LOGIN“Ssh! Bukankah aku jadi terlihat ingin mengincar tubuhnya saja? Mau ditaruh mana citraku ini?” rutuk Sean, mencoba menyingkirkan idenya jauh-jauh.
Menghela nafas kasar, Sean lantas kembali menyandarkan punggungnya dengan nyaman. “Sudahlah, pikirkan besok saja saat bertemu.”
Sepasang mata Sean lantas melirik ke arah jam yang tergantung di dinding luar kamar mandi. Kebetulan kamar mandi miliknya tidak full tembok, melainkan sebagian dipasang dengan kaca khusus. Kaca itu memungkinkan dia untuk melihat segalanya dari dalam. Namun bila dilihat dari luar, kaca tersebut tampak blur. Sama sekali tidak bisa digunakan untuk mengintip.
“Seharusnya mereka sudah sampai, ‘kan? Ah, aku jadi penasaran bagaimana reaksinya saat tahu bahwa dia akan tinggal di kastil bobrok itu,” gumam Sean.
Meraih telepon yang diletakkan tak jauh dari bathtub tempatnya berendam, Sean langsung menelepon Albrighton. Dan hanya butuh waktu beberapa detik sampai lelaki tua itu mengangkat telepon darinya.
“Ada keperluan apa, Tuan?” tanya Albrighton yang kebetulan sedang menaiki tangga lantai satu untuk mengantarkan Catherine menuju kamarnya yang berada di lantai empat.
“Ada Catherine?” tanya Sean to the point.
Albrighton membulatkan bibir. Segera dia menjawab, “Ada, Tuan.”
“Nona, ini ada telepon untuk Anda,” beritahu Albrighton sembari berbalik badan. Menyodorkan telepon kepada Catherine yang sedari tadi mengekor di belakangnya.
Sambil menerima telepon tersebut, Catherine menaikkan sebelah alis dan bertanya, “Dari Sean?”
Albrighton menganggukkan kepala sebagai balasan, membuat mood Catherine berubah jelek. Akhirnya dengan wajah masam, dia bertanya ketus pada Sean, “Kenapa mencariku?”
“Ck, kau benar-benar tidak tahu berterima kasih. Aku sudah berbaik hati menampungmu, tapi lihat bagaimana kau memperlakukanku! Tahu begitu, aku—”
Catherine sudah terlalu lelah mendengar omelan dari Sean. Oleh karena itu demi kebaikan mentalnya, dia memberanikan diri untuk mematikan sambungan telepon.
“No-nona … Anda ini?” komentar Albrighton tertahan. Dia ingin menasihati, tapi juga takut menyinggung.
“Biarkan saja dia mengomel besok. Pasti akan aku dengarkan,” ucap Catherine yang memahami bagaimana perasaan Albrighton.
Perempuan itu lalu berniat mengembalikan telepon Albrighton. Namun baru saja disodorkan, ada panggilan masuk lagi dari Sean.
“Dia tidak tahu cara menyerah, ya?” batin Catherine sembari menyipitkan mata.
Catherine pun memutuskan untuk mengatur smartphone Albrighton dalam mode hening. Dengan begitu, mereka berdua tidak akan terganggu oleh nada dering yang melengking itu untuk sementara waktu.
“Maaf Pak Bright, tapi boleh di-silent sampai kita sampai di kamar saya?” Catherine mengutarakan permintaannya meski terlambat.
Karena sudah terlanjur, Albrighton hanya bisa menyetujui supaya suasana tidak berubah menjadi canggung. Dia lalu menerima telepon miliknya, lantas kembali memandu Catherine menuju lantai selanjutnya.
“Ngomong-ngomong, bagian dalam menara ini tidak seburuk yang kukira,” batin Catherine saat menginjakkan kaki di lantai dua.
Berbeda dari ruangan lantai satu yang kosong melompong, ada beberapa hal menarik yang bisa Catherine temukan di lantai dua. Di antaranya, beberapa sofa dan nakas antik yang terlihat terawat dengan baik.
“Ini dulunya ruangan apa?” tanya Catherine, tidak bisa menahan rasa penasarannya.
“Tidak ada, Nona. Tapi katanya saat masih berfungsi sebagai kediaman dari keluarga bangsawan, tempat ini biasa digunakan para prajurit untuk bercengkrama dan makan siang.”
Catherine menaikkan sebelah alis. “Penjaga pun diberikan waktu untuk beristirahat? Bukankah akan berbahaya kalau mereka lengah sebentar saja?”
Ucapan Catherine itu didasarkan pada pengalamannya di kehidupan pertama. Sebagai putri dari wakil jenderal utama, sekaligus istri dari adik raja yang berkuasa, otomatis Catherine menghabiskan sepanjang hidupnya di kastil, makanya dia sedikit paham dengan hal-hal seperti ini. Terlebih waktu itu, tidak sedikit orang yang menginginkan nyawa keluarganya. Makanya para penjaga tidak boleh lengah. Akibatnya bisa fatal.
“Oh, tentu saja prajurit yang sudah menyelesaikan shift-nya. Kalau yang masih berjaga, mana boleh meninggalkan pos penjagaan mereka, kecuali saat berkeliling,” ralat Albrighton.
“Begitu rupanya,” balas Catherine sembari menganggukkan kepala. Perempuan bergaun merah itu lantas membatin, “Aku tidak pernah tahu kalau penjaga juga boleh beristirahat di tempat-tempat seperti itu. Biasanya, mereka berkumpul di pos atau ruang yang luas seperti taman. Atau … aku yang kurang cermat?”
“Ah, astaga! Kenapa aku malah memikirkan ini?”
Catherine menepuk-nepuk kedua pipi. Lalu, kembali fokus menyusuri ruangan lantai dua, hingga sampai di anak tangga menuju lantai tiga.
“Jaraknya lumayan juga. Tapi untungnya dulu aku juga tinggal di kastil dan terbiasa menaiki ribuan anak tangga. Hal seperti ini bukan apa-apa bagiku,” batin Catherine sambil mulai menapakkan kaki di anak tangga.
Setelah hampir sampai di penghujung anak tangga, Catherine dibuat takjub dengan apa yang tengah dia lihat sekarang. Tanpa bisa menahan rasa gembira di hati, dia bertanya, “Ini ruang makan yang disiapkan khusus untukku?”
“Betul, Nona. Dapurnya memang dibangun terpisah dari menara. Tetapi Nona jangan khawatir. Setiap waktunya makan, akan ada pelayan yang mengantar makanan ke sini.”
Catherine mengangguk senang. Lalu dengan mata berbinar, perempuan itu menyentuh kursi dan meja yang terlihat cukup mewah. “Kualitasnya bahkan cukup baik. Tidak kalah dengan kursi dan meja modern yang tadi digunakan di pesta.”
“Syukurlah kalau Nona menyukainya. Tadi saya sempat khawatir Nona tidak akan suka karena gayanya terlalu vintage,” ucap Albrighton ketika melihat sepasang mata Catherine yang berbinar.
“Pak Bright yang memilihkan?” Catherine tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.
Tanpa menunggu jawaban dari Albrighton, Catherine menyipitkan mata. Wajahnya berubah masam saat mengomel, “Kalau Sean yang memilih, dia pasti cuma memberiku sepaket meja dan kursi kayu yang sudah lapuk dimakan rayap. Dan dia baru puas setelah aku jatuh karena duduk di kursi bobrok pilihannya.”
Albrighton melipat bibirnya serapat mungkin. Tangannya juga diam-diam masuk ke dalam saku, merogoh smartphone. Berusaha untuk menekan tombol mute. Namun …
“Gadis sialan itu! Apakah dia tidak pernah puas menghinaku? Sampai sekarang pun, semua ucapannya tentangku selalu buruk! Kurang baik apa aku ini?!” geram Sean yang terlanjur mendengar semua ocehan Catherine.
Sebetulnya saat Catherine lengah, Albrighton diam-diam mengangkat panggilan dari Sean. Namun, dia langsung membisukan panggilan itu supaya suara Sean tidak terdengar oleh Catherine.
“Cih! Sekarang Albrighton ikut membisukan panggilannya? Apa dia lebih takut dengan Catherine dibandingkan padaku?” omel Sean lagi.
Merasa panggilan telepon itu sudah tidak ada gunanya, Sean mematikannya sekalian. Lalu dengan amarah yang berkecamuk di dada, Sean melangkah keluar dari bathtub. Memperlihatkan tubuhnya yang tidak terhalang oleh sehelai benang pun.
Mengambil handuk yang tergantung di dekat cermin, Sean lantas mengeringkan tubuhnya. Lalu alih-alih mengeringkan rambut basahnya, Sean menjentikkan jari.
Hanya dalam sekejap, tubuh polosnya itu telah dibalut oleh celana panjang dan kemeja putih semi-transparan. Sementara rambut basahnya yang tadi terlihat berantakan, sekarang bagai telah ditata oleh seorang hairstylist profesional.
“Lihat saja, Catherine! Jangan kira aku akan melepasmu setelah kau menghinaku seperti itu!” geram Sean dengan sepasang tangan yang mengepal erat.
Sean lantas berteriak kencang, “Erick!”
Begitu mendengar namanya dipanggil, Erick yang aslinya tengah bersantai di kursi kayu sambil menyeruput jus jeruk itu langsung berteleportasi ke dekat Sean. Mana berani dia membuat Sean menunggu barang satu detik saja.
“Ada perintah untuk saya … ehh!”
Erick baru sadar kalau tangannya masih menggenggam segelas jus. Segera dia melempar gelas itu ke portal, mencoba menyelamatkan mukanya di hadapan Sean.
Melihat tingkah Erick itu, Sean hanya bisa memijit kening. “Minta Ren mengosongkan jadwalku untuk besok.”
“Semua?” tanya Erick dengan sepasang mata bulatnya yang berkedip-kedip tak percaya.
“Hm.” Sean membalas untuk terakhir kali. Karena setelah mengucapkan itu, tubuhnya menghilang. Meninggalkan Erick sendiri di depan kamar mandi.
Sepeninggal sang tuan, Erick membuka portal. Diraihnya jus jeruk miliknya untuk diseruput sebelum berkomentar, “Mungkinkah Tuan Sean terburu-buru menemui Nona Catherine? Ya ampun, baru pertama kali aku melihat sisi Tuan yang seperti ini. Biasanya Tuan tidak pernah membatalkan jadwal secara mendadak, ketika sakit sekalipun.”
“Tapi … apakah hubungan mereka akan selancar yang dipikirkan oleh Tuan? Bagaimanapun juga, esensi kehidupan milik manusia itu terbatas. Entah berapa lama lagi Nona Catherine bisa hidup setelah seluruh esensi kehidupannya dikuras habis oleh Tuan Sean.”
“Jangan buat pikiranku jadi liar begini, Cathie,” lirih Sean. Suara seraknya itu sebetulnya nyaris tidak terdengar. Namun di saat yang tepat, berhembus angin sepoi yang nakal. Menghantarkan pesan memalukan itu pada Catherine.“Hah?” respon Catherine sambil menaikkan sebelah alis.Melihat wajah Catherine yang bingung maksimal, Sean jadi sadar kalau pemikirannya masih polos. Berbanding terbalik dengan otaknya yang gampang memikirkan aneka hal kotor. Fakta ini pun membuatnya malu sendiri.“K-kau tidak perlu tahu,” ujar Sean kemudian.Supaya rasa malunya ini tidak berlarut-larut, Sean mengajak, “Bisa kita lakukan sekarang?”Menggaruk kepala yang tidak gatal, Catherine lalu membalas, “Boleh saja. Tapi memangnya kau punya jarum?”“Ada.”Sean memasukkan tangan ke dalam saku. Diam-diam menggerakkan jarinya untuk menciptakan sebuah jarum tajam. Sambil mengeluarkannya, Sean berkata, “Nih.”“Tidak bisa dipercaya!” kaget Catherine di dalam hati. Dia bahkan mengucek-ngucek kedua mata, saking tida
“Sederhananya, kita ciuman di sini,” ujar Sean, mengakhiri keheningan yang sempat menguasai ruangan ini ketika melamunkan ingatannya semalam. Mata Catherine melotot seketika. Ditunjuknya patung Dewi Silencia sambil berujar tak percaya, “Ini tempat— maksudku ruangan suci, ‘kan? Bukankah ini sedikit tidak pantas?”“Ini bukan ciuman karena hasrat, Cathie. Lagipula bukankah orang-orang yang baru saja menikah, juga bisa ciuman di gereja? Disaksikan banyak orang pula.”Sean berusaha bersabar meski sekarang, pipinya mulai memunculkan semburat merah muda.“Tapi kita nggak nikah, Sean. Mana bisa disamakan,” protes Catherine. Sedikit menyiratkan kalau dia ingin Sean memberinya penjelasan yang memuaskan. Sean mengelap wajahnya gusar.“Kau pernah dengar blood contract?” tanyanya lamat setelah berpikir beberapa saat.“Emm … kontrak darah?” jawab Catherine penuh keraguan. Dahinya bahkan berkerut sempurna.Catherine tidak melanjutkan ucapannya. Sibuk memikirkan apa sebenarnya yang dimaksud oleh Se
“Kau kecanduan menciumku atau bagaimana?” heran Sean di dalam hatinya.“Oh, astaga!” batin lelaki itu begitu sekelebat ingatan tiba-tiba terputar di kepala. “Pasti karena ucapanku tadi.”Andaikan Catherine tidak menutup mata, maka dia bisa melihat tampang Sean yang begitu licik. Sudut bibirnya bahkan terangkat sebelah.Sean lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Kepalanya sedikit menunduk ketika menekan bibir Catherine dengan jari telunjuk,“Tidak di sini, Cathie,” lirih Sean. Suara rendahnya itu entah ditujukan untuk menggoda Catherine, atau ada maksud lain.Giliran Catherine yang terkesiap. Sepasang mata bulatnya mengedip-ngedip tak percaya ketika Sean menghentikan surprise yang dia rencanakan secara mendadak.“Apa mungkin, dia cuma mau ganti tempat?” pikir Catherine lagi, merujuk pada kalimat yang baru saja Sean ucapkan. Sementara Catherine sibuk memeras otak, Sean mulai melancarkan aksinya.“Agresif sekali.”Cup!“Umm.”Suara memalukan itu lolos begitu saja dari bibir mu
“Apa-apaan sikapnya itu? Sebentar romantis, terus tiba-tiba dingin. Juga ada saatnya dia menggila atau bersikap menjengkelkan. Aku benar-benar tidak bisa memahami isi pikiran Sean,” batin Catherine sambil sedikit meremas kemeja krem pemberian Sean.Diam-diam, dia mencuri pandang ke arah lelaki itu. Sayangnya hanya punggung Sean yang bisa dia lihat. Selebihnya tersembunyi dibalik pintu.Meskipun begitu, kesibukannya jelas terlihat oleh mata Catherine. Pelahan, Catherine menelusupkan tangannya pada lengan kemeja. Karena berjalan lancar, dia masukkan tangan satunya juga. Sehingga sekarang, kemeja itu benar-benar terpakai olehnya.“Tanpa perlu memasang kancingnya, ukurannya memang pas,” komentar Catherine. “Tapi, bagaimana bisa Sean punya kemeja seukuran ini? Tidakkah hal ini terlalu mencurigakan?”“Haruskah aku bertanya? Atau—”“Apa lagi yang sedang kau pikirkan?” keluh Sean.Tadinya Sean mau memberikan celana untuk Catherine. Namun Sean membatalkan niatnya ketika mendapati sosok Cather
“Ruangan apa ini?”Catherine bergumam lirih ketika Sean memasuki sebuah ruangan. Sepasang matanya lalu sibuk memandang kesana kemari, mencermati setiap sudut ruangan asing itu.Merasa kalau ruangan tersebut aman untuk dia masuki, Catherine pun ikut menginjakkan kakinya ke sana. Saat tangannya tidak sengaja menyentuh dinding, jemarinya merasakan tekstur lembut yang cukup memuaskan.“Apa ini?” tanyanya penasaran sambil mulai melihat ke arah tembok.Terlihat olehnya kain berbulu warna merah pekat yang dihias dengan sulaman keemasan. Tadi dia sempat mengira kalau kain itu paling cuma barang murahan yang asal ditempelkan. Namun setelah meraba teksturnya, sekaligus menyadari bahwa kain tersebut memiliki kilau yang memikat, Catherine menyimpulkan,“Sulit dipercaya! Aku berani bertaruh kalau kain beludru ini dibuat dari sutra, sementara bulunya diambil dari cerpelai putih. Kualitasnya begitu tinggi dan sepertinya, benang emas ini juga dipintal memakai lempengan emas murni,” batin Catherine.P
“Dari sekian banyak buku yang sudah kau kumpulkan, satu-satunya petunjuk yang konsisten cuma soal tanggal dan bulan kembar itu? Cih! Sungguh tidak berguna!”Bertepatan dengan berakhirnya omelan Sean itu, terdengar suara kencang yang memekakkan telinga. Asalnya dari meja yang ditendang oleh Sean sebagai pelampiasan rasa kesal.Saking kuatnya tendangan lelaki itu, meja tersebut sampai terbang. Setumpuk buku yang semula berada di atasnya, kini berhamburan tanpa arah.“Ya Tuhan!” jerit batin Ren ketika menyadari bahwa meja tersebut melayang ke arahnya.Tidak mau berakhir menjadi ayam geprek, Ren segera meloncat ke samping. Namun tanpa disangka, Ren terpeleset saat hendak mendarat. Dia pun berakhir jatuh terduduk. Ditambah satu buku tebal yang menimpa kepala.“Auw,” desis Ren.Baru saja tangannya hendak menyentuh kepala, fokus Ren teralihkan pada meja yang hancur berantakan begitu menyentuh tembok. Bahkan, serpihan kayu melesat ke arahnya.“Barrier!” Ren buru-buru merapalkan mantra, menci







