Penghuni Kos Terakhir

Penghuni Kos Terakhir

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-10-13
Oleh:  Merisa storiaBaru saja diperbarui
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Belum ada penilaian
12Bab
27Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Di tengah keputusasaan akibat himpitan utang, Devan menemukan tempat berlindung di sebuah rumah kos megah yang menawarkan fasilitas mewah dengan harga tak masuk akal. Namun, senyum ramah sang pemilik kos ternyata hanyalah topeng dari sebuah mimpi buruk. Devan, harus memecahkan teka-teki yang bersemayam di balik dinding kamarnya, sebelum namanya menghilang tertelan kegelapan tak kasat mata.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

"Mana uang sewanya?! Kamu pikir ini panti sosial, hah?!"

Devan baru saja mematikan mesin motornya ketika teriakan itu menyambar dari arah teras. Ibu Elis sudah berdiri di sana dengan tangan berkacak pinggang dan wajah merah padam.

"Bu, saya—"

"Dua bulan, Devan! Dua bulan kamu menunggak!" Telunjuk wanita paruh baya itu menuding tepat ke wajahnya. "Pokoknya, malam ini juga kamu angkat kaki dari sini. Saya sudah muak!"

Devan hanya bisa menunduk. Rahangnya mengeras, tapi memang tidak ada bantahan yang bisa ia keluarkan karena semua itu benar.

Uang sewa dua bulan itu sudah habis dikirim ke rekening ayahnya tiga hari lalu. Pukul dua dini hari ponselnya bergetar, dan suara ayahnya di seberang sana terdengar seperti orang yang sedang dicekik.

"Mereka bilang mau bunuh Bapak, Van. Tolong. Janji, kali ini yang terakhir."

Terakhir. Kata yang sudah ia dengar belasan kali dari mulut yang sama. Tapi tetap saja Devan mentransfer seluruh isi tabungannya pagi itu.

"Kenapa malah bengong? Mau saya panggil warga?!"

"Jangan, Bu. Saya kemasi barang saya sekarang." Devan mengangkat kedua tangannya sambil mundur selangkah.

Tidak butuh waktu lama. Semua pakaian dan barang-barangnya muat dalam satu tas gunung dan satu kardus kecil. Devan memanggul keduanya, melirik kamar yang ia tinggali selama setahun untuk terakhir kalinya, lalu melangkah keluar tanpa menoleh.

Motor tuanya batuk-batuk begitu distarter. Devan mengegas dua kali sebelum mesin itu akhirnya hidup dengan erangan lemah. Ia melaju tanpa tujuan.

Setelah tiga kilometer, mesin motornya tiba-tiba mati. Ia memutar kunci beberapa kali, tapi mesin tetap tidak mau hidup karena bensinnya sudah habis.

Angin malam menerpa tengkuknya yang basah oleh keringat, dingin dan menusuk. Devan menoleh refleks ke belakang tapi tidak ada siapa-siapa di sepanjang jalan yang gelap dan sepi itu.

Ia menghela napas, lalu mulai mendorong. Suara sepatunya yang menyeret aspal dan bunyi jangkrik menjadi satu-satunya yang menemani perjalanannya malam itu.

Beruntung, warung bensin eceran di tikungan jalan masih menyalakan lampu remangnya. Devan menyandarkan motor, merogoh sisa uang receh dari saku celana, dan membeli satu botol bensin.

Sambil menuang bensin ke tangki, ia melihat selembar kertas lusuh yang menempel di tiang listrik tepat di samping warung. Tulisannya dicetak tebal dengan tinta hitam yang sedikit luntur. 

"Rumah Kos Asri Riyadi: Terima Kos Pria/Wanita, Fasilitas Mewah Harga Subsidi."

Devan membaca angka harganya dua kali. Harga itu bahkan tidak sampai sepertiga kosan Ibu Elis.

Ia tidak punya banyak pilihan. Devan merobek bagian bawah selebaran yang mencantumkan alamat, lalu menyalakan mesin motornya.

Jalan menuju alamat itu semakin menyempit dengan pepohonan rimbun di kedua sisi yang daunnya nyaris membentuk kanopi menutup langit.

Dan kemudian, ia melihatnya.

Di balik gerbang besi yang terbuka lebar, berdiri sebuah bangunan dua lantai bercat putih. Lampu taman, lampu teras, lampu di setiap jendela, semuanya menyala terang. Lebih mirip vila pribadi ketimbang rumah kos di pinggiran kota.

Devan mematikan mesin dan turun dari motor, melangkah masuk ke halaman. 

Udara tiba-tiba berubah sejuk — aneh untuk musim kemarau. Dan ada bau samar yang menusuk hidungnya, bau tanah basah yang mengingatkannya pada pemakaman setelah hujan.

"Selamat malam!"

Devan terlonjak.

Sepasang suami istri sudah berdiri di ambang pintu utama. Pria berkumis tipis dengan kemeja batik dan wanita bertubuh subur dengan senyum keibuan. Keduanya tersenyum lebar, seolah sudah menunggu kedatangannya sejak tadi.

"Cari kos, ya, Mas?" Pria itu mengulurkan tangan. "Saya Pak Riyadi. Ini istri saya, Bu Nunik."

"Devan." Ia menjabat tangan dingin itu. “Maaf, Pak. Apa masih ada kamar yang kosong?”

"Wah, pas sekali! Kebetulan ada satu kamar yang kosong." Pak Riyadi menepuk bahu Devan seolah mereka sudah saling kenal bertahun-tahun. "Kamar Nomor 3 di lantai satu. Langsung bisa ditempati malam ini juga."

"T-tapi … maaf, Pak. Saat ini saya belum ada uang untuk —"

"Tidak perlu, tidak perlu." Bu Nunik mengibaskan tangannya. Senyumnya tidak bergeser satu milimeter pun. "Kamu kan pasti capek. Istirahat saja dulu. Masalah pembayaran, itu gampang."

Tanpa dimintai KTP, tanpa deposit, dan tanpa pertanyaan apa pun, Pak Riyadi langsung menyerahkan kunci dengan gantungan plastik bertuliskan angka 3. Devan menerimanya dengan perasaan ganjil yang mengganjal, tapi ia sudah kehabisan tenaga untuk mempertanyakan apa pun.

Lorong lantai satu terang benderang oleh lampu neon putih. Langkah Devan bergema pelan di lantai keramik bersih sambil memanggul tas gunung dan menenteng kardus.

Ia melewati Kamar 1 dan Kamar 2 yang pintunya tertutup rapat. Lalu tepat sebelum ia sampai di Kamar 3, langkahnya terhenti.

Seorang gadis berambut panjang sedang mengepel lantai di ujung lorong dengan gerakan lambat. Wajahnya manis, tapi pucat seperti orang yang sudah lama tidak terkena matahari.

Gadis itu menghentikan gerakan pelnya dan mendongak. Sorot matanya yang tajam langsung mengunci pandangan Devan.

"Pergi."

Devan mengerjap. "Apa?"

Gadis itu melangkah satu langkah lebih dekat, suaranya turun menjadi bisikan. "Pergi dari sini. Sebelum kamu menyesal."

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
12 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status