oh, Sean yang tadi?” tanyanya dengan suara kesal.

Erick hanya bisa tersenyum canggung dan kembali bertanya, “Apa Nona bersedia?”

“Pergi saja, Nona. Mungkin Tuan saya memang mau membicarakan hal penting dengan Anda. Jarang sekali dia mau menemui orang seperti ini,” timpal Albrighton. 

Lelaki tua itu juga menjanjikan, “Serahkan semua urusan di sini pada saya.”

“Hm, baiklah,” setuju Catherine setelah dibujuk oleh Albrighton. 

Akhirnya dengan diantar oleh Erick, Catherine sampai di dekat sebuah mobil mewah berwarna hitam legam. Meski Catherine awam soal mobil, dia bisa tahu kalau desainnya cukup unik dibanding mobil kebanyakan.

“Silakan masuk, Nona,” ujar Erick sembari membuka pintu.

Catherine mengiyakan dengan berat hati.  Erick menyempatkan diri untuk menutup pintu sebelum beranjak duduk di bangku terdekat, tidak mau mengganggu pertemuan mereka.

“Mau bilang apa?”

Begitu duduk, Catherine bertanya ketus. Dia masih kesal karena bibir Sean sungguh rapat mengunci jawaban yang dia inginkan.

Sean merotasikan bola matanya. “Sudah tidak penasaran dengan bagaimana caraku tahu kalau orang tua James yang menipumu?”

Bohong kalau Catherine tidak merasa tertarik dengan hal ini. Namun, dia mengingat suatu hal.

“Kau bilang, harus ada imbalannya. Jadi, apa yang kau minta?” tanya Catherine seraya menaikkan sebelah alisnya.

Alih-alih menjawab, Sean malah merangkum pipi putih bersih milik Catherine. Membalas perlakukan Catherine padanya.

“Masih perawan?” Sean bertanya tanpa filter.

Catherine sontak membulatkan mata. Batinnya menjerit kaget, “Pertanyaan macam apa itu?”

Tanpa peduli dengan respon Catherine, Sean bertanya lagi, 

“Keberatan kalau aku cium?”

Uhuk!

Sebelum reinkarnasi, Catherine sempat menikah. Dan seperti pasangan pada umumnya, mereka tentu berciuman di hari pernikahan. Tapi, kejadian itu sudah berlalu sekitar 72 tahun lamanya! Sebab setelahnya, Catherine benar-benar diabaikan. Dia meninggal di usia senja dalam keadaan masih perawan.

“Kau sedang kerasukan se— umh!”

Belum sempat Catherine menyelesaikan protesnya, Sean terlihat dahulu mengambil inisiatif. Lelaki itu mendaratkan bibirnya dengan santai, seolah ini hal yang biasa. 

“Memang ada sedikit rasa manis,” batin Sean yang tidak melupakan tujuannya mengundang Catherine kemari. “Di dalam, apa rasa manisnya semakin pekat?”

Untuk memuaskan rasa penasaran, Sean menelusupkan indra perasanya. Kejadiannya begitu cepat, seolah Sean sedang menjilat es krim.

“H-hei!” 

Catherine menutup bibirnya rapat-rapat begitu ada kesempatan. Sementara di hadapannya, pandangan Sean terlihat sedikit berkabut. 

Mengecup ibu jarinya seraya mendesis, “Memang manis.”

“Manis? Ap— jangan!”

Catherine panik saat Sean tiba-tiba menahan tangannya di samping. Lalu tanpa ada aba-aba, lelaki itu kembali mendaratkan bibirnya. Dan kali ini, sentuhan Sean tidak selembut sebelumnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Kok Bisa Masuk?

    “Ungh, apa ini?” desis Catherine ketika merasa ada sesuatu yang menempel di pinggangnya. Terasa agak berat dan hangat.Didorong oleh rasa penasaran, Catherine memaksakan diri mengusir rasa kantuk yang menggelayuti kelopak mata. Samar, dia melihat ada tangan yang ukurannya jelas melebihi miliknya.Dalam keadaan setengah sadar, Catherine meraba tangan tersebut. Terasa begitu nyata dengan beberapa bulu halus yang tersentuh oleh jemari lentik miliknya.“Heumm.”Suara berat itu terdengar familiar. Diiringi dengan hembusan napas hangat yang menyapu tengkuk lehernya. Catherine terkesiap seketika. Buru-buru dia bangkit. Sepasang mata yang semula maunya terpejam saja, kini membelalak lebar. Menatap horor ke arah tubuh seorang lelaki yang tengah berbaring santai di ranjang.“S-sean?” lirih Catherine tanpa ada niatan memanggil, apalagi membangunkan si lelaki.Detik berikutnya, dahi Catherine dibuat berkerut. Sementara otaknya berpikir keras. “Bagaimana mungkin Sean bisa menerabas masuk? Bukank

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Eksistensi Reinkarnasi

    “Hoahm!”Catherine menguap ketika sinar mentari pagi yang menyelinap masuk melalui celah jendela, jatuh tepat di kelopak matanya. Memberikan efek silau yang langsung membuatnya terjaga.“Astaga. Apa aku salah tidur semalam? Kenapa badanku rasanya begitu pegal?” heran gadis itu seraya mulai merenggangkan otot tangannya yang kebas.Menganggap ini hal yang biasa, Catherine tidak menanggapinya dengan serius. Tanpa tahu menahu mengenai alasan sebenarnya dari rasa pegal yang dia rasakan, Catherine menjalani hari Minggu ini dengan santai.Sesekali, Catherine turun ke taman untuk memikirkan langkah apa yang sebaiknya diambil terlebih dahulu. Dia benar-benar serius ingin memperbaiki taman di kastil bobrok ini.“Nona rajin sekali,” komentar Ren yang tak sengaja lewat. Catherine membalasnya dengan senyum hangat. “Daripada menganggur, lebih baik kerjakan apa saja yang ada.”“Ngomong-ngomong, kau mau kemana?” tanya Catherine kemudian.“Oh astaga, saya hampir lupa!” seru Ren seraya menepuk jidatny

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Kecurigaan Ren

    “Mau aku gendong atau jalan sendiri ke kamar, Cathie?” tawar Sean.Sebetulnya hatinya tidak rela. Ingin bermain-main dengan Catherine lebih lama. Sayangnya, mereka belum menyempurnakan blood contract yang telah terjalin. Sean takut kebablasan mencium bibir Catherine dan membuat tubuhnya mendapatkan serangan balik yang lebih menyakitkan dibanding tersambar petir.“Aku bisa sendiri.” Catherine menyahut cepat.Begitu Catherine turun dari pangkuannya, Sean mengingatkan, “Jangan lupa tanda tangani dulu kontraknya, Cathie. Sudah kau periksa isinya, ‘kan?”“Sudah,” jawab Catherine singkat. “Oh ya, apa kau bisa membantuku bertanya pada Ren?”“Soal apa?”Catherine hanya bisa menjelaskan, “Sikapnya cukup aneh. Kulihat Ren mengusap tengkuk berulang kali, seperti sedang gugup. Tapi dia tidak mau mengaku.”“Oh, mungkin masalah pribadi. Atau dia memang lelah.”Meski Sean mengucapkannya dengan penuh keyakinan, sebetulnya dia sendiri juga tidak yakin. Dia hanya berharap Catherine tidak terlalu kepik

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Kenapa Butuh Darahku?

    “Catherine?” desis Sean yang mengenali suara itu. Dengan panik, Sean menyerahkan amplop ke tangan Zea. Belum sempat Zea bereaksi, tubuhnya telah diubah Sean menjadi segumpal kabut. Kegilaan Sean tidak hanya sampai di situ. Karena setelahnya, Sean meniupkan angin untuk menghempasnya ke balik pohon besar. Kebetulan tempatnya gelap, sehingga Zea dapat bertransformasi dengan aman. “Sebaiknya aku pergi dari sini supaya tidak menambah masalah,” pikir Zea sambil mengepakkan sepasang sayap coklatnya.Sementara itu, Sean menyambut kedatangan Catherine dengan tatapan dingin. “Kenapa mencariku?” tanyanya datar.“Jelaskan—”Tanpa memberi kesempatan bagi Catherine untuk menjawab, Sean menatap Ren yang berdiri gugup di sampingnya. Dan kebetulan, hal itu memberinya ide untuk sembarangan menuduh,“Oh, apakah Ren membuat kesalahan?”Catherine yang tadinya mau marah-marah pun membatalkan niatnya. Langsung mencoba meluruskan kesalahpahaman ini sebelum terlambat.“Bukan begitu, Sean. Dengarkan aku dul

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Perlu Cap Darah?

    “Itu … udang?” Catherine tak bisa menahan rasa penasarannya pada salah satu menu yang dibawa oleh Ren.“Ya, tapi jangan khawatir. Aku tahu kalau kau alergi udang. Makanan yang lain dijamin tidak terkontaminasi,” balas Sean.Dada Catherine seolah tertohok. Antusiasme yang semula terpancar di kedua bola matanya, kini perlahan redup.“Bagaimana bisa aku lupa soal ini? Catherine Ethenburough memang alergi dengan udang. Karena aku telah bereinkarnasi ke tubuhnya, sudah pasti aku akan mendapat reaksi alergi kalau nekat memakannya.”Untuk menyelamatkan diri dari kecurigaan Sean, Catherine langsung memasang senyum lebar ketika menoleh ke arahnya sambil berucap, “Kau pengertian sekali.”“Cuma perkara kecil,” sahut Sean yang tak menyadari perubahan ekspresi Catherine.Setelah semua siap dihidangkan, Catherine memilih untuk menyantap cheesy chicken casserole yang terlihat menggugah selera meski penampilannya sungguh sangat asing. Pada zamannya, belum ada yang membuat makanan itu.“Umm … kejunya

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Ayamnya Terlalu Menggoda

    “Kau tahu semua itu dan masih berani menggodaku, Cathie?” Sean balas berbisik.Usai mengucapkan itu, Sean bergegas menuju kasir. Sama sekali tidak memperdulikan Catherine yang dibuatnya terkejut di tempat.“Sial!” geram Catherine begitu Sean menjauh. “Untung saja reaksinya cuma begitu. Kalau tiba-tiba mencium, mukaku ini mau ditaruh di mana?”***Setelah menyelesaikan pembayaran di kasir, Catherine mengira mereka akan langsung pulang. Namun saat melintas di lantai dua, Sean tiba-tiba berkata,"Mampir dulu ke depan sana."Mendengar ucapan Sean, segera Catherine menelusuri kemana sorot mata Sean mengarah. Tepatnya, pada sebuah gerai makanan. Saat mulai mendekat, terasa sekali kalau bau harumnya menyebar kemana-mana."Dia mau mengajakku makan? Dermawan sekali," batin Catherine kemudian.Begitu memasuki gerai makanan cepat saji itu, Sean berkata, "Kau tunggu saja di sini.""Ya," patuh Catherine seraya duduk di kursi yang menurutnya nyaman. Sementara itu, Sean langsung pergi ke kasir untuk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status