Share

Siasat Sean

last update publish date: 2026-06-03 20:47:33

“Rekamannya memang ada, Nona. Tapi …” 

Si tua Albrighton terlihat ragu menyelesaikan kalimatnya. Takut menyakiti perasaan Catherine. 

Batin Catherine mulai diliputi oleh kecurigaan. “Tapi apa?” desaknya, meminta kepastian.

“I-itu … barusan Tuan Muda Sean memberi perintah pada kami untuk menghapus semua rekamannya. Kami tidak berani membantah,” beritahu Albrighton.

“Dihapus?” beo Catherine, merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.

Dengan berat hati, Albrighton mengangguk lemah. Dia juga berkata, “Betul, Nona. Kalau membangkang, kami diancam potong gaji 90% selama tiga bulan ke depan. Ini … bukankah sama saja menggali kuburan sendiri?”

Konfirmasi final dari Albrighton itu memadamkan cahaya harapan terakhir yang berpendar di hati Catherine. Seluruh sendi tubuhnya lemas secara mendadak, membuat Catherine terhuyung. Beruntung di sebelahnya ada kursi empuk yang siap sedia menampung.

Tanpa pikir panjang lagi, Catherine memutuskan untuk duduk dengan perasaan yang bercampur aduk. Merenung di sana dengan kepala terkulai.

“Apa gunanya aku menahan diri di hadapan Sean kalau ujungnya, dia cuma mempermainkanku?” desis Catherine setelah beberapa saat berdiam diri dengan tatapan kosong.

Perempuan malang itu lalu mendongak, menatap pada langit-langit gedung yang terasa jauh dijangkau. Dengan seulas senyum getir yang terukir di bibir, dia membatin, “Lantas, apa bedanya Sean dengan mantan suamiku? Dia berjanji akan membuatku bahagia, tapi selang sehari dari pernikahan, dia malah diam-diam menikah dengan kekasihnya. Mereka … bahkan memiliki 8 keturunan di saat aku tidak punya satu pun.”

“Apakah ini memang suratan takdirku? Entah mengapa aku terus terlibat dengan laki-laki berperangai buruk dan sepertinya tidak punya hati nurani. Pertama dan yang paling menyiksa batin, mantan suamiku. Kedua, Arley yang lebih menakutkan kematian. Ketiga, si brengsek James Bradford. Dan yang terakhir … si mesum Sean. Otaknya cuma diisi hal-hal vulgar!”

“Hufft! Semuanya tampan, sayang tidak ada satupun yang beres! Cocok dikumpulkan dalam persatuan orang gila. Mereka berempat sungguh menyia-nyiakan paras tampan yang dianugerahkan Dewi Astressia dan Silencia!”

Melihat keputusasaan yang tergambar jelas di wajah dan ucapan Catherine, hati kecil Albrighton serasa disayat oleh pisau. Tidak tahan dengan perasaan itu, dia pun memberitahu, “Sebenarnya meski dihapus, tuan muda masih memiliki salinannya di penyimpanan awan. Namun berhubung hanya tuan muda yang mengetahui password akunnya, sepertinya Nona harus bicara baik-baik dengan beliau.”

Catherine mengalihkan pandangannya pada Albrighton. Batinnya berucap miris, “Aku? Bicara baik-baik dengan lelaki gila itu?”

“Itu tidak mungkin!” seru Catherine sambil menggebrak meja sebagai pelampiasan emosi.

Albrighton tentu terkejut. Namun, pelayan kepercayaan Sean Lamiore itu berusaha keras untuk mengendalikan diri supaya tidak terlarut dalam emosi. 

“Hanya itu yang bisa saya sarankan untuk Anda, Nona,” balas Albrighton dengan suara yang dibuat setenang mungkin. 

Lelaki tua itu lantas berkata, “Kalau Nona tidak memiliki rekaman CCTV yang bisa membuktikan kesalahan James Bradford, saya khawatir polisi tidak mempunyai alasan kuat untuk menjebloskan dia ke penjara. Terlebih lagi, keluarga Bradford memiliki kekayaan yang lumayan. Mereka bisa menyogok oknum dengan begitu mudahnya.”

“Entah masalah apa yang terjadi antara Nona dan Tuan, bukankah akan lebih baik kalau Anda berdua bicara sekali lagi? Ini demi kebaikan Anda sendiri,” pungkas Albrighton. Masih berusaha membujuk sampai akhir.

Catherine menghela napas. Jauh di lubuk hatinya, dia mengakui kebenaran ucapan Albrighton. Saat ini dia memang sangat membutuhkan bukti kuat untuk dapat mempidanakan James.

“Sial! Padahal aku sudah bermuka tebal saat meminta Dewi Silencia untuk menukar gelas untukku, juga meminta agar semua tindakan kotor James terekam di CCTV,” batin Catherine, mengenang momen yang terjadi beberapa jam yang lalu.

Menarik napas panjang untuk sedikit meringankan beban yang menyesakkan dada. “Aku kira, persiapanku sudah sempurna sebelum bereinkarnasi kemari. Ternyata semua usahaku hancur gara-gara Sean! Kemunculannya sungguh membawa kesialan besar bagiku.”

“Nona,” panggil Albrighton, membuyarkan lamunan Catherine.

Mata biru milik Catherine lantas tertuju pada selembar kertas yang tiba-tiba disodorkan oleh Albrighton. Meski ragu, dia tetap menerimanya tanpa banyak tanya.

“Ini kartu nama saya. Anda bisa menghubungi saya kapan saja,” beritahu Albrighton. 

“Oh.” 

Catherine berkomentar seadanya. Lalu, memasukkan kartu nama milik Albrighton ke dalam saku.

“Hari ini, Nona bermalam di mana? Apa Anda memiliki tempat tinggal?” Albrighton bertanya dengan nada yang dipenuhi kekhawatiran.

Tanpa menunggu jawaban dari Catherine, lelaki tua itu menjelaskan, “Kebetulan tadi saya mendengar si licik Clara Bradford memerintahkan orangnya untuk mengeluarkan semua barang milik Anda.”

”Huh! Sikapnya benar-benar sesuai dugaan,” batin Catherine dengan ekspresi datar.

“Kalau begitu, akan kuambil barang-barangku dulu. Kalau terlalu lama, takutnya dia membakar semunya karena tak sabar menungguku pulang.”

Albrighton kembali bertanya, “Anda masih memiliki ongkos untuk pulang?”

Untuk sesaat, Catherine diam terpaku. Barulah beberapa saat kemudian, dia sibuk merogoh saku. Mencari tahu apakah ada selembar dua lembar uang yang bisa dia gunakan.

“Kelihatannya, kartu namaku sudah tidak dibutuhkan,” batin Albrighton ketika melihat Catherine gagal menemukan sepeser uang pun. 

Albrighton berdehem, mencoba menata suaranya. “Saya bisa mengantar Anda kesana, Nona. Jaraknya terlalu jauh untuk ditempuh. Mana mungkin Anda pulang berjalan kaki. Apalagi, sepatu Anda hanya tersisa sebelah.”

Alih-alih langsung mengiyakan, Catherine justru bertanya, “Apakah Sean tidak akan marah kalau kau mengantarku?”

“Tidak, Nona.”

Albrighton sengaja menjeda kalimatnya. Mencoba memancing ikan ke dalam perangkap.

“Benarkah?” 

Sepasang mata Catherine langsung berbinar. Karena baginya sekarang, keberadaan Albrighton bagai oase di tengah gurun. 

Meski hatinya sedikit diliputi oleh rasa bersalah, Albrighton mengangguk dan mengungkapkan syaratnya, “Asalkan Nona bersedia ikut saya ke mansion milik Tuan Sean.”

***

“Tuan,” panggil Erick di tengah perjalanan.

Sean menyahut singkat, “Apa?”

“Kalau boleh saya menyarankan, sebaiknya Anda secepatnya melakukan ritual untuk menyegel aroma manis milik Nona Catherine. Sebab, khasiat aroma ini sungguh hebat. Cuma saya hirup dari sini, tapi seluruh tubuh saya terasa segar bugar. Seolah baru saja bangun di pagi hari,” kata Erick tanpa bermaksud menggurui.

Memijit kening yang tiba-tiba terasa pening, Sean lantas berucap, “Kalau memang semudah itu, pasti sudah aku lakukan dari tadi.”

“Ritual merepotkan itu membutuhkan kesediaan yang tulus dari kedua belah pihak. Sedangkan saat ini, dia masih bersikukuh menolak tawaranku,” imbuh Sean, mengungkapkan rasa kesalnya.

“Haruskah saya membantu Tuan untuk mencari cara lain? Karena bagaimanapun juga, aroma dari esensi kehidupan milik Nona Catherine begitu berharga dan pastinya dapat membantu Anda mengurangi rasa sakit dari kutukan mengerikan itu. Saya takut sewaktu-waktu, Nona jatuh ke tangan vampir lain,” ujar Erick.

Sean menatap tajam ke arah Erick, membuat tengkuk sopir pribadinya meremang. “Maaf Tuan, saya salah bicara!”

Merotasikan bola matanya, Sean lantas berujar sinis, “Kau kira, tuanmu ini begitu bodoh sampai tidak bisa memikirkan rencana lain? Huh! Sekarang Catherine pasti sedang bingung mempertimbangkan tawaran dari Bright.”

Erick langsung gemetar ketakutan. Bahkan rasanya, ingin mengompol di celana. “Maaf Tuan, saya benar-benar tidak tahu!” seru lelaki itu, mengakui kesalahan.

“Sudahlah, kau fokus menyetir saja. Urusan lainnya, biar Bright yang menangani.”

Erick tidak berani membantah. Terlebih Sean begitu bermurah hati untuk tidak mempermasalahkan ucapan sok pintarnya barusan.

Sementara Erick diliputi ketakutan, Sean menyandarkan kepalanya pada kaca jendela. Pandangannya menerawang ke depan, seakan sedang menikmati perjalanan pulangnya dengan tenang.

“Mungkinkah tanggal lahir Catherine yang tercatat di dokumen kependudukan itu palsu? Bagaimana bisa seorang wanita terpilih sepertinya tidak lahir di tanggal dan bulan yang sama? Atau justru … yang palsu adalah catatan yang diwariskan oleh leluhur keluarga Lamiore?” batin Sean.

Sejuta pertanyaan semacam itu terus menerus muncul di dalam benaknya. Mengganggu pikirannya tanpa ada satupun yang bisa terjawab. Oleh karenanya, perjalanan pulangnya malam ini terasa sangat panjang dibandingkan hari-hari biasa.

Sementara itu, Catherine sedang berdiri di parkiran. Menatap bimbang di depan pintu mobil yang terbuka.

“Setelah menerima tawaran ini, aku tidak bisa kembali lagi,” batin Catherine sendu.

Catherine lantas menarik napas panjang. “Sudahlah. Tadi Pak Bright sudah memberitahu. Meski nantinya aku menolak tawaran dari Sean, aku tetap dibolehkan menumpang disana selama semalam.”

“Nona, Anda jadi naik?” tanya Albrighton ketika melihat Catherine hanya diam terpaku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Kau Milikku Sekarang

    “Jangan buat pikiranku jadi liar begini, Cathie,” lirih Sean. Suara seraknya itu sebetulnya nyaris tidak terdengar. Namun di saat yang tepat, berhembus angin sepoi yang nakal. Menghantarkan pesan memalukan itu pada Catherine.“Hah?” respon Catherine sambil menaikkan sebelah alis.Melihat wajah Catherine yang bingung maksimal, Sean jadi sadar kalau pemikirannya masih polos. Berbanding terbalik dengan otaknya yang gampang memikirkan aneka hal kotor. Fakta ini pun membuatnya malu sendiri.“K-kau tidak perlu tahu,” ujar Sean kemudian.Supaya rasa malunya ini tidak berlarut-larut, Sean mengajak, “Bisa kita lakukan sekarang?”Menggaruk kepala yang tidak gatal, Catherine lalu membalas, “Boleh saja. Tapi memangnya kau punya jarum?”“Ada.”Sean memasukkan tangan ke dalam saku. Diam-diam menggerakkan jarinya untuk menciptakan sebuah jarum tajam. Sambil mengeluarkannya, Sean berkata, “Nih.”“Tidak bisa dipercaya!” kaget Catherine di dalam hati. Dia bahkan mengucek-ngucek kedua mata, saking tida

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Blood Contract

    “Sederhananya, kita ciuman di sini,” ujar Sean, mengakhiri keheningan yang sempat menguasai ruangan ini ketika melamunkan ingatannya semalam. Mata Catherine melotot seketika. Ditunjuknya patung Dewi Silencia sambil berujar tak percaya, “Ini tempat— maksudku ruangan suci, ‘kan? Bukankah ini sedikit tidak pantas?”“Ini bukan ciuman karena hasrat, Cathie. Lagipula bukankah orang-orang yang baru saja menikah, juga bisa ciuman di gereja? Disaksikan banyak orang pula.”Sean berusaha bersabar meski sekarang, pipinya mulai memunculkan semburat merah muda.“Tapi kita nggak nikah, Sean. Mana bisa disamakan,” protes Catherine. Sedikit menyiratkan kalau dia ingin Sean memberinya penjelasan yang memuaskan. Sean mengelap wajahnya gusar.“Kau pernah dengar blood contract?” tanyanya lamat setelah berpikir beberapa saat.“Emm … kontrak darah?” jawab Catherine penuh keraguan. Dahinya bahkan berkerut sempurna.Catherine tidak melanjutkan ucapannya. Sibuk memikirkan apa sebenarnya yang dimaksud oleh Se

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Jangan Cium di Sini

    “Kau kecanduan menciumku atau bagaimana?” heran Sean di dalam hatinya.“Oh, astaga!” batin lelaki itu begitu sekelebat ingatan tiba-tiba terputar di kepala. “Pasti karena ucapanku tadi.”Andaikan Catherine tidak menutup mata, maka dia bisa melihat tampang Sean yang begitu licik. Sudut bibirnya bahkan terangkat sebelah.Sean lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Kepalanya sedikit menunduk ketika menekan bibir Catherine dengan jari telunjuk,“Tidak di sini, Cathie,” lirih Sean. Suara rendahnya itu entah ditujukan untuk menggoda Catherine, atau ada maksud lain.Giliran Catherine yang terkesiap. Sepasang mata bulatnya mengedip-ngedip tak percaya ketika Sean menghentikan surprise yang dia rencanakan secara mendadak.“Apa mungkin, dia cuma mau ganti tempat?” pikir Catherine lagi, merujuk pada kalimat yang baru saja Sean ucapkan. Sementara Catherine sibuk memeras otak, Sean mulai melancarkan aksinya.“Agresif sekali.”Cup!“Umm.”Suara memalukan itu lolos begitu saja dari bibir mu

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Ganti Saja di Depanku

    “Apa-apaan sikapnya itu? Sebentar romantis, terus tiba-tiba dingin. Juga ada saatnya dia menggila atau bersikap menjengkelkan. Aku benar-benar tidak bisa memahami isi pikiran Sean,” batin Catherine sambil sedikit meremas kemeja krem pemberian Sean.Diam-diam, dia mencuri pandang ke arah lelaki itu. Sayangnya hanya punggung Sean yang bisa dia lihat. Selebihnya tersembunyi dibalik pintu.Meskipun begitu, kesibukannya jelas terlihat oleh mata Catherine. Pelahan, Catherine menelusupkan tangannya pada lengan kemeja. Karena berjalan lancar, dia masukkan tangan satunya juga. Sehingga sekarang, kemeja itu benar-benar terpakai olehnya.“Tanpa perlu memasang kancingnya, ukurannya memang pas,” komentar Catherine. “Tapi, bagaimana bisa Sean punya kemeja seukuran ini? Tidakkah hal ini terlalu mencurigakan?”“Haruskah aku bertanya? Atau—”“Apa lagi yang sedang kau pikirkan?” keluh Sean.Tadinya Sean mau memberikan celana untuk Catherine. Namun Sean membatalkan niatnya ketika mendapati sosok Cather

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Kemeja Untukmu

    “Ruangan apa ini?”Catherine bergumam lirih ketika Sean memasuki sebuah ruangan. Sepasang matanya lalu sibuk memandang kesana kemari, mencermati setiap sudut ruangan asing itu.Merasa kalau ruangan tersebut aman untuk dia masuki, Catherine pun ikut menginjakkan kakinya ke sana. Saat tangannya tidak sengaja menyentuh dinding, jemarinya merasakan tekstur lembut yang cukup memuaskan.“Apa ini?” tanyanya penasaran sambil mulai melihat ke arah tembok.Terlihat olehnya kain berbulu warna merah pekat yang dihias dengan sulaman keemasan. Tadi dia sempat mengira kalau kain itu paling cuma barang murahan yang asal ditempelkan. Namun setelah meraba teksturnya, sekaligus menyadari bahwa kain tersebut memiliki kilau yang memikat, Catherine menyimpulkan,“Sulit dipercaya! Aku berani bertaruh kalau kain beludru ini dibuat dari sutra, sementara bulunya diambil dari cerpelai putih. Kualitasnya begitu tinggi dan sepertinya, benang emas ini juga dipintal memakai lempengan emas murni,” batin Catherine.P

  • Penghangat Ranjang Tuan Sean   Bantu Aku, Dong!

    “Dari sekian banyak buku yang sudah kau kumpulkan, satu-satunya petunjuk yang konsisten cuma soal tanggal dan bulan kembar itu? Cih! Sungguh tidak berguna!”Bertepatan dengan berakhirnya omelan Sean itu, terdengar suara kencang yang memekakkan telinga. Asalnya dari meja yang ditendang oleh Sean sebagai pelampiasan rasa kesal.Saking kuatnya tendangan lelaki itu, meja tersebut sampai terbang. Setumpuk buku yang semula berada di atasnya, kini berhamburan tanpa arah.“Ya Tuhan!” jerit batin Ren ketika menyadari bahwa meja tersebut melayang ke arahnya.Tidak mau berakhir menjadi ayam geprek, Ren segera meloncat ke samping. Namun tanpa disangka, Ren terpeleset saat hendak mendarat. Dia pun berakhir jatuh terduduk. Ditambah satu buku tebal yang menimpa kepala.“Auw,” desis Ren.Baru saja tangannya hendak menyentuh kepala, fokus Ren teralihkan pada meja yang hancur berantakan begitu menyentuh tembok. Bahkan, serpihan kayu melesat ke arahnya.“Barrier!” Ren buru-buru merapalkan mantra, menci

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status