/ Romansa / Penghangat Ranjang Tuan Sean / Bye Bye, Nenek Lampir!

공유

Bye Bye, Nenek Lampir!

last update 게시일: 2026-06-04 16:10:20

“Sepertinya aku pernah melihat rumah itu. Tapi dimana, ya?” batin Catherine tanpa melepaskan pandangannya pada sebuah rumah mewah yang terlihat cukup stand out di antara deretan rumah pinggir jalan.

Tidak berapa lama kemudian, Albrighton memelankan laju mobilnya seraya berkata, “Nona, kita hampir sampai.”

“Astaga, pantas saja!” seru batin Catherine ketika dia akhirnya menemukan jawaban atas rasa familiarnya pada rumah itu. Dia baru ingat pernah melihat rumah keluarga Bradford di penggalan ingatan Catherine Ethenburough.

Mobil akhirnya berjalan memasuki gerbang yang terbuka lebar. Sementara itu di dekat beranda, terparkir sebuah truk. Adapun para kru berseragam tengah mengangkut beberapa barang.

“Loh, keluarga Bradford mau pindah?” celetuk Catherine. 

“Bukan, Nona. Itu adalah truk yang sengaja kami sewa untuk mengangkut barang-barang milik Nona,” balas Albrighton. 

Catherine langsung mengerutkan dahi. “Memangnya mereka bisa dipanggil semudah itu? Ini sudah cukup malam.”

Albrighton menjawab santai, “Buktinya mereka sudah ada disini. Dan sepertinya, sudah hampir selesai mengangkut barang Anda.”

“Lho. Lalu apa gunanya aku kesini kalau semuanya sudah beres?” bingung Catherine.

“Tentu saja Nona harus mengecek apakah ada barang yang tertinggal. Siapa tahu ada barang yang tidak Nona letakkan di kamar,” jelas Albrighton, membuat Catherine kontan membulatkan bibir.

Setelah mobil berhenti sempurna, Catherine van Lammington bergegas turun. Meski dia tidak 100% yakin kalau dia bisa mengenali barang milik Catherine Ethenburough, Catherine memutuskan untuk masuk saja dulu.

Baru saja menutup pintu, Catherine disambut oleh suara melengking milik Clara Bradford. 

“Kurang ajar kamu, Cathie! Aku tidak sudi melihatmu menginjakkan kaki kotormu di rumahku!”

Karena terkejut, Catherine refleks menoleh ke sumber suara. Dan untuk kedua kali, dia dibuat terkejut oleh keadaan Clara.

“Pak Bright, apa yang terjadi di sini?” bingung Catherine. 

Albrighton tersenyum tipis. “Maaf karena saya tidak memberitahukan soal ini pada Nona. Sebetulnya tadi, saya mengirimkan orang untuk mengintai Nyonya Clara. Saya takut dia menghancurkan barang-barang Anda, makanya saya bergegas menelepon jasa angkut barang.”

“Begitu Nyonya Clara sampai di kediaman, hal yang pertama dia cari adalah korek api untuk membakar semua barang Anda. Oleh karena itu, saya meminta agar Nyonya Clara dikondisikan terlebih dahulu,” imbuh Albrighton.

Ketika menyimak penjelasan Albrighton yang penuh kejutan, bibir ranum milik Catherine tidak bisa menahan diri untuk tidak menganga.

“Aku bisa paham kalau kau mengirimkan pengintai ataupun mengontak jasa pindahan. Tapi yang itu … rasanya kurang pamtas, ‘kan?” tanyanya sambil menunjuk ke arah Clara yang diikat pada pilar.

Albrighton tertawa kecil. Lalu, membatin di dalam hati, “Hati Nona Catherine memang terlalu lembut. Saya jadi tidak menyesal sudah memerintahkan semua ini.”

Lelaki tua itu lantas menyarankan “Sudahlah Nona, tidak perlu mengurus hal-hal seperti ini. Lebih baik Anda segera masuk untuk memeriksa apakah ada barang yang tertinggal.”

“Eum, baiklah,” setuju Catherine seraya melangkahkan kakinya di beranda rumah mewah milik Clara Bradford.

“Berhenti di sana, dasar jalang rendahan!” maki Clara. Histeris sendiri saat melihat Catherine mau memasuki rumahnya.

Catherine menaikkan sebelah alisnya dan bertanya, “Bukankah waktu itu, Anda sendiri yang menawarkan saya tinggal di sini? Kenapa sekarang tidak boleh?”

Wajah Clara langsung berubah merah padam dibuatnya. Bagai tak sengaja tersiram oleh air panas.

“Heh! Minimal kalau miskin tuh, sadar diri! Sekarang kamu bukan lagi calon menantu keluarga Bradford! Apalagi keributan yang kamu buat di gedung membuat bisnis kami rugi besar! James bahkan terancam masuk penjara. Jadi, atas dasar apa aku membiarkanmu masuk? Enak saja! Ini bukan tempat yang bisa didatangi seenaknya oleh gelandangan sepertimu!” 

Clara mengomeli Catherine panjang kali lebar,  meluapkan emosi yang sedari tadi dipendam di dada. Kedua mata perempuan itu juga melotot tajam, seolah siap mencincang Catherine bila dia nekat masuk.

Catherine yang sudah kebal dengan aneka macam makian dan ancaman di kehidupan lampaunya, hanya tersenyum tipis. Tidak ada amarah, juga tidak ada rasa takut yang dia tunjukkan.

“Maaf soal itu, tapi James yang duluan mau membuatku celaka. Lagipula aku cuma mau mengemasi barang, bukan mau mencuri,” sahut Catherine santai.

Tanpa disangka, jawaban yang adem ayem dari Catherine itu malah semakin menyulut kemurkaan Clara. Dia langsung mengancam, “Awas kamu! Pasti akan aku tuntut karena sudah menerobos rumah orang secara paksa!”

“Silahkan saja. Akan kubalas dengan pasal penyebaran data pribadi. Oh iya, sekalian aku publish di internet. Biar semua rekan bisnismu was-was data pribadi mereka akan dicuri dan disalahgunakan olehmu dan komplotan rendahanmu itu!” jawab Catherine, balik mengancam.

Clara terkesiap. “Dia tahu soal itu? Tidak mungkin!”

Melihat ekspresi wajah Clara yang bingung sekaligus terkejut, Catherine mengembangkan senyum sinis. Tanpa mengatakan apapun lagi, dia masuk ke ruang tamu dengan bebas.

“Rumah ini memang sesuai dengan reputasi keluarga Bradford. Elegan, mewah, klasik tapi tidak norak. Kalau saja ini bukan rumah milik si nenek lampir dan putra terkutuknya, sudah pasti aku beli bila punya uang,” puji Catherine setelah melihat-lihat penataan furnitur yang begitu apik.

Tidak mau terlalu terlena dengan semua kemewahan ini, Catherine cepat-cepat mengalihkan fokusnya untuk mengamati apakah ada barang yang familiar. Dengan begitu, dia bisa segera rehat dengan tenang di peraduan.

***

Bye bye,” provokasi Catherine sembari melambaikan tangan pada Clara yang masih terikat di pilar. 

Sambil bertingkah angkuh, Catherine menaiki mobil Albrighton. Begitu mobil sudah meninggalkan kediaman Clara, barulah anak buah Albrighton melepaskan Clara. 

“Sombong sekali kamu! Lihat saja nanti! Aku pasti akan membuat perhitungan denganmu!” amuk Clara, yang tentunya tidak dapat didengar oleh Catherine. 

Sementara itu di mobil, Catherine merasa puas. “Meski pembalasan ini sama sekali tidak seberapa dibanding ulah jahat Clara, setidaknya dia sudah sedikit kena getahnya.”

“Pak Bright, apakah perlu waktu lama untuk sampai ke mansion milik Tuan Sean? Tempat macam apa itu? Apakah lebih luas dan lebih megah dari rumah keluarga Bradford?” cecar Catherine yang merasa penasaran. 

Mendengar sederet pertanyaan yang terlontar dari bibir Catherine, Albrighton tersenyum karir. Dia bahkan sedikit menggaruk kening saat berujar, “Kalau soal itu … sebaiknya Nona lihat sendiri nanti.”

***

Catherine melongo di tempat. Sepasang bola mata berwarna biru miliknya berkedip lambat. Adapun otaknya bekerja keras untuk mencerna apa yang sedang dia lihat sekarang.

“Pak Bright,” panggil Catherine dengan suara lirih. Ditunjuknya kastil tua yang berada tepat di depan seraya bertanya, “Ini … mansion yang dimaksud Sean?”

“Bukan Nona, ini kastil pribadi milik Tuan Sean,” sahut Albrighton, disusul dengan gelengan kepala. “Tadinya Tuan ingin menempatkan Anda di mansion yang jauh lebih bagus dari kediaman keluarga Bradford. Tapi karena tadi Anda berdua sempat bertengkar, Tuan Sean langsung memerintahkan saya untuk membawa Anda kemari.”

“YANG BENAR SAJA!” jerit Catherine.

Saking kencangnya teriakan Catherine, belasan burung tak bersalah yang sedang bertengger di dahan pohon sampai kompak beterbangan. Menimbulkan suara kicau yang cukup bising.

“Ma-maaf,” ucap Catherine sembari menutup mulut dengan rapat.

Jauh di lubuk hatinya, Albrighton merasa kalau respon Catherine ini sungguh manusiawi. Oleh karena itu, dia tidak mempermasalahkan hal itu.

“Nona, biar saya mengantar Anda menuju tower yang berada di sayap kanan bangunan,” ucap Albrighton. 

“Tower?” kaget Catherine. “Jangan bilang kalau aku akan tinggal di sana.”

Sayangnya, dugaan Catherine tepat. Membuat Catherine kembali mengeluh, “Bukankah itu terlalu jauh dari gerbang utama?”

“Maaf Nona, tapi itu satu-satunya tempat yang kosong. Lagipula, seluruh ruangan di tower itu milik Anda. Jadi meski ada banyak pelayan yang berlalu lalang di kediaman, privasi Anda bisa lebih terjaga,” jelas Albrighton.

“Bahkan disini masih ada pelayan? Astaga. Sebenarnya, Sean ini orang aneh macam apa?” 

Hatchu!

Saat  asyik berendam di bathtub miliknya yang nyaman, Sean bersin. Rambut hitamnya yang basah pun turut bergoyang, mengikuti gerakan kepala yang begitu tiba-tiba.

Sambil meraih tisu, Sean bergumam penuh kecurigaan, “Apa ada yang diam-diam membicarakanku di belakang?”

“Ah, mengganggu konsentrasiku saja. Padahal aku sedang sibuk memikirkan hukuman macam apa yang harus diberi ke Catherine. Dia harus membayar harga atas semua masalah yang sudah dia berikan, termasuk cubitan yang meninggalkan banyak bekas merah ini!”

Sean mengomel sambil menatap pada kulitnya yang dipenuhi jejak samar berwarna kemerahan. 

“Haruskah aku memberi tanda merah yang sama juga di sekujur tubuhnya? Tapi alih-alih dari cubitan, mungkin akan lebih menantang kalau disebabkan oleh ciuman?” pikir Sean kemudian.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Apakah Cantik Saat Kupakai?

    “Ada yang bisa saya bantu Tuan, Nona?” tanya Ami begitu mendekat.Sebelum Sean sempat menggerakkan bibirnya, Catherine mencuri start terlebih dahulu. Dia berkata, “Apa boleh saya menanyakan tentang gaun ini?”Alih-alih menunjuk pada gaun yang tengah ditenteng Sean, tangan Catherine terarah pada sebuah gaun putih bermotif floral yang masih terpajang di display.“Oh, tentu saja Nona,” sahut Ami, lengkap dengan senyum ramahnya.Catherine pun bertanya, “Apa ada gaun yang seperti ini, tapi motif bunganya berwarna gelap. Seperti ungu atau biru?”“Ada, Nona. Tapi kain tile-nya berwarna lilac. Untuk kain yang putih, kami hanya menyediakan motif berwarna pink dan kuning. Bagaimana? Apa Anda berkenan melihatnya?” balas Ami.“Boleh,” setuju Catherine.Ami lalu mengambil dress putih floral yang ditunjuk oleh Catherine. Dia juga bertanya, “Ukurannya disamakan dengan ini, Nona?”“Iya,” angguk Catherine.Setelah mendapatkan konfirmasi itu, Ami melangkah pergi menuju gudang. Meninggalkan Sean dan Cat

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Pilih Sesukamu, Cathie

    “Ada aku di sini, tidak perlu memikirkan soal harga,” ujar Sean. Tangannya juga sengaja menepuk-nepuk kantong, memberi kode kalau dia akan mengurus semuanya.Catherine menggelengkan kepala. “Tidak boleh begitu.”Menghembuskan napas kencang, Sean lantas berujar, “Dengan gaji bulananmu yang cuma seupil itu, paling-paling kau cuma bisa beli satu atau dua potong baju saja.”“Apa?” kaget Catherine. Sepasang matanya membola tak percaya.Menggapai tangan Catherine untuk dia gandeng, Sean lantas mulai menaiknya menuju eskalator. Dalam perjalanan, dia berkata, “Anggap saja ini fasilitas yang harus aku penuhi.”“Kalau begitu, aku tidak akan segan lagi,” balas Catherine.Kepalanya menunduk, menyembunyikan rona merah yang mulai tampil di pipi. Malu karena Sean tiba-tiba menggandeng dirinya. Membuat Catherine merasa kalau mereka adalah pasangan yang sedang menghabiskan waktu bersama.“Baguslah kalau kau mengerti,” lega Sean di dalam hati.“Perhatikan langkahmu,” ujarnya lagi ketika mereka sudah sa

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Apa Kau Tahu Seatbelt, Cathie?

    Catherine menelan ludahnya dengan susah payah.Amarah yang tadi sempat menguasai dirinya, kini mulai goyah. Firasatnya juga buruk soal ini.“God dammit!” umpat Sean sambil memukul setir sebagai pelampiasan amarah.Dia lalu menjelaskan, “Aku begini karena kau malah terlihat kebingungan saat aku suruh memakai sabuk pengaman.”“Tunggu dulu,” henti lelaki itu seraya menoleh. Sorot matanya dipenuhi oleh keputusasaan ketika bertanya, “Jangan bilang kalau kau tidak tahu soal seatbelt, Cathie.”“Mampus!” jerit batin Catherine.Segera dia memalingkan pandangan ke arah lain. Bibirnya berucap gugup, “Sabuk … anu, aku tahu kok.”Dihadapkan pada kebohongan Catherine yang begitu jelas, Sean semakin murka. Urat di lehernya pun terlihat tegang.“Kalau begitu, coba tunjukkan padaku. Mana benda yang aku maksud,” pintanya geram.Catherine kembali menelan ludah. Tangannya gemetaran menyentuh beberapa benda secara asal. Dia sungguh tidak punya kesan sedikit pun tentang sabuk pengaman yang disebutkan oleh

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Jangan Pikirkan Lelaki Lain

    “Ada aku di sini, tapi dia malah menanyakan Ren?” kesal Sean di dalam hatinya.Sepercik rasa cemburu pun muncul, membuat mood-nya jadi jelek. Wajahnya yang semula berseri, kini seperti digelayuti oleh awan mendung.“Huh! Apa aku kurang menarik dibandingkan lelaki itu?" geramnya kemudian.Dengan wajah sebal level maksimalnya itu, Sean bertanya ketus, “Siapa bilang Ren akan ikut dengan kita?”Sebelah alis Catherine langsung terangkat. “Maksudnya, kau yang menyetir?” tanyanya memastikan.“Jangan menguji kesabaranku, Cathie!” sungut Sean. Menepuk-nepuk kursi yang tengah dia duduki, Sean lantas menyindir, “Matamu itu masih normal, ‘kan? Maksudku, bisa melihat kalau aku duduk di sini.”Lelaki itu menjeda kalimatnya sebentar untuk menarik napas. Lalu dia hembuskan dengan kencang, sekalian melampiaskan rasa dongkol di dalam hati.“Itu artinya aku yang menyetir, Cathie. Masa iya kau perlu menanyakan hal seperti ini.”Catherine mencebikkan bibirnya. “Aku belum pernah melihatmu menyetir sendiri.

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Perlihatkan Sedikit Lebih Lama, Ya?

    Jakun Sean langsung bergerak turun begitu melihat pemandangan menggoda yang ditampilkan oleh Catherine. Meski jarak mereka cukup jauh, mata Sean langsung cosplay menjadi mata elang kalau sudah dihadapkan dengan situasi ini.Matanya naik turun berulangkali karena bingung mau melihat yang mana. Antara melihat bagian atas handuk yang terlihat sangat sesak sampai seperti tak muat menampung sepasang aset pribadi milik Catherine, atau memandangi paha Catherine yang begitu mulus.“Perawatan macam apa yang dia lakukan? Nyaris tidak ada bulu yang terlihat di kakinya,” pikir Sean kemudian.Menyadari Sean yang terpaku di tempatnya tanpa melakukan apa pun, pipi Catherine langsung merona. Buru-buru dia menutupkan kedua tangan. Yang satu menghalangi belahan dadanya, sementara yang lainnya menutupi bagian bawah.“Pelit sekali,” komentar Sean.Bibirnya sedikit maju. Pipinya juga terlihat agak menggembung. Persis seperti seorang anak kecil yang merajuk karena tidak diperbolehkan makan permen.Langsung

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Satu Jam dalam Pangkuan

    Cup!Tanpa memberikan waktu bagi Catherine untuk bereaksi, Sean mendaratkan kecupan manis di leher perempuan itu. Tarikan napasnya terasa berat, berbanding terbalik dengan hatinya yang merasa lega.“Ah, sekarang aku tahu mengapa para vampir begitu terobsesi menemukan ‘wanita pilihan’ yang disebutkan dalam legenda. Hanya menciumnya beberapa detik saja, rasa sakit di dadaku mulai berkurang.”Sean merasa tidak cukup dengan itu, sehingga indra perasanya mulai berkelana. Menyusuri setiap jengkal leher Catherine hingga hampir menyentuh dagu.“Uhh, S-sean. Jangan,” tolak Catherine. Napasnya terdengar seperti gemuruh, seperti melodi yang mendadak hadir di tengah badai.Gadis itu berusaha menundukkan kepalanya dalam-dalam. Berpikir dia dapat menghentikan, atau setidaknya membatasi pergerakan Sean.Sean memang sedikit kesulitan menghadapi trik kecil yang dimainkan Catherine. Namun, dia punya solusinya sendiri.“Begini saja tidak bisa kau tahan, Cathie?” goda Sean.Jemarinya perlahan turun, meng

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status