Share

Bab 16

Author: Merisa storia
last update publish date: 2026-10-24 00:55:40

Tubuh pemuda itu menyusut. Seragam kurir yang dulu pas di badannya kini menggantung longgar di pundak yang menonjol. Tulang pipinya mencuat tajam di bawah kulit yang pucat keabu-abuan, seolah daging di baliknya tersedot habis dari dalam. Lingkar matanya menghitam pekat seperti memar lama yang tidak pernah sembuh, dan bibirnya pecah-pecah kering.

Tapi yang membuat perut Devan bergejolak bukan penampilannya. Begitu Agung membuka mulut untuk bernapas, bau amis yang pekat menyeruak keluar. Bau lump
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Penghuni Kos Terakhir    Bab 18

    Cakar-cakar kecilnya mulai mencakar permukaan tembok. Gerakannya bukan gerakan bermain — tajam, berulang, dan panik. Debu plester rontok di bawah cakaran itu, meninggalkan goresan tipis pada cat putih.Seluruh bulu oranye di punggung Oyen berdiri tegak sempurna, dari tengkuk sampai pangkal ekor. Mulut kecilnya membuka lebar.Fhssssssss ....Desisan itu panjang dan rendah, lebih buas daripada desisan-desisan sebelumnya. Bukan desisan kepada seekor tikus atau bayangan di sudut langit-langit. Ini desisan terhadap sesuatu yang besar. Sesuatu yang sedang berkumpul dalam jumlah yang tidak wajar di balik tembok itu.Bulu kuduk Devan meremang. Ia melangkah ke dinding kanan dan menempelkan telinganya ke permukaan tembok.Dingin.Bukan dingin biasa. Tembok itu terasa seperti lempengan es. Hawa bekunya menembus daun telinga, menjalar sampai ke tulang rahang. Devan menahan napasnya dan mempertajam pendengaran.Eeeennghh ....Rintihan tertahan. Suara Agung. Teredam oleh tembok dan bantal, tapi Dev

  • Penghuni Kos Terakhir    Bab 17

    "Ini Ibu buatkan bubur sumsum hangat. Kasihan kamu kelihatan capek sekali. Makan dulu, biar badan segar lagi."Bu Nunik berjalan mendekat dengan senyum lebar. Matanya menyipit saat melirik Devan sekilas, lalu kembali ke Agung.Perubahan itu terjadi dalam hitungan detik.Begitu aroma bubur itu menyentuh hidung Agung, sorot mata pemuda itu berubah. Pupilnya melebar kosong, seolah ada tangan tak kasatmata yang memadamkan kesadaran di balik matanya. Wajahnya yang tadi menyiratkan kelelahan dan kebingungan kini datar tanpa ekspresi."Mas Agung, jangan." Devan meraih pergelangan tangan Agung. "Dengarkan aku dulu—"Plak!Tangan Agung menepis genggaman Devan dengan tenaga yang tidak seharusnya dimiliki tubuh selemah itu. Gerakan tangannya kasar dan menyentak, sama sekali berbeda dari Agung yang baru saja bicara dengannya tiga puluh detik lalu.Tanpa mengucapkan sepatah kata, Agung bangkit dari kursi dan berjalan gontai menghampiri Bu Nunik. Langkahnya terseok, tapi arahnya lurus dan pasti, se

  • Penghuni Kos Terakhir    Bab 16

    Tubuh pemuda itu menyusut. Seragam kurir yang dulu pas di badannya kini menggantung longgar di pundak yang menonjol. Tulang pipinya mencuat tajam di bawah kulit yang pucat keabu-abuan, seolah daging di baliknya tersedot habis dari dalam. Lingkar matanya menghitam pekat seperti memar lama yang tidak pernah sembuh, dan bibirnya pecah-pecah kering.Tapi yang membuat perut Devan bergejolak bukan penampilannya. Begitu Agung membuka mulut untuk bernapas, bau amis yang pekat menyeruak keluar. Bau lumpur rawa bercampur besi berkarat.Bau yang sama persis dengan bau di dekat gudang terkunci di ujung halaman belakang."Sini, Mas. Duduk dulu." Devan memapah Agung ke kursi bambu di teras. Pemuda itu ambruk ke dudukan dengan seluruh beban tubuhnya, kepalanya terkulai ke belakang. Devan menegakkan motor Agung, lalu berlari kecil ke dapur luar mengambil segelas air putih dari galon.Agung menerima gelas itu dan meneguknya pelan-pelan. Tangannya gemetar sampai air yang tersisa beriak di dalam gelas.

  • Penghuni Kos Terakhir    Bab 15

    Gadis itu menoleh cepat, dan sorot lelah di matanya berubah menjadi kaget. Tapi begitu melihat siapa yang datang, bahunya merosot lega."Mas Devan. Sudah pulang?""Barusan." Devan mengedarkan pandangan ke lorong yang kosong. "Bapak sama Ibu ke pasar?""Iya. Katanya sebentar lagi pulang." Eva menyeka pelipis dengan punggung tangan. "Jangan lama-lama di sini, Mas. Nanti ...""Aku cuma sebentar." Devan tersenyum. "Tunggu di situ."Ia membuka pintu Kamar Nomor 3 dengan kunci, hanya selebar celah, lalu menyelipkan tubuhnya masuk. Oyen sudah menunggu di balik pintu. Kucing gempal itu melompat dan menggesekkan kepalanya ke kaki Devan sambil mengeong keras."Sst, jangan berisik." Devan berjongkok, mengusap kepala Oyen, lalu mengangkatnya dengan satu tangan. Tangan lainnya merogoh ke dalam tas kerja.Begitu ia keluar dan menurunkan Oyen ke lantai teras, kucing itu langsung berlari kecil ke arah Eva dan menyundulkan kepalanya ke lututnya.Meooong.Eva terdiam sejenak. Lalu bibirnya melengkung p

  • Penghuni Kos Terakhir    Bab 14

    Devan tersentak. Mandor berdiri di ambang pintu gudang dengan papan jalan di tangan, alisnya terangkat. Pria bertubuh kekar itu tadinya hanya lewat untuk mengecek stok kertas, tapi pandangannya langsung jatuh pada sisa roti tawar dan gelas plastik di tangan Devan."Maaf, Pak. Saya cuma ... istirahat sebentar."Mandor tidak langsung menjawab. Ia menatap roti itu, lalu gelas air, lalu wajah Devan yang tampak lebih tirus dibanding minggu lalu. Rahangnya bergerak seperti sedang menimbang sesuatu."Kamu tidak makan siang?""Lagi diet, Pak." Devan nyengir kikuk."Diet apanya." Mandor mendengus pendek. Tapi nadanya tidak seketus biasanya. "Tunggu di sini."Ia pergi dan kembali sepuluh menit kemudian sambil menjinjing kantong plastik besar. Isinya ia letakkan begitu saja di samping Devan."Itu kain perca bekas lap mesin yang belum sempat dipakai. Gulungannya masih utuh, tinggal dicuci kalau kamu mau," ujar Mandor sambil menunjuk. "Sama itu, novel-novel bekas. Ditinggal pelanggan di kantor, ng

  • Penghuni Kos Terakhir    Bab 13

    Teriakan Devan membelah kesunyian. Tangannya menyorotkan cahaya lampu senter ke arah atas. Pemuda itu menginjak anak tangga pertama lantai dua. Bersamaan dengan itu, gelang akar bahar pada pergelangan tangannya memancarkan hawa hangat yang merayap ke kulit.Kegelapan malam seketika menelan sosok misterius itu tanpa sisa.Tiwi nyaris jatuh tersungkur. Ia langsung berlari menuruni tangga menghampiri Devan. Wajahnya memucat dan napasnya memburu tak beraturan."Mas ... ada orang berdiri di sana lalu hilang! Dia memakai baju sepertiku!" Suara Tiwi bergetar hebat menahan tangis ketakutan."Aman, Mbak. Tenang. Saya temani turun."Devan menenangkan kepanikan Tiwi dengan nada datar dan sabar. Ia berusaha menutupi rasa cemasnya sendiri. Pemuda itu mengawal langkah Tiwi menuruni sisa anak tangga sampai gadis itu masuk dan mengunci pintu Kamar Nomor 6.Setelah memastikan situasi aman, Devan menghela napas panjang. Ia membalikkan badannya untuk kembali menuju kamar.Namun, saat melintasi ruang te

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status